Pembalasan Istri Yang Kau Anggap MANDUL

Pembalasan Istri Yang Kau Anggap MANDUL
Bab 25


__ADS_3

Pagi ini Rayya akan berangkat ke kantor sang Mamah. Senyum di wajahnya mulai terlihat nyata di pagi yang indah. Begitu menenangkan bagi kedua orang tuanya yang sejak tadi memperhatikan.


"Rayya berangkat ya Mah, Pah. Jika nanti pulang agak malam berarti Rayya lembur di kantor Papah." Rayya menghabiskan susunya dan segera beranjak lalu mengecup pipi kedua orang tuanya.


"Jangan terlalu dipaksakan! Papah tidak mau kamu sakit. Jika memang perusahaan itu harus gulung tikar, masih ada hotel dan restoran untuk masa depan Mamah, kamu dan Aretha," ucap Papah Tio.


"Tidak seperti itu Pah, sebenarnya perusahaan itu kan jatah Abang. Ini saja Rayya belum bertemu dengannya, mungkin karena beliau sibuk. Jika bertemu pasti Rayya akan diceramahi olehnya."


"Tenang! Abang sudah mendapat bagian. Bang Regan tidak akan mempermasalahkan perusahaan, tapi yang dia pikirkan itu kamu. Dia sangat sedih mendengar kabar perpisahan kamu, apalagi Kaira. Hanya saja dia belum bisa kesini karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Mungkin nanti jika sudah ada waktu akan mampir ke kantor Mamah untuk menemui kamu," sahut Mamah. Beliau memang kemarin baru mendapat telpon dari anak laki-laki dan menantunya. Mereka sama-sama sedih, tetapi cukup lega karena masalahnya sudah selesai dan mendapatkan ganjaran yang setimpal.


Rayya menganggukkan kepala, dia kepikiran dengan abangnya dan cukup merindukan beliau karena sudah lama tidak berjumpa. Apa lagi dengan kedua jagoan kecil dan Kakak iparnya.


"Ya sudah Rayya berangkat ya Mah, Pah. Assalamualaikum..."


"Wa'allaikumsalam..."


Rayya segera mengeluarkan kunci mobil dari dalam tasnya lalu melangkah menuju garasi. Namun, tepat di teras rumah dia terkejut dengan pria yang berdiri di depan mobilnya.


"Assalamualaikum..."


"Wa'allaikumsalam, ada apa? Apa mau bertemu Papah? Langsung masuk saja, Papah masih sarapan di dalam."


"Saya kesini untuk menjemput calon istri, bukan bertemu calon mertua."


Rayya yang akan membuka pintu mobilnya sontak menoleh ke arah Raditya yang terdiam dengan menjaga pandangan. Rayya melangkah mendekati dan mengikis jarak pada pria itu hingga membuat Raditya memilih untuk mundur dua langkah.

__ADS_1


"Bukannya status saya membahayakan untuk anda? Lalu mengapa masih berharap dengan seorang janda?" celetuk Rayya dengan wajah kesal, kemudian bersedekap dada menatap Raditya yang sengaja membuang muka.


"Karena janda yang satu ini cukup berbeda," jawab Raditya dengan lugas, kemudian membukakan pintu mobil untuk Rayya. "Silahkan Bu, jangan sampai kita terlambat ke kantor!"


Rayya menghela nafas kasar dan memutuskan untuk masuk ke dalam mobil Radit. Dia melihat Raditya yang berlari berputar untuk segera masuk ke kursi kemudi. "Aneh!"


"Bagaimana dengan Ibu Hanum?" tanya Rayya saat mereka sudah berada dalam perjalanan.


"Sudah aman di tempat seharusnya beliau berada. Jika mantan suami Bu Ray_"


"Saya tidak menanyakan dia!" sahut Rayya memotong ucapan Radit. Namun, hal itu membuat Raditya mengulum senyum.


"Saya pikir anda merindukan dia juga," ucapnya santai tetapi seperti memberi kejutan pada Rayya. Radit tau saat ini Rayya sedang menatapnya. Wanita itu begitu kesal dengan ucapannya tetapi kali ini memilih diam tak menyerang dengan ucapan pedas.


Keduanya sampai di kantor dan masuk dengan berjalan berbarengan. Tak ada lagi pembicaraan diantara keduanya sejak Rayya memilih untuk diam. Raditya mempersilahkan Rayya untuk masuk lebih dulu ke dalam lift barulah dirinya mengikuti.


"Baik Bu, jika diminta untuk membantu di sana pun saya sanggup," jawab Raditya kalem.


"Silahkan!" jawab Rayya singkat, lalu melangkah masuk ke dalam ruangannya. Sementara Raditya diam dengan menyunggingkan senyuman tipis.


...****************...


Hari sudah menjelang sore, Rayya yang kini sudah beralih mendiami kantor sang Papah sedang mempersiapkan proposal untuk ia ajukan kebeberapa perusahaan besar. Rayya ingin berusaha mengajak kerja sama dan menanamkan modal pada perusahaan Weda agar bisa kembali lagi berdiri.


Sejak tadi dia diam berkutat di depan layar laptop tanpa memperdulikan dering ponsel dan telepon kantor yang terus berbunyi. Begitu serius hingga membuatnya tak sadar jika matahari sudah kembali ke peraduan dan hari mulai gelap. Rayya begitu fokus mempersiapkan semuanya. Sampai dimana ada pesan masuk mengingatkannya untuk melaksanakan kewajiban.

__ADS_1


Rayya terdiam, sejak menikah tak ada lagi yang mengajaknya berjamaah. Jika dulu Kakak, Papah dan Mamah selalu mengingatkan, tapi setelah menikah tak ada lagi yang menyinggung untuk melaksanakan kewajiban. Bahkan dia sudah meninggalkannya begitu saja. Rayya menghela nafas berat, dia menutup layar laptopnya dan segera beranjak dari sana.


Tangannya terulur di bawah aliran air, mulai berniat dan mensucikan diri. Sungguh Rayya menyesal, bahkan setelah dua tahun melupakan kini yang mengingatkan bukan suami atau pun keluarga. Melainkan pria yang sempat ia minta untuk menjamahnya tanpa hubungan.


Sejadah ia bentangkan di depan meja kerja, beruntung masih ada perlengkapan sholat miliknya yang tersimpan rapi di sana. Air mata mengiringi setiap ayat yang terlontar, dengan air wudu yang mulai mengering meresap ke pori-pori wajah.


Sujud terakhir ia khususkan untuk meminta pengampunan pada sang Khaliq yang lama telah ia abaikan. Sadar akan kelalaian, Rayya semakin terisak dengan tubuh yang bergetar di atas sajadah. Tanpa ia sadar jika sejak tadi ada pria yang berdiri di ambang pintu memperhatikannya dengan senyuman hangat.


"Aku memang bukan pria sempurna, tapi aku tidak akan membiarkan kamu terpuruk semakin dalam."


Rayya beranjak untuk melipat mukenah dan sejadah yang ia gunakan. Kembali merapikan penampilannya dan menempati kursi kerja yang sudah tak sehangat tadi.


"Masuk!" titah Rayya setelah mendengar ketukan pintu menggema mengusik telinga. Rayya mengangkat kepalanya menatap Radit yang melangkah mendekati.


"Ada apa Pak Radit?" tanya Rayya yang kembali fokus ke layar laptop.


"Mari pulang Bu, ini sudah malam!"


"Tanggung Pak, jika anda ingin pulang. Silahkan! Saya harus menyelesaikan ini semua karena besok sudah harus diajukan."


Rayya tak ingin pulang sebelum pekerjaannya selesai. Dia sudah bertekad untuk menyelesaikan masalah kantor itu dengan cepat, karena bukan hanya sang Papah yang kecewa. Nasib karyawan pun akan menjadi taruhan. Beruntung mereka cukup setia, meskipun selama ini haknya dipangkas secara sepihak.


"Mana mungkin saya meninggalkan anda sendiri? Bu Rayya, sejak pagi anda sudah berkerja keras. Semua pasti ada hasil apa lagi jika sudah menempuh jalur langit. Percayalah, bantuan pasti akan datang dengan segera!"


Rayya menoleh ke arah Radit, wajah pria itu begitu sejuk dipandang. Tatapannya teduh meski hanya sekejap mata bersinggungan. Terlebih kata-katanya yang memiliki arti tersendiri, membuat Rayya semakin penasaran siapa sebenarnya pria itu.

__ADS_1


"Apa kamu titisan dewa? Atau bidadara yang diutus untuk membantu saya?" tanya Rayya dengan tatapan selidik. Alisnya menukik dengan wajah polos dan make up yang sudah hampir luntur.


"Saya bukan dewa apalagi bidadara. Saya hanya jodoh anda yang tertunda dan sedang menunggu waktu yang tepat untuk dapat mengajukan lamaran."


__ADS_2