
Raditya kembali setelah Rayya dipindah ke kamar rawat inap. Kondisinya sehat begitupun dengan baby gemoy yang terlihat gembul dengan berat 3,6. Sungguh luar biasa Rayya bisa melahirkan di mobil. Hingga sempat mengejutkan tim medis yang bertugas dan membantu efakuasi.
Tak lama Mamah dan Papah pun datang, mereka begitu antusias dan sama seperti yang lain. Tak menyangka jika Rayya melahirkan di jalan. Ada rasa lega karena cucu yang di tunggu telah lahir tetapi ada rasa khawatir karena Rayya melahirkan tak sesuai tempatnya.
"Assalamualaikum, Ya Allah Sayang kenapa baru memberi kabar? Mamah betul-betul khawatir sekali. Apa lagi mendengar kamu yang melahirkan di dalam mobil. Tangan Mamah sampai gemetaran Rayya. Kamu bikin cemas!"
"Wa'allaikumsalam, Mamah..." Rayya membalas pelukan sang Mamah dengan rasa haru yang tak terukur. Akhirnya dia bisa menjadi ibu sama seperti Mamah. Merasakan menimang dan merawat, serta melewati masa-masa membesarkan sang buah hati.
"Bagaimana bisa di mobil Radit? Baru ini yang begini, mana cantik sekali cucu Oma. MasyaAllah cucu kita cantik sekali Mas."
Papah Tio yang sedang mengucapkan selamat pada Rayya, seketika melangkah mendekati boks bayi. Beliau tersenyum melihat betapa cantiknya baby gemoy yang kini tengah terlelap.
"Mungkin sudah tidak tahan untuk melihat dunia Mah," sahut Raditya yang kini tengah diliputi kebahagiaan.
"Siapa namanya? Cantik sekali cucu Opa, coba digendong Mah! Papah mau lihat dari dekat."
Mamah pun dengan senang hati mengangkat baby gemoy dari dalam boks dan mendekap dengan sayang. Oma dan Opa begitu gemas melihatnya. Hingga jail mengecup pipi yang terlihat chubby.
"Mas, sudah siapkan nama untuk anak kita?" tanya Rayya yang saat ini mencoba duduk dan dengan cepat suaminya mendekati lalu membantu.
"Jasmine Karama Gendhis Wicaksana."
"Panjang sekali Mas, tapi cantik. Apa artinya Mas?" tanya Rayya begitu antusias. Begitupun dengan kedua orang tuanya yang menyimak disela kebahagiaan mereka bisa menimang cucu dari Rayya dan Raditya.
" Putri manis yang memiliki kelembutan, kehormatan dan kemuliaan. Bagaimana Sayang? Bisa diralat jika ada yang kurang pas. Atau Papah mau mengganti dengan nama yang lebih cantik lagi?" tanya Raditnya dengan legawa. Dia tidak ingin egois dan memberikan kesempatan sebelum akta dibuat.
__ADS_1
"Papah setuju saja, nama itu baik. Semoga menjadi putri yang membanggakan dan bermanfaat bagi orang banyak ya Nak!"
"Aamiin.."
Setelah satu malam di rumah sakit dengan keadaan yang sehat. Keesokan paginya Rayya sudah boleh pulang. Begitu senangnya dia karena tidak nyaman lama-lama di rumah sakit. Ingin sekali melakukan aktivitas baru sebagai Mamah. Mengarungi setiap harinya dengan sang buah hati, yang akan menemani saat sendirian menunggu suami pulang kerja.
"Welcome Jasmine, lihat kan kamarnya bagus sekali."
"Mas, bukannya terlalu dini ya jika Jasmin menempati kamarnya? Masih bayi loh Mas."
"Aku hanya memperkenalkan dia dengan suasana kamarnya Sayang. Bukan ingin membiarkan dia tidur sendirian di sini. Boks bayi sudah siap di kamar kita.
Rayya bernafas lega, dia pikir akan secepat ini tidur terpisah dengan putrinya. Sementara dirinya saja masih agak kurang nyaman dalam bergerak bebas.
Seperti malam kemarin, Raditnya ikut terjaga saat Rayya ingin menyusui Jasmine. Padahal Rayya sudah melarang dan meminta Raditya untuk tidur kembali. Namun, pria itu enggan. Ingin terus menemani hingga Rayya tak bisa menolak.
"Sepertinya enak, segar sekali sampai bunyi. Papah boleh tidak menyicipi Nak?" tanya Raditya dengan terus memperhatikan buah hatinya yang menyesap kuat sumber kehidupannya. Benda empuk yang setiap malam ia singgahi tetapi setelah putrinya lahir akan berganti kepemilikan untuk sementara sampai berhenti ASI.
"Mas, tangannya jangan iseng! Nanti anaknya nangis kamu lepas begitu."
"Lucu sayang, jadi mau!"
"Diam Mas! Kamu ini malah ngapain? Nanti yang sebelah ikut keluar malah repot. Aku belum membeli pengganjalnya agar tidak basah kemana-mana."
Bersyukur sekali Rayya, setelah melahirkan ASI nya melimpah dan tidak takut jika Jasmine akan kesulitan apa lagi kekurangan. Terlebih setiap hari mengkonsumsi buah dan sayur. Sudah pasti banyak bahkan terkadang Rayya simpan di kulkas agar sewaktu-waktu butuh tinggal memanasi.
__ADS_1
"Mas kamu sudah mulai ke kantor lagi pagi ini?"
"Iya Sayang, sudah hampir seminggu menemani kalian. Saatnya aku kembali ke pekerjaan. Kamu hati-hati di rumah ya! Tidak perlu menyiapkan makanan. Biar Bibi saja yang melakukan semuanya. Kamu fokus mengurus anak dan diri kamu sendiri."
"Makasih ya Mas kamu selalu perhatian dan pengertian. Hati-hati di jalan Mas! Kami menunggu di rumah. Dadah Papah!" Rayya sedikit mengangkat putrinya agar lebih memperlihatkan ke arah suaminya. Memberi semangat pagi dan doa semoga selalu diberi kelancaran untuk sang suami.
"Kita berjemur ya Sayang! Buka dulu bajunya. Pakai penutup mata ya cantik. Uluh-uluh baby gemoynya Mamah ini ya. Cantik midut-midut," goda Rayya. Hari-hari ia lalui untuk mengurus buah hatinya. Memberikan pelayanan juga untuk suaminya agar tidak iri dengan Jasmine.
"Sayang, buka puasa yuk! Sudah dua bulan loh."
"Tapi masih takut Mas, katanya seperti diperawani versi kedua. Aduh aku kok ngeri ya. Bisa dipending sampai Jasmine umur tiga bulan nggak Mas? Beneran aku ngeri." Meskipun terhitung mudah dan lancar saat melahirkan tetapi Rayya tetap diberi dua jahitan oleh dokter. Katanya biar sempurna lagi, meski kembali elastis. Agak beda katanya. Entah lah Rayya hanya menurut selagi itu baik. Namun, setelah mendapatkan cerita dari beberapa ibu-ibu saat imunisasi Jasmine. Rayya jadi ngeri sendiri.
"Jadi puasanya diperpanjang Sayang?"
"Iya Mas, gimana? Kamu masih sabar kan? Atau aku bantu saja ya seperti biasa."
Penawaran yang tidak terlalu buruk, keduanya pun masuk kamar mandi meninggalkan Jasmine yang bobo anteng di dalam boks bayi.
Lega menyelimuti hati Raditnya, lumayan dari pada menahan dan pusing kepala. Toh dia melakukan dengan pasangan halal, bukan sendirian. Senyuman pun tersemat di wajahnya, hingga kecupan hangat mengakhiri malam sebelum meraih mimpi.
"Bobo sini Sayang!" titah Raditya menepuk dadanya agar Rayya masuk ke dalam pelukan. "Nanti jika Jasmine minta nen, kamu bangunin aku ya! Biar ada teman ngobrol."
"Iya Mas, bobo yuk! Aku capek abis kerja malem. Pegel tangan aku," keluh Rayya yang sudah masuk ke pelukan Raditnya.
"Agak lama jika tidak menyentuh, jadi ya kamu pun harus maklum."
__ADS_1
Keduanya terlelap dengan saling berpelukan. Meraih mimpi hingga ntah di jam berapa terdengar suara rengekan Jasmine yang terjaga. Perlahan Rayya meloloskan diri dari pelukan Raditya agar tak mengganggu, kemudian memeriksa popok Jasmine dan menggantinya lanjut menyusui putrinya.
"Jangan nangis lagi ya Sayang! Kasihan Papah lagi bobo. Kita kerja sama ya Nak!"