Pembalasan Istri Yang Kau Anggap MANDUL

Pembalasan Istri Yang Kau Anggap MANDUL
Bab 47


__ADS_3

Pagi ini Rayya mengajak putrinya berjalan-jalan di taman. Selagi weekend, sekalian jajan makanan yang hampir penuh dijajakan di sepanjang trotoar. Mereka pun tidak berdua, bersama Raditya juga. Hanya saja suaminya tengah joging terlebih dahulu. Baru nanti bertemu setelah beberapa putaran.


"Eh ada bubur bayi, tapi belum boleh Sayang. Maafkan Mamah ya Jasmine, mungkin nanti setelah enam bulan ya. Jadi harap sabar baby gemoynya Mamah." Rayya mendorong stroller dengan mata sesekali melihat ke pedagang makanan. Berharap ada yang cocok dan bisa ia beli saraya menunggu sang suami.


"Jasmine, Mamah mau beli itu sepertinya enak ya. Ayo kita beli Sayang!" Rayya pun mendorong stroller ke pedagang kue pukis. Membeli satu mika dan segera melipir mencari kursi taman yang masih kosong. Dengan lahap Rayya memakan kue tersebut, ternyata tak hanya pukis saja yang ia beli. Ada risoles dan kawan-kawannya. Tentunya agar Raditya juga nanti ikut makan.


"Mamah makan lahap, eh anak Mamah lihatin aja ya. Kasihan, mau ya? Nanti ya Sayang, tunggu perutnya sudah siap makan dulu. Kamu mik susu aja ya. Nich Mamah bawain dibotol, aman kan Sayang." Rayya segera menyodorkan botol susu ke bibir kecil Jasmine. Tanpa dia sadar jika ada yang mendekat dan ikut makan makanan yang ia letakkan di kursi sebelahnya.


Deg


Rayya terkejut melihat seseorang ikut makan di sampingnya. Mengambil makanan yang ia beli dan memakannya dengan sangat lahap sekali. rambut tak terurus dengan pakaian lusuh dan kulit dekil. Rayya tampak iba hingga sengaja menyodorkan makannya agar dihabiskan. Rayya yakin beliau tidak mengenalnya saat ini. Diam dengan makan begitu lahap hingga habis tak tersisa.


"Ibu..."


Wanita paruh baya itu terdiam mendengar panggilan dari Rayya, tetapi setelahnya segera malangkah pergi karena makanannya telah habis. Rayya terus memperhatikan hingga Ibu itu kembali melakukan hal yang sama dengan orang lain. Namun, begitu terkejutnya Rayya saat orang itu justru memaki dan mengusir. Memperlakukan dengan sangat kasar membuat Rayya semakin melas melihatnya.


"Kasian Bu Hanum, kenapa beliau bisa dibiarkan berkeliaran begini? Kenapa pihak rumah sakit tidak mencarinya? Beliau kelaparan dan tak terurus seperti itu. Ya Allah... Kasihan sekali beliau."


Rayya menghela nafas berat, ia tidak membawa ponsel untuk menghubungi rumah sakit jiwa. Meskipun dulu Ibu Hanum begitu jahat padanya, tetapi melihat beliau dengan keadaan yang seperti sekarang membuat Rayya iba.


"Ya Allah, aku hanya bisa berdoa semoga Bu Hanum diberi perlindungan." Kedua mata Rayya berkaca-kaca melihat Bu Hanum yang terus berjalan mencari-cari makanan. Bahkan mencari sampai ke tempat sampah.


Fokus dengan Ibu Hanum membuat Rayya melupakan Jasmine. Dia kembali terkejut melihat putrinya yang tiba-tiba tidak ada di dalam stroller.


"Jasmine, kemana dia?" Tidak mendapati putrinya di dalam stroller, Rayya segera bangkit tetapi begitu leganya dia saat melihat putrinya tengah ditimang oleh suaminya.


"Ya Allah Mas, aku sampai lemas melihat Jasmine tidak ada. Kenapa diam-diam saja sich, Mas?" tanya Rayya dengan gemas kemudian duduk kembali dengan mengelus dada.


"Mas sudah memanggil kamu tadi, tapi kamu serius banget. Lihat apa sich sampai tidak tau anaknya merajuk karena ngantuk? Tuh bobo kan?"


Rayya menyesal telah ceroboh, seharusnya dia tidak melupakan Jasmine demi memperhatikan mantan mertuanya. Beruntung Raditnya yang membawa Jasmine, bagaimana jika putrinya dibawa kabur orang yang tidak bertanggung jawab? Tidak terpikirkan oleh Rayya akan mengalami hal mengerikan seperti itu.

__ADS_1


"Maaf Mas, aku tadi tuh melihat Bu Hanum berkeliaran mencari makan Mas. Kasihan sekali beliau. Lihat makanan yang aku beli habis olehnya."


"Terus kemana orangnya Sayang? Dia tidak menyerang kamu kan?" tanya Raditnya yang tiba-tiba mengkhawatirkan Istrinya.


"Dia diam saja Mas, bahkan seperti tidak mengenalku. Kasihan Mas, rasanya aku gagal memanusiakan manusia saat membiarkan dia pergi begitu saja. Habisnya bingung, aku nggak membawa handphone. Mau menghubungi rumah sakit jiwa tadi, tapi nggak bisa."


Raditya tersenyum menatap wajah sang istri yang terlihat begitu menyesal. Dia bangga memiliki istrinya yang berhati baik. Raditya mengembalikan Jasmine ke dalam stroller kemudian duduk di samping Rayya lalu merangkul pundak istrinya. Menatap Rayya dengan tatapan teduh dan senyuman yang menenangkan.


"Kamu sudah tidak sakit hati lagi?"


"Dengan Bu Hanum?"


"Hhmm, dengan semua masa lalu kamu," jawab Raditya.


Mendengar pertanyaan suaminya, Rayya menyunggingkan senyum sebelum menjawab. "Memangnya kamu mau memiliki istri yang hidup diselimuti dendam yang tiada akhir?"


"Ya nggak dong Sayang, kamu akan memiliki jiwa yang sakit jika terus membenci. Aku hanya memastikan meskipun aku yakin kamu telah memaafkan."


"Bahkan aku sudah berdamai dan melupakan semuanya Mas, tetapi tidak membuat aku lengah karena pengalaman menjadikanku lebih berhati-hati dan banyak belajar. Seperti yang kamu katakan dan terus kamu tekankan padaku Mas. Ikhlas itu kuncinya. Dari semua kenyataan, ujian, dan cobaan yang datang silih berganti. Aku telah memetik buah keikhlasanku. Aku bahagia sekarang, bersama kamu dan juga Jasmine."


"Kenapa senyam-senyum begitu? Ada yang salah sama aku?"


"Nggak ada, kamu cantik. Bahagia terus ya!"


"Bahagiaku melihat kalian bahagia."


Raditya menggenggam tangan Rayya kemudian mendorong stroller putrinya. Mengajak mereka pulang dengan sesekali mengobrol dan bercanda di jalan. Mampir membeli jajanan yang Rayya suka. Yang terpenting bagi Radit sang istri bahagia.


Perjalanan hidup membuat mereka semakin dewasa dalam bertindak. Semakin ikhlas menerima apapun yang telah ditakdirkan. Selalu meminta direndahkan hatinya agar tidak lupa siapa dirinya.


.

__ADS_1


.


.


"Sayang, ini sudah tiga bulan loh, kamu nggak pengen apa? Nggak capek tangannya? Sekarang sudah bisa kali yank, yuk!" Raditya mengecup pipi Rayya dengan gemas. Ingin sekali rasanya, seakan sudah tak bisa lagi menahan. Sudah 100 hari berpuasa tak menyentuh sang istri. Malam ini dia tidak ingin gagal lagi dan tak ingin mendapatkan alasan penolakan.


"Tapi Mas..."


"Nggak tapi-tapi Sayang, langsung eksekusi saja." Radit benar-benar tidak menerima alasan apapun dari Rayya. Segera menyambar bibir Rayya hingga membuat sang istri tak bisa lagi menoleh. Memberi sentuhan yang melenakan hingga membuat Rayya terbuai.


"Pelan Mas!"


"Iya Sayang, masih sama rasanya. Lebih rapat, aku suka."


Malam ini keduanya kembali menyatu dalam gelora cinta yang membara. Saling memberi dan menerima. Menyentuh tanpa batasan, hingga tubuh bergetar saat puncak tujuan telah sampai.


Namun, berhubung Jasmine seakan mengerti dan enggan bangun merusuh kedua orang tuanya yang sedang memadu kasih. Raditya seperti tak ingin menyiakan kesempatan itu, kembali meminta hingga Rayya kewalahan dan hanya bisa pasrah.


"Aku mencintaimu Sayang..."


"Aku pun sama," lirih Rayya.


"Sama apanya?"


"Sama Cintanya Mas, aduh aku lelah mau tidur," keluh Rayya saat merasakan tubuhnya remuk dan bagian intinya pun ngilu, tetapi dia bahagia melihat suaminya begitu sumringah.


"Makasih ya Sayang, sehat terus Mamahnya Jasmine," bisik Raditya yang kemudian mengecup pundak polos Rayya.


...-tamat-...


Makasih semuanya yang telah menyimak kisah Rayya sampai selesai. Semoga suka dan terus mendukung aku. Oh iya, akan ada judul baru dari aku. Di tunggu ya, InsyaAllah nggak kalah seru. Hanya saja aku belum tau up hari apa. Makanya jangan lupa pantengin terus akun aku. Follow juga agar tau update ceritanya.

__ADS_1


Jangan lupa juga follow ig aku, weni0192 dan tiktok aku weni0109


Assalamu'alaikum Man teman semua🤗🤗🤗


__ADS_2