Pembalasan Istri Yang Kau Anggap MANDUL

Pembalasan Istri Yang Kau Anggap MANDUL
Bab 24


__ADS_3

"Rayya!" seru Mamah Ceri yang begitu terkejut melihat putrinya sudah tersungkur di lantai. Sontak suara beliau mengundang perhatian beberapa orang. Termasuk Papah Tio dan Raditya yang sudah berjalan jauh di depan pun dengan cepat menghentikan langkah mereka dan menoleh ke belakang. Keduanya nampak tercengang melihat Rayya yang sudah bersimpuh di lantai dengan lutut dan kedua tangan mencium lantai.


"Akh..."


Kedua mata Mamh Ceri terbelalak melihat Ibu Hanum kini menarik, menjambak dan mencengkeram rambut Rayya hingga putrinya meringis kesakitan. Air mata Rayya pun sudah menggenang dengan wajah merona.


"Dasar perempuan kurang ajar! Kurang baik apa putraku selama ini hah? Puas kamu sudah membuat putraku masuk penjara? Puas kamu telah membuat hidupnya berantakan?" sentak Ibu Hanum.


Mamah Ceri yang tidak terima segera menarik tangan Ibu Hanum dari kepala putrinya, lalu mendorong wanita itu hingga terjatuh. Hati Ibu mana yang tidak saking melihat putrinya diserang tiba-tiba hingga penampilan Rayya kini berantakan. Bahkan Mamah Ceri siap menyerang balik dan melangkah mendekati untuk membalas perlakuan kasar Ibu Hanum. Namun, baru beberapa langkah tubuhnya ditarik dari belakang membuat beliau tak bisa melampiaskan kekesalannya.


"Lepas Pah! Biar Mamah kasih pelajaran dia, Pah! Berani-beraninya dia menyentuh putriku!" Mamah Ceri berusaha untuk memberontak tetapi Papah Tio enggan melepaskan. Beliau tak ingin serangan balik yang diberikan sang istri justru dijadikan masalah baru untuk membalas dendam kepada keluarganya.


"Sabar Mah! Jangan membalas dengan kekerasan! Ingat Rayya, sudah cukup masalah ini memberatkan hidupnya. Putri kita lebih membutuhkan perhatian dari pada Mamah sibuk menyerang balik perempuan sakit itu!" ucap Papah Tio mengingatkan. Beliau pun geram dengan mantan besannya. Namun, cukup waras untuk memberi pelajaran, apa lagi harus membalas dengan kekerasan fisik.


Sementara Papah Tio menenangkan sang istri, Rayya kini masih bersimpuh di lantai dengan rambut menutupi wajahnya. Belaian tangan di kepala mampu ia rasakan. Tak terkena kulit tetapi membuat rambutnya yang berantakan tapi kembali.


"Masih sakit?" tanya pria yang kini bersimpuh di hadapannya dengan suara lembut menenangkan.


Rayya menganggukkan kepala dengan wajah sendu dan mata berkaca. Dia mengangkat kepala menatap Radit yang sudah selesai merapikan rambutnya. Pria itu memintanya untuk berdiri dan duduk di kursi. Sempat bingung saat ingin membantu, tetapi Rayya yang mengerti dengan sendirinya berusaha berdiri dan berjalan menuju kursi.


"Saya pastikan ini yang terakhir kalinya beliau menyerang anda. Setelah itu tidak akan ada lagi insiden seperti ini terjadi," ucap Raditya dnegan tegas. Terlihat sekali dari kedua matanya pria itu menahan emosi.


Rayya yang masih syok dan merasakan sakit di kepalanya hanya diam dengan tatapan sendu. Dia menatap pria yang menjadi pahlawan dadakan untuknya. Pria yang akhir-akhir ini mendampingi dan membantu menyelesaikan masalah dalam hidupnya .

__ADS_1


Raditya segera melangkah mendekati Ibu Hanum diikuti dengan beberapa orang yang tiba-tiba berada di belakang pria itu. Entah datang dari mana orang-orang itu. Rayya mengerutkan keningnya menatap Raditya dengan rasa penasaran akan siapa pria itu sebenarnya.


"Om, Tante, biar masalah ini Raditya yang selesaikan. Silahkan Om dan Tante pulang, kasihan Rayya yang masih terlihat syok dan kesakitan akibat serangan tadi," ucap Raditya dengan tatapan teduh kepada Tio dan Ceri.


Papah Tio yang paham akan apa yang dilakukan Raditya setelah ini segera mengajak istrinya untuk pulang. "Terimakasih Raditya, Om serahkan masalah ini sama kamu!" Papah Tio melirik ke arah Ibu Hanum yang masih duduk di lantai dengan menangis tersedu. Beliau menepuk pundak Raditya dan merangkul sang istri untuk menghampiri Rayya.


"Ayo Mah!"


Raditya menoleh ke arah Ibu Hanum, dia menatap tajam wanita itu kemudian memberi kode pada beberapa pria tadi untuk membawa wanita paruh baya itu pergi.


...****************...


"Apa masih sakit Nak? Maaf Mamah nggak tau kalau tadi kamu diserang sama mantan mertua kamu, Sayang." Mamah Ceri terlihat begitu sedih, beliau mengusap lembut kepala Rayya dan mengecup kening putrinya.


"Mah, Rayya nggak apa-apa, Rayya baik-baik saja. Tidak perlu minta maaf dan bersedih seperti ini! Rayya hanya butuh istirahat saja. Ayo kita pulang Mah, Pah!" ajak Rayya dengan mencoba tetap terlihat kuat dan tersenyum di depan kedua orang tuanya. Ketegaran darinya yang kini sangat dibutuhkan agar kedua orang tuanya tak sedih lagi.


"Baru bangun?" tanya Mamah Ceri saat melihat putrinya menuruni tangga lalu duduk di meja makan.


"Iya Mah, eh ada tamu?" tanya Rayya yang menoleh ke sosok pria yang tengah berbincang dengan sang Papah di ruang keluarga.


"Iya, setelah dari kantor Mamah. Raditya datang untuk menanyakan keadaan kamu. Katanya ia sulit menghubungi Bosnya, maka dari itu datang ke rumah untuk memastikan sendiri."


Rayya menganggukkan kepala dan kembali menoleh ke arah Raditya yang belum tau akan keberadaannya kini. "Rayya sudah tidak apa-apa kok Mah. Sudah lebih baik, hanya masih sedikit nyeri di kepala. Mungkin karena jambakan dari Ibu Hanum terlalu kencang. Sampai beberapa helai rambut aku terlepas. Beruntung tidak botak. Kan lucu, setelah menjanda jadi botak."

__ADS_1


"Kamu ini!" sahut Mamah Ceri, beliau tersenyum melihat putrinya yang sudah nampak membaik. Cukup lega, meski seharian mengkhawatirkan mental putrinya yang pastinya sedikit terganggu setelah mengalami banyak masalah, cobaan, dan serangan. Namun, melihat senyum tulus yang kembali putrinya perlihatkan membuat beliau lega.


"Kamu makan ya, tubuh kamu kurusan. Jelek dilihatnya!" goda Mamah tetapi apa yang beliau katakan benar adanya. Mungkin banyak beban yang harus dipendam sendirian membuat putrinya tertekan.


"Mamah! Mamah Papah sudah makan?"


"Sudah, hanya saja Raditya sepertinya belum. Biar Mamah suruh makan dan sekalian menemani kamu."


Rayya yang akan mencegah sang Mamah hanya bisa menghela nafas berat melihat beliau sudah melangkah menjauh mendekati Papah dan Raditya.


"Kok jadi canggung ya..." Rayya menggelengkan kapala kemudian mengisi piringnya. Dia menoleh ke arah pria yang tiba-tiba duduk di seberang meja makan dengan wajah ramah.


"Makan Pak Raditya!" ucap Rayya mempersilahkan dengan menyisipkan senyuman. Lalu memberikan piring kosong pada pria itu.


Keduanya makan tanpa ada pembicaraan yang mengisi keheningan. Hanya ada dentingan sendok dan garpu yang meramaikan suasana meja makan. Hingga usai barulah Raditya membuka suara.


"Sepertinya keadaan Ibu Rayya sudah semakin membaik."


Rayya yang sedang mengupas jeruk spontan menoleh ke arah Radit. "Dari mana kamu tau? Memang bisa melihat kondisi saya dengan menunduk?" Rayya menggelengkan kepala dan segera melahap jeruk di tangannya.


"Dari cara ibu makan, begitu semangat dan lahap," jawab Raditya singkat dengan suara lembut dan senyum tipis yang tak terlihat.


Rayya tercengang mendengar jawaban dari Raditya. Dia membuang biji jeruk dan kembali menoleh ke arah pria itu. Rayya mengikis jarak hingga tubuh Radit mundur kebelakang berusaha menghindar.

__ADS_1


"Jangan bilang jika diam-diam kamu memperhatikan saya?" tanya Rayya dengan mata menyipit memperhatikan wajah Raditya.


"Jangan terlalu dekat Bu, status anda bisa menjadi masalah untuk saya!" ucap Radit membuat Rayya ingin sekali mencakar wajah tampan pria itu.


__ADS_2