Pembalasan Istri Yang Kau Anggap MANDUL

Pembalasan Istri Yang Kau Anggap MANDUL
Bab 44


__ADS_3

"Mas, aku lagi pengen makan bubur kacang hijau tapi buatan kamu. Boleh?"


Pagi ini entah mengapa Rayya sedang ingin sekali makan bubur kacang hijau buatan Raditya. Padahal hampir setiap hari pria itu selalu menyempatkan diri memasak makanan untuk istri tercinta. Namun, Rayya seperti tidak ada bosannya. Bahkan semenjak hamil Rayya jarang sekali mau makan di luar.


"Boleh dong Sayang, masih ada waktu buat aku masakin kamu. Setelah itu aku berangkat kerja ya."


"Iya Mas, makasih ya Mas."


"Sama-sama Sayang," jawab Raditya kemudian dia melangkah menuju dapur untuk membuat pesanan sang istri, sedangkan Rayya menyiapkan perlengkapan Raditya untuk ke kantor.


Setelah empat bulan kehamilannya, Rayya sudah tidak mual lagi. Nafsu makannya pun sudah kembali hingga asupan nutrisi bayinya terpenuhi. Hal itu tentunya membuat Rayya semakin enjoy melewati masa kehamilan yang harus banyak sabar. Terlebih ngidamnya yang kadang tidak tau aturan. Beruntung suami selalu siap sedia.


"Sayang, sudah matang buburnya. Lagi aku dinginkan dulu."


"Makasih ya Mas, wah wanginya hhhm... Nggak sabar mau makannya Mas." Rayya menikmati aroma jahe dan kacang hijau yang begitu wangi. Belum lagi susu yang membuat semakin ingin mencicipi.


"Sabar Sayang, mending temani aku mandi dulu yuk. Nanti setelah mandi kita sarapan."


Ada saja memang Raditnya ini. Dia yang selama tiga bulan harus puasa karena kandungan Rayya yang masih butuh perhatian lebih, membuatnya yang baru buka berasa haus terus. Padahal baru semalam Rayya dibuat mandi basah.


"Aku sudah mandi loh. Lagian kasihan baby-nya nanti terguncang, Papah."


Raditya mengulum senyum kemudian mengusap lembut perut yang mulai membesar. Rasanya begitu gemas sekali dengan sang Istri. Caranya menolak tidak buruk dan membuat Raditnya merasa lucu.


"Ya sudah aku mandi dulu ya, Sayang. Kamu tunggu sini saja, jangan naik turun!"

__ADS_1


Raditya mengecup pipi Rayya lalu berlari menuju kamar. Rasanya setiap pagi penuh cinta yang membuatnya semakin sayang. Semangat bekerja pun berkali-kali lipat hingga jam pulang kerja terasa singkat. Hawanya ingin selalu berdekatan dan mengulang manisnya rumah tangga.


"Hati-hati di jalan ya, Mas!"


"Iya Sayang, kamu baik-baik di rumah. Jangan melakukan pekerjaan yang berat-berat! Biar nanti ada Bibi yang datang untuk membersihkan rumah. Kamu cukup istirahat saja!"


Rayya menganggukkan kepala lalu memeluk suaminya. Sebenarnya tidak ingin ditinggal. Mungkin jika Raditya tidak sesibuk itu Rayya akan memintanya untuk bekerja dari rumah. Namun, banyak tanggung jawab yang harus Raditnya kerjakan sekarang. Membuat Rayya harus banyak-banyak bersabar.


Seharian hanya dirumah membuat Rayya bosan. Sesekali membaca, menonton televisi, melihat media sosial, tidur siang hingga singgah di halaman belakang. Dia bermain-main dengan ikan di kolam setelah sholat ashar.


"Jika anak aku lahir apa sesenang ini ya main air. Mereka pasti antusias sekali. Eh iya, mas Raditnya kan lusa ulang tahun. Kado apa ya yang akan aku berikan. Kok bingung, mana belum ada persiapan. Malah terhitung hampir abai. Kamu tau nggak ikan, apa yang akan aku berikan untuknya?"


Rayya bermonolog sendiri di taman belakang, tanpa dia tau jika suaminya pulang cepat. Namun, Raditnya tidak menemuinya terlebih dahulu. Memilih untuk mandi dan melakukan kewajibannya terlebih dahulu sebelum menemui istrinya yang kini sudah pindah ke rumah tamu.


"Mas ngagetin aja dech! Untung belum jadi aku pukul. Kamu kok sudah pulang sich, Mas? Sejak kapan? Aku nggak tau," tanya Rayya yang duduk mendekati suaminya.


"Sejak kamu bicara dengan ikan." Raditya tersenyum simpul. Dia ingin sekali tertawa melihat ekspresi Rayya yang begitu terkejut dengan mulut terbuka. Wanita itu tidak sadar jika diperhatikan, bahkan Raditnya berdiri di belakangnya cukup lama.


"Mas, kamu buat aku malu!" rengek Rayya dengan manja.


"Tidak perlu malu Sayang, kamu lucu!" Raditya merangkul pundak Rayya dan mengecup keningnya .


"Eh tapi kok pulang cepat? Kamu lagi nggak sibuk, Mas?" tanya Rayya yang kemudian menuntut Raditya ke meja makan untuk ia buatkan kopi.


"Kangen kamu, makanya pulang cepat. Besok periksa kandungan 'kan, Sayang?"

__ADS_1


"Iya Mas, kalau kamu sibuk aku bisa minta antar sama Mamah. Jangan dipaksakan! Kamu kan sibuk kerja."


"Besok Mas antar, sudah masuk empat bulan bukannya sudah terlihat? Aku penasaran," jawabnya antusias. Selama ini dia tidak pernah absen dalam mengantarkan Rayya periksa kandungan. Dia selalu ada untuk sang istri meskipun begitu sibuk pekerjaannya.


Bagaimana tidak, semenjak Rayya mengandung dan di rumah. Dia menghandle tiga perusahaan sekaligus. Terlebih Papah Tio yang sudah mempercayakan itu semua padanya, karena suami dari Aretha dan Regantara sudah memiliki bisnis yang lumayan. Tidak sanggup lagi jika harus mengurus kantor Mamah dan Papahnya.


Pagi ini Rayya dan Raditya menyempatkan dulu senam pagi di kamar mandi. Bumil satu itu begitu ingin mencoba. Saat perut sudah membesar tetapi entah mengapa ingin sekali banyak macam gaya yang dia lakukan. Raditya meringis melihatnya. Bukan tidak mau, tetapi ngeri sendiri.


"Ayo masuk Mas! Sudah siap," rengek Rayya di tengah peluh yang membasahi.


"Tapi Sayang, kamu kuat begini? Kakinya kuat menumpu badan kamu?" tanya Raditya untuk memastikan karena Rayya tengah menekuk kakinya di dalam bathtub dan membelakangi dirinya. Kedua tangan bertumpu pinggir bathtub dengan kuat.


"Bisa Mas! Ayo, ikh kamu lama! Sudah siap tancap juga. Nanti bobo lagi loh!" ucap Rayya agak sewot karena Raditnya yang tak kunjung mengunjunginya. Padahal sudah dipertengahan tetapi karena Rayya yang banyak maunya membuat Raditya tidak tega. Bukan tidak mau tetapi pria itu takut sang istri dan bayi yang ada didalamnya kenapa-kenapa.


"Iya Sayang," jawab Raditnya mulai mendekat dan mengeksekusi dengan perlahan. Namun, Rayya begitu menikmati membuat rasa khawatirnya mereda dan ikut terbuai. Tak cukup di situ, Rayya kembali meminta ganti posisi. Sungguh ujian untuk Raditnya. Menahan ngeri dan menahan hasratnya. Hingga keduanya sama-sama lega setelah mencapai tujuan.


Rayya begitu terlihat lemas, tetapi dengan sigap Raditya membantu. Memandikan dan menyiapkan pakaian ganti. Mengeringkan rambut Rayya dan menyisirnya. Raditya begitu telaten hingga membuat Rayya terbaru dan bergelendot manja.


"Sudah, makannya di dalam mobil saja ya. Nanti keburu telat jadwalnya."


"Iya Mas," jawabnya, kemudian mengikuti langkah Raditnya yang menyiapkan semuanya. Makan dan minuman untuk Rayya. Beserta susu hamil dan cemilannya.


Keduanya berangkat menuju rumah sakit dengan Raditya yang terkadang menggoda Rayya ketika mengingat pergulatan pagi tadi di kamar mandi.


"Sudah Mas! Jangan dibicarakan terus! Aku malu..."

__ADS_1


__ADS_2