
"Bagaimana bisa kamu tidak jujur dengan Mamah dan Papah, Nak? Sedangkan kami sejak awal sudah curiga ada sesuatu yang kamu sembunyikan, tapi karena Mamah dan Papah tak ingin ikut campur rumah tangga anak. Kami diam sampai menunggu kamu bercerita. Meskipun setiap malam hati Mamah tidak tenang." Mamah Ceri menyurut air mata dan kembali memeluk Rayya.
Tadi Rayya memutuskan untuk ikut pulang bersama sang Papah. Padahal dia ingin pulang ke rumahnya sendiri yang sekarang tak berpenghuni. Rayya ingin membereskan rumah itu dan mengembalikannya pada Mamah dan Papah. Namun, sang Papah mendesaknya untuk pulang karena Mamah sudah menunggu di rumah.
"Maafin Rayya, Mah. Rayya malu dengan Mamah dan Papah. Apa lagi menikah dengan Mas Reza adalah pilihan Rayya. Tidak mungkin Rayya mengeluh dengan pilihan Rayya sendiri pada Mamah dan Papah," jelas Rayya kemudian mengusap lembut air mata sang Mamah. Sedangkan Papah Tio diam menyimak dengan hati lega karena putrinya sudah terlepas dari pria yang tak bertanggung jawab.
"Tapi kamu baik-baik saja kan, Nak? Katanya kamu mengalami kekerasan dalam rumah tangga, Sayang? Ya Allah Mamah sakit mendengarnya, Nak." Bagaimana tidak sakit jika dirinya seperti flashback ke masa lalu saat masih dengan Papah kandung Rayya. Mengalami diperlakukan kasar dan jauh dari kasih sayang karena pernikahan yang terpaksa.
"Aku sehat, Mah. Lihatlah!" ucap Rayya dengan merentangkan kedua tangannya.
Sang Mamah menganggukkan kepala dengan menyunggingkan senyum dan mata berkaca-kaca. Dia tau putrinya tak akan jujur dan membuatnya khawatir. Rayya begitu mandiri. Sejak menikah tidak pernah terlontar sedikitpun keluh kesah dari mulutnya dan semua kejelekan tentang Reza. Hingga Mamah dan Papah percaya jika Reza pria baik dan rumah tangga mereka pun tak ada masalah yang berarti.
"Besok Rayya akan menjadi saksi dalam persidangan Mas Reza, Mah. Apa Mamah dan Papah mau ikut mendampingi Rayya?"
"Tentu Sayang, sekarang kamu bersih-bersih dulu, makan dan lanjut istirahat. Mulai sekarang kamu tinggal disini lagi kan, Rayya?" tanya Mamah Ceri. Terlihat sekali wajah penuh harap yang membuat Rayya tidak tega. Sebenarnya ia ingin tinggal di apartemen karena ingin tetap mandiri dan tidak ingin membebani orang tua. Rayya menoleh ke arah sang Papah, anggukan mantap dari beliau membuat Rayya tersenyum.
"Iya Mah," jawab Rayya.
Jawaban itu menciptakan kebahagiaan bagi sang Mamah. Usapan lembut di kepalanya dari sana Papah pun membuat Rayya sangat merasa di sayangi oleh kedua orang tuanya. Memang tidak ada kasih sayang sebesar mereka. Bahkan suami yang ia harapkan akan memberi surga justru mengecewakan.
__ADS_1
Pagi ini Rayya dan kedua orang tuanya telah sampai di pengadilan. Kedua orang tuanya turun lebih dulu dari mobil, sedangkan Rayya masih diam disana.
Sejak tadi wanita itu mengatur nafas untuk menenangkan diri karena akan kembali bertemu dengan mantan suami. Bukan hal yang mudah meski hati puas karena sudah mampu membalas dendam, setelah dulu sempat terjerat cinta. Jika boleh memilih Rayya, tidak ingin hadir. Namun, dia menjadi saksi dalam perkara kasus korupsi yang Reza lakukan.
Rayya tersentak saat pintu mobil tiba-tiba terbuka. Dia menoleh ke arah pria yang diam dengan menyunggingkan senyuman di wajah tampan yang kelem khas darinya. Siapa lagi jika bukan Asisten Raditya. Tanpa diminta pria itu datang untuk ikut mendampingi Rayya.
"Anda mengejutkan saya, Pak Raditya!" celetuk Rayya, kemudian dia meraih tasnya dan segera keluar dari mobil.
"Tidak baik pagi-pagi melamun! Jika sholawat bisa menenangkan hati mengapa harus diam tanpa menyebut nama sang ilahi?" tanya Raditya dengan lembut.
Rayya menoleh ke arah Raditya yang tampak terdiam sedikit menganggukkan kepala, kemudian perlahan menutup pintu mobilnya. Gemas sekali Rayya melihat pria itu, terlebih pagi-pagi sudah mendapat ceramah. Seperti kembali ke masa remaja yang setiap hari selalu mendapatkan tausiah dari sang Kakak.
Masuknya Rayya ke ruang sidang disambut oleh tangis dari Ibu Hanum. Baru saja Rayya melangkahkan kakinya masuk kedalam ruangan itu. Ibu Hanum tiba-tiba mendekat dan bersimpuh di kakinya.
Rayya tercengang melihatnya, wanita itu menoleh ke arah beberapa orang yang datang untuk menyaksikan jalannya persidangan. Belum lagi ada pihak wartawan yang mengabadikan, karena kasus ini cukup besar. Ternyata Reza bukan hanya korupsi pada perusahaan sang Papah tetapi setelah ditelaah lebih dalam. Reza pun menggelapkan saham perusahaan lain.
"Ibu, bangun! Jangan begini!" titah Rayya yang ingin membantu Ibu Hanum dengan meraih kedua pundaknya tetapi beliau enggan untuk berdiri.
"Rayya, mengapa kamu tega, Nak? Kurang apa anak Ibu selama ini? Hanya karena masalah sepele kamu menceraikan dia dan sekarang kamu melempar dia ke penjara atas dasar korupsi. Dimana hati kamu, Nak? Apa kamu lupa jika selama ini uang Reza, kamu yang menikmatinya? Dia hanya suami yang ingin menyenangkan hati istri, Rayya!" Ibu Hanum terisak dengan melirik ke arah kamera yang menyorot dirinya. Beliau berharap, hal ini akan viral dan Rayya mendapatkan hujatan dari para masyarakat.
__ADS_1
Nampaknya Ibu Hanum tidak terima dengan kasus yang menimpa putranya. Dia pun terkejut mengapa Reza bisa melakukan demikian. Namun, beliau justru menyalahkan Rayya. Hingga berpikir licik, ingin membuat Rayya malu.
Rayya mengerutkan keningnya, dia tak menyangka Ibu Hanum bisa berucap demikian. Rayya menggelengkan kepala tidak terima dengan apa yang beliau ucapkan.
"Apa Ibu ingin membuat Rayya dibenci semua orang? Jangan memfitnah saya, Bu! Negara kita negara hukum, jika ucapan Ibu tidak ada bukti. Bisa saja saya laporkan Ibu dan menyeret Ibu juga ke penjara dengan kasus merusak nama baik saya," ucap Rayya tegas dengan menahan kesal.
Kesabaran Rayya benar-benar di uji, Ibu Hanum seperti tidak ada henti membuat masalah. Bukannya mencari perhatian agar Rayya mau memaafkan malah membuat drama yang akan membuat image Rayya memburuk.
"Sabar, Bu Rayya!" Raditya tiba-tiba mendekat dan meminta Ibu Hanum untuk berdiri, kemudian mendekati para pencari berita untuk menutup kamera mereka.
Entah apa yang Raditya katakan, tapi terlihat semua menurut padanya dan kambali fokus dengan sidang yang akan di mulai. Rayya menoleh ke arah Raditya. Pria itu meminta Rayya untuk segera duduk di kursi dekat kedua orang tuanya.
"Jangan emosi! Kemarahan akan membuat boomerang untuk kamu sendiri, Nak!" ucap Mamah lembut dengan mengusap tangan Rayya.
Rayya menghela nafas berat, kemudian melirik ke arah Raditya yang duduk di samping Papah tio, lalu menoleh ke arah Mamah Ceri yang kini mengulum senyum mengerti arah pandang putrinya.
"Mah, Mamah dapat Asisten Raditya dari mana? Apa dia teman Abang Regan?" tanya Rayya dengan lirih.
"Kenapa? Apa kamu mulai suka sama dia? Atau malah tidak suka karena sikapnya buruk?"
__ADS_1
Dengan cepat Rayya menggelengkan kepala dengan wajah merengut. "Mamah nich Rayya bertanya malah balik tanya. Bukan begitu, dia pintar, baik, dan agamanya cukup baik, macam Abang. Nemu dimana Mah?"