
"Jadi benar Mah, Pah, Raditya adalah cucu dari Kakek Prio?" tanya Rayya meminta penjelasan, karena tadi Raditya hanya diam dan tak lama kedua orang tuanya datang.
"Iya, memang ada apa? Jangan banyak pikiran Rayya! Mamah tidak ingin kamu sakit lagi," jawab Mamah Ceri dengan wajah khawatir. Beliau tak ingin Rayya terlalu banyak pikiran karena itu akan memperburuk kondisinya.
"Jadi benar jika dia akan melamar Rayya setelah Rayya memutuskan menikah dengan Mas Reza?"
"Setelah Raditya memutuskan untuk meneruskan sekolahnya di luar. Raditya datang kepada Mamah dan Papah, dia menitipkan jodohnya pada kami dan meminta ijin untuk merestuinya untuk bisa melamar kamu setalah dia menyelesaikan sekolahnya. Melihat ada pria yang berniat baik, dengan tujuan baik dan cara yang baik. Papah dengan lapang dada menerima, dan merestuinya. Namun, Papah harus ingkar di saat kamu lebih memilih menikah dengan Reza."
"Kenapa Papah tidak mengatakan apapun kepada Rayya?" tanya Rayya lagi. Dia benar-benar ingin tau apa yang terjadi sebelum dia menikah dengan Reza. Meski percuma dan semua sudahlah terlambat, tetapi setidaknya dia tau dengan kebenaran yang ada. Dia bisa tau seberapa besar perasaan Raditya padanya.
"Jika Papah mengatakannya apa bisa merubah pemikiran dan keputusan kamu untuk tidak menikah dengan Reza?" tanya Papah Yang kemudian menghela nafas berat. Sebenarnya beliau sudah tak ingin kembali mengingat-ingat masa lalu yang berkaitan dengan mantan menantu. Namun, putrinya terus mencari tau membuat beliau harus kembali menceriakan dan mengingat akan Reza.
Rayya bungkam, apa yang dikatakan Papahnya benar. Meskipun Papah Tio telah mencegah dan memberitahukannya tentang Raditya, tidak mungkin akan meluluhkan hatinya yang sudah sangat mencintai Reza.
Papah Tio dan Mamah Ceri saling beradu pandang. Mereka tau jika Radit adalah suami idaman bagi Rayya. Cinta monyet Rayya, dan pangeran impian Rayya. Namun, karena Raditya yang memilih untuk tidak menemui Rayya sampai dia merasa siap dan pantas. Justru membuat Rayya mulai mengenal cinta lain.
Malam ini rayya tertidur pulas setelah meminum obat. Kedua orang tuanya tampak lega melihat Rayya bisa kembali beristirahat. Setelah penjelasan yang mereka berikan pada Rayya, membuat Rayya diam dan banyak melamun. Entah apa yang dia pikirkan, tetapi kedua orang tuanya tidak berani mengganggu. Hingga jam makan malam tiba, Mamah Ceri segera menyuapinya dan memberi obat.
"Alhamdulillah Mah, akhirnya Rayya bisa beristirahat. Papah khawatir sekali karena sejak siang dia hanya diam. Papah takut penjelasan yang Papah berikan malah membuat kondisi Rayya semakin memburuk." Papah menghela nafas lega dengan terus menatap Rayya yang tengah tidur dangan begitu nyenyak.
"Semoga setelah ini kondisi Rayya membaik," sahut Mamah Ceri.
"Aamiin."
__ADS_1
Hari ketiga di rumah sakit, kini saatnya Rayya menemui psikiater. Awalnya dia menolak, Rayya berpikir jika dirinya tidak memerlukan psikiater untuk menyembuhkannya. Toh dia hanya sakit karena kelelahan bukan gila, tetapi setelah melihat air mata Mamah Ceri jatuh karena memohon padanya, membuat Rayya menurut dan mau masuk ke ruangan khusus itu.
Di dalam ruangan yang tenang Rayya terduduk di sofa dengan terdiam, dia melamun, menangis, hingga menjerit merasakan sakit fisik dan hatinya. Bayangan kembali berputar seiring dirinya yang menceritakan apa yang dia dapatkan dari rumah tangga yang menyakitkan.
"Aaagghh hiks...Hiks ...Hiks ..."
"Cukup Bu Rayya!" ucap dokter yang sejak tadi menyimak cerita dari Rayya. Beliau menghela nafas berat dan mencoba menenangkan Rayya hingga tangis Rayya mereda, kemudian memberikan minum untuknya.
"Bagaimana Bu Rayya? Apa sudah lega setelah bisa menceritakan semuanya?"
Rayya menganggukkan kepala, wajahnya sendu dengan mengusap lembut air matanya. Lega, itulah yang Rayya rasakan. Bebannya seakan terangkat. Sakit hatinya memang masih tersisa, tetapi asa mulai kembali datang.
Tiga kali datang ke psikiater membuat kondisi Rayya semakin membaik. Senyum sudah mulai terbit kembali dengan rona wajah yang sudah mulai terlihat. Kondisi fisik Rayya pun sudah kembali sehat. Bahkan pagi ini ia sudah rapi dengan setelan pakaian kantor.
"Wa'allaikumsalam," lirih Rayya yang melangkah menuju mobil. Dia terkejut dengan Raditya yang sudah menunggunya seperti biasa. Seingat Rayya, mereka tak ada lagi komunikasi yang setelah pembicaraan di rumah sakit, tapi mengapa pria itu tau jika pagi ini ia berangkat ke kantor.
"Kok..."
"Ayo berangkat, pagi ini kita ada meeting Bu Rayya! Silahkan!" sahut Raditya yang memotong ucapan Rayya. Pria itu segera mempersilahkan Rayya untuk masuk dan membukakan pintu mobil untuk wanita itu.
Tanpa banyak bicara, Rayya segera masuk ke dalam mobil. Jika sebelumnya biasa saja menghadapi Raditya, sekarang Rayya sedikit gugup hingga enggan berbicara sepanjang perjalanan.
Raditya pun tidak mempermasalahkan, dia paham Rayya canggung setelah tau siapa dirinya. Dia pun mengerti dan bersikap seperti sebelumya, menjadi asisten Rayya.
__ADS_1
Keduanya telah sampai di parkiran kantor. Rayya masih terdiam seperti enggan untuk turun. Raditya pun menunggu sampai Rayya membuka suara. Dia tau ada yang Rayya ingin katakan, dia menunggu hingga hampir sepuluh menit berlalu dan akhirnya Rayya mau berbicara.
"Ehemm... Hari ini ada meeting dimana?"
"Ada meeting dengan klien di restoran XX sekitar dua jam lagi. Berkas sudah saya siapkan tinggal menunggu tanda tangan dan kesiapan anda," jawab Raditya dengan lugas.
Rayya menarik nafas dalam, dia memilin roknya dengan wajah mulai merona. Ingin kembali berbicara tetapi begitu berat. Wanita itu menoleh sekilas, sempat bertemu pandang lalu buru-buru Rayya menundukkan kembali kepalanya. Rayya seperti harimau yang berumah menjadi kucing Persia. Yang tadinya berani nyalinya mendadak ciut.
"Ada lagi Bu? Atau mau berangkat langsung saja biar saya ambil dulu berkasnya di dalam." Raditya bersiap ingin keluar dari mobil dan mengambil berkas yang telah ia siapkan di ruangannya. Dia membuka pintu mobilnya tetapi suara Rayya membuatnya terdiam dan kembali menutup pintu mobil.
"Jika hanya berdua panggil saja Rayya, Kak!"
Raditya kembali duduk dengan tenang dan menunggu Rayya meneruskan ucapannya. Dia tersenyum samar menatap lurus ke depan dengan wajah kalem.
"Terimakasih telah membantu Rayya dan maaf jika pernah membuat Kak Raditya kecewa. Makasih juga Kakak tidak meninggalkan Rayya ketika tau jika Rayya ada masalah. Aku tau, Kak Radit yang meminta kepada Mamah untuk menjadi asisten aku setelah Mamah mengabari Kakek Prio. Andai tidak ada Kakak, mungkin sampai saat ini aku masih terpuruk."
"Aku pernah menyesal karena datang terlambat, dan aku tidak ingin menyesal lagi melihat kamu terbelenggu dalam rumah tangga yang menyakitkan," sahut Raditya.
Rayya menghela nafas panjang, dia masih menundukkan kepala dengan wajah merona. Mendengarkan ucapan Radit hatinya menjadi gamang. Rayya dilanda dilema, Raditya begitu baik sehingga membuatnya merasa tak pantas untuk pria itu. Terlebih dengan statusnya yang sempat ia banggakan di depan Raditya. Kini justru membuatnya minder, karena menurut Rayya pria sebaik Raditya tidak pantas mendapatkan dirinya yang hanya seorang janda.
"Kakak akan mewujudkan impian kamu, dan menikahi kamu secepatnya."
"Tapi kak, sekarang Rayya janda sedangkan Kak Raditya masih perjaka. Apa tidak rugi menikahi janda?"
__ADS_1