
Sepulangnya dari Sana Company, Raditya mengajak Rayya makan siang terlebih dahulu. Mereka mampir ke restoran lesehan pilihan Rayya. Hati senang makan pun lahap membuat Raditya lega melihatnya.
"Jangan menyisakan sambal di bibir Bu, karena saya belum bisa membersihkannya!" ucap Radit dengan memberikan tisu kepada Rayya.
Rayya yang sibuk mengunyah seketika berhenti dan melirik penampilannya dari kaca. Benar saja ada sambal yang menempel di bibirnya. Dia meraih tisu yang Radit berikan dengan bibir mengerucut.
"Tidak perlu menunggu halal untuk membersihkan sisa sambal! Repotnya!" celetuk Rayya, kemudian membersihkan bibirnya yang kotor dan kembali melanjutkan makan.
Raditya tidak menggubris ucapan Rayya, dia hanya tersenyum samar dan menghabiskan makanan miliknya. Keduanya kembali ke kantor dan mendapat dari Pak Prio yang telah menunggu dilobby. Rayya turun dari mobil dan segera berlari memeluk beliau. Bahagianya dia bisa kembali memulihkan kondisi perusahaan sang Papah.
"Senang sekali cucu kakek!"
"Iya Kek, itu peninggalan Opa Juna. Kasihan beliau kalau tau perusahaannya hampir bangkrut karena cucunya."
Pak Prio tersenyum menatap Rayya dan Raditya secara bergantian, kemudian mengajak mereka segera masuk untuk membahas langkah selanjutnya.
Setelah jam kantor usai, Rayya segera diantar pulang oleh Raditya. Pria itu tak banyak bicara tetapi perhatiannya membuat Rayya terkadang merasa istimewa. Tanpa diminta pria itu membukakan pintu dan memasangkan sepatu di kakinya.
"Biar saya saja Pak," ucap Rayya kemudian menundukkan kepala tetapi dengan cepat Radit mencegahnya. Perlakuan simple tapi mampu membuat hati janda yang satu itu meleleh.
Tadi memang Rayya sengaja membuka sepatunya kerena begitu pegal seharian tidak dilepas. Hanya pada saat sholat saja ia lepas selebihnya dia pakai mondar-mandir dan berjam-jam bekerja tanpa semenit pun ia buka.
__ADS_1
Baru kali ini Rayya merasakan perlakuan manis yang begitu tulus dari seorang pria. Bersama mantan suaminya, mereka pun sempat melalui hal indah bersama tetapi tak semanis hal sepele seperti ini.
Raditya mengerutkan keningnya melihat kaki Rayya memerah. Dia ingin mengusap tetapi tertahan karena ingat akan status mereka yang belum halal.
"Maaf Bu Rayya, lain kali jangan pakai sepatu ini lagi! Jika perlu dibalut kaus kaki agar tidak lecet!" ucap Raditya yang kemudian memasangkan sepatu di kaki Rayya.
Rayya hanya menganggukkan kepala, memang ia merasa sedikit perih di kakinya. Maklum mungkin karena sepatu jarang dipakai jadi tidak nyaman. Dia pun baru ingat ini adalah sepatu pemberian dari mantan suami. Mungkin setelah ini ia tidak akan memakainya lagi dan menyingkirkan barang-barang yang menjadi kenangan bersama Reza.
"Kasihan kaki anda hampir luka, lain kali pakailah yang lebih nyaman!" ucap Raditya setelah kedua sepatunya telah terpasang.
Rayya mengerutkan keningnya menatap Raditya yang kini sudah berdiri kembali. Pria ini cukup perhatian meski tak banyak tingkah. Rayya pun segera keluar dari mobil, dia berdiri tak jauh dari sana dengan melirik Raditya melalui kaca mobil.
"Terimakasih telah menjadi asisten yang baik dan hati-hati dijalan!" ucap Rayya tanpa menoleh. Sama-sama menjadikan kaca mobil sebagai perantara untuk keduanya saling berinteraksi.
Rayya tercengang mendengar ucapan Raditya. Kali ini ia tidak lagi hanya melihat melalui kaca mobil. Namun, segera menoleh menatap Raditya dengan alis menukik.
"Kamu merayu saya? Bagaimana jika saya tidak mau? Luka ini belum kering Pak Raditya. Bahkan sakitnya masih terasa setiap malam. Duri yang menancappun belum semua terlepas. Masih butuh waktu pengobat pilu. Jangan berharap banyak dengan janda yang memiliki rasa dendam dan meninggalkan trauma! Karena saya tidak ingin membuat kecewa."
"Tidak ada yang bisa mengobatinya selain Ibu sendiri. Hanya ikhlas yang tulus obat terampuh dari segala luka hati. Bukan waktu atau orang lain. Memohonlah agar hati lekas dipulihkan dan kembali dilembutkan! Begitupun dengan saya, nama Rayya Salsabila selalu terselip disetiap sujud saya. Semoga harapan dan doa segara diijabah dan amin yang saya langitkan bisa bertemu kepada pemiliknya." Kalem, lembut, sabar, dengan pembawaan yang santai. Itulah Raditya, bukan hanya wajahnya saja yang tampan. Akhlaknya pun membuat Rayya geregetan.
Rayya terdiam mencerna ucapan dari Raditya hingga dia tak sadar jika mobil pria itu sudah tak lagi terlihat. Masih ada sakit, berarti ikhlasnya masih sempit. Rayya menyentuh dadanya. Dia merasa begitu perih saat wajah Reza dan Ibu Hanum terlintas jelas diingatan. Perlakukan kasar yang tak mudah dilupakan.
__ADS_1
"Ikhlas, singkat tapi begitu sulit dilakukan. Mampukah aku untuk itu?" Rayya menghela nafas berat, dia menoleh ke samping. Kosong tak berpenghuni, kemudian menoleh ke arah pagar yang sudah kembali tertutup oleh scurity.
"Sudah pulang... Tidak sopan!" gumam Rayya kemudian melangkah masuk ke dalam rumah.
Malam ini Rayya merasa gelisah dengan mimpi buruk yang membuatnya terjaga ditengah malam. Bayangan perlakuan kasar hingga kdrt yang diberikan oleh Reza membuatnya meringkuk memeluk lutut dengan tubuh bergetar. Isak tangis mulai terdengar seiring serpihan ingatan akan pernikahannya terdahulu dengan tuduhan mandul semakin menjadi hantu.
Sebelumya hanya bayangan yang membuat hati berdenyut nyeri. Namun, pikiran akan perusahaan yang mulai terkendali membuat kenangan itu semakin kuat menghantui. Bayangan akan perlakukan buruk mengusik kekosongan hati dan pikiran. Rayya menjambak kuat rambutnya. Dia butuh seseorang disampingnya, tetapi tidak mungkin membangunkan Mamah dan Papah yang malah akan menambah pikiran.
"Hiks... Sakit... Aku takut... Hiks... Hiks..."
Rayya tidak bisa tidur, bahkan sudah hampir seminggu istirahatnya terganggu dan itu juga berpengaruh pada tubuhnya yang terlihat layu. Lingkar matanya menghitam dengan rona wajah yang semakin memucat. Belum lagi dia harus bekerja dua tempat sekaligus. Kedua orang tuanya sudah melarang agar Rayya tidak memforsir dirinya dalam bekerja. Namun, rasa tanggung jawab membuat Rayya enggan mendengarkan.
Pagi sibuk di kantor malam tak bisa tidur. Parahnya lagi Rayya tak mau menceritakan semua yang ia alami dengan siapapun. Hanya saja sudah tiga hari ini pekerjaannya sedikit terbantu karena Raditya memutuskan untuk tetap di kantor Mamah Ceri sedangkan dirinya dibantu Pak Prio di perusahaan Weda.
"Aaagghhh!!" Lagi dan lagi, sudah hampir sebulan ia mengalami mimpi buruk. Semakin masalah kantor teratasi, semakin masalah mengecil, semakin bayangan akan kekerasan yang dilakukan Reza dan ibu mertua menghantui. Air mata pun terus menemani setiap malam, sampai hari ini Rayya tak dapat berangkat ke kantor dan terkulai lemas di atas ranjang.
"Sayang, sudah siang Nak!" seruan lembut mengusik telinganya tetapi mata enggan terbuka. Rayya begitu lemas, entah di jam berapa ia baru bisa terlelap. Kepalanya berat dengan tubuh begitu lemas.
Mamah Ceri yang merasa aneh dengan sikap Rayya segera malangkah mendekat. Beliau duduk di pinggir ranjang dan perlahan membuka selimut yang menutupi wajah putrinya.
"Astaghfirullah Rayya! Kamu kenapa, Nak?" Mamah Ceri segera berlari keluar kamar memanggil suaminya yang tengah sarapan ditemani Raditya yang datang ingin menjemput Rayya.
__ADS_1
...****************...
Jangan lupa like, coment, dan vote ya. Dukung terus sampai Rayya dan Raditya bisa bersatu. Jangan lupa follow Ig aku ya weni0192