
Sepulang dari kantor, Rayya menyempatkan diri untuk mampir menjenguk Mamah. Dia mendapatkan kabar dari sang Papah jika Mamahnya sedang tidak enak badan. Mungkin karena terlalu memikirkan nasib putrinya yang belum kunjung bahagia membuat kondisi kesehatan beliau menurun.
Sebelum sampai di rumah Rayya menyempatkan diri untuk mampir membeli martabak telor kesukaan Mamahnya. Dia tersenyum menatap Ibu yang telah berjuang melahirkan dan membesarkannya nampak pucat berbaring di atas tempat tidur.
"Assalamualaikum Mah, Rayya pulang." Beliau menoleh dan mengukir senyum menyambut kepulangan putrinya. Sudah berbulan-bulan Rayya jarang pulang dan itu membuat beliau kepikiran dan rindu berat.
"Wa'allaikumsalam anak Mamah, sini Nak! Mamah rindu sekali dengan Rayya. Tubuhmu kurusan Sayang, jangan terlalu dijadikan beban! Sempatkan dua kali dalam sepekan untuk menikmati tidur di kasurmu yang empuk. Mamah tidak ingin kamu pun ikut sakit."
Rayya mengulas senyum, dia memeluk sang Mamah dengan mata berkaca tetapi sebisa mungkin tak menjatuhkan bulir bening yang selama ini selalu menemani langkahnya.
"Rayya baik-baik saja, Mah. Tidak perlu mengkhawatirkan Rayya, Mah! Mamah yang jangan banyak memikirkan Rayya. Rayya sehat dan cukup waras. Di sana Rayya senang bisa mengurus Kak Raditya. Dia begini juga karena Rayya Mah. Doakan Kak Raditya sembuh dan segera bangun dari masa komanya ya Mah."
"Tentu Sayang, Mamah selalu mendoakan. Dia sebagian dari kebahagiaan kamu. Mamah selalu meminta dengan penuh harapan pada Sang Ilahi semoga Raditya cepat pulih dan kalian bisa hidup bahagia."
Mamah Ceri mengusap lembut kepala Rayya yang tertutup hijab. Bisa kembali memeluk putrinya setelah lama jarang ada waktu bersama merupakan obat mujarab. Dua hari Rayya memutuskan untuk mengurus sang Mamah. Menitipkan Raditya bersama Kakek Prio.
"Mamah sudah sembuh?"
"Sudah Nak, kamu sudah bisa berangkat kembali ke kantor dan menjenguk Raditya di rumah sakit. Sepertinya Mamah juga ingin ikut menjenguk, sudah beberapa Minggu Mamah tidak berkunjung ke rumah sakit."
"Boleh Mah, Rayya akan mampir kesana sebelum berangkat ke kantor. Bareng sama Rayya saja, Mah. Nanti pulangnya baru Rayya pesankan taksi untuk Mamah. Eh tapi Mamah beneran sudah kuat?"
"Sudah Sayang, berkat tangan kamu yang mengurus dan Papah juga tentunya."
__ADS_1
Ibu dan anak itu segera sarapan dan pamit dengan Papah Tio. Sang Papah kebetulan tidak bisa ikut karena ada meeting pagi ini. Beliau harus buru-buru sampai di hotel tepat waktu.
"Kalian hati-hati, jangan ngebut bawa mobilnya Rayya!"
"Baik Pah. Rayya berangkat dulu ya, assalamualaikum..."
"Wa'allaikumsalam..."
Rayya segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Dia mengukir senyum selama perjalanan menuju lokasi. Rasanya tak sabar akan bertemu Raditya. Rindu melanda kalbu, seperti seabad tak bertemu. Padahal hanya bersua, menatap, menyapa tanpa balasan. Itu cukup melegakan jiwa. Membuatnya semakin waras menjalani hidup yang kadung menyesakan.
"Bahagianya anak Mamah, jalannya sampai buru-buru gitu. Awas nanti terkilir, kamu pakai high heels loh!" ucap Mamah mengingatkan membuat Rayya malu dengan wajah menimbulkan semburat merah jambu.
"Mamah ini, jangan menggodaku pagi-pagi Mah!"
Rayya mengucap salam setelah membuka pintu ruangan yang sudah dua hari tak ia kunjungi. Namun, senyumnya luntur saat ia tak menemukan sosok pria yang menjadi semangatnya selama ini.
"Loh, kok sepi Sayang? Kakek Prio juga tidak ada. Ranjangnya juga rapi, kemana Raditya? Apa pindah kamar? Atau sedang melakukan pemeriksaan di ruangan lain?" tanya Mamah membuat Rayya bergegas keluar.
Hati Rayya mendadak tidak tenang. Dia berlari mencari perawat yang bertugas atau tenaga medis lainnya untuk menanyakan keberadaan Raditya. Wanita itu hampir saja ingin menangis, padahal kemungkinan lain ada. Namun, firasat tak akan kembali berjumpa.
"Suster, saya mau tanya. Pasien yang berada di kamar VIP 05 kemana ya? Mengapa kamarnya tak berpenghuni? Apa sedang ada pemeriksaan di ruangan lain?"
"Maaf Bu, Pasien yang Ibu maksud sudah dipindahkan ke rumah sakit lain."
__ADS_1
Rayya mengerutkan keningnya, hatinya bergejolak tak karuan. "Pi..Pindah di rumah sakit mana ya Sus?" tanya Rayya dengan terbata. Nafasnya mulai pendek dengan dada yang begitu sesak. Jika memang pindah mengapa tak ada kabar? Tak ada pesan atau berita. Rayya seperti kehilangan sesuatu hingga hatinya mendadak pilu.
"Menurut data tadi pagi, kebetulan saya yang mendampingi Dokter yang bertugas. Kondisi pasien mengalami penurunan, jadi dari pihak keluarga segera menerbangkan pasien ke luar negeri. Untuk rumah sakitnya sendiri saya kurang tau. Ibu bisa menanyakan pada pihak administrasi," ujar suster tersebut lalu pamit untuk ke kamar pasien lain.
Kaki Rayya melemas, ia hampir saja jatuh jika tangannya tidak buru-buru menyangga tubuhnya di kursi tunggu. Air matanya sudah tak mampu ditakar. Terus mengalir dengan hati berantakan. Kehilangan, itu lah yang ia rasakan dan hatinya hampa tak tau arah. Asa seketika pudar menyisakan luka ditinggal sang kekasih.
"Luar negeri, tanpa kabar, dan aku tidak tau mau mencari kemana. Hiks... Takdir, mengapa begini? Hiks... Hiks..."
Mamah Ceri yang sengaja keluar untuk mencari putrinya karena tak kunjung kembali segera menghampiri saat melihat tubuh putrinya bergetar dengan suara isakan lirih.
"Rayya, kamu kenapa Nak?"
"Mamah..." Rayya memeluk Mamahnya saat dirinya tak sanggup lagi menatap dunia. Hidupnya seketika senyap, kabar kepergian Raditya menyisakan rasa sesal yang mendalam.
"Kenapa Rayya? Katakan pada Mamah!"
"Kak Raditya Mah, Kak Raditya... Hiks... Hiks..." Rayya tak sanggup lagi berucap, isakan begitu terdengar menyakitkan.
"Kenapa dengan Raditya, Nak? Tenangkan dulu diri kamu. Jangan begini, Sayang! Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Ingat, Allah tidak akan menguji hambanya di luar batas kesabaran. Kamu tenang ya, cerita sama Mamah pelan-pelan," ucap Mamah Ceri dengan sabar. Beliau mengusap air mata Rayya dengan lembut dan menatap iba putrinya yang terlihat begitu kalut.
Rayya menarik nafas dalam, dia beristigfar dan mencoba untuk tenang. Bukan perkara mudah menenangkan hati di saat gundah datang. Namun, menangis pun tiada guna jika hanya diam tanpa usaha.
Setelah tenang dan meneguk air minum yang sempat Mamah Ceri beli, kini Rayya sudah bisa menjelaskan apa yang terjadi hingga membuatnya begitu sedih. Apa yang telah membuat dirinya rapuh hingga tak tau bagaimana ia kembali untuk melangkah maju.
__ADS_1
"Kondisi Kak Raditya memburuk Mah. Dia dipindahkan ke rumah sakit lain, tapi bukan disini melainkan di luar negri. Rayya nggak tau lagi harus mencarinya kemana, Mah. Tidak ada jejak yang ditinggalkan oleh Kakek Prio."
Rayya menundukkan kepalanya, meratapi kesedihan. Begitupun dengan Mamah Ceri yang begitu sedih mendengar kabar tentang kondisi Raditya. Beliau berharap semua akan baik-baik saja dan Raditya bisa pulih lalu kembali.