
Raditya meraih handuk dan melilitkannya ke pinggang sebelum mengangkat tubuh sang istri. Keduanya memang belum sempat membersihkan diri setelah tadi mengarungi malam yang melenakan. Mereka terlelap dengan sama-sama polos dan berhangatkan pelukan serta selimut tebal.
"Sayang, ayo kita ke kamar!"
Rayya tampak lemah, dia tak menjawab tetapi tangannya segera merengkuh pundak Raditya. Dijam yang baru mau memasuki subuh sudah membuat heboh. Entah ada apa dengan dirinya. Yang jelas rasanya sangatlah tak nyaman, lemas dan ingin sekali rebahan.
"Mas sholat subuh dulu ya, Sayang. Setelah ini kita ke rumah sakit. Kamu bisa mandi dan sholat tidak? Nanti Mas bantu mandinya, sholat duduk saja tidak apa-apa."
"Iya Mas."
Raditya menutupi tubuh Rayya dengan selimut. Membiarkan sang istri sejenak untuk istirahat sedangkan dia segera mandi dan menunaikan dua rakaat.
Setelah memandikan Rayya dan menunggu sang istri sholat. Sementara Raditya turun membuatkan minuman hangat dan bekal untuk di jalan. Wajahnya panik dan terlihat sekali kekhawatiran tetapi Raditya selalu bisa menutupi suasana hatinya.
"Minum dulu, Sayang!"
"Makasih Mas." Rayya yang baru saja keluar kamar mandi karena sempat mual lagi, kini sedikit nyaman setelah perutnya merasakan hangat dari minuman yang Radit buat. Wedang jahe dengan sedikit madu.
"Kita ke rumah sakit sekarang ya Sayang, agar cepat diberi obat. Mas nggak tega lihatnya."
Raditya membantu sang istri untuk bangun, karena tak tahan melihat Rayya yang lemas. Namun, dia tak membiarkan Rayya berjalan. Raditya segera mengangkat tubuh Rayya dan membawanya menuju mobil.
"Maafin aku ya Mas, jadi ngerepotin kamu," ucap Rayya dengan tatapan penuh penyesalan.
"Kamu ini bicara apa? Kamu istri aku, sudah kewajiban aku menjaga kamu. Bentar aku masuk dulu." Setelah memastikan Rayya aman, Raditnya segera berlari dan masuk ke dalam mobil. Pria itu segera melajukan mobilnya setelah memakai sefety belt.
"Sayang, aku sudah menghubungi dokter tadi. Jadi kita langsung masuk saja ya," ucap Raditya dengan lembut lalu mendorong kursi roda yang di pakai oleh sang istri. Segitu khawatir dan perhatiannya seorang Raditya. Dia benar-benar tak ingin membuat Rayya kesulitan. Padahal Rayya sudah menolak menggunakan kursi roda. Wanita itu masih bisa berjalan tetapi suaminya tetap mengambilkan kursi roda.
__ADS_1
"Bagaimana dengan istri saya, Dok? Sakit apa sampai begitu lemah?" tanya Raditya setelah dokter selesai memeriksa Rayya. Kebetulan yang memeriksa Rayya adalah dokter wanita. Tadinya Bapak Dokter, tetapi karena Raditnya yang super posesif akhirnya dia meminta ganti.
"Kemungkinan istri Bapak sedang mengandung Pak, dan kebetulan sekali saya dokter kandungan. Jadi bisa pindah ke ruangan saya saja Pak. Mari, istrinya dibantu!"
"Baik Dok," ucap Raditya dengan hati tak karuan. Masih ingin banyak bertanya tetapi Dokter sudah memintanya membantu Rayya untuk pindah ruangan agar bisa memeriksa lebih detail lagi.
"Kehamilan masih sangat kecil, baru berjalan lima Minggu. Diharapkan benar-benar dijaga dan jangan kelelahan ya, Bu!"
"Jadi saat ini saya hamil, Dok?" tanya Rayya yang begitu terkejut. Dia yang tadi belum begitu paham mengapa harus pindah ruangan dan kembali di periksa akhirnya paham saat perutnya di USG. Namun, masih sangat tidak percaya dengan rejeki yang hadir ditengah rumah tangga yang baru seumur jagung.
"Benar Bu, Pak, selamat ya!"
"Mas," lirih Rayya dengan air mata yang tak terbendung. Ini yang ia sangat nantikan, hamil dan menjadi seorang Ibu, tetapi sangat mengejutkan jika ia diberi kepercayaan secepat ini. Padahal menikah baru berjalan satu bulanan.
" Iya Sayang, kamu hamil. Alhamdulillah wasyukurillah... Akhirnya kita akan menjadi Papah dan Mamah."
Kabar akan kehamilan Rayya disambut hangat oleh keluarga. Mamah dan Papah pun sangat terharu dengan kabar itu. Mereka ikut menangis memeluk Rayya dengan ucapan syukur yang tersemat.
"Selamat Sayang, semoga sehat terus sampai waktunya tiba."
"Aamiin Mah, makasih atas doanya Mah, Pah," ucap Rayya dengan wajah sembab. Raditya pun dengan sigap mengusap airmata Rayya dan kembali menggenggam tangan istrinya. Pria itu selalu ingin menempel dengan sang istri. Ditambah lagi saat ini Rayya tengah berbadan dua.
Sepulang dari rumah Mamah dan Papah. Raditya menyempatkan diri untuk mampir sebentar di mini market. Rayya yang kini terlelap tidak tau jika dia ditinggal di dalam mobil seorang diri.
"Sebentar ya, Sayang!"
Raditya buru-buru masuk dan memilih apa-apa yang akan dibeli. Lanjut melakukan pembayaran dan segera kembali ke mobil sebelum sang istri bangun. Entah apa yang ia beli, yang jelas Raditnya kembali dengan tentengan plastik besar.
__ADS_1
"Kamu lelah sekali ya Sayang, sampai tidak berasa aku tinggal." Raditya kembali melajukan mobilnya menuju rumah. Jarak mini market dengan rumahnya tidak jauh. Hanya membutuhkam waktu sepuluh menit, mobil sudah terparkir rapi di halaman rumah.
"Sayang, sudah sampai. Ayo bangun!" Raditya mengecup pipi Rayya dengan sedikit merusuh membuat bumil yang satu itu akhirnya terjaga.
"Mas, apa sudah sampai?"
"Sudah Sayang, ayo kita turun!" ajak Raditya yang lebih dulu keluar dari mobil lalu membantu Rayya untuk turun. Raditya lebih dulu mengantar Rayya ke kamar, baru dia kembali membawa belanjaan yang tadi ia beli.
Raditya ternyata membeli buah-buahan dan berbagai macam cemilan. Dia juga tidak lupa membelikan susu hamil untuk Rayya. Berbagai makanan sehat Raditya beli karena yang ia tau jika ibu hamil nafsu makannya bertambah. Jadi Raditnya tidak ingin Rayya merasa lapar di rumah.
"Sayang, minum susu dulu yuk! Setelah ini aku buatkan makan siang."
"Ini susu apa, Mas? Bukannya Ibu hamil tidak boleh sembarangan mengkonsumsi makanan dan minuman?"
Raditya tersenyum, membantu Rayya untuk bangun dan memberikan susu yang tadi ia buatkan.
"Ini susu hamil, Sayang. Jadi kamu tenang saja ya!" jawab Raditya lembut kemudian meminta Rayya untuk meminumnya.
"Enak Mas, kamu kapan belinya?"
"Tadi Sayang, mampir sebentar saat kamu tidur. Aku belikan beberapa rasa agar kamu tidak bosan."
Rayya bersyukur sekali menjadi istri seorang Raditya. Pria yang penyayang dan sangat perhatian. Andai tidak ada kejadian itu, mungkin hidupnya tak sebahagia ini.
"Makasih ya, Mas. Kamu begitu menyayangi aku. Aku bersyukur memiliki kamu. Maaf jika tadi aku begitu merepotkan."
"Sayang, Mas kan sudah bilang. Jangan bicara begitu! Selain itu sudah kewajiban Mas. Aku pun tidak mungkin membiarkan istriku kesulitan dan membuatmu kepayahan seorang diri." Raditya mengusap lembut pipi Rayya, lalu memintanya untuk menghabiskan susu buatannya.
__ADS_1