Pembalasan Istri Yang Kau Anggap MANDUL

Pembalasan Istri Yang Kau Anggap MANDUL
Bab 26


__ADS_3

Pagi ini Rayya seperti mendapat durian runtuh. Berkas yang ia ajukan mendapatkan ACC secepat kilat dari perusahaan besar dan akan mendapat suntikan dana yang cukup besar.


Wanita itu terlonjak dengan hati girang, tanpa sadar dia memeluk Raditya yang sejak tadi berdiri di sampingnya. Pria itu dibuat mati gaya. Ingin menghindar tak bisa, diam saja menambah dosa.


Rayya mengeratkan pelukannya di leher Raditya dengan kaki berlonjak tiada henti. Dia tersenyum lebar sampai membuat Raditya tak tega untuk menyadarkan.


"Alhamdulillah... Akhirnya aku bisa memulihkan lagi perusahaan Papah. Aku senang sekali!"


Raditya memejamkan mata saat tubuh Rayya begitu lekat hingga tak sengaja bertabrakan dengan bagian depan tubuh Rayya. Kalimat istighfar terucap di dalam hati pria itu. Hingga ia sadar jika telah melakukan pelanggaran.


Perlahan pergerakan Rayya terhenti masih dengan tangan yang melingkar di leher Raditya. Mata keduanya sempat bersinggungan dengan jantung bertalu saling bersahutan.


"Maaf," ucap Rayya dengan tubuh tersentak mengingat Radit yang sangat menjaga batasan. Dia melompat mundur hampir terbentur meja. Gerakannya membuat Raditya mendadak panik dan meraih tubuhnya hingga kembali berdekatan. Namun, hanya beberapa detik. Setelahnya Raditya melepaskan kembali dengan kata maaf yang terucap tulus.


"Saya yang harusnya minta maaf. Maaf Pak, saya terlalu bahagia, jadi reflek memeluk anda. Saya harap anda jangan kegeeran dan berpikir yang tidak-tidak tentang saya! Karena saya tak senekat sebelumnya." Rayya kembali duduk di kursinya dengan gugup. Buru-buru mengambil berkas yang akan ia bawa hari ini untuk mendatangi perusahaan yang akan membantunya.


Melihat sikap Rayya yang salah tingkah membuat Radit mengulum senyum dan segera pamit dari sana. Dia ingin memberikan waktu untuk wanita itu untuk meredam rasa malunya akan kejadian tadi.


"Saya akan bersiap dulu untuk mendampingi Ibu menemui pemilik Sana Company."


"Baik," jawab Rayya singkat.


Rayya menghela nafas kasar melirik ke arah pintu yang sudah kembali tertutup rapat. Dia memijit pelipisnya mengingat kelakuannya yang begitu bar-bar. Beruntung Radit cukup kalem dan tak berujung mengejeknya.


"Pantasnya kamu dipanggil janda ganjen Rayya! Begitu pecicilan dihadapan perjaka," keluh Rayya dengan penuh penyesalan. Andai kedua orang tuanya melihat, akan jadi apa dia dan pasti akan mendapat godaan dari sang Papah.


Siang ini Rayya didampingi oleh Raditya datang ke Sana Company. Berulang kali Rayya menarik nafas dalam untuk meredakan rasa gugupnya hingga membuat Radit tersenyum samar mendengarnya.

__ADS_1


"Tidak usah gugup, Bu! Saya yakin Ibu bisa menghadapinya nanti, karena setau saya pemilik Sana Company tidak memiliki taring. Itupun jika anda beruntung, anda akan bertemu karena sepengetahuan saya beliau tidak bisa ditemui oleh sembarang orang. Terlebih wanita cantik seperti anda."


Rayya menoleh ke arah Radit dengan menaikkan alisnya, kemudian membuang muka dengan tatapan jengah. "Kamu sedang memberi info atau merayu saya?"


"Jika boleh dua-duanya mungkin lebih baik, Bu!"


"Haish, itu modis namanya!" celetuk Rayya.


"Tapi hanya pada satu wanita, wanita yang membuat saya berdosa karena selalu tergoda untuk menatap wajah cantiknya," ucap Radit membuat Rayya menoleh ke arahnya dengan tatapan tajam. Namun, Raditya memilih kabur sebelum mendengar Rayya mengoceh padanya.


"Karena aku dia berdosa, mana ada begitu? Yang ada dia beruntung bisa dekat dengan janda cantik macam aku!" gumam Rayya yang begitu bangga dengan gelarnya sebagai janda.


Di dalam ruangan meeting gedung Sana Company, Rayya mengulurkan tangannya pada pria berpenampilan rapi dan masih cukup muda. Kira-kira umurnya hampir sama dengannya. Rayya tersenyum ramah dengan pria itu tetapi uluran tangannya tak di gapai. Pria itu malah memasang wajah terkejut membuat Rayya mengerutkan keningnya.


"Ada apa Pak? Apa ada yang salah dengan penampilan saya?" tanya Rayya yang segera menarik tangannya kembali. Dia bingung dengan sikap pria itu. "Perkenalkan Pak, saya Rayya Salsabila dari perusahaan Weda. Saya datang untuk memenuhi panggilan dari pemilik Sana Company yang menerima kerjasama dengan kami."


"Maaf Bu, saya tadi sedikit membuat Ibu bingung. Mungkin karena kurang fokus." Pria itu melirik Raditya dengan tatapan berbeda dan kembali menatap Rayya. "Saya asisten dari pemilik Sana Company. Saya yang akan mewakili meeting kali ini karena pemiliknya sedang ada urusan penting di luar. Tapi Ibu jangan khawatir, apapun pembahasan kita akan sampai pada beliau."


"Oh baik, Pak. Maaf dengan Bapak siapa ya? Karena yang saya tau hanya nama atasan Bapak saja, Pak Wicaksana."


"Saya asisten Yogi, Bu. Maaf, sebelah anda ini siapa ya?" tanyanya dengan melirik ke arah Raditya.


Raditya mengulurkan tangannya sebelum Rayya memperkenalkan. "Saya Raditya, asisten dari Ibu Rayya. Semoga kerja sama kita berjalan dengan lancar!"


"Iya, silahkan duduk dulu! Kita langsung mulai saja meeting pertama kita."


Mereka segera duduk dengan mata Rayya yang melihat sekitar ruang meeting. Tampak rapi, dengan nuansa putih dan kaca terbentang tembus ke luar. Namun, tampak teduh, terang dan bersih. Rayya terpesona melihat ruang meeting perusahaan yang belum ada lima tahun berdiri tetapi sudah begitu megah dan kokoh bersaing dengan perusahaan besar lainnya.

__ADS_1


"Aku jadi semakin penasaran siapa pemiliknya. Sesibuk itu sampai sulit menerima tamu, atau jangan-jangan pejabat yang banyak pekerjaan diluar."


"Bisa di mulai meeting kita, Bu Rayya?"


Rayya tersentak mendengar ucapan Pak Yogi. Dengan cepat Rayya menganggukkan kepala dan meeting pun segera di mulai. Tak banyak yang di bahas karena penjelasan Rayya cukup jelas dan tepat sasaran pada point-point yang dibutuhkan. Ditambah lagi dengan Raditya yang pandai menutupi setiap kekurangan dari atasannya. Hingga keduanya begitu kompak dan tanda tangan segera didapat.


"Sebentar ya Bu, sepertinya atasan saya sudah datang. Saya akan meminta tanda tangan beliau terlebih dahulu," pamit Pak Yogi yang segera keluar ruangan setelah Rayya mengiyakan.


Rayya bernafas lega setelah kesepakatan kerja sama benar-benar ia dapatkan. Waktunya bekerja dengan baik dan memutar dana dengan tepat sasaran agar perusahaan cepat maju, hak karyawan pun terbayarkan.


"Maaf Bu, saya ijin ke toilet sebentar!" pamit Raditya membuyarkan lamunan Rayya.


"Oh iya Pak Radit, silahkan!" jawab Rayya mempersilahkan. Dia menatap punggung tegak Raditya yang melangkah keluar ruangan. Ada hal janggal yang Rayya rasakan tetapi tidak ia temukan. Namun, dengan cepat Rayya menggelengkan kepala. Dia enggan berpikir banyak dan akan menambah pikiran.


Dering telpon dari Pak Prio membuat senyum diwajah Rayya kembali bersinar. Dia segera menerima panggilan tersebut dengan begitu semangat.


"Halo Kek."


"Halo Nak, sepertinya senang sekali. Ada apa?"


"Alhamdulillah sekali Kek, ada investor yang menanam modal cukup besar dan bekerja sama dengan perusahaan kita tanpa menengok masalah yang terjadi. Perusahaan Papah akan segera pulih Kek!"


"Alhamdulillah, bersyukurlah Nak. Masih ada orang baik yang mau membantu. Ingat, selama kita berusaha dan berdoa. Allah pasti akan memberi jalan."


Ucapan Kakek mengingatkannya akan pesan yang Raditya kirimkan. Pesan pengingat akan dirinya yang telah lama meninggalkan kewajiban.


"Apa aku pun boleh berharap sekali lagi padaNya akan jodohku kelak?"

__ADS_1


__ADS_2