
Terkadang kita mulai bingung untuk memberi kan sebuah pendapat di saat kondisi sedang tidak kondusif bahkan kebenaran itu pun mulai samar di hadapan kita malah-malah yang sering terjadi kita lebih memilih menyalahkan diri sendiri atas terjadi nya suatu hal meski sesungguhnya tidak sepenuh nya sumber kesalahan kepada kita.
Hal itu bisa saja terjadi karena begitu banyak nya asumsi yang terkadang membuat kita menjadi sensitif dalam menilai sebuah permasalahan yang menghampiri kita atau hal itu bisa terjadi karena kita merasa sedang tidak aman bahkan terancam keselamatan kita hingga kita memilih untuk mengakui suatu hal yang sebenarnya tidak kita lakukan.
Seperti nya hal itu terjadi kepada Daniel yang sedang menuju ke villa tua di mana terjadi pembantaian yang tragis kepada kedua orang tua nya, Pasti nya dalam kondisi yang kalut dan bingung Daniel mencoba menjernihkan pola pikir nya yang cerdas untuk mengetahui sebab musabab nya hal itu terjadi kepada kedua orang tua nya.
Namun seperti nya semua menjadi samar di saat muncul nya asumsi dari beberapa pihak yang terkesan menyudutkan nya, Lalu bisa kah kecerdasan Daniel membongkar tragedi tragis yang menewaskan kedua orang tua nya atau kah Daniel lebih memilih untuk menutup kasus yang tidak ada bukti kuat dan semua hanya menjurus kepada perampok yang juga tewas tidak jauh dari villa tua tersebut?
Sore ini Daniel sudah tiba di dermaga dan akan melanjutkan perjalanan nya menuju villa tua namun sepertinya Daniel dan Devry adik ipar nya harus berhenti sejenak di sebuah cafe sambil menunggu hujan sedikit reda, Di situ lah Daniel dan Devry menghubungi pasangan nya masing-masing untuk memberi kabar bahwa mereka sudah tiba di pulau di mana villa tua berada.
Sambil sesekali memandang ke luar ruangan menyaksikan rintik hujan yang jatuh begitu deras nya sepertinya alam pun turut sedih dengan semua yang telah terjadi kepada kedua orang tua Daniel, Setelah menghubungi pasangan masing-masing baru lah mereka berdua menikmati pesanan makanan untuk mengganjal perut mereka sambil sesekali memperbincangkan kondisi villa tua.
" Bang kira-kira di villa itu ada hantu nya tidak ya sebab kan baru saja terjadi tragedi yang seperti itu?"
Tanya Devry sambil mengaduk spaghetti di hadapan nya.
" Sebelum terjadi hal itu saja sudah lumayan mengerikan itu villa apa lagi sekarang Dev,"
Jawab Daniel sambil sesekali melirik ke arah Devry yang duduk di samping nya.
" Yang benar Bang, Lalu Abang pernah melihat penampakan di sana atau sosok tak kasat mata yang menggerakkan sebuah benda terbang-terbang seperti di film-film horor begitu Bang?"
Tanya Devry dengan tatapan serius.
" Tidak hanya benda yang terbang tapi aku juga ikut di terbangkan sampai terpental beberapa meter,"
Jawab Daniel sambil menahan senyum melihat ekspresi adik ipar nya yang lumayan konyol bagi nya.
" Wah sudah tidak benar itu berati, Untung aku tadi sudah mempersiapkan semua senjata kalau sampai mereka muncul bakal aku lawan,"
Ucap Devry sambil memeluk tas di pangkuan nya.
" Memang kamu membawa apa Dev sebanyak itu sudah seperti orang akan camping saja?"
Tanya Daniel sambil melirik tas di pangkuan Devry.
" Ini Bang, Aku membawa pasak, palu, kapak, alkitab, tasbih, al quran, bawang putih, bawang merah, garam, cabe besar dan kecil juga,"
Jawab Devry sambil membuka tas ransel nya dan mengeluarkan isi nya.
" Ya Tuhan Dev kamu pikir mau menangkap vampir apa sampai membawa semua itu atau kamu akan membuat rujak di villa nanti?"
Tanya Daniel dengan mata terbelalak melihat semua benda bawaan Devry.
" Ya kan waspada Bang."
Jawab Devry sambil memasukkan kembali barang bawaan nya kedalam tas ransel nya.
Saat itu Daniel hanya mampu tersenyum simpul melihat ulah adik ipar nya yang terlalu banyak menonton film horor local dan berfikir saat ini diri nya akan menjadi pemburu hantu bagaikan ghosbaster di film, Di sisi lain tepat nya di villa ada Pak Susena yang sudah merasa diri nya aman dari semua permasalahan yang sudah di perbuat nya sedang berbincang dengan Nilu Putu dengan kondisi terikat sebuah mantra di kursi goyang.
" Nilu maaf kan aku harus berbuat seperti ini kepada mu, Semua ini karena sikap mu yang menolak ku dan andaikan saat itu kamu tidak menolak ku maka hal ini tidak akan terjadi,"
Ucap Pak Susena sambil berdiri di hadapan Nilu Putu yang terikat di kursi goyang.
__ADS_1
" Otak mu sudah tidak waras Susena, Demi ambisi mu kamu tega menghabisi seluruh keluarga ku sungguh picik pola pikir mu!"
Jawab Nilu Putu dengan nada geram.
" Nilu semua ini ku lakukan demi bisa mendapat kan mu kembali dari Ketut, Aku sangat mencintai mu Nilu,"
Ucap Pak Susena mencoba menjelaskan perasaan nya kepada Nilu Putu.
" Susena sedari awal aku sudah mengatakan bahwa kita tidak akan pernah bersatu dan bila kamu mencintai ku mengapa kamu tidak mengikhlas kan aku hidup bahagia bersama suami dan anak-anak ku?"
Tanya Nilu Putu dengan tatapan sedih mengenang yang terjadi.
" Tidak Nilu, Kamu hanya milik ku jadi tidak boleh ada seorang pun yang memiliki mu, Saat ini kita bisa bersama Nilu jadi katakan bahwa diri mu menerima cinta ku dan lupakan suami dan anak-anak mu juga adik kembaran mu itu!"
Jawab Pak Susena dengan nada sedikit meninggi.
" Maaf Susena kamu harus menerima karma mu kalau pun hukum manusia tidak dapat menghukum mu tapi hukum Tuhan yang akan menyiksa di sisa hidup mu!"
Ucap Nilu Putu dengan tatapan geram.
" Baik bila itu pilihan mu maka kamu akan selama nya di sini dan suami mu akan selama nya tergantung di pohon pinus melihat semua keturunan mu aku lenyap kan satu persatu,"
Jawab Pak Susena dengan tatapan sinis kepada Nilu Putu.
" Sungguh biadab kamu Susena tunggu saja saat nya karma dari Tuhan!"
Ucap Nilu Putu yang berusaha lepas dari ikatan mantra Pak Susena.
Saat itu Pak Susena hanya tertawa lepas melihat usaha Nilu Putu yang sia-sia untuk terlepas dari ikatan tali mantra yang mengurung nya di atas kursi goyang sedangkan I Gusti Ketut pun berusaha melepaskan diri dari ikatan mantra tersebut dari atas pohon pinus namun usaha I Gusti Ketut pun seperti nya juga sia-sia saat ini dan yang bisa I Gusti Ketut lakukan saat ini hanya lah berteriak dalam hati nya memanggil Risma cucu mantu nya.
Teriak dalam hati I Gusti Ketut kepada Risma yang saat itu tertidur di sofa ruang keluarga sambil menggendong Amelia yang sedang rewel tidak mau di letak kan di ranjang nya, Sedangkan di gajebo dekat kolam renang sudah ada Ayu, Wisesa dan Wiyasa yang sedang berfikir bagaimana cara melepaskan I Gusti Ketut dan Nilu Putu.
" Wisesa apakah kamu tidak bisa duduk diam dan apakah memang seperti itu cara mu berpikir hingga membuat kepala ku sakit melihat nya?"
Tanya Ayu sambil duduk di tepi gajebo melihat ulah Wisesa dan Wiyasa yang sedang berjalan di hadapan nya bergantian.
" Kami kan hanya mengikuti cara manusia saja yang sedang panik kan seperti ini Yu, Bagaimana pun juga kan kita juga ciptaan Tuhan yang hakekat nya sama jadi bila kita berdua meniru perlakuan manusia tidak salah juga kan Yu?"
Jawab Wisesa sambil masih berjalan di hadapan Ayu bergantian dengan Wiyasa.
" Yang setan ingin seperti manusia sedangkan manusia nya sendiri sudah seperti setan pikiran dan tingkah laku nya, Lalu yang benar seperti apa?"
Tanya Ayu dengan tatapan tertuju kepada Mimin yang masih saja pendalaman karakter menjadi kuntilanak.
" Yang benar jadi lah diri mu sendiri terlepas siapa pun diri mu sebab semua perbuatan yang kamu lakukan akan di perhitungkan di hadapan Tuhan,"
Jawab sosok yang bercahaya tiba-tiba muncul di sisi gajebo di mana Ayu duduk saat itu.
" Siapa anda, Seperti nya saya baru melihat anda di sini?"
Tanya Ayu sambil mengernyit kan dahi nya sebab merasa tidak mengenal nya.
" Aku adalah Aku dan Aku selalu ada di mana pun dan kapan pun bagi semua mahkluk yang teraniaya dan terbuang,"
__ADS_1
Jawab sosok itu dengan senyum ramah kepada Ayu.
" Lalu tujuan anda kemari untuk apa, apakah akan membantu kami untuk memecahkan masalah ini ataukah anda ingin mencelakakan Risma dan putri nya?"
Tanya Ayu dengan tatapan dan nada waspada.
" Datang lah pada ku dan akan ku berikan kelegaan, Pergi dan temui Risma lalu ajak lah berdoa agar terjadi sesuai dengan iman mu."
Jawab sosok tersebut lalu menghilang entah kemana pergi nya.
Sejenak Ayu berfikir sambil menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari keberadaan sosok yang di lihat nya kemudian Ayu pun bangkit dari duduk nya dan melangkah kan kaki nya untuk menuju di mana Risma sedang tertidur di sofa karena merasa lelah mengayun Amelia putri kecil nya dan ternyata yang melihat sosok bercahaya terang itu tadi hanya lah Ayu sedangkan Wisesa dan Wiyasa tidak melihat.
Tidak lama kemudian Ayu pun tiba di ruang keluarga di mana Risma sedang tertidur di sofa dengan perlahan Ayu membangun kan Risma agar tidak terkejut dan tujuan Ayu untuk menyampaikan apa yang di katakan oleh sosok yang bercahaya yang baru saja di temui nya di sisi kolam renang yang memerintah kan untuk berdoa meminta bantuan Tuhan agar terlepas dari semua masalah.
" Ris ... Risma bangun ada yang ingin ku sampaikan pada mu,"
Ucap Ayu sambil memegang lengan Risma.
Dengan perlahan Risma membuka mata nya dan di lihat nya Wisesa dan Wiyasa pasti nya dengan wujud leak yang lumayan menakut kan bagi yang baru melihat nya, Saat itu reflek Risma berteriak histeris dan menampar wajah Wisesa dan Wiyasa yang membuat nya terkejut saat itu.
" AAAAA SETAN ALAS PLAK ... PLAK!"
Teriak Risma sambil melayangkan telapak tangan nya ke wajah Wisesa dan Wiyasa dengan keras.
" Aooo ... Sudah tahu kita setan alas hutan pinus tapi tidak perlu diperjelas juga Ris,"
Ucap Wiyasa sambil mengelus pipi nya karena merasa panas terkena tamparan Risma.
" Maaf ... maaf aku tidak sengaja, Ada apa kalian membangunkan aku apakah kalian melihat sesuatu yang membahayakan Daniel dan Devry adik ku"
Tanya Risma sambil bangkit dari duduk nya dan mengayun Amelia yang menangis karena terkejut mendengar teriakan Risma.
Kemudian Ayu pun menyampaikan apa yang di lihat dan di perintahkan sosok bercahaya itu kepada nya dan saat itu Risma berfikir siapa sosok itu dan mengapa mengatakan sesuatu yang tertulis di Alkitab apakah sosok itu Tuhan Yesus yang hadir atau kah sosok lain yang sudah mengingat kan nya melalui Ayu mahkluk tak kasat mata yang keberadaan nya tidak bisa di ketahui manusia pada umum nya.
" Malah diam saja, Ayo kita berdoa berjama'ah Ris,"
Ajak Wisesa sambil menatap Risma yang seperti nya sedang berfikir.
" Memang nya kita akan sholat ada acara berjama'ah segala?"
Tanya Wiyasa dengan nada kesal kepada Wisesa sambil sesekali melirik ke arah Wisesa dan Risma.
" Kan apa pun yang di lakukan bersama-sama itu di sebut berjama'ah kan tidak mungkin kalimat nya mari kita berdoa bergotong royong?"
Jawab Wisesa yang berbalik bertanya dengan tatapan fokus ke Risma yang terlihat masih bingung.
" Ah ... sudah-sudah apa pun itu sebutan nya yang pasti ayo lekas bantu I Gusti Ketut, Nilu Putu, Daniel dan Devry yang bisa saja ada sesuatu yang mengancam mereka saat ini."
Ucap Ayu sambil menarik lengan Risma menuju lantai dua tepat nya menuju ke kamar milik Risma.
Kemudian mereka berempat pun menaiki anak tangga untuk menuju kamar Risma sedangkan saat itu Risma lumayan bingung dengan semua yang sedang terjadi dan bagaimana cara berdoa nya sebab bagi Risma Ayu, Wisesa dan Wiyasa adalah mahkluk yang tak kasat mata dan tidak pernah berdoa di tambah lagi keyakinan mereka yang berbeda dan pasti nya semua hal itu membuat Risma berfikir keras bagaimana cara nya berdoa mahkluk tak kasat mata yang biasa nya takut saat mendengar doa-doa.
Lalu apakah yang akan terjadi kepada Daniel dan Devry setiba nya di villa tua tersebut apakah Pak Susena sudah merencanakan niat licik nya atau kah kuasa doa Risma yang akan menyelamatkan Daniel dan Devry dengan jalan melepaskan ikatan rantai mantra yang telah mengikat I Gusti Ketut dan Nilu Putu lalu apakah yang akan di perbuat oleh I Gusti Ketut dan Nilu Putu kepada Pak Susena?
__ADS_1
Jangan pernah beranjak dari kisah mereka semua dan temukan jawaban nya hanya di PEMBURU LEAK dan jangan pernah bosan untuk selalu dukung author agar semangat nulis nya.