
Rayya setengah sadar, setelah lama meminta untuk di lepaskan kini ia bisa bergerak liar. Sedikit sakit karena sempat merasakan tubuhnya diikat tali. Namun, kebebasannya meronta meminta sesuatu yang sudah lama tak lagi singgah.
"Tolong aku, rasanya aku tak sanggup," lirih Rayya dengan peluh yang semakin membasahi tubuhnya. Tak sabar dia pun mulai ingin menanggalkan apa yang ia kenakan, tetapi tangannya ditahan oleh tangan pria itu.
Samar-samar dia melihat pria yang telah lama dirindukan. Memeluk erat dengan tangan mulai bergerilya membuka satu persatu kain yang masih melekat.
Sentuhan pria itu bagai air di hamparan gurun pasir. Menyembuhkan dahaga menyiram tubuh yang begitu haus akan belaian. Malam ini Rayya merasakan di atas awan. Entah apa yang telah membuatnya hilang kendali. Namun, dia begitu merasakan surga dunia yang telah lama pergi.
Lenguhan menggema dengan nada manja suara Rayya yang menambah gairah pria yang kini mengukungnya memberikan sesuatu yang Rayya inginkan. Hingga dia bisa merasakan keduanya telah tak berbahan.
Gerakan lembut melenakan membuat Rayya terlena dan lupa daratan. Semakin pagi semakin terik dan semakin enggan untuk berhenti. Bahkan Rayya lupa akan jati diri dan statusnya yang kininia sandang.
Kecupan-kecupan dari sang Adam membuat Rayya semakin tak bisa diam dan itu membuat pria yang kini masih bergerak aktif di atasnya tersenyum bahagia. Semakin ingin dan ingin, entah sudah berapa kali mereka melakukan dan mengulang lagi kegiatan panas yang membuat peluh bercampur menjadi satu.
Satu hentakan meluluh lantah dan membuat Rayya menjerit puas. Lega dan lelah, itu yang membuat Rayya kini terlelap tanpa mampu membuka mata. Hanya samar-samar dia mendengar suara pria mengucapakan kata terimakasih lalu dia tak lagi mampu terjaga.
Hampir petang Rayya mulai merasakan tubuhnya remuk redam. Dia merasakan tulangnya seperti hancur dan ngilu sana sini. Matanya perlahan mulai terbuka, meskipun masih enggan terjaga. Dia merasa lelah sekali hingga enggan hanya sekedar untuk bangun sebentar. Jika tak ada dorongan dari tubuhnya yang ingin segera membuang hajat mungkin Rayya masih terlelap.
"Kepalaku..."
__ADS_1
Pusing mendera setelah mata mulai terbuka. Matanya samar-samar mengintai sisi kamar yang asing baginya. Melihat sekitar dengan penuh tanda tanya, hingga kepingan ingatan akan kejadian semalam mulai kembali dan datang membuatnya mendadak panik.
Rayya melihat kondisinya saat ini, dia begitu terkejut melihat tubuhnya polos hanya tertutup selembar selimut tebal. Pakaiannya berserakan di lantai begitupun dengan pakaian pria yang teronggok berdampingan dengan kain tipis pribadinya.
"Astaghfirullah apa yang telah terjadi?" Rayya memijit pelipisnya dengan air mata yang sudah menggenang. Dia memeluk lutut dengan isakan yang mulai terdengar.
"Nggak mungkin, ini nggak mungkin. Kenapa bisa terjadi seperti ini Ya Allah? Hiks ... Hiks..."
Rasa sakit ditubuhnya jelas tak bisa menyangkal sesuatu yang telah terjadi semalam. Rayya berteriak menyesali keadaan yang membuatnya terjebak dalam kegiatan panas semalam.
Tiba-tiba rasa hangat dan ingatan akan kegiatan yang memuaskan dirinya kembali hadir. Dia bertanya-tanya apa benar Pak Leo yang melakukan itu, tapi bayangan akan wajah Raditya penuh peluh bergerak di atas tubuhnya samar hadir membuat Rayya semakin menangis.
"Maaf Mas, aku tidak bisa menjaganya. Aku tidak pantas untukmu, Mas!" Rayya semakin kalut, dadanya sesak dengan gerakan terseok masuk ke dalam kamar mandi.
Rayya keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan bathrobe. Dia enggan memakai pakaiannya semalam. Gamis itu mengingatkan saat Pak Leo mengangkat tubuhnya masuk ke dalam hotel.
Rayya terdiam di depan meja rias, menatap pantulan wajahnya dengan leher penuh bekas merah yang berubah membiru. Entah kemana pria yang semalam singgah dan kini tak lagi menampakkan batang hidungnya. Rasanya Rayya sudah ingin meninju pria itu. Yang pergi tanpa tanggung jawab.
Dering ponsel membuatnya bangkit dari sana. Dia membiarkan rambutnya tergerai basah dan melangkah perlahan ke tepi ranjang. Sungguh pria itu benar-benar menggempur habis dirinya. Rayya sampai kesulitan untuk hanya sekedar berjalan yang berjarak beberapa langkah saja.
__ADS_1
"Auwh..." Lagi-lagi Rayya meringis merasakan pangkal pahanya yang lecet. Rasanya tak tahan seperti kembali pada saat malam pertama. Mungkin karena sudah lama tidak melakukan atau memang karena kegiatan semalam begitu menggairahkan hingga sama-sama lupa dan bergerak brutal.
"Mamah..."
Rayya tak sanggup mengangkat panggilan yang jelas itu dari sang Mamah. Air matanya kembali berderai merasa menjadi anak yang tak berguna. Dia telah mencoreng nama baik keluarga. Baru bisa mengembalikan sudah membuat malu lagi. Bagaimana jika kedua orang tuanya tau jika dirinya semalam tidur dengan pria yang bukan suaminya?
"Berapa kali pria brengsekk itu melakukannya? Bagaimana jika dia meninggalkan benih yang nantinya tumbuh di rahimku? Ya Allah bagaimana ini? Aku tidak sanggup membayangkan hidupku kelak. Kenapa begitu besar ujian untukku? Segitu sayangnya Engkau hingga membuatku tak sanggup lagi untuk hidup..."
Rayya tak tau lagi harus berbuat apa, ingin pulang pun dia belum kuat. Sekali pun bisa dia tidak sanggup untuk bertemu orang rumah. Ujian ini membuatnya enggan untuk kembali kuat. Dia tidak akan sanggup jika nantinya akan ada cobaan lagi yang datang.
Rayya meraih ponselnya kembali, dia mencari kontak Pak Leo dan segera menghubungi. Berulangkali dia mencoba hingga hampir lima kali panggilan ia layangkan tetapi tak kunjung ada jawaban. Rayya dibuat semakin kesal, tetapi wanita itu kembali berusaha. Mencoba menghubungi wanita yang menjadi sekertaris cantik yang semalam begitu baik tetapi ternyata bersekongkol dengan atasannya.
"Aaagghh!" Rayya melempar ponselnya kemudian menjambak rambutnya sendiri. Tak ada yang bisa dihubungi dan itu membuat Rayya semakin frustasi.
"Ya Allah apa yang harus aku lakukan? Harus kamana aku minta pertanggung jawaban?" Rayya kembali merebahkan tubuhnya dengan meringkuk di atas kasur. Dia tak tau arah ingin kemana. Biarlah nanti ia keluar setelah pihak hotel mengusirnya. Dia tak perduli, takdirnya begitu kejam saat ini.
Rayya kembali terlelap setelah lelah menangis. Beban cobaannya begitu membuatnya lemah. Kali ini mungkin Rayya akan menyerah. Melupakan cintanya dan mengikuti arah angin ingin membawanya kemana. Pasrah sekalipun harus jatuh pada pria yang dia benci sekalipun.
Usapan di kepala membuat Rayya terusik. Air mata yang tadi masih menggenang kambali jatuh karena matanya yang mulai bergerak akyif. Rayya masih diam merasakan usapan lembut itu, tetapi tetiba hatinya memanas dan perasaan jijik akan pria yang telah mencuranginya kembali mengusik.
__ADS_1
Rayya membuka mata dan berusaha bangun, dia menarik selimut yang entah sejak kapan singgah menutupi tubuhnya padahal seingatnya tadi dia tak mengindahkan selimut yang terjatuh di lantai.
Tatapan mata Rayya berpusat pada pria yang kini duduk tak jauh darinya. Jantungnya bertalu melihat pria itu. Namun, pria yang ada dihadapannya hanya menyeringai dan mencoba meraih tangannya.