
Raditya segera memasukkan Rayya ke dalam kamar yang tadi telah dipesan oleh pria yang tak ia kenal. Dia pun terpaksa memeluk dan mengangkat tubuh Rayya karena wanita itu terus saja menggeliat dan ingin membuka pakaiannya.
"Ini panas sekali, aku... Aku... Mau... Akh!" Rayya tak terima saat tubuhnya yang begitu panas justru diikat hingga sulit bergerak.
Wanita itu terus memberontak hingga Raditya mengencangkan ikatannya. Ada rasa bersalah di hati Raditya. Dia merasa gagal menjaga Rayya dan kini sampai harus mengalami sesuatu yang akan merenggut harga dirinya.
"Lepas, tolong aku! Aku ingin.. Akh..." Rayya terus memberontak tetapi tenaganya mulai surut. Namun, wajah yang begitu tersiksa membuat Raditya tak tega.
"Apa yang harus aku lakukan? Kenapa bisa begini, Rayya? Maaf kan aku yang telah meninggalkanmu selama itu."
Tangan Raditya terulur ingin mengusap peluh di kening Rayya, tetapi tak lama ia segera beristighfar dan mengurungkan niatnya.
"Maaf Rayya, aku tidak bisa menjadi penawar akan sakitmu."
Raditya mondar mandir di samping Rayya yang kini masih gelisah di atas ranjang. Hingga ia tak sanggup menahan dan memutuskan untuk menolong jodoh yang tertunda.
Raditya bersimpuh di hadapan Rayya, menatap lekat wanita yang ingin sekali menerjangnya. Raditya menarik nafas dalam, keputusannya sudah bulat. Biarkan rencana tinggal angan. Tugasnya saat ini adalah membantu Rayya untuk keluar dari belenggu obat.
"Tunggu aku, tunggu sebentar saja! Aku akan kembali dan memberikan apa yang kamu mau," ucapnya lirih begitu lembut di telinga.
Raditya bergegas keluar dari kamar, waktunya tak lama karena Rayya benar-benar butuh pertolongan. Dia berlari ke tempat resepsionis, meminta nomor calon mertua dan segera menghubungi beliau.
Setelah panjang lebar Raditya menjelaskan, Papah Tio dan Mamah Ceri bergegas datang ke hotel. Beliau juga mengundang penghulu dengan bayaran yang tak tanggung-tanggung. Papah Tio sudah tak lagi memikirkan uang, yang ia pikirkan saat ini adalah keselamatan putrinya.
Begitupun dengan Raditya yang sibuk mengurus pria yang tadi membawa Rayya. Dia meminta polisi datang dan segera meringkus Bos serta sekertarisnya itu. Namun, sebelum pria itu di bawa masuk ke dalam mobil. Raditya kembali memberikan bogem mentah sekali lagi di wajahnya hingga pria itu kembali pingsan.
__ADS_1
"Cukup Pak Raditya! Biar kami yang bertugas nanti di kantor polisi. Anda jangan main hakim sendiri karena nanti akan membuat anda terseret kasus!"
"Bawa dia, Pak!" titah Raditya dengan wajah dingin begitu mematikan, kemudian Raditya menoleh sekilas ke arah wanita yang kini begitu ketakutan. "Dan kamu, berikan kesaksian yang benar! Jika tidak, saya pastikan kamu akan mendekam di penjara seumur hidup!"
Mobil polisi sudah membawa keduanya pergi, bertepatan dengan Papah Tio dan Mamah Ceri datang beserta penghulu dan Regan sebagai saksi. Semua keluarga dibuat kaget dengan apa yang terjadi. Bagai gempa dimalam hari, mereka yang sedang terlelap tidur dikejutkan dengan jantung dan mental yang terkoyak.
"Raditya," sapa Papah Tio.
"Iya Om," Raditya segera menyalami Papah Tio dan Regan. Seperti sebelumya, sikapnya kalem meski hatinya begitu emosi. Raditya sangatlah pandai bersikap. Tak terlihat kemarahan di wajahnya, walaupun matanya sedikit tidak bisa membohongi keadaan.
"Dimana Rayya?" tanya Regan yang sejak tadi begitu menahan emosi. Terlebih saat Papahnya menceritakan keadaan Rayya. Dia segera lompat dari ranjang dan menghentikan aktivitas malamnya bersama sang istri.
"Ada di kamar, ayo kita segera kesana! Kasihan Rayya," ajak Raditya. Semuanya melangkah panjang menuju kamar Rayya.
"Apa kamu yakin Raditya?" tanya Papah Tio memastikan. Beliau tak ingin semua hanya keterpaksaan meskipun beliau tau jika Raditya sangat mencintai Rayya. Hati orang tidak ada yang tau, siapa tau sakitnya Raditya membuat rasa pada Rayya luntur seketika.
"Aku yakin, Om. Jangan khawatir, hatiku masih sama! Masih sangat mencintai putri Om. Izinkan aku menjadikan dia istriku, Om."
Ijab kabul pun dilangsungkan tanpa ada yang tau. Semua bersifat mendadak dan private. Keadaan memaksa untuk menyatukan kedua insan yang selama ini terpisah karena musibah. Tak butuh waktu lama Raditya telah resmi menikahi Rayya.
"Jaga putriku! Meski ini semua di luar ekspektasi kamu, tapi tanggung jawab Papah saat ini sudah beralih padamu. Jangan mengulangi kesalahan yang sama dengan apa yang telah Rayya dapatkan! Papah doakan kalian selalu diberi keberkahan dan Papah harap tidak ada lagi perceraian di hidup putri Papah."
"Terimakasih Pah, InsyaAllah amanah ini aku jaga dengan baik."
Setelah pamitan Raditya segera mengunci pintu. Ada rasa tak biasa di dadanya. Degupan jantung tiba-tiba bertalu dengan kencang. Ini kali pertama dia menjamah seorang wanita. Memberikan nafkah batin untuk yang pertama dengan keadaan yang berbeda.
__ADS_1
"Istriku, maaf jika caraku salah atau tak berkenan dihatimu. Bismillah... Aku datang berkunjung setelah halal. Maaf membuatmu menunggu lama," ucap Raditya dengan lembut kemudian mengecup kening Rayya untuk yang pertama kalinya. Tangannya dengan terampil membuka tali yang mengikat di tubuh Rayya. Belum seluruhnya terbuka, sontak Raditya terkejut saat Rayya tiba-tiba mendorong dan menindih tubuhnya.
Raditya tak menyangka jika Rayya bisa seagresif itu. Dia pikir Rayya diam sudah tak lagi merasakan efek obat. Ternyata salah, wanita itu bahkan kini tiba-tiba mencium bibirnya membuat kedua mata Raditya terbelalak.
Hanya sebentar, sentuhan Rayya membuat Raditya mulai bisa mengimbangi dan berperan aktif. Mulai menikmati dan mulai membalas cumbuan hingga membuat Rayya kembali menggeliat.
Wanita itu tampak senang dengan nafas memburu, begitupun dengan Raditya yang terus memberikan sentuhan dan kecupan-kecupan kecil sebagai pengenalan akan dirinya yang perdana melakukan.
Lenguhan kembali terdengar indah, kamar yang sejak tadi mulai terasa panas semakin membara dengan suara indah Rayya. Hingga keduanya nampak polos tak lagi ada sehelaipun yang menghalangi.
Indah, sungguh indah ciptaan Tuhan. Mata Raditya menatap penuh damba membuat Rayya semakin tidak bisa menahan. Hingga ia mulai bertamu untuk pertama kalinya.
"Assalamualaikum istriku, aku mengunjungimu." Memang tak ada halangan untuk Raditya bisa masuk tetapi sensasinya membuat pria itu takhluk. Masih diam dan belum bergerak. Merasakan kenikmatan yang begitu melenakan. Sampai dimana Rayya yang mengawali pergerakan dibawah sana.
"Sabar Sayang, aku baru beradaptasi," ucap Raditya gemas kemudian menghujani wajah Rayya dengan kecupan hingga keduanya melebur menjadi satu dan menghabiskan sisa malam untuk saling memuaskan.
Ternyata hal pertama itu tak membuat Raditya puas. Kini justru pria itu yang terus mendatangi dan enggan ingin pulang. Bergerak aktif dengan terus mencumbu Rayya. Maka tidak heran jika kini tubuh Rayya seperti macan tutul. Tak ada celah yang terlewatkan sedikitpun.
"Jadi semalam aku bersamamu, Kak?" tanya dengan lirih, wajah merona menahan malu dengan apa yang terjadi. Mendengar cerita Raditya yang tak ada sensornya membuat tubuhnya pun kembali meremang.
"Iya Zaujati," jawabnya dengan menatap lekat wajah Rayya.
...****************...
Hay-hay Man teman🤗🤗 Ayo-ayo jangan lupa tinggalkan jejak kalian! Doakan aku bisa terus semangat dan melanjutkan cerita Rayya dan Raditya. Terimakasih untuk kalian yang selalu mensupport aku. Jangan lupa juha follow ig aku weni0192, assalamualaikum....
__ADS_1