
Rayya begitu terkejut melihat pria yang duduk dengan jarak begitu dekat. Dia yang menghindar tak dapat mengikis jarak karena terbatas dengan headboard. Tatapan mata tak percaya dengan apa yang berada di depan mata. Begitu membuat jantung Rayya berdegup tak karuan.
"Kamu..."
"Iya, aku Raditya. Sudah bangun? Apa aku membuatmu sakit, Sayang?"
Deg
Panggilan tak biasa membuat debaran semakin kencang. Ada apa dengan pria yang telah lama meninggalkan dan datang dengan melontarkan panggilan sayang?
Raditya meraih tangan Rayya tetapi secepat mungkin Rayya menariknya. Dia mengucak mata dan mencubit lengannya sendiri. Ini bukan mimpi, tapi begitu membuatnya tak yakin.
"Kamu, kenapa bisa disini? Kenapa datang? Lalu semalam aku..."
"Apa ada yang salah jika aku masuk ke kamar ini untuk kembali menemui istriku? Maaf jika aku membuatmu bingung. Kamu terlalu lelah hingga sulit terjaga padahal pagi tadi aku sudah pamitan karena ada sesuatu yang harus aku kerjakan."
Rayya dibuat semakin bingung dengan kata-kata Raditya. Dia tidak sedang ngelindur atau pria yang ada dihadapannya ini hanya memakai topeng persis dengan wajah kekasihnya yang pergi.
"Aku tidak mengerti dengan apa yang kamu bicarakan. Jangan menipuku! Apa kamu suruhan Leo?"
Raditya tersenyum melihat respon dari Rayya. Dia tau wanita itu masih sangat terkejut. Namun, gurat emosi terlihat di matanya saat nama Leo didengungkan. Raditya menghela nafas berat. Kedatangannya memang tak direncanakan. Pertemuannya dengan Rayya tak terduga. Bahkan kejadian semalam bukan di luar kuasanya.
Dia datang berperan sebagai penolong, pelindung, dan obat mujarab untuk Rayya. Dia pun masih tak habis pikir, bagaimana nasib Rayya jika dirinya tak ada? Mungkin sudah dimakan habis dengan pria yang tak bertanggung jawab.
__ADS_1
"Tenang Sayang, apa kamu meragukanku? Aku Raditya, aku datang setelah sembuh dan bangun dari koma. Aku datang untuk menepati janji dan rencana indah kita. Meski tak berjalan sesuai harapan, tapi kamu telah sah menjadi istriku."
Rayya masih tak mengerti, jelas-jelas dia semalam bersama dengan klien bisnisnya. Di bawa ke hotel ini saat dirinya sudah meninggalkan separo kesadaran. Bayang-bayang pria itu mengangkat tubuhnya pun masih begitu terngiang dan terasa, lalu mana mungkin kini Raditya datang dan mengaku telah menikahinya.
"Aku tau kamu masih bingung, akan aku jelaskan tapi aku mohon kamu jangan takut dan tenang dulu!" ucap Raditya dengan kalem, khas dirinya yang membuat Rayya perlahan percaya jika yang dihadapannya memang benar pria yang selama ini membawa lari hatinya, tapi masih sangat janggal baginya.
Tangan Raditya terulur dengan senyum hangat menghiasi wajahnya. Dia mengusap surai hitam yang masih lembab dan berantakan. Ucapan syukur terus tersemat di dalam hati. Begitu indah jalan Tuhan menyatukannya dengan pujaan hati.
Tatapan Raditya jatuh ke lengan Rayya ,masih ada bekas tali di sana membuatnya teringat dengan apa yang terjadi semalam. Dialah yang telah mengikat Rayya saat tubuhnya tak henti ingin bergerak dan ingin membuka pakaiannya.
"Kak, jelaskan! Kedatanganmu masih sangat mengejutkanku."
"Iya aku akan menjelaskan, tapi apa boleh aku menggenggam tangan istriku?" pinta Raditya dengan lembut. Pria itu agaknya tak ingin berjarak setelah lama tak dipertemukan. Sebentar saja keluar untuk menyelesaikan sesuatu, sudah tak sabar ingin kembali bertemu.
"Jelaskan! Setelah itu baru boleh menyentuhku," sahut Rayya.
"Jelaskan! Aku belum percaya jika kamu belum menjelaskannya Kak! Dan jangan coba-coba menggodaku!"
Sebenarnya tidak seharusnya Rayya meragukan ucapan Raditya. Jika dilihat dari perlakuan pria itu sangatlah berbeda tak seperti dulu. Raditya sudah tak menghiraukan batasan dan sudah mau melihat Rayya tanpa harus menjaga pandangan.
Rayya pun harusnya bersyukur, tapi dia masih belum tau dengan apa yang terjadi sebenarnya. Dengan pernikahan dan aktivitas yang ia lakukan semalam.
"Seminggu yang lalu aku terbangun dari koma. Sebelumnya aku melihatmu memintaku untuk pulang. Melihat wajahmu yang sendu dengan ketegaran dan senyuman. Aku terjaga setelah kamu meminta uluran tangan. Aku bangun dan tak lama dokter pun datang untuk memeriksa."
__ADS_1
"Alhamdulillah Allah menyadarkan aku dari koma. Allah memberikan kesempatan aku setelah lama tak tau dunia. Memberikan kesempatan untuk aku kembali hidup dan melanjutkan semua rencana yang tertuda."
"Tapi..." Tiba-tiba tatapan Raditya tampak sendu membuat Rayya semakin penasaran. Pria itu menundukkan kepalanya dengan ekor mata yang basah.
"Tapi apa?"
"Fakta mengejutkan aku, takdir membangunkanku tetapi memanggil Kakek lebih dulu. Setelah aku sudah mulai bisa kembali menyesuaikan diri, kembali mengingat akan kejadian yang ada dan berangsur pulih. Dokter memberitahu jika Kekek telah meninggal dunia dua bulan setelah aku di rawat disana."
Rayya menutup mulutnya, dia tak menyangka jika Kakek Prio sudah tiada. Kakek yang sudah membantu dan menganggapnya seperti cucu sendiri telah pergi.
"Kondisi Kakek menurun semenjak aku di bawa beliau ke Jepang. Di sana bukan aku saja yang di rawat, tapi beberapa hari kemudian Kakekpun ikut mendapatkan penanganan medis karena kondisinya semakin lemah."
Raditya mengangkat kepalanya menoleh ke arah Rayya. Dia menyunggingkan senyum menatap wajah wanita yang kini akan menjadi teman hidupnya.
"Aku berusaha keras untuk bisa berjalan lagi. Untuk bisa menggerakkan tubuhku setelah berbulan-bulan lamanya koma. Aku merindukanmu, wanita yang telah menunggu aku khitbah. Aku pulang ke Indonesia kemarin. Kebetulan aku tidak menghubungi siapapun karena ponselku entah kemana. Aku juga tidak tau nomor kamu."
"Aku berencana ingin menemuimu keesokan harinya, tapi Allah memiliki rencana lain. Allah mempertemukan aku denganmu dengan cara yang cukup membuatku marah, emosi, dan ingin sekali membunuh pria itu."
Saat itu Raditya tiba di hotel bertepatan dengan datangnya mobil Leo. Awalnya dia tidak tau siapa wanita yang berhijab yang tengah berada dalam gendongan seorang pria. Namun, gerakannya cukup mencurigakan membuat Raditya penasaran.
Dia mengikuti hingga seorang wanita memakai pakaian cukup minim memesan kamar. Mendengarkan nomor kamar yang dipesan dan mengikuti dengan menaiki lift yang berbeda. Sampai dimana Raditya tiba di lantai tujuh dan keluar dari lift berbarengan dengan pria yang ia intai. Di lantai tujuh itulah Raditya tau jika wanita berhijab itu adalah Rayya.
Tanpa pikir panjang, Raditya segera memukul pria itu, menghujaninya dengan kepalan tangan hingga pria itu pingsan. Sementara wanita yang tadi membersamai mereka segera Raditya tahan untuk menjadi saksi di kepolisian.
__ADS_1
Raditya dibuat bingung, Rayya seperti orang mabuk tetapi tingkahnya mengisyaratkan jika wanita itu butuh. Saat Raditya mendekati dengan cepat Rayya memeluk membuat pria itu kalang kabut.
"Dari situ aku tau jika kamu tengah terpengaruh obat. Kebetulan sekali, ini adalah hotel Weda milik Papahmu bukan?"