PEMBURU LEAK

PEMBURU LEAK
BAB 24 . BALAS DENDAM TERBAIK


__ADS_3

Tidak ada satu mahkluk pun di muka bumi ini yang akan mau di remehkan kan atau di pandang sebelah mata oleh siapa pun, Pasti nya semua mahkluk mengharapkan penghargaan dalam hidup nya namun sadari lah bahwa di saat ada yang meremehkan mu maka pasti ada juga yang menghargai mu sebab sesungguh nya di dalam bumi ini seimbang.


Begitu juga saat ini yang sedang di rasakan oleh I Gusti Ketut Kuma Fima yang teringat kembali dengan masa lalu yang di masa-masa diri nya masih remaja, Ia sering di remehkan oleh teman sebaya nya dan di anggap sebagai anak manja sebab I Gusti Ketut memang anak yang sangat di manjakan oleh kedua orang tua nya saat itu.


Dan sejak usia remaja yang mau menemani I Gusti Ketut hanyalah Pak Susena namun persahabatan mereka harus hancur di saat hadir nya Nilu Putu Dwi Karna yang saat itu bisa di sebut sebagai bunga desa, Sedangkan I Gusti Ketut tidak pernah berfikir akan menikah dengan Nilu Putu Dwi Karna seorang gadis pujaan Pak Susena kala itu.


Namun di saat orang tua Pak Susena hendak melamar Nilu Putu Dwi Karna, Saat itu juga di tolak mentah-mentah oleh kedua orang tua Nilu Putu Dwi Karna hanya karena kasta mereka yang jauh berbeda, Otomatis hal itu membuat Pak Susena dan kedua orang tua nya sakit hati sudah di permalukan di hadapan orang banyak.


Sejak saat itu dalam hati kecil Pak Susena bersumpah bahwa siapa pun yang menikahi Nilu Putu Dwi Karna akan di babat habis oleh nya sebab ia berfikir bila ia tidak bisa memiliki Nilu Putu Dwi Karna maka orang lain pun tidak diijinkan untuk memiliki nya.


Namun naas nya beberapa bulan kemudian terdengar kabar beredar di masyarakat bahwa Nilu Putu Dwi Karna akan segera melangsungkan pernikahan dengan I Gusti Ketut Kuma Fima, Saat itu juga rasa hati Pak Susena seperti tersambar petir.


Di situ lah Pak Susena mulai memutar otak bagaimana cara nya agar I Gusti Ketut tidak jadi menikah dengan Nilu Putu sedangkan semua nya sudah di persiapkan oleh kedua belah pihak keluarga alhasil Pak Susena menjalan kan rencana nya yang berpura-pura baik kepada I Gusti Ketut dan Nilu Putu.


Selama bertahun-tahun Pak Susena mencari cara bagaimana agar bisa menghabisi I Gusti Ketut dan akhir nya datang lah seseorang tengkulak yang juga ingin menghancurkan I Gusti Ketut maka mereka mulai menyusun siasat untuk menghabisi I Gusti Ketut saja dengan menebar sebuah fitnah bahwa putra dari tengkulak tersebut meninggal dunia karena ilmu leak yang di miliki I Gusti Ketut.


Meski sesungguh nya putra tengkulak tersebut meninggal dunia di karena kan terkena penyakit TBC lalu rencana tersebut berjalan lancar dengan bantuan bedande Yudha Darma Ayah dari bedande Runda Darma, Namun rencana yang sudah di siap kan secara matang tersebut terjadi di luar ekspektasi sebab saat kejadian tersebut yang meninggal terlebih dahulu adalah Nilu Putu Dwi Karna yang mencoba menyelamat kan anak nya dari amukan masyarakat yang sudah terkena fitnah.


Dan Seperti nya saat ini dengan kebangkitan I Gusti Ketut akan menuntut balas kepada Pak Susena yang sudah menjadi dalang dalam permasalahan yang sudah terjadi hingga menewaskan satu keluarga dan hanya Teresa yang selamat sebab saat itu bisa di temukan oleh Nilu Wulan saat berlari ke hutan pinus.


Lalu bagaimana kah cara balas dendam I Gusti Ketut kepada Pak Susena yang sedari remaja mereka bersahabat, Apakah I Gusti Ketut akan melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan oleh Pak Susena kepada nya atau kah I Gusti Ketut menggunakan cara lain untuk membalaskan dendam nya.


sore ini Teresa sengaja mengajak Daniel keluar dari rumah untuk menjelaakan semua nya hal yang selama ini sudah terkubur agar Daniel mengerti kisah masa lalu dari Tersesa, Sedangkan Risma, Ayu, Wisesa, Wiyasa dan juga I Gusti Ketut sedang berada di kamar Lia sambil berbincang mengenai semua misteri yang terjadi di villa.


" Kakek, Aku Ayu putri dari Pak Susena,"


Ucap Ayu dengan sedikit takut.


" Sejak kapan Susena bisa memiliki seorang putri?"


Tanya I Gusti Ketut diiringi dengan senyum simpul sambil menggendong Lia.


" Maksud nya Kek,"


Jawab Ayu dengan tatapan bingung.


" Susena dan Wulan adalah teman ku semenjak aku dan mereka belum menikah hingga kita semua sudah menikah, Jadi aku paham betul,"


Jawab I Gusti Ketut tanpa memandang ke Ayu.


" Bila Ayu bukan putri dari Pak Susena dan Nilu Wulan lalu Ayu putri nya siapa Kek?"


Tanya Risma dengan tatapan penuh curiga.


" Kisah sebenar nya seperti ini,"


Jawab I Gusti Ketut sambil menyerahkan Lia kepada Risma.


Kemudian I Gusti Ketut duduk di kursi goyang yang berada di sisi jendela sambil menghadap ke arah mereka berempat yang sedang duduk di sofa dekat ranjang bayi milik Lia, Sebenar nya Nilu Wulan tidak bisa memiliki seorang anak di karena kan ia mandul namun semua itu tidak di jadi kan sebuah permasalahan bagi Pak Susena sebab bagaimana pun yang ada di dalam hati Pak Susena sesungguhnya adalah Nilu Putu Dwi Karna.


Hingga suatu ketika saat usai mengecek kebun kelapa milik I Gusti Ketut mereka berdua berjalan melewati hutan pinus untuk menuju rumah nya tiba-tiba terdengar tangis bayi kecil, mungil dan cantik yang tergeletak di samping jurang hitan pinus kemudian mereka berdua menghampiri asal suara tersebut.


Di situ lah Ayu di temukan di dalam tempat ayam yang terbuat dari anyaman bambu kemudian mereka membawa nya pulang dan Nilu Wulan berkata bayi itu lah anak mereka berdua, Semenjak itu lah Ayu di kenal sebagai putri dari Pak Susena dan Nilu Wulan.

__ADS_1


" Jurang itu ternyata tempat ku dulu saat di buang oleh orang tua kandung ku dan di jurang itu juga aku menghabisi nyawa ku demi mempertahankan harga diri ku Kek,"


Ucap Ayu dengan tatapan dan nada sedih.


" Itu lah kehidupan Nak, Di mana kita awali maka di situ juga akan kita akhiri sebuah perjalan kehidupan kita di muka bumi ini,"


Jawab I Gusti Ketut diiringi senyum simpul.


Saat itu Risma, Wisesa dan Wiyasa hanya terdiam sambil berfikir dengan keras mengenai perkataan I Gusti Ketut yang mengatakan bahwa semua akan kembali ke asal nya terlepas dari mana pun asal nya.


Sedang kan di tempat lain ada Teresa dan Daniel yang saat ini berada di sebuah taman kota dan mereka berdua duduk di sebuah bangku taman sambil mencoba memahami apa yang terjadi sebenarnya dan mereka pun masih bertanya-tanya apa yang sedang terjadi di villa hingga di rumah nya saat ini.


" Ma, Jujur aku masih bingung dengan sosok yang tadi Mama peluk dan Mama mengatakan bahwa itu Kakek ku, Lalu bila benar itu Kakek ku mengapa harus di rantai di villa tua itu dan mengapa wujut nya menyeramkan seperti itu?"


Ucap Daniel dengan membrondong pertanyaan kepada Teresa.


" Mama juga bingung mengapa Kakek mu bisa di rantai dalam kamar itu sedang kan selama ini bahkan sudah puluhan tahun Mama bertanya kepada Pak Susena dan ia mengatakan tidak tahu menahu mengenai jasad Kakek mu,"


Jawab Teresa dengan tatapan bingung memikirkan semua yang terjadi.


" Tidak mungkin dia tidak tahu Ma, Kalau memang benar dia tidak tahu lalu untuk apa dia dan Runda memberi sesaji ke kamar itu di malam-malam tertentu,"


Ucap Daniel dengan nada kesal sebab ternyata Pak Susena selama ini sudah menipu Mama nya tentang keberadaan Kakek nya.


" Iya benar juga kata mu, Lalu mengapa selama ini dia menyembunyikan semua nya dari ku, Ada apa ini sebenarnya?"


Tanya Teresa sambil sesekali melirik ke arah Daniel yang terlihat geram.


" Ma, Aku tidak perduli dengan siapa sosok yang tadi Mama peluk tapi aku mohon jangan pernah ganggu anak dan istri ku,"


Kemudian Daniel bangkit berdiri sedikit menjauh dari Tersesa sebab sedang menerima telepon dari Risma istri nya yang menanyakan ia sedang berada di mana saat ini dan juga Risma memesan makanan karena ia merasa lapar sore ini, Sedang kan Teresa masih berkutat dengan pikiran nya sendiri.


Iya benar apa yang di kata kan Daniel itu tadi tidak mungkin Pak Susena dan Nilu Wulan tidak mengetahui semua kisah ini namun mengapa mereka menutupi nya dari ku selama berpuluh-puluh tahun, Apa yang sebenarnya mereka sembunyikan dari ku, Seperti nya aku harus menanyakan hal ini kepada Ayah nanti malam saat Carlos sudah tidur agar ia tidak histeris seperti Daniel.


Bergumam lah dalam hati Teresa sambil sesekali melihat Daniel dari arah belakang, Sedangkan di rumah ada Risma dan Wisesa yang sedang duduk di ruang keluarga sambil menggendong Lia sebab waktu menunjukkan jam enam sore.


" Wisesa tumben kamu tidak main dengan Wiyasa hari ini?"


Tanya Risma sambil mengayun Lia.


" Sejak hari ini jam bermain kita di bagi Ris, Semua sudah berubah tidak seperti dahulu,"


Jawab Wisesa sambil berjalan mengitari ruangan sambil menghitung tiap langkah nya.


" Di bagi, Maksud nya dan untuk apa harus di bagi jam bermain kalian?"


Tanya Risma dengan tatapan bingung.


" Iya harus di bagi sebab sekarang kita memiliki keponakan yang cantik jadi kita harus menjaga nya bergantian dengan baik dan tidak boleh membuat keponakan kita ketakutan sampai menangis,"


Penjelasan Wisesa yang panjang dan lama sambil tetap menghitung langkah nya.


" Wisesa dengar ya, Nama nya bayi itu wajar bila menangis dan itu sehat untuk jantung nya asal jangan melampaui batasan jadi untuk apa kalian sampai seperti itu?"

__ADS_1


Tanya Risma setelah memberi penjelasan kepada Wisesa.


Namun seperti nya kejadian tersebut di lihat oleh Mimin hingga Mimin mulai kebingungan melihat Risma yang sedang berbicara sendiri di ruang keluarga samping jendela kaca yang menghadap ke kolam renang, Dengan memberanikan diri Mimin menghampiri Risma yang sedang mengayun Lia saat itu.


" Nyonya Risma maaf mengganggu,"


Ucap Mimin dengan sesekali tatapan nya kekiri dan kekanan.


" Iya Min ada apa?"


Tanya Risma diiringi senyum ramah.


" Nyonya mau saya buat kan teh hangat?"


Jawab Mimin sambil sesekali menoleh kekiri dan kekanan sambil mengelus tengkuk nya.


" Boleh juga Min, Kamu kenapa Min kok seperti nya ketakutan begitu?"


Jawab Risma yang berbalik bertanya kepada Mimin.


" Tidak Nyonya, Sejak beberapa hari yang lalu saya suka melihat Kang Suta bicara dengan burung dan ikan di kolam lalu ini tadi saya melihat Nyonya bicara sendiri, Jadi nya bulu kuduk saya berdiri Nyonya,"


Jawab Mimin yang mencoba menjelaskan apa yang di rasakan.


" Oh begitu, Jadi begini ya Min semua orang tua itu utama nya seorang Ibu pasti suka berbicara sendiri untuk mengenalkan bahasa Ibu kepada anak nya yang masih kecil."


Ucap Risma diiringi senyum simpul.


Seperti nya Mimin mencoba memahami perkataan Risma saat itu dan hal itu maksuk akal namun bagaimana dengan Kang Suta yang berbicara dengan burung dan ikan apakah Kang Suta sedang belajar menjadi seorang Ibu juga, Sedangkan di sisi lain ada I Gusti Ketut dan Wiyasa yang sedang berada di lantai paling atas rumah tersebut.


" I Gusti pasti nya lebih tahu siapa aku dan Wisesa,"


Ucap Wiyasa sambil berdiri di samping I Gusti Ketut.


" Iya aku tahu siapa kalian berdua dan aku lebih mempercayai kalian di banding dengan Susena yang berhati busuk itu,"


Jawab I Gusti Ketut dengan sorot mata penuh dendam.


" Kami berdua selama ini sudah mengingatkan kepada Susena tapi ia selalu menolak untuk mengetahui kisah sebenarnya kepada putri mu I Gusti,"


Ucap Wiyasa dengan nada geram.


" Biar kan saja dia tersiksa dengan kesalahan nya sendiri dan biarkan saja dia mati dengan rasa bersalah dan hal itu akan lebih menyakit kan bukan?"


Tanya I Gusti Ketut kepada Wiyasa sambil melirik ke arah Wiyasa diiringi senyum sinis.


" Benar I Gusti seperti itu lah pembalasan dendam yang baik, Kita balaskan dendam kita dengan cara yang baik seperti Susena yang selama ini berpura-pura baik kepada I Gusti namun nyata nya dia membabat habis semua keluarga I Gusti."


Jawab Wiyasa yang mengingat semua kejadian tersebut secara detail saat itu.


Saat itu bila ada seseorang yang bisa melihat pasti nya berteriak histeris sebab melihat sosok leak yang bertubuh tinggi besar, rambut yang terurai bagaikan nyala api, mata bulat terbelalak, lidah menjulur panjang, taring yang runcing dan kuku yang panjang, Siapa orang nya yang tidak berlari ketakutan saat melihat hal seperti itu berdiri di atas sebuah bangunan rumah.


Lalu apa yang akan di lakukan oleh Teresa untuk mengetahui kisah yang selama ini di tutup rapat oleh Pak Susena dari nya, Lalu apakah Pak Susena memahami cara pembalasan dendam yang sedang berjalan saat ini dan bagaimana perasaan Ayu yang baru saja mengetahui bahwa diri nya bukan lah putri kandung dari Pak Susena dan Nilu Wulan?

__ADS_1


Jangan pernah beranjak dari kisah ini dan temukan semua jawaban nya hanya di PEMBURU LEAK dan jangan pernah bosan untuk selalu dukung author agar semangat nulis nya.



__ADS_2