Pembalasan Istri Yang Kau Anggap MANDUL

Pembalasan Istri Yang Kau Anggap MANDUL
Bab 42


__ADS_3

Setelah menjelaskan dan bisa menerima dengan baik. Rayya dan Raditya memutuskan untuk segera keluar dari hotel. Beruntung Radit begitu pengertian. Membelikan pakaian lengkap dengan ********** juga. Agak risih tetapi mau gimana. Daripada pakai yang semalam.


Kini keduanya sudah berada di dalam mobil dengan kedua tangan yang terus menggenggam. Tak ada niat Raditya untuk melepaskan, bahkan sesekali kecupan ia layangkan di punggung tangan wanitanya.


"Fokus ke jalan, Kak!"


"Panggilannya diganti lebih lembut lagi bisa nggak Yank? Kok aku aneh ya, sudah menikah masih panggil Kak. Berasa jadi Regan," ucap Raditya kemudian menoleh sekilas dengan menyunggingkan senyum.


Rayya menganggukkan kepala, mungkin pria itu ingin terkesan berbeda karena sudah menikah. Tak lagi jadi Kakak impiannya dulu. Rayya pun maklum, hingga tercetuslah panggilannya yang sekarang. Meskipun sama dengan mantan suami, tetapi Raditya tidak keberatan dan tidak protes.


"Ayo turun, Sayang! Mamah dan Papah semalam sangat mengkhawatirkan kamu. Semoga setelah kita menikah beliau tenang dan tidak lagi kepikiran," ucap Raditya dengan kalem. Turun lebih dulu dan berlari membukakan pintu mobil untuk sang istri. Menggenggam tangannya dan melangkah beriringan dengan tatapan yang selalu berpusat pada Rayya.


"Assalamualaikum..." Keduanya mengucapkan salam yang di balas oleh kedua orang tua yang kini tengah makan siang.


"Wa'allaikumsalam... Rayya!"


Mamah yang hendak akan duduk dan memulai makan, segera melangkah mendekati dan menyambut Rayya. Beliau memeluk Rayya dan mengecup pipi putrinya. Bersyukur sekali Mamah Ceri karena Rayya kini nampak ceria lagi. Terlihat baik-baik saja, tanpa kurang satu apapun.


"Kamu baik-baik saja, Nak? Selamat ya Sayang, akhirnya kalian menikah. Impian yang sempat tertunda tetapi Allah begitu baik telah menyatukan kalian."


"Iya Mah, Rayya bersyukur banyak-banyak," sahut Rayya.


"Raditya juga bersyukur sekali, bisa menjadi suami di malam yang tak terduga." Raditya mengulum senyum lalu merangkul pundak Rayya dan menoleh ke arah wanita itu dengan tatapan penuh cinta.

__ADS_1


Nampaknya pas sekali dengan keduanya yang baru datang. Ikut duduk di meja makan bersama menikmati makan siang dengan status yang sudah berubah.


"Syukurlah kamu baik-baik saja Rayya. Mamah sampai takut kamu kenapa-kenapa semalam. Pria itu harus mendapat hukuman yang setimpal," ucap Mamah Ceri yang masih sangat kesal sekali. Bisa-bisanya putrinya dijebak dan akan dilecehkan. Apa pria itu sudah bosen hidup hingga tak berpikir berurusan dengan keluarga Weda.


"Alhamdulillah Mah, Allah begitu sayang dengan Rayya. Dia menyelamatkan Rayya dengan mengembalikan Mas Raditnya sebagai perantara penolong untuk Rayya."


"Langgeng ya kalian. Baik-baik, kabari Abangmu! Semalam dia juga datang dan menjadi saksi dalam pernikahan kalian," sahut Papah Tio.


"Iya Pah. Nanti Rayya kabari, Abang pasti emosi sekali semalam. Kasihan dia selalu merasa gagal karena Rayya yang selalu ada saja." Tatapan Rayya terlihat teduh dengan helaan nafas berat yang terdengar mengilukan.


Raditya mengusap kepala yang tertutup hijab. Dia tau istrinya merasa bersalah, tapi musibah tidak ada yang tau. Harus banyak-banyak bersyukur karena Allah tidak pernah meninggalkan umatnya.


Pernikahan yang diimpikan oleh seorang Rayya, akhirnya menjadi kenyataan. Dia jatuh ke tangan seorang pria yang bertanggung jawab, kalem, dan memiliki perangai yang baik. Rayya merasakan di ratukan di rumah yang telah Raditya sediakan.


"Mas ayo makan dulu!" ajak Rayya saat semua makanan sudah matang dan siap di santap. Satu bulan menikah tak membuat keduanya kehabisan momen manis bersama. Ada saja waktu untuk keduanya saling bermanja dan bertukar kasih sayang.


"Iya Sayang," Raditya melepas pelukannya dan duduk di kursi siap menyantap masakan sang istri yang seperti candu. Bahkan selama menikah Raditya terlihat lebih berisi dan tambah membuat Rayya gemas.


"Satu piring saja Sayang seperti bisaanya. Setelah ini kita harus melaksanakan ibadah malam. Jadi makannya jangan banyak-banyak. Nanti begah, repot." Raditya mengedipkan sebelah matanya dengan mengulum senyum. Jatah diminta setiap hari, hanya saat Rayya ada tamu saja mereka libur. Seekstrim ini memang dinikahi perjaka. Maunya terus setiap malam tanpa jeda. Beruntung yang dinikahi janda yang sudah berpengalaman. Tidak banyak komentar dan siap melayani tanpa keluhan yang berarti.


Rayya mengulum senyum, wajahnya merona tetapi tidak terus mengindari tatapan sang suami. Dia segera mengisi piring dengan makanan untuk porsi berdua. Masakan simple selalu dia buat setiap bada magrib untuk makan malam, karena Rayya masih mengurus perusahaan. Rencananya setelah hamil dia tidak lagi bekerja karena Raditya tidak mengijinkan.


"Mas, nambah dikit lagi ya. Aku laper banget, nggak sempat makan siang tadi di kantor. Kamu mau nggak? Kalau aku ambil agak banyakan."

__ADS_1


"Sudah cukup Sayang, Mas nanti kan akan bergerak. Takut sakit perutnya, kalau lapar nanti gampang makan buah."


Rayya pun tak jadi untuk nambah. Membersihkan piring dan dapur lanjut ke kamar melaksanakan kewajiban empat rakaat sebelum ibadah malam menjemput rejeki di pelukan suami.


Salam dan doa menutup sholat isya dan sholat sunah. Keduanya melipat perlengkapan sholat dan mulai duduk di pinggir ranjang dengan saling berhadapan. Sama-sama diam, dengan tatapan yang saling bertautan. Tersenyum menyelami rasa hingga kedua bibir menyatu menyesap dan saling membuai.


Malam yang syahdu selalu dilalui dengan semangat. Bergerak sesuai porsi, saking memberi dan menikmati. Rayya selalu bisa membuat Raditya tersenyum puas dengan aksinya setiap malam. Bergerak dengan banyak gaya dan menuntut meminta dipuaskan.


"Munduran Sayang, kurang pas!" ucap Raditya dengan suara berat dan mata berkabut gairah. Memposisikan sang istri agar lebih nyaman bergerak. Merengkuh tubuh Rayya dari belakang dengan bergerak sesuai irama.


Seperti malam-malam sebelumya, selalu ada suara manja yang mengiringi setiap gerakan. Dibalas dengan erangan dari Raditnya yang menambah gairah. Keduanya hanyut dalam malam yang indah hingga sama-sama mengakhiri dengan ucapan sayang yang tersemat indah.


"Makasih Sayang, I Love you..." Raditya menarik tubuh Rayya ke dalam pelukannya. Tersenyum puas melihat sang istri nampak lemas dengan gurat kelegaan.


"Love you too Mas. Aku lemas Mas."


Raditya mengecup kening Rayya kemudian menarik selimut sebatas dada untuk menutupi tubuh keduanya. Sama-sama terlelap dengan sisa-sisa kenikmatan yang melenakan.


Huwek


Huwek


Huwek

__ADS_1


"Sayang kamu kenapa?" Raditya seketika melompat dari ranjang dan berlari menuju kamar mandi. Dia melihat sang istri yang masih polos tengah menunduk di depan wastafel.


__ADS_2