
Wajah Rayya seketika merona mendapat panggilan manis dari Raditya. Terlebih pria itu menatapnya dengan tatapan lekat begitu kena ke jiwa. Rayya bergeser perlahan agar terhindar dari tatapan pria itu. Namun gerakannya terhenti saat mendengar Raditya kembali memanggil.
"Sayang..."
"Ya.."
Rayya begitu canggung, terlebih Raditya sudah melihat dirinya tanpa sehelai benangpun. Melakukan kegiatan panas yang menguras peluh. Jika semalam dalam keadaan sadar mungkin tidak secanggung ini, tapi semalam dirinya bahkan tengah terpengaruh obat. Apa jadinya jika Raditya menilai dirinya terlalu agresif dan liar.
"Jangan menatapku seperti itu, Kak!"
"Kenapa, hhm? Sekarang kamu istriku, bebas buatku menghabiskan waktu untuk menatap wajahmu. Tak ada penghalang lagi karena sudah tersemat kata halal."
Rayya susah payah menghindar tetapi Raditya justru terus mengikis jarak. Nampaknya dia begitu gemas melihat Rayya yang kini terlihat gugup dengan wajah bersemu.
"Kenapa seperti menghindariku? Apa kamu menyesal menjadi istriku? Atau selama aku tidak ada kabar, kamu ada rencana dengan pria lain?" tanya Raditya dengan terus memperhatikan. Sontak Rayya pun menoleh ke arahnya. Raut wajah merona karena malu kini berubah, terlihat sekali guratan kekesalan. Rayya seperti tak terima dengan pertanyaan Raditya.
"Pria mana maksud Kakak? Jangan berspekulasi sendiri, bahkan aku susah payah mengikhlaskanmu yang menghilang tanpa kabar berita. Kamu pergi tanpa pamit. Kamu buat aku menanti, sampai dimana aku sadar diri dan mencoba untuk mengikhlaskan semua yang telah terjadi."
Raditya tersenyum samar, bahkan hampir tak terlihat. Dia berhasil membuat Rayya marah dan banyak bicara. Selain itu dirinya begitu senang mendengar pengakuan Rayya yang begitu menunggunya.
"Terus mengapa sekarang malah menjauh? Kamu tidak merindukanku?" tanya Raditya dengan lembut.
Rayya merapatkan bibirnya, matanya mengerjab berulang kali dengan tangan mencengkeram selimut. Sedikit gemas dengan Raditya yang tidak mengerti akan kecanggungan yang ia alami, tapi memang terkesan aneh dirinya yang dulu terlihat biasa saja. Setelah menjadi istri malah diam, bahkan tak sanggup untuk lama-lama saling bertatapan.
__ADS_1
"A.. Aku... Mmmm.... Aku, ikh kenapa nggak peka sich Kak? Aku tuh malu karena semalam, kamu tuh," rengek Rayya dengan wajah kembali merona. Dia menghela nafas kasar lalu menyingkap selimut hendak beranjak dari sana tetapi Raditya dengan capat menahannya.
"Mau kemana?"
"Mau jauh-jauh dari kamu," sahut Rayya dengan menarik bathrobe yang ditahan oleh tangan Raditya. "Kak, lepasin! Dekat kamu jantungku ingin lepas. Beri aku waktu untuk bisa, auwh..." Bathrobe yang terlepas spontan membuat kaki Rayya melangkah. Rayya lupa jika dirinya sulit untuk berjalan. Terasa sakit sekali di pangkal paha yang ternyata ulah dari pria yang telah lama pergi lalu kembali tiba-tiba dan mengesahkan hubungan.
Melihat Rayya yang kesakitan, Raditya tak tinggal diam. Tangannya dengan cepat menarik pinggul Rayya hingga wanita itu terjatuh ke pangkuannya. Dekat, lekat, jantung berdetak kuat. Saling menyahut di antara dada kedua insan yang saling bersinggungan.
Tatapan keduanya memancarkan cinta, hingga tak butuh waktu lama bibir keduanya menyapa dengan sentuhan lembut. Jika ditanya siapa yang memulai, jelas Raditya yang tak tahan. Terlebih sudah merasakan semalaman. Mantan perjaka itu begitu pandai menaklukkan wanita yang sejak tadi mendrama dengan kecanggungan. Entah sadar atau tidak, Rayya justru semakin menempel dengan kedua tangan yang sudah singgah di pundak Raditya.
Sensasi yang diberikan sedikit membuat rasa sakit di bagian intinya tersamarkan. Rayya menyambut setiap gerakan Raditya tanpa canggung dan itu membuat pria yang kini semakin mengeratkan pelukannya begitu senang dirinya disambut mesra.
"Jangan pergi lagi Kak," lirih Rayya disela waktu yang Raditya berikan untuk mengambil nafas sebanyak-banyaknya sebelum kembali menyesap lagi.
"Tidak akan, sekalipun aku pergi. Kamu akan selalu bersamaku," sahut Raditya dengan suara serak. Mata keduanya terus bertatapan hingga Raditya kembali menyesap benda kenyal yang baru sehari saja sudah membuatnya ingin lagi dan lagi.
"Cantik, sudah hilang canggungnya?"
"Masih sedikit, sekarang bebas ya menatap aku? Menggenggam tanganku, dan menyentuhku?"
"Hhmm, bahkan aku sudah berhasil membuatmu sulit berjalan. Maaf, jika aku pergi terlalu lama. Aku tidak akan menjanjikan apapun, tapi aku akan berusaha untuk menebus air matamu. Menyembuhkan rasa sakitmu, dan memberi warna dalam hidupmu yang sempat kelabu." Raditya mengusap bibir Rayya yang basah.
Rayya tersenyum, keduanya menyatukan kening mereka dengan posisinya yang masih anteng duduk di atas pangkuan Raditya. Namun, sejenak Rayya terdiam dan mundur. Nampaknya di bawah sana ada yang protes dan mengetuk-ngetuk paha Rayya.
__ADS_1
"Kak, aku turun ya!"
"Kenapa? Ada yang salah dengan ucapanku?" tanya Raditya dengan kedua alis terangkat.
"Bukan gitu Kak, tapi itu... Ada yang menggeliat. Aku takut, rasanya masih sangat sakit. Duduk biasa saja ya suami. Bolehkan kan?"
Raditya melirik ke bawah saat Rayya perlahan beranjak dari sana dan duduk di sampingnya. Dia menghela nafas berat dan sejenak membuang muka dengan wajah bersemu.
"Sudah biasa, nggak usah malu Kak! Kamu lupa jika aku mantan janda? Ini justru bagus, setidaknya aku tau yang menikahiku itu benar-benar pria_" Rayya menghentikan ucapannya saat tatapan Raditya berubah begitu tajam. Dia meringis dengan mencoba menjelaskan apa maksud ucapannya.
"Pria normal memang seperti itu bukan? Aku bukan anak baru yang harus diajarkan Kak. Paham dan bersyukur mendapat pria yang perkasa." Rayya meringis dengan mengangkat kedua tangannya. Menggerakkan bak atlet yang memiliki banyak otot di lengan.
Raditya menggelengkan kepala melihat kelakuan Rayya. Sungguh di luar ekspektasi, Rayya begitu imut sekali. Beruntung dia mendapatkan Rayya kembali meski harus melalui banyak rintangan yang membuatnya hampir mati.
"Kak, apa kamu merindukanku?" tanya Rayya yang tiba-tiba menurunkan kedua tangannya. Dia menatap wajah Raditya dengan penasaran.
"Sangat, tidak perlu lagi kamu tanyakan itu Sayang."
Rayya tersipu malu dengan mengulum senyum. Dia masih tidak menyangka bisa bertemu lagi dengan Raditya. Rasanya seperti mimpi. Dia yang telah mengikhlaskan, ternyata Allah memberikan rencana indah yang tak terduga.
"Bagaimana rasanya menikahi janda?" tanya Rayya dengan wajah merona. Nampaknya Rayya sudah kembali dengan perangainya yang dulu. Meninggalkan sikap diam dan kalem saat terpisah jarak dengan Raditya.
"Alhamdulillah luar biasa, aku tidak menyesal. Apa lagi itu kamu," jawab Raditya dengan menyunggingkan senyum yang menambah tingkat ketampanannya. Sepertinya Rayya tidak akan ikhlas jika Raditya tersenyum kepada orang lain. Terlebih semakin bersih saja pria itu, kulit putih hampir mengalahkannya.
__ADS_1
"Kenapa denganku?" tanya Rayya penasaran. Dia menggeser duduknya agar lebih bisa leluasa menatap Raditya.
"Legit!" jawab Raditya dengan sedikit berbisik.