
Rayya berlari dengan mengangkat rok yang ia kenakan. Wanita itu menyusuri koridor rumah sakit dengan bertelanjang kaki. Mendengar kabar kecelakaan yang menimpa Raditya membuat dirinya mendadak kalut.
Ini arti dari keresahan dihatinya. Air matanya runtuh bahkan dia meninggalkan kedua orang tuanya. Rayya nekat membawa mobil sendiri disaat hati dan pikiran mendadak pelik.
"Kakek!" seru Rayya segera mendekati Kakek Prio yang sedang menunggu di depan ruang operasi.
"Rayya! Kamu datang sendiri, Nak?"
Rayya menganggukkan kepala, dia melihat ruang operasi dengan lampu yang masih menyala, kemudian kembali menatap Kakek Prio yang berwajah sendu dengan ekor mata terlihat masih basah.
"Bagaimana bisa terjadi, Kek?" tanya Rayya dengan mata berkaca-kaca. Kabar mengejutkan itu membuat mentalnya down. Baru ingin membuka lembaran baru tetiba mendapat musibah.
"Ada yang ingin mencelakai Raditya." Rayya menutup mulutnya mendengar jawaban Kakek Prio. Tak menyangka ada yang diam-diam ingin berbuat curang.
"Kasus ini sedang diusut pihak berwajib. Maaf Nak, jika acara malam ini harus gagal. Ternyata rencana kalian tak seindah semestinya. Semoga setelah ini kebahagiaan menjemput kalian." Kakek Prio sungguh tak enak hati dengan Rayya. Beliau iba melihat Rayya yang sudah berdandan cantik dan tak biasa, kini harus bersedih karena mendapati calon suaminya kecelakaan.
"Jangan pikirkan itu, Kek! Rayya tidak mengapa, yang terpenting sekarang Kak Raditya bisa selamat."
"Semoga operasinya berhasil Nak, karena kepalanya mengalami benturan yang cukup kencang dan tangannya pun retak. Dokter melakukan tindakan operasi untuk menyelamatkan nyawa Raditya," lirih Kakek Prio menyurut air mata dibalik kacamatanya.
Tubuh Rayya seketika melemas, dia tak menyangka jika keadaan Raditya sangatlah parah. Kakinya tiba-tiba hilang daya untuk menumpu tubuhnya. Beruntung Papah dan Kakaknya segera datang. Keduanya berlari saat melihat tubuh Rayya lunglai. Mereka menangkap tubuh Rayya dan mendudukkannya di kursi tunggu.
"Jangan panik! Abang yakin semua baik-baik saja. Percayalah, semua sudah diatur oleh yang Kuasa." Regan mencoba menenangkan adiknya. Dia memeluk Rayya dan membiarkannya menangis di pelukan. Regan paham betapa sedihnya sang adik. Dia yang baru dipertemukan setelah berbulan-bulan merasa sangat menyesal karena perannya tak berguna dengan baik.
"Bagaimana Pak, apa sudah dilaporkan ke polisi?" tanya Papah Tio dengan tatapan sendu. Papah Tio sudah menganggap Pak Prio seperti Ayahnya sendiri, terlebih peran beliau yang sangat penting bagi sang istri.
__ADS_1
"Sudah, menurut dugaan ada yang mencelakainya. Ada yang sengaja membuat rem mobil Raditya blong. Kebetulan asistennya yang mengendarai saat kejadian terjadi"
Papah Tio menghela nafas berat, sedangkan Rayya semakin terisak dipelukan Regan.
"Menangislah! Tapi setelah ini kamu harus kuat di depan Raditya. Dia tidak suka kamu bersedih. Ingat tidak, saat kamu jatuh dan menangis karena lututmu terluka? Siapa yang paling panik hingga ikut menangis?"
Rayya menganggukan kepala, dia menyurut air mata dan mengingat semua kenangan masa kecil mereka. Raditya yang sangat penyayang sedangkan dirinya yang posesif hingga Radit tidak boleh bermain dengan anak perempuan lain termasuk Retha, adiknya sendiri.
Langkah kaki Rayya perlahan mendekati pria yang terkulai lemas dengan perban di kepala dan tangannya. Belum lagi ada luka di pipi dan sekitar pelipis. Pria yang gagah kini terkulai lemas di atas ranjang rumah sakit. Ruangan berbau obat yang sangat tak diminati.
"Assalamualaikum Kak, ini Rayya. Calon istri Kakak. Kenapa belum membuka mata? Sudah hampir subuh. Apakah calon suamiku tidak ingin mengimami aku?" lirih Rayya berdiri menatap wajah pucat pria yang tertutup alat bantu pernapasan.
Semenjak keluar dari ruang operasi, Raditya belum kunjung sadarkan diri. Rayya pun enggan pulang meski sudah dibujuk oleh sang Papah. Dia ingin terus menunggu sampai Raditya terbangun dan memastikan kondisi calon suaminya baik-baik saja.
Sementara ada Rayya yang menunggu, Pak Prio, Papah Tio dan Regan mengusut siapa yang menjadi dalang dibalik kecelakaan yang dialami oleh Raditya. Ini bukan perkara kecil, bahkan nyawa taruhannya atau memang palaku mengincar nyawa Raditya.
Tanpa Rayya tau kondisi Raditya pasca operasi dinyatakan kritis. Dokter hanya meminta keluarga untuk banyak-banyak berdoa agar Allah mengangkat penyakitnya sehingga Raditya dapat keluar dari masa sulitnya.
"Ya Allah, begitu sayangnya diriMu hingga memberi cobaan yang bertubi-tubi. Begitu sayangnya Engkau hingga memberi rintangan seterjal ini. Di malam bahagia yang ingin kami lewati mengundang musibah yang membuat sang Adam terbaring lemah."
"Dengan kerendahan hatiku, aku mohon padaMu Tuhan. Beri kesempatan untukku membahagiakannya setelah aku sempat mengecewakan. Rayya mohon... Hiks...Hiks..." Tangis Rayya pecah saat sujud penyempurna doa yang ia utarakan. Sajadah yang menjadi alas tampak basah dengan air mata yang tak lagi tertahan.
"Andai aaminku berjuang sendirian, tidak mengapa asal deritamu dan rasa sakitmu hilang Kak. Hiks....Hiks..."
"Aku mencintaiMu ya Allah, sangat-sangat mencintaiMu. Namun, ijinkan aku bersatu dengan makhluk ciptaanmu. Pria Sholeh dan baik hati. Beri kesembuhan untuknya agar kami bisa menyempurnakan ibadah kami."
__ADS_1
Rayya terlelap di atas sajadah. Raga dan jiwanya lelah menghadapi hari paling menyakitkan. Ini lebih menyakitkan dari apa yang ia alami sebelumnya. Jika kemarin ada Raditya mendampingi setiap sakit yang ia rasakan. Setiap masalah yang menghadang. Namun, kali ini ia merasa sendiri karena orang yang selalu hadir tengah terbaring tak berdaya.
"Aku titip rinduku padanya Ya Allah. Sampaikan padanya, jika disini aku menunggunya."
Rayya membuka mata setelah merasakan usapan lembut di pipinya. Dia melihat sang Mamah sudah ada dihadapannya. Terduduk dengan tatapan teduh dan gurat kesedihan.
Ibu mana yang tak sedih melihat nasib anaknya yang terombang-ambing akan takdir yang meminta harus kuat melalui semuanya dengan tabah.
"Mamah..."
"Bangun, Sayang! Kenapa tidur disini? Dingin Nak!" ucap Mamah Ceri dengan lembut.
"Rayya ketiduran Mah, Mamah baru sampai?" tanya Rayya yang segera bangun. Tubuhnya terasa sakit karena tidur di lantai. Matanya dengan cepat mengarah pada ranjang untuk melihat keadaan Raditya.
"Baru sejali sampai, tadi Papah sempat pulang menjemput Mamah dan Abangmu menitipkan salam. Dia harus pulang karena kedua anaknya pagi ini harus bersekolah."
Rayya menganggukan kepala, dia segera menunaikan dua rakaat yang hampir telat. Setelah itu mendekati sang Mamah yang tengah menatap Raditya dengan tatapan iba.
"Raditya sudah seperti anak sendiri. Mamah sempat ingin mengangkatnya tetapi Kakek Prio tidak mengijinkan karena Raditya adalah segalanya untuk beliau. Cucu yang sangat santun dan penurut. Cita-citanya hanya satu, menjadi sukses untuk keluarga dan gadis yang ia cinta. Yaitu kamu Rayya."
Mata Rayya terpejam kuat dengan helaan nafas berat. Serangkaian kata dari sang Mamah membuatnya kembali meneteskan air mata.
...****************...
Jangan lupa dukung Raditya dan Rayya ya Man teman. Like, vote dan coment, lalu baca hingga akhir. Jangan di timbun ya man teman setiap Babnya🙏 Terimakasih🙏🤗
__ADS_1