
"Kondisi kesehatan pasien menurun, selain fisik mentalnya pun sangat membutuhkan perhatian lebih. Pasien mengalami traumatik karena kekerasan fisik dan psikis. Ada kejadian masa lalu yang membuat beliau semakin tertekan. Terlebih jika otak mulai kosong, bayangan masa lalu menelusup masuk hingga memori yang menyakitkan mengganggu beliau."
Papah Tio mengusap kasar wajahnya begitupun dengan Mamah Ceri yang kembali terduduk lemas di kursi tunggu. Sedangkan Raditya masih diam menyimak penjelasan dari Dokter masalah kondisi Rayya.
Sebenarnya dia sudah curiga dari beberapa minggu yang lalu karena melihat Rayya yang semakin hari semakin kehilangan rona diwajahnya. Namun, akan sangat lancang jika ia bertanya terlalu banyak yang mengarah ke hal pribadi.
"Lalu tindakan apa yang harus dilakukan untuk menyembuhkan putri saya, Dok?"
"Kita sembuhkan dulu fisiknya, setelah dirasa tubuhnya mulai membaik, kita harus membawa pasien ke psikiater untuk memulihkan trauma yang ia alami. Apa lagi jika ada yang menemani dan membuatnya lupa akan sesuatu yang membuat trauma itu menjadi berkurang. Itu akan lebih mempercepat dalam penanganan. Apa pasien mempunyai teman dekat, sahabat atau orang spesial?"
Papah Tio menoleh ke arah Mamah Ceri, setau beliau Rayya tak memiliki sahabat dekat. Terlebih setelah menikah, putrinya selalu di rumah. Rayya sosok wanita yang introvert, hanya pada Mamah dan keluarga sendiri saja ia bisa dekat. Di luar dari itu Rayya lebih tertutup, dia akan menceritakan apa yang ia alami atau bisa dikatakan curhat pada orang-orang tertentu yang ia anggap baik dan dapat dipercaya.
"Lakukan yang terbaik untuk anak saya, Dok!"
"Baik Pak, sebelumnya apa ada kekerasan yang beliau alami?"
"Ada, anak saya korban kdrt Dok," jawab Papah Tio dengan wajah sendu. Beliau begitu sedih jika mengingat akan apa yang putrinya telah lalui. Beliau pun tak menyangka jika Rayya mengalami trauma yang mendalam. Padahal jika dilihat putrinya begitu tangguh. Namun, siapa sangka jika dia menyimpan luka yang begitu besar.
"Ini sangat berbahaya jika pasien dibiarkan. Beliau harus segera mendapatkan penanganan."
"Baik Dok, apapun caranya yang penting anak saya bisa kembali sembuh dan melupakan apa yang menyiksa batinnya," sahut Papah Tio.
__ADS_1
Setelah diskusi panjang dengan Dokter yang menangani Rayya dan bertemu langsung dengan Dokter psikiater, kini kedua orang tua Rayya menitipkan putrinya pada Raditya karena ingin mengambil segala keperluan Rayya selama di rawat di rumah sakit. Mamah pun ingin memasakan makanan kesukaan untuk Rayya agar hatinya merasa senang.
Raditya memilih duduk di samping Rayya dengan menundukkan kepala. Bibirnya bergumam membaca ayat suci Al Quran yang kini berada di genggamannya. Mushaf kecil yang selalu dia bawa menjadi temannya.
Lantunannya menenangkan hati Rayya dan membuat wanita itu semakin damai dalam lelapnya. Hingga diujung ayat terakhir Raditya ucapkan sebelum mengakhiri, Rayya terbangun dengan mata tertuju pada pria tampan yang ada di sampingnya.
Rayya memejamkan matanya lagi dan mendengarkan sejenak suara Raditya yang begitu merdu di telinga. Hati wanita mana yang tak tersentuh mendapati pria Sholeh tengah mengaji di dekatnya.
"Shadaqallahul-'adzim..." Raditya meletakkan kembali mushaf itu ke dalam saku kemejanya.
"Kenapa saya bisa disini Pak Raditya?" tanya Rayya dengan suara lirih membuat pria itu menoleh ke arahnya.
"Ibu sakit, mengapa harus memendamnya sendiri? Sudah sejak kapan hal itu terjadi, Bu Rayya?" tanya Raditya. Pria itu menghela nafas berat kala penjelasan Dokter kembali teringat.
"Satu bulan lagi saya akan datang bersama keluarga untuk melamar anda. Saya harap kehadiran saya bisa menyembuhkan luka dihatuli anda Bu Rayya."
Rayya segera menoleh ke arah Raditya dengan menggelengkan kepala. Entah mengapa semakin kesini Rayya semakin tidak siap menikah lagi. Dia takut akan mengalami kegagalan yang sama dan berujung sakit hati yang ia dapatkan. Sementara saat ini saja dia belum bisa melupakan semuanya.
Wanita hanya terlihat kuat di depan, terlebih di hadapan orang yang telah menjatuhkan dan membuat hatinya hancur. Namun, dibalik itu semua Rayya rapuh apa lagi pengalaman berumah tangga sebelumnya hanya menyisakan luka. Penyiksaan dari Reza dan pembullyan dari mertuanya masih melekat di ingatan. Sakit dijiwa dan luka di raga hingga ia merasa enggan mengulanginya.
"Kenapa Bu Rayya?"
__ADS_1
"Saya takut gagal lagi Pak Raditya. Saya takut tidak bisa memberikan keturunan dan kembali mendapat penyiksaan, ucapan kasar, dan berujung perselingkuhan. Saya takut Pak Radit, sampai sekarang saya masih merasa sangat tersika jika bayangan itu kembali datang."
Raditya menghela nafas berat, dia paham jika penolakan yang Rayya berikan karena faktor traumatik. Dia begitu menyayangkan akan apa yang menimpa Rayya, karena kejadian itu Rayya kehilangan rasa percaya dirinya menjadi seorang istri. Kehilangan kepercayaannya pada yang namanya pernikahan.
"Saya akan membantu Ibu menyembuhkan itu semua. Bukan dengan janji akan setia dan bersikap baik tidak akan mendua. Tapi dengan bersama-sama belajar untuk Ikhlas. Seperti saya mengikhlaskan wanita yang ingin saya khitbah menikah dengan Orang lain."
"Ikhlas memang bukan perkara mudah, awalnya pun saya berat. Apa lagi setelah tau hidup wanita itu tak sebahagia yang diharapkan. Rasa ingin merebut muncul dan saya hanya bisa ikhlas melihatnya disakiti oleh suaminya. Melihatnya memohon untuk dihamili, hingga ikhlas melihatnya terpuruk kegagalan hampir menimpanya kembali. Dari ikhlas saya dipertemukan kembali dan bisa membantunya hingga keluar dari semua masalah yang ada. Dengan kekuatan ikhlas sekarang saya bisa mendampingi dia dan menjaganya."
"Wanita itu..."
"Ya, anda Ibu Rayya. Kita memang belum dekat sebelumnya. Tapi sejak kecil kita sudah pernah bertemu. Gadis cantik yang datang bersama kedua orang tuanya dengan memakai pakaian berwarna merah muda. Gadis yang memiliki gigi gingsul dan menangis ingin dinikahi," lanjut Raditya.
Kedua mata Rayya membola sempurna, dia menutupi mulutnya dengan kedua tangan. Ingatan akan masa kecil kembali terngiang.
"Kakak, nikahi Layya donk! Kakak tampan dan pintal mengaji sepelti Abang. Mau ya? Kalena kata Abang Layya halus mencali teman yang baik."
"Aku tidak mau, aku belum hatam Qur'an. Belum sunat juga. Kata kakek kalau belum sunat itu berarti belum besar."
"Kakak jahat! Kakak tidak mau nikahi Layya, nanti Layya diambil penjahat lho! Hiks...Hiks..."
"Sepulang dari Amerika, setelah saya menempuh pendidikan di sana. Saya berniat untuk melamar anda, tapi gagal. Saya dengar dari Kakek, jika anda telah memiliki calon suami. Maka dari itu saya memilih untuk mundur dan mengikhlaskan. Saya percaya ikhlas saya akan mendatangkan kebaikan."
__ADS_1
"Jadi kamu itu, cucu Kakek Prio?"