
"Bagaimana, Pah? Apa sudah ada pemeriksaan selanjutnya?" tanya Rayya setelah ia sampai di rumah sakit. Dadanya naik turun dengan nafas menggebu. Emosi serta kecemasan menjadi satu.
Seseorang yang ia anggap sudah menyesali perbuatannya justru menjadi dalang sebenarnya. Mungkin hukuman lima belas tahun penjara tak membuatnya jera. Sampai tega memanfaatkan Ibu yang telah melahirkannya untuk melakukan tindak kriminal.
"Sudah Rayya, kamu cukup peka. Papah bahkan tidak mengira akan itu." Papah Tio menghela nafas berat, begitu rumit sekali masalah anaknya hingga membuat orang lain menjadi korban.
"Rayya hanya mencerna apa yang diucapkan Bu Hanum, Pah. Jika ditelaah tidak mungkin orang waras mau melakukan itu. Ya walaupun ada saja yang bertindak demi keuntungan pribadinya. Tapi Bu Hanum melakukan semua sendiri dan melupakan keselamatannya. Terkesan nekat karena dia memang gila. Tapi Rayya yakin andai dia waras tidak mungkin dia mau sedangkan ancamannya tidak main-main. Dia akan masuk penjara menyusul putrinya."
"Hhmm... Jika memang benar Reza yang menyuruh Ibu Hanum. Dia harus mendekam lebih lama lagi di penjara, jika perlu hingga benar-benar tobat. Atau malah tidak usah kembali sekalian."
Rayya memijit pelipisnya, perkara perceraiannya berbuntut panjang. Kini Rayya melangkah masuk ke ruangan Raditya. Dia menatap sendu pria yang tak bersalah itu. Melihatnya dengan senyuman manis yang mampu meluluhkan hati Raditya andai pria itu sudah terjaga.
Rayya menoleh ke arah sofa, terlebih dahulu dia mendekati Kakek Prio yang sedang duduk dengan tangan memetik biji tasbih.
"Kakek," lirih Rayya. Dia menyalami tangan beliau dan duduk di samping Kakek Prio.
"Kamu tampak lelah, mengapa tidak pulang dan beristirahat? Ada Kakek yang menunggu Raditya. Jangan mengkhawatirkannya, Nak! Kakek tidak mau kamu juga ikut sakit."
Rayya tersenyum dan mengambil tangan Kakek. Dia memijit tangan renta yang masih kuat bekerja itu dengan pijatan lembut yang cukup melenakan.
"Seharusnya yang pulang itu Kakek, biar Rayya yang disini. Kakek yang harus istirahat di rumah. Biar Papah antar Kakek pulang ya. Besok Kakek bisa kembali kesini."
"Tapi bagaimana dengan kamu, Nak?"
__ADS_1
"Rayya sehat, Rayya kuat, dan Rayya ingin mengurus calon suami Rayya," jawab Rayya dengan sangat bersemangat membuat Kakek menyunggingkan senyum.
"Cucu Kakek kembali, Rayya yang Kakek kenal sudah seperti dulu lagi, tapi kamu tidak bisa menutupi rasa sedihmu pada Kakek, Nak!"
Rayya menghela nafas berat, memang benar semua hanya untuk memanipulasi keadaannya. Agar dia terlihat baik-baik saja, padahal rasa sedih dan bersalah begitu menyiksa di dada.
"Rayya hanya sedih melihat Kakak Raditya belum kunjung sadar, Kek. Oh iya Kek, bagaimana dengan kabar Asisten Yogi? Apa dia juga sama seperti Kak Raditya, Kek?"
"Asisten Yogi sudah jauh lebih baik. Besok dia sudah boleh pulang. Tadi pun sempat datang untuk menjenguk Raditya. Syukurlah dia tidak mengalami benturan yang parah, karena mobil membanting ke arah Raditya."
Rayya menganggukkan kepalanya, dia bersyukur karena kecelakaan itu membuat Asisten Yogi tidak ikut kritis. Dia akan sangat bersalah andai Asisten Yogi pun ikut parah.
Setelah Kakek pulang, Rayya memilih untuk duduk di samping ranjang Raditya. Kepalanya ia jatuhkan di pinggir ranjang. Sedikit berjarak dengan tangan pria itu. Kepala Rayya sedikit ngelu. Dia ingin beristirahat sebentar sebelum azan ashar berkumandang.
Namun, sampai hampir magrib Rayya baru terjaga. Dia tampak gelagapan dan buru-buru mengambil wudhu lanjut menunaikan empat rakaat yang tertunda.
"Kakak nggak capek tidur terus? Rayya saja capek lihatnya Kak. Bangun sich, katanya mau nikahin Rayya, tapi tidur terus kerjaannya."
Rayya segera melaksanakan tiga rakaat di awal waktu, lanjut mengaji hingga jadwal empat rakaat pun tiba. Setelah sholat witir sekalian, Rayya baru bangkit dan melipat kembali mukenah serta sajadahnya.
"Laper Kak, Rayya beli makan sebentar ya! Tunggu Rayya dan jangan mencari Rayya kemana-mana." Rayya bergegas keluar kamar dengan langkah panjang. Dia takut Raditya sadar dan tak menemui siapapun. Rayya tidak ingin sedetik saja momen perkembangan kesehatan Raditya terlewatkan.
Rayya menghela nafas berat dengan tubuh sedikit lemas, saat ia kembali tetapi tak melihat perubahan apapun dari Raditya. Dia segera melangkah menuju pria itu.
__ADS_1
"Rayya yakin Kakak pasti lapar. Rayya membeli makanan kesukaan Kakak, tapi karena Kakak nggak mau bangun juga. Ya sudah, makanannya Rayya habiskan."
Rayya duduk dan membuka bungkus makanannya. Ada dimsum dan salad buah yang tadi ia beli. Cukup untuk mengisi perutnya selama menjaga pria yang mulai mengisi hatinya.
"Rayya makan ya Kak. Beneran nggak mau nich? Ya sudah, untuk Rayya saja." Rayya segera memakan habis makanan yang ia beli. Tidak lupa juga dia meminum vitamin yang tadi sempat ia beli di apotik. Rayya bertekad harus kuat dan sehat. Dia tidak boleh sakit karena ada orang yang butuh perhatiannya.
Setiap pagi sebelum Rayya pergi bekerja, dia tak lupa membersihkan tubuh Raditya. Meski hanya sebatas wajah, tangan dan kaki. Sudah hampir tiga bulan Raditya masih dinyatakan koma. Kasus kecelakaannya pun sudah di usut dan memang benar dalang dibalik itu semua adalah Reza.
Kini Reza mendekam di penjara dengan hukuman yang tentunya bertambah. Dia kena pasal pembunuhan berencana. Papah Tio yang mengurus semuanya dan menuntutnya hingga mendekam seumur hidup di sana.
"Hhmm sudah wangi Kak. Semakin tampan saja walaupun rambut Kakak gondrong. Makin putih juga mengalahkanku. Sepertinya Kakak betah disini." Rayya tersenyum kemudian membereskan semua peralatan paginya yang selalu digunakan untuk mengurus Raditya. Rayya pun membereskan keperluannya dan tak lupa sarapan sebelum pergi bekerja.
"Kak, Kakek sudah datang. Rayya pamit berangkat ke kantor ya. Assalamualaikum... Peluk cium dari calon istri, dach!" Rayya melambaikan tangannya setelah melakukan kissby. Kakek hanya tersenyum memperhatikan Rayya. Beliau sudah tak heran lagi karena itu sudah menjadi kebiasaan Rayya setiap harinya.
"Hati-hati, Nak! Jangan lupa makan siang!"
"Siap Kek, assalamualaikum..."
"Wa'allaikumsalam ..."
Rayya menyunggingkan senyum pada Kakek Prio dan melangkah keluar dari kamar. Dia melangkah perlahan hingga menepi di salah satu pilar dengan senyum yang perlahan lenyap terhempas mentari pagi. Itulah kesehariannya selama tiga bulan ini. Selalu sesak setiap kali keluar dari kamar rawat Raditya.
"Aku menantikan kesembuhanmu Kak..." Rayya menyurut air mata. Selalu saja ia menangis setiap pagi. Dia menutupi rasa saat di dekat Raditya dan menumpahkan kesedihan setelah keluar dari ruangan yang sudah beberapa bulan ini menjadi rumah kedua baginya. Bahkan perlengkapan Rayya memenuhi lemari yang disediakan oleh rumah sakit.
__ADS_1
Rayya kembali melangkah setelah ia sudah tenang. Dia mengukir senyum sebelum mengarungi harinya yang kelabu.
"Aku harap ada pelangi setelah hujan."