
Sampai di rumah Rayya segera masuk kamar dan duduk di depan meja rias. Pipinya memanas seperti anak ABG yang baru jatuh cinta. Dijemput tiba-tiba, dikhawatirkan dan diberi kalimat gombalan membuat wajah Rayya merona dengan jantung yang berdegup kencang.
"Ini kenapa rasanya mau pingsan sich, debarannya seperti genderang yang mau perang. Di setiap ada kamu mengapa darahku mengalir, mengalir lebih cepat dari ujung kaki ke ujung kepala. Aku sedang ingin bercinta karena, mungkin ada kamu, disini aku ingin. Ya Allah kenapa malah nyanyi? tapi asli, rasanya seperti baru jatuh cinta. Apa iya aku jatuh cinta sama Kak Radit? Bukannya masih sakit, tapi kok rasanya begini?"
Rayya menundukkan kepala, dia melihat ke arah dadanya dengan tangan yang singgah disana. Merasakan debaran yang tak biasa dan hati yang bergetar hebat. Senyum, tawa, gelisah galau, merana seakan menjadi satu. Pikirannya gamang dan tak tau harus bagaimana.
"Bagaimana jika yang dikatakan Kak Raditya benar, lusa dia akan datang melamar? Haish, Mah Pah, belum genap satu tahun bercerai dan menjanda sudah ingin menikah lagi. Bisa begitu? Aku kok ngeri ya, gimana jika dibilangnya mudah sekali move on. Tapi hati aku, apa semudah ini?"
Rayya menggelengkan kepala dengan menutup wajahnya. Nyatanya memang semudah itu move on dari Reza. Apa mungkin karena kecewa dan mendapat obat mujarab, atau memang cinta masa kecil bersemi setelah menjanda.
Rayya segera memutuskan untuk beranjak dari sana dan masuk kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah menunaikan kewajibannya, Rayya segera turun dan mulai memasak. Sore ini Mamah Papah sedang pergi ke rumah adiknya. Maka dari itu, Rayya memutuskan untuk masak agar setelah mereka pulang semua sudah siap.
"Bagaimana kabar Aretha Mah?"
"Alhamdulillah adik kamu sehat, senang, dan terlihat bahagia. Semoga anak-anak Mamah selalu dilindungi oleh Allah."
"Aamiin," jawab Rayya dan Papah Tio bersamaan.
"Ehem... Bagaimana dengan hubungan kamu dengan Raditya Nak?"
Rayya yang sudah akan membuka mulut ingin menyuap seketika bungkam. Matanya mengerjab dan kembali meletakkan sendoknya. Rayya menarik nafas dalam, kali ini semua ia serahkan pada kedua orang tuanya yang ia tau sudah pasti akan mendukung. Namun, Rayya masih butuh wejangan mereka karena masih ada keraguan di hatinya.
"Apa tidak mengapa jika Rayya memutuskan untuk menikah lagi, Pah? Apa Kak Raditya jodoh yang tepat untuk Rayya? Jujur, ada rasa yang Rayya yakin itu cinta, tapi Rayya takut salah langkah. Rayya takut gagal lagi Pah," lirih Rayya dengan menundukkan kepala, tetapi usapan lembut di rambutnya membuat Rayya menoleh ke arah Papah.
__ADS_1
"Jika ragu, istikharah lah Nak! Jangan lupa sholat malam untuk meminta keberkahan dan kelancaran dalam hidup. Papah dan Mamah hanya bisa mendoakan dan mendukung kalian, karena jujur saja Papah suka dengan perangai Raditya. Dia sosok pria yang bertanggung jawab, baik, dan mengerti agama. Tidak perlu lulusan pesantren untuk memilih kepala rumah tangga. Cukup yang tidak meninggalkan lima waktunya, InsyaAllah dia pun tidak akan meninggalkan istrinya. Tapi jika bisa mendapatkan ahli agama itu lebih baik dan kebetulan Radit lulusan Kairo, setelah itu dia meneruskan sekolah lagi untuk memperdalam ilmunya di dunia bisnis."
Rayya menganggukkan kepala, penjelasan Papah Tio membuatnya semakin minder saja. Sekolah tinggi-tinggi hanya untuk menikahi janda. Rayya memijit pelipisnya, dia semakin ragu dengan keputusannya.
"Kenapa, Nak? Ada yang membuat kamu ragu?"
Rayya terhenyak, dia menatap wajah sang Mamah dengan helaan nafas berat. "Mah, apa pantas Rayya bersanding dengan Kak Raditya? Rayya janda Mah, sedangkan dia sekolah tinggi, ilmunya pun nggak kaleng-kaleng, terus nikahnya sama janda. Rayya takut mengecewakan."
"Haish, kamu lupa jika Papahmu ini menikahi janda? Apa yang salah dengan janda? Kamu wanita terhormat, dan bukan penjahat. Tidak ada cita-cita menjadi pelakor juga seperti yang ada di sinetron-sinetron itu kan?"
Rayya tercengang mendengar ucapan sang Papah. Hampir saja dia lupa jika Papahnya perjaka yang menikahi janda dan Alhamdulillah mereka bahagia hingga sekarang sudah bisa menimang cucu.
Rayya segera menoleh ke arah Mamah, dia meringis menatap mamahnya yang hanya diam dengan menggelengkan kepala.
Sekarang gantian Papah Tio yang tercengang mendengar pertanyaan putrinya. Mendadak beliau ingin mengajak istrinya masuk kamar dan mengunci pintu sebelum menjawab pertanyaan Rayya.
"Intinya tak sesuai yang kamu bayangkan. Statusnya saja perjaka, tapi kamu akan merasakan sensasinya. Pokoknya kasur tidak akan pernah ada rapinya," jawab Mamah ceri dengan melirik suaminya.
Mendadak wajah Rayya merona, sepertinya dia salah mengajukan pertanyaan. Otaknya seketika berlarian kemana-mana. Bahkan Rayya dengan cepat melahap makanannya.
"Assalamualaikum warahmatullah..."
"Assalamualaikum warahmatullah... Ya Allah, jika dia jodohku maka hilangkan keraguan di hatiku. Namun, jika dia bukan yang terbaik untukku, Rayya mohon beri jalan yang terang dan berikan kami yang terbaik meski tak bisa bersatu. Aamiin..."
__ADS_1
"Kak Raditya, aku bawa namamu di sujudku. Aku langitkan permintaanku, karena Rahmat dari Allah yang paling indah."
Rayya memejamkan matanya setelah mengeluh di atas sajadah dengan menengadah tangan. Dia berharap diberi petunjuk dan dihilangkan segala keraguan dihati.
Pagi ini Rayya dikejutkan dengan kabar kedatangan CEO Sana Company. Dia yang belum ada persiapan apapun bahkan kini masih berada di jalan dengan mengendarai mobilnya sendiri di buat kelimpungan.
"Ini orang selain misterius, bikin orang pagi-pagi jadi ribet. Kasih kabar ngagetin banget, untung aku nggak jadi ke kantor Mamah pagi ini. Hhuuhhff..." Rayya menghela nafas kasar, terlebih pagi ini begitu macet sekali.
Sampai di sana Rayya segera melangkah masuk ke ruangannya. Sudah ada asisten Yogi yang tengah duduk dan seorang pria mengenakan jas berwarna navi dengan celana berwarna senada. Jika dilihat-lihat, warna pakaiannya sama dengannya.
"Maaf saya terlambat," ucap Rayya yang kemudian melangkah menuju meja kerjanya untuk meletakkan tas kemudian segera malangkah mendekati asisten Yogi. Rayya melirik pria yang masih berdiri dengan membelakanginya. Rayya yakin jika itu adalah CEO Sana Company.
"Tidak apa Bu Rayya, kami pun baru sampai. Kebetulan Bos saya ingin melihat kantor Ibu Rayya dan beliau ingin bertemu karena cukup penasaran dengan kinerja kerja Ibu Rayya."
Rayya menganggukkan kepala mendengarkan penjelasan dari Asisten Yogi. Rayya tersenyum tetapi cukup bingung dengan CEO Sana yang masih diam saja. Dia melirik sekilas dan kembali menoleh kembali ke arah asisten Yogi.
Mengerti dengan maksud Rayya, Asisten Yogi tersenyum dan membisikkan sesuatu kepada bosnya.
Rayya terus memperhatikan, hingga kedua matanya membola dengan sempurna melihat siapa pria yang sejak tadi membelakanginya.
"Selamat pagi Bu Rayya, senang bertemu dengan anda," ucap pria itu dengan menyematkan senyuman.
"I..Ini." Rayya mendekat dan memukul dada pria itu tanpa peduli batasan yang ada.
__ADS_1