Pembalasan Istri Yang Kau Anggap MANDUL

Pembalasan Istri Yang Kau Anggap MANDUL
Bab 34


__ADS_3

"Apa? Jadi Ibu Hanum yang mencelakai Mas Raditya? Atas dasar apa, Pah? Mereka tidak saling kenal, mengapa bisa Bu Hanum seperti membenci Kak Radit?" Rayya memijit pelipisnya, dia terkejut dan tak menyangka jika Bu Hanum dalang dari kecelakaan yang membuat Raditya terbaring koma.


Bayangan akan wajah Bu Hanum yang sangat membencinya kambali terlintas. Rayya begitu geram dengan tindakan mantan ibu mertuanya itu. Mungkin jika di dunia tak ada hukum, ingin rasanya Rayya membunuh wanita jahat itu.


"Apa kamu lupa jika Raditya lah yang membantu kamu lepas dari putranya? Dan membantu kamu juga dari tuduhan yang melibatkan kasus korupsi yang Reza lakukan? Kemungkinan beliau dendam dengan Raditya. Terlebih Radityalah yang memasukkan Ibu Hanum ke rumah sakit jiwa, karena memang setelah diperiksa mental beliau terganggu, sehingga Radit bertindak tegas. Dia tak ingin Ibu Hanum kembali mencelakai kamu, Rayya."


Rayya memejamkan kedua mata dengan menggigit bibir bawahnya. Lagi-lagi dia yang telah menyakiti Raditya. Meski bukan murni karenanya, tapi kehadiran Raditya atas keinginannya. Sehingga harus terseret dalam masalah yang ia hadapi.


"Rayya merasa bersalah dengan Kak Radit, Pah. Ini semua karena Rayya," lirih Rayya kemudian menoleh ke arah Kakek Prio yang sejak tadi hanya diam menyimak. " Maafkan Rayya, Kek. Semua ini karena Rayya. Kak Raditya begini karena menolong dan ingin melindungi Rayya."


"Jangan menyalahkan diri sendiri, Nak. Jika karena menolong, kakek pun ikut menolong Rayya. Mungkin memang ini sudah jalan takdir Raditya dan kamu. Bersakit dahulu, semoga setelah ini kebahagiaan menyertai kalian."


Rayya turun dari mobilnya dan segera melangkah panjang menuju kamar yang Ibu Hanum. Dia begitu ingin menemui wanita paruh baya itu. Sedikit keberatan mengapa Bu Hanum dikembalikan lagi ke rumah sakit jiwa. Dia pun takut Ibu Hanum kembali kabur dan kelak bisa mencelakai keluarganya.


"Mengapa anda tidak membusuk saja di penjara? Anda telah menghancurkan semuanya . Jangan anda pikir saya tidak tau jika dulu Mas Reza bersikap kasar itu karena dibumbui hasutan dari anda setiap hari. Sekarang, anda pun ingin membunuh calon suami saya. Kenapa anda begitu ingin menghancurkan impian saya, Bu Hanum?" sentak Rayya dengan begitu emosi. Mungkin jika orang melihat, Rayya lah yang gila karena memarahi orang tidak waras.


Setelah penangkapan Ibu Hanum yang ditemukan di kolong jembatan sedang memakan sisa-sisa makanan yang beliau ambil dari tempat sampah. Polisi membawa beliau ke rumah sakit dan kembali memeriksakan kondisi kejiwaannya. Ternyata mentalnya semakin memburuk bahkan tak jarang ia tertawa sendiri dan setelah itu menangis.


Menurut saksi mata yang melihat beliau di tempat kejadian. Wanita paruh baya itu tak henti tertawa saat melihat mobil Raditya di amankan. Beliau tiba-tiba datang dan bertepuk tangan dengan berlompat-lompat..


Bu Hanum yang sedang tertidur akhirnya terjaga setelah mendengar suara Rayya. Beliau turun dari ranjangnya dan melangkah menuju jeruji yang membatasi jendela.


"Mau apa kamu berkunjung ke rumahku lagi? Wanita sialan kamu! Gara-gara kamu anakku dipenjara. Pergi kamu dari rumah ku biaadap!" sentak Ibu Hanum membuat Rayya mengepalkan kedua tangannya. Ingin sekali rasanya Rayya menjambak wanita paruh baya itu. Namun kali ini Rayya sadar dan yakin jika Ibu Hanum benar-benar menderita gangguan jiwa.


"Reza... Hiks... Ibu sendirian Reza... Hiks... Tapi Ibu telah membunuh pria itu Reza. Kamu pasti senang. Hahahha..."

__ADS_1


Rayya menggelengkan kepala mendengar ucapan Ibu Hanum. Tak lama dia teringat akan sesuatu. Buru-buru Rayya mengambil ponselnya dan menghubungi sang Papah.


"Halo Pah, assalamualaikum..."


"Wa'allaikumsalam, ada apa Nak?"


...****************...


Setelah berkunjung dari rumah sakit jiwa, Rayya bergegas mengunjungi Reza. Dia melangkah tegas dengan senyum mengembang saat Reza dibawa oleh polisi yang bertugas untuk keluar dan menemuinya.


"Assalamualaikum, Mas."


"Wa'allaikumsalam Rayya. Kamu sekarang..." Reza terdiam menatap Rayya dengan seksama. Dia hampir pangling tadi saat melihat wanita berjihad duduk menunggunya.


Sebenarnya sudah dari kemarin malam saat akan dilaksanakannya acara lamaran. Rayya memutuskan untuk mengenakan hijab sebelum sah menjadi istri Raditya. Dia ingin menutup auratnya agar kelak tak menjadi dosa untuk suami, ayah dan anak laki-laki nya kelak.


"Syukurlah, Mas senang melihatnya. Mas jadi semakin menyesal telah menyiakan kamu Rayya." Reza menundukkan kepala terlihat begitu sangat menyesal. Dirinya menyurut air mata enggan terlihat lemah.


"Tidak perlu disesali, Mas! Semua sudah konsekuensi dan takdir Sang Ilahi. Rayya kesini hanya ingin melihat kabar Mas Reza dan memberitahukan jika Ibu di rawat di rumah sakit jiwa, Mas."


Reza terkejut kemudianmengangkat kembali kepalanya dan menatap Rayya dengan tatapan tak percaya."Benar begitu Rayya?" tanya Reza meminta kepastian.


"Iya Mas, menurut polisi Ibu telah mencelakai Kak Raditya. Ibu telah memutus kabel rem hingga Kak Raditya mengalami kecelakaan dan sampai saat ini belum sadarkan diri."


Reza bungkam, dia menghela nafas berat mendengar penjelasan dan kabar dari Rayya. Matanya terpejam kuat dan kembali menatap wanita berhijab di hadapannya.

__ADS_1


"Lalu bagaimana keadaan Ibu saat ini, Rayya?"


"Sejak beberapa bulan yang lalu setelah Mas masuk penjara, beliau sangat merasa kehilangan hingga mentalnya terganggu. Beliau sudah dimasukkan ke rumah sakit jiwa agar tidak berujung membahayakan. Meski terkadang Ibu seperti orang normal biasa, tetapi sekarang keadaannya semakin parah semenjak Ibu berhasil mencelakai Kak Raditya."


Rayya menatap Reza dengan tatapan sendu. Air matanya hendak terjatuh andai ia tak mengingat akan sesuatu. Tak ingin berlama-lama meninggalkan Raditya, dia pun segera pamit dari sana.


"Aku pamit, Mas. Hanya itu yang ingin aku sampaikan agar kamu tidak kepikiran tentang Ibu."


"Terimakasih Rayya, kamu sudah repot-repot datang dan mengabari tentang kondisi Ibu saat ini. Titipkan salamku jika bertemu Ibu dan kalau bisa, jangan terlalu lama kembali kesini! Aku pasti merindukanmu, Rayya."


Rayya tersenyum dan segera beranjak dari duduknya. Dia menatap wajah Reza dengan terus menyematkan senyuman.


"Iya Mas, mungkin pertemuan kita nanti aku akan mengajak suamiku juga untuk menjengukmu."


Deg


"Suami?"


"Ya, mungkin malam lamaran gagal tapi aku tidak akan membiarkan malam pernikahan kami pun gagal. Aku akan menikah setelah Kak Raditya sadar."


Reza tercengang mendengar jawaban dari Rayya. Hatinya tak terima Rayya dimiliki pria lain. Ingin rasanya mencegah, tetapi rasanya begitu berat untuk memohon agar Rayya mau memberi kesempatan untuknya.


Namun, Rayya tau. Pancaran mata Reza terlihat tidak suka mendengar kabar pernikahannya. Mungkin Reza bisa memamerkan senyum saat ini, tetapi Reza tak bisa membohongi gurat kekecewaan dari Rayya.


"Semoga langgeng dan bahagia. Ingin sekali aku lancang untuk meminta agar pernikahan itu tak terjadi, tapi apalah aku? Hanya mantan suami yang telah menyakiti."

__ADS_1


"Hhmm...Makasih Mas. Assalamualaikum..." Hanya itu jawaban dari Rayya. Dia kembali menyunggingkan senyum sebelum melangkah menjauh dari sana. Dia meninggalkan pria yang kini menghantamkan tangannya di dinding hingga membuat buku-buku tangannya mengeluarkan darah segar.


"Aku masih mencintaimu, Rayya."


__ADS_2