PEMBURU LEAK

PEMBURU LEAK
BAB 21 . JERITAN ATAU TANGISAN


__ADS_3

Terkadang di saat kita baru menyandang sebuah gelar seorang Ayah atau Ibu maka semua itu berubah dengan sendiri nya, Ada rasa bangga dan bahagia yang terselip di hati kita dan pasti nya akan menjaga bayi yang baru lahir dengan maksimal, Begitu juga dengan Daniel dan Risma menjaga bayi nya semaksimal mungkin.


Namun yang jadi permasalahan adalah perbedaan sudut pandang Daniel dan Risma dalam menilai mahkluk tak kasat mata, Daniel tidak akan pernah percaya bahwa mereka itu ada sebab tidak bisa melihat nya sedangkan Risma meyakini bahwa mahkluk tersebut ada sebab Risma melihat mereka.


Tepat pukul 00.00 lahir lah seorang bayi mungil berjenis kelamin perempuan yang cukup sehat dengan suara yang nyaring bayi cantik itu memecahkan sepi nya malam, Ucapan syukur pun terdengar dari Mama dan Papa nya Daniel menyambut kelahiran cucu pertama mereka.


Di balik kebahagiaan malam itu sorot mata Teresa tidak lepas dari jendela di seberang nya, Saat itu Teresa cukup heran melihat ketiga sosok yang sedari tadi di lihat nya semenjak di rumah hingga di rumah sakit bersalin bukan lain Wisesa, Wiyasa dan Ayu, Mereka bertiga turut bahagia mendengar tangisan putri Risma.


Siapa mereka bertiga sebenarnya, Apakah sosok itu yang di lihat oleh Daniel atau kah ada sosok lain lagi dan untuk apa sosok itu terus mengikuti ku apakah ada sesuatu yang akan di sampaikan kepada ku?


Bergumam lah dalam hati Teresa sambil sesekali melirik ke arah jendela yang saat itu telah berdiri Wiyasa, Wisesa dan Ayu sedang berbagi tugas untuk membantu Risma dalam menjaga baby dan hal itu membuat mereka bertiga tertawa dan sesekali mereka bernegosiasi sebab tugas yang mereka terima mengganggu jam bermain mereka.


" Wiyasa dan Wisesa ingat ya kita sekarang sudah memiliki keponakan yang cantik, Jadi kita harus menjaga nya dengan baik,"


Ucap Ayu dengan nada serius.


" Wiyasa yang suka membuat anak kecil ketakutan saat melihat wujud nya,"


Timpal Wisesa sambil melirik ke arah Wiyasa.


" Memang nya kalau melihat mu anak kecil tidak sawan apa, Sok ganteng kamu!"


Jawab Wiyasa dengan nada sinis.


" Terus saja kalian adu argumen sebentar lagi pot bunga itu di hadapan ku akan melayang ke kepala kalian masing-masing!"


Ucap Ayu sambil bergantian melirik ke arah Wiyasa dan Wisesa.


Di sisi lain ada Daniel dan Risma yang sedang bahagia menyambut kelahiran putri pertama nya dan mereka berdua saling bertanya siapa nama untuk bayi mungil yang cantik tersebut sebab sejak kehamilan Risma mereka berdua belum sempat untuk mempersiapkan nama untuk bayi nya.


" Sayang apakah kamu sudah memiliki nama untuk putri kita?"


Tanya Risma sambil mengelus kepala bayi di gendongan nya.


" Belum sayang, Menurut mu di beri nama siapa?"


Jawab Daniel sambil tersenyum simpul.


" Harus ada nama bulan lahir nya dan mudah diingat sebab kamu sebagai Papa baru pasti lupa bila nama nya susah di ingat,"


Ucap Risma sambil tersenyum melirik ke arah Daniel.


Kemudian mereka berdua pun tersenyum bahagia dan saat itu masuk lah Wiyasa, Wisesa dan Ayu kedalam ruangan, Orang yang tidak tahu pasti berpikir bahwa Risma tersenyum dengan Daniel tetapi sebenarnya Risma sedang tersenyum melihat ulah dari ke tiga mahkluk tak kasat mata yang berebut ingin mencium bayi mungil yang berada di dalam gendongan Risma.


Saat itu kebetulan Teresa dan Carlos membuka pintu ruangan di mana ada Daniel dan Risma serta bayi nya berada dan saat itu Daniel ingin menggendong putri kecil nya bersamaan Wiyasa yang ingin mencium bayi tersebut dan refleks Teresa berteriak melarang dan hal itu menimbulkan kesalah pahaman antara Daniel dan Teresa yang terlihat gugup.


" HENTIKAN JANGAN!"


Teriak Teresa sambil tangan nya memberi isyarat melarang.


" Ada apa Ma, Kenapa aku tidak boleh menggendong bayi ku?"

__ADS_1


Jawab Daniel dengan tatapan bingung.


" Karena ... emmm karena ...."


Jawab Teresa dengan gugup dan salah tingkah.


" Karena bayi itu tulang nya masih muda dan tidak sembarangan menggendong nya jadi butuh belajar,"


Ucap Carlos diiringi senyum simpul.


" Oh begitu, Aku pikir kenapa aku tidak boleh menggendong bayi ku,"


Jawab Daniel sambil mengurungkan niat nya.


Saat itu Risma sempat berfikir apakah Mama mertua nya bisa melihat keberadaan mereka bertiga sehingga saat Wiyasa akan mencium bayi nya reflek berteriak melarang nya atau kah memang seperti yang di katakan oleh Papa mertua nya bahwa tulang bayi itu masih muda dan tidak boleh sembarangan memegang nya.


Sedangkan di sisi lain tepat nya di villa, Malam itu Pak Susena setelah menyelesaikan tugas nya mengunci semua pintu dan jendela di lantai atas ia pun turun ke lantai bawah dan ternyata di sana sudah tidak di temukan I Gusti Ketut yang awal nya berada di ruang keluarga sambil duduk di kursi goyang menghadap ke taman yang berada di sisi villa.


Kemana pergi nya I Gusti Ketut, Apakah sedang berada di kamar nya ataukah sedang berada di rumah ku sedang berbincang dengan Nilu Wulan, Semoga I Gusti Ketut tidak mendatangi rumah Beli Runda yang sedang berduka saat ini.


Bergumam lah dalam hati Pak Susena sambil sesekali melihat ke arah kursi goyang di ujung ruangan lalu Pak Susena mendekati sakelar lampu untuk mematikan nya dan saat ia membalikkan badan nya di kejut kan dengan sosok leak yang tinggi besar, mata terbelalak, lidah yang menjulur panjang, taring yang runcing dan kuku yang panjang.


Seketika Pak Susena jatuh ke lantai dengan mata terbelalak mencoba memastikan siapa yang sedang berdiri di hadapan nya saat itu, Hanya mengandalkan cahaya dari teras rumah untuk memastikan sosok apa yang sedang berdiri di hadapan nya saat itu, Apakah I Gusti Ketut yang sudah merubah wujud nya atau kah sosok leak lain yang ingin menghabisi nyawa Pak Susena malam itu.


" SIAPA KAMU, JANGAN MACAM-MACAM!"


Teriak Pak Susena dengan tatapan panik.


Ucap sosok itu dengan mendekatkan wajah nya.


" PERGI ...."


Teriak Pak Susena sekuat tenaga sambil menutup wajah nya dengan lengan nya.


Tidak lama kemudian Pak Susena tersadar bahwa tidak ada siapa pun di hadapan nya maka segeralah Pak Susena bangkit dari duduk nya dan sesekali menoleh ke arah pintu dan ke kursi goyang bergantian, Setelah itu Pak Susena bergegas meninggalkan villa lalu menuju kerumah nya, Namun saat tiba di teras rumah nya tiba-tiba Pak Susena mendengar ada yang memanggil.


" Beli Susena ... Beli tolong aku ... Panas ...."


Ucap suara dari sela pohon pinus.


" Siapa itu, HAI SIAPA KAMU?"


Teriak Pak Susena dengan tatapan penasaran.


" Ini aku Runda Beli ... Tolong aku Beli Susena."


Ucap sosok tersebut yang tidak terlihat dengan jelas.


Tidak mungkin pasti aku sedang bermimpi, Ini semua ilusi ini semua tidak nyata, Runda sudah meninggal dan tadi pagi sudah di aben jasad nya semua ini hanya khayalan ku saja!


Bergumam lah dalam hati Pak Susena lalu segera melangkahkan kaki nya masuk kedalam rumah nya dan dengan terburu-buru Pak Susena menutup dan mengunci pintu rumah nya rapat-rapat, Malam yang semakin larut, suara binatang malam yang bersahutan serta kabut yang menyelimuti wilayah hutan pinus menambah suasana semakin mencekam.

__ADS_1


Suara teriakan dan tangisan silih berganti terdengar, Saat itu Pak Susena hanya mampu menutup kedua telinga nya dengan kedua telapak tangan nya sambil terduduk di lantai sambil menahan rasa takut yang mencekam, Suara tangisan dan teriakan itu silih berganti terdengar dan kejadian itu sama persis seperti kejadian malam di mana seluruh keluarganya I Gusti Ketut di babat habis oleh warga.


Semenjak I Gusti Ketut terlepas dari rantai nya, Pak Susena hidup di dalam rasa ketakutan tidak di temukan kedamaian di dalam hidup Pak Susena, Seperti nya Pak Susena menyembunyikan sesuatu yang di tutup rapat selama ini sebab hanya orang yang bersalah yang merasa ketakutan, Namun apa yang di sembunyikan oleh Pak Susena sebenarnya.


Saat itu I Gusti Ketut melihat Pak Susena yang ketakutan di dalam rumah nya sambil tersenyum sinis seakan I Gusti Ketut mengetahui apa yang membuat Pak Susena ketakutan seperti itu, Dengan tatapan yang penuh dendam I Gusti Ketut melangkah kan kaki nya untuk menuruni tangga menuju ruang keluarga yang di dinding nya terpajang foto keluarga.


Istri ku tenang lah jiwa mu di nirwana bila sudah usai tugas ku maka aku pun akan menemani mu di alam keabadian, Aku akan membuat dia ketakutan dengan rasa bersalah nya dan itu lebih menyakitkan dan menyiksa nya di banding dengan mengakhiri hidup nya dengan cepat, Ia harus mendengar tiap detik jerit tangis ketakutan dan kesakitan yang kalian rasakan.


Bergumam lah dalam hati I Gusti Ketut sambil berdiri di hadapan foto keluarga yang di sana ada foto istri dan keenam anak nya, Di sisi lain ada Risma yang sedang tertidur lelap di bad rumah sakit dan Daniel tidur di sofa menemani istri nya, Saat itu Risma bermimpi namun seperti nyata dan benar-benar mengalami kejadian itu di alam nyata.


Risma masuk kedalam dimensi alam lain di saat kejadian seluruh keluarga I Gusti Ketut di babat habis oleh warga dan pasti nya Risma bingung di mana saat ini posisi nya namun ia sangat mengingat bentuk villa tua tersebut, Berawal Risma melihat sebuah keluarga yang sedang makan malam bersama dengan penuh kehangatan dan kebahagiaan.


Namun di sisi lain Risma juga melihat Pak Susena yang berdiri di sisi jendela ruang tamu dengan tatapan misterius sedang berbicara dengan beberapa orang lelaki yang Risma tidak mengenal nya dan tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan, Lalu tidak lama kemudian terlihat lah kerumunan warga membawa obor sambil berteriak penuh amarah di depan villa itu.


Kemudian terjadi lah adu argumen antara I Gusti Ketut dengan seorang lelaki hingga terjadi lah hal yang mengerikan tersebut, Namun saat itu Pak Susena berlari masuk kedalam hutan dan bersembunyi di balik pohon pinus dan yang mencoba menghalau para warga adalah Nilu Wulan.


" JANGAN HENTIKAN!"


Teriak Risma sambil bangkit dari tidur nya.


" Sayang kamu kenapa?"


Tanya Daniel yang terkejut mendengar istri nya berteriak.


" Aku mimpi villa itu dan sangat menyeramkan sayang!"


Jawab Risma dengan mata terbelalak memegang lengan Daniel.


" Villa, Ya sudah itu hanya mimpi ayo sekarang kamu istirahat lagi ya sayang,"


Ucap Daniel dengan tatapan bingung.


" Jam berapa kita pulang sayang?"


Tanya Risma dengan tatapan khawatir.


" Besok pagi sayang, Ini masih pukul 03.45 sayang tidak mungkin kita pulang sekarang kan?"


Jawab Daniel yang berbalik bertanya.


" Iya sayang, Ya sudah kita tidur lagi sayang."


Ucap Risma sambil sesekali mengangguk lalu merebahkan tubuh nya.


Meski mata Risma terpejam namun dalam benak Risma mengingat betul detail kejadian dalam mimpi nya dan rasa penasaran pun timbul kembali dalam hati Risma untuk mengetahui kisah sesungguhnya yang telah terjadi di villa tua milik Kakek nya Daniel, Begitu juga dengan Daniel yang meski mata nya terpejam namun pikiran nya tertuju dengan perkataan Risma yang mengatakan baru saja mimpi villa tua itu.


Lalu apakah yang terjadi sebenarnya dan mengapa Pak Susena merasa ketakutan dan mengapa I Gusti Ketut berkata demikian, Apakah dalam kasus ini sebenarnya Pak Susena ikut campur untuk menghabisi keluarga I Gusti Ketut ataukah Pak Susena hanya merasa bersalah sebab tidak bisa melepas rantai yang telah di pasang oleh Yudha Darma?


Jangan pernah beranjak dari kisah mereka dan temukan jawaban nya hanya di PEMBURU LEAK dan jangan bosan untuk selalu dukung author agar semangat nulis nya.


__ADS_1


__ADS_2