
Setelah dua bulan menjalani pengobatan karena trauma yang ia alami. Kini kondisi Rayya jauh lebih baik dari sebelumnya. Bisa dikatakan sudah sehat kembali. Mentalnya sudah tak lemah dan dirinya sudah lebih ikhlas menjalani hidup.
Pagi ini ia ingin menjenguk Reza, dia menyiapkan makanan yang akan dibawa dan beberapa buku yang sengaja ia beli untuk mengisi waktu Reza di dalam tahanan.
"Berangkat sendiri?"
"Iya Mah," jawab Rayya yang segera menyalami tangan sang Mamah. Hari ini weekend, dia ingin mengisi harinya untuk bisa berdamai dengan masa lalu. Banyak pelajaran yang telah ia ambil. Termasuk mengikuti saran dari Raditya.
Rayya pun sudah berhasil membuat keuangan di Perusahaan Weda kembali stabil. Perusahaan pun sudah kembali memberi upah karyawan sesuai dengan revisi mereka masing-masing. Semua Rayya kerjakan dengan dibantu Raditya, Pak Prio dan Pak Hamzah. Mereka bekerja sama dan menjadi team yang solid.
"Mas..."
Reza tak menyangka jika Rayya yang datang mengunjunginya. Reza diam terpaku menatap wanita yang dulu sempat singgah tetapi karena ego dan harta membuatnya gelap mata. Selama berbulan-bulan di lapas dia dapat mengambil hikmah dari perbuatannya dan menyesali dengan apa yang telah terjadi.
Kini, wanita yang ia dzalimi tampak tersenyum menyambutnya. Dia sampai pangling dengan penampilan Rayya yang tak biasa. Perlahan Reza berjalan mendekat dengan mata tak lepas dari wajah Rayya.
"Assalamualaikum Mas," ucap Rayya lembut dengan senyum yang tak luntur.
"Wa'allaikumsalam Rayya," jawab Reza dengan gugup. Dia duduk dengan terus menatap Rayya. Wajah Rayya terlihat berseri dengan aura kecantikan yang semakin menjadi. Jandanya semakin cantik. Reza mengusap wajahnya saat sadar dirinya terlalu terpanah hingga membuat Rayya risih.
"Jangan melihat Rayya seperti itu Mas, kita sudah bukan muhrim lagi. Rayya kesini ingin menjenguk Mas Reza. Bagaimana kabar Mas Reza? Maaf jika Rayya baru datang dan mungkin Mas Reza masih marah dengan Rayya."
Reza menggelengkan kepala, tak ada kemarahan untuk Rayya. Justru penyesalan yang semakin ia rasakan. Reza menyesal telah membuang intan permata. Bahkan rasanya Reza takut jika ada yang jatuh cinta pada Rayya dan memilikinya.
"Mas nggak marah, justru Mas sangat senang Rayya datang. Maafin Mas Rayya, Mas salah. Mas telah menyia-nyiakan kamu. Mas menyesal akan itu," ucap Reza tulus dan ingin meraih tangan Rayya tetapi dengan cepat Rayya menghindar.
__ADS_1
"Maaf Mas, sudah bukan tempatnya lagi. Sekarang Rayya bukan muhrim Mas Reza. Jadi begini lebih baik," ucap Rayya dengan menyematkan senyuman. Dia sengaja menghindari tangan Reza tetapi tetap bersikap ramah padanya.
Reza tercengang mendengar ucapan Rayya, dia semakin kagum dengan mantan istrinya. Rayya wanita baik, dia bisa menjaga marwahnya meski sudah berstatus janda. Sungguh Reza dibuat menyesal bukan kepalang.
"Maaf," lirih Reza dengan menarik tangannya.
"Tidak perlu minta maaf terus Mas, Rayya sudah memaafkan Mas Reza. Rayya kesini membawakan makanan untuk Mas. Ini rayya masak sendiri, semoga Mas suka. Jika dilihat-lihat tubuh Mas Reza semakin kurus. Disini makanannya tidak enak ya, Mas?" tanya Rayya dengan wajah polosnya membuat Reza mendadak rindu dengan sikap lembut Rayya.
Reza menghela nafas berat, dia berpikir bisakah semua kambali. Merajut kembali hubungan yang kandas. Meraih asa yang hampir padam. Bahkan Reza ingin sekali memeluk tubuh wanita yang dulu selalu memberikan kehangatan setiap malam untuknya.
"Masakan disini tidak seenak masakan kamu."
Deg
Rayya terdiam, tangannya yang tadi aktif bergerak membuka satu persatu tempat makan untuk reza seketika terhenti. Dia datang membawa kedamaian, tetapi ternyata malah membuat cinta lama bersemi kembali. Rayya tau, pancaran mata Reza kembali ke dua tahun yang lalu. Penuh cinta yang membuat Rayya memuja. Namun, hati sudah tak berpijak pada pria yang telah menoreh luka.
Reza tersenyum melihat Rayya yang mencoba mengalihkan pembicaraan. Dia sadar, tak mungkin semudah itu meraih hati Rayya lagi. Banyak kesalahan yang telah ia lakukan. Tak semudah itu Rayya mau kembali mengulangnya meski ia sudah berusaha memperbaiki.
"Enak." Reza tersenyum, dia bersyukur bisa kembali merasakan masakan sang mantan. "Masakan kamu selalu enak. Mas habiskan ya!"
"Oh silahkan Mas!" Dengan senang hati Rayya mempersilahkan Reza untuk memakan semua yang ia bawa. Dia diam menatap Reza yang begitu lahap. Pria itu seperti belum pernah makan, terlihat sekali bersemangat dan benar-benar menghabiskan semua makanan yang ia bawa.
Ada rasa iba, tapi Rayya menolak untuk kasihan dan berujung lemah. Dia hanya ingin menjalin silaturahmi yang baik. Menghilangkan rasa dendam dan memperbaiki hubungan dengan mantan suami. Rayya pikir dengan tindakannya beberapa bulan yang lalu, itu sudah cukup untuk membalaskan perlakuan Reza padanya.
"Aku terlalu antusias, maaf jika memalukan. Tapi aku takut tidak bisa lagi menikmati masakan kamu."
__ADS_1
Rayya menganggukkan kepala dengan sedikit tersenyum. Dia menatap Reza yang membereskan kembali tempat makan yang sudah kosong. Rayya pun dengan sigap ikut membantu.
"Pulangnya hati-hati ya! Sebentar lagi pasti Mas dipanggil untuk masuk kembali."
"Iya Mas, Rayya naik taksi kok tadi. Jadi aman, dan ini Rayya bawakan buku untuk Mas. Untuk mengisi waktu Mas di dalam. Ada sarung dan peci juga. Mungkin Mas kesulitan untuk sholat karena mungkin sebelumya tidak bawa."
Reza melihat isi paper bag yang Rayya berikan. Dia terpanah melihat ada perlengkapan sholat dan beberapa buku. Dia sampai lupa akan kewajibannya yang entah sejak kapan ia tinggalkan.
Reza menghela nafas berat, dia kembali menatap wajah cantik Rayya dengan hati tak karuan. Hatinya tersentil, dia malu dan merasa ragu untuk berharap pada Rayya.
"Terimakasih, kamu masih baik sama Mas. Ini akan Mas pergunakan dengan baik."
"Iya, kalau gitu Rayya pamit ya Mas. Sehat-sehat di dalam sana. Assalamualaikum." Rayya segera beranjak dari duduknya dan siap untuk pulang.
"Wa'allaikumsalam, Rayya!"
Rayya kembali menoleh ke belakang setelah mendengar panggilan dari Reza. "Iya Mas, ada apa?"
"Kamu semakin cantik, hati-hati ya!"
Rayya mengerutkan keningnya, dia tidak mengerti dengan apa yang Reza maksud. Namun, secepatnya dia menganggukkan kepala lalu melangkah keluar.
"Cantik? Mungkin ini kali ya kata banyak orang. Jika sudah tiada baru terasa. Eh salah, tepatnya janda semakin di depan." Rayya menggelengkan kepala dengan tertawa kecil. Dia segara melangkah keluar dari sana. Namun, lagi-lagi langkahnya terhenti melihat siapa gerangan yang tengah menunggunya.
"Kak, Kok ada disini? Ngapain?"
__ADS_1
"Ingin menjemput jantung hati yang sedang menyambangi mantan suami. Kamu membuat aku ketar ketir sendiri. Apa lagi setelah menjanda calon istriku semakin menggoda."