PEMBURU LEAK

PEMBURU LEAK
BAB 27 . JANGAN BERSUMPAH


__ADS_3

Seringkali di saat seseorang sudah terhimpit maka dengan menggunakan kata sumpah agar diri nya terlepas dari sebuah hukuman sedangkan sumpah itu sendiri akan di perhitungkan di hadapan Tuhan namun apa jadi nya bila sumpah itu di jadikan sebuah tameng bagi orang yang berkepentingan.


Begitu juga yang saat ini sedang di alami oleh Pak Susena yang posisi nya semakin menghimpit nya dengan datang nya Teresa dan Carlos di villa tua itu dan sebenarnya apa yang membuat Pak Susena tidak berkata secara jujur kepada Teresa dan Carlos mengenai kisah yang telah terjadi apakah ada suatu perjanjian yang terselubung, Mari kita bedah kisah nya.


Sore itu kondisi villa seperti biasa di saat matahari akan tenggelam maka angin laut pun berhembus dengan kencang dan daun-daun pinus pun melambai mengikuti irama hembusan angin yang menerpa nya, Saat itu Teresa sedang berada di kamar sendirian sedangkan Carlos sedang duduk di tepi kolam ikan untuk memberi makan ikan-ikan di kolam.


Teresa sesekali memandangi foto Ayah dan Ibu nya yang tergantung di dinding kamar nya lalu Teresa pun melanjutkan membuka album foto di mana begitu banyak kenangan yang tersimpan saat bersama kedua orang tua dan kelima saudara lelaki nya yang saat itu tewas dalam tragedi berdarah tersebut, Sayu-sayu Teresa mendengar ada yang memanggil nya dan hal itu membuat Teresa berfikir siapa yang memanggil.


Siapa yang memanggil ku dengan nama kecil ku itu, Apakah aku sedang berhalusinasi mendengar nama ku di panggil tapi itu sangat jelas suara nya berasal dari kamar Ayah ku, Apakah Ayah berada di kamar nya saat ini tapi ah ... tidak mungkin.


Bergumam lah dalam hati Teresa sambil menajamkan indra pendengaran nya untuk membuktikan bahwa yang di dengar nya itu hanyalah ilusi belaka namun sesaat kemudian terdengar kembali nama nya kecil nya di panggil dan pasti nya Teresa ingat betul suara siapa yang memanggil nya saat itu, Bukan lain adalah suara I Gusti Ketut Ayah kandung dari Teresa.


Karena rasa penasaran yang begitu kuat maka Teresa pun segera menutup album foto di hadapan nya lalu bangkit dari duduk nya dan melangkahkan kaki nya keluar dari kamar dan berjalan menuju asal suara, Seperti nya benar suara itu berasal dari kamar milik I Gusti Ketut yang saat ini bila Daniel ke villa tersebut maka Daniel lah yang menggunakan kamar tersebut.


Langkah Teresa semakin mendekati pintu kamar tersebut dan suara yang memanggil nama nya pun semakin terdengar jelas, Maka perlahan Teresa memegang gagang pintu dan membuka nya, Setelah pintu kamar itu terbuka maka terlihat jelas sosok leak berambut putih, bertubuh besar, kuku yang panjang sedang duduk di kursi goyang menghadap ke jendela dan membelakangi Teresa yang berdiri di depan pintu kamar.


" Ayah ... apakah itu Ayah?"


Tanya Teresa dengan tatapan takut tapi ada rasa penasaran.


" Kemari lah putri ku,"


Jawab sosok tersebut tanpa melihat kearah Teresa.


Sambil melangkahkan kaki perlahan Teresa berjalan menghampiri sosok yang sudah memanggil nya dengan perlahan Teresa mulai melihat ada sebuah rantai yang tergantung di leher, kedua lengan tangan dan kedua pergelangan kaki, Pasti nya rantai itu membuat bekas luka yang mengerikan.


Dengan mata terbelalak Teresa semakin dekat dengan sosok leak yang berambut putih tersebut dan saat itu Teresa teringat dengan cerita Daniel saat di taman dan pasti nya rasa penasaran Teresa semakin kuat untuk mengetahui siapa sebenarnya sosok leak tersebut dan mengapa harus di rantai seperti itu.


" Siapa kamu dan mengapa kamu di rantai, Apakah kamu Ayah ku atau kah kamu masih keturunan kedua orang tua ku?"


Tanya Teresa dengan tatapan panik.


BRAKK ....


Tiba-tiba pintu kamar tersebut tertutup dengan sangat keras sedangkan saat itu tidak ada angin yang berhembus masuk kedalam ruangan tersebut, Sontak tatapan Teresa tertuju kearah pintu yang menutup dengan sendiri nya dan saat Teresa melihat ke arah kursi goyang itu lagi sosok yang awal nya duduk di situ sudah lenyap dari hadapan Teresa namun muncullah dari balik kelambu ranjang Ayah dan Ibu nya Teresa.


Kedua orang tua Teresa menemui putri nya dengan wujud manusia yang tidak menakutkan seperti leak yang duduk di kursi goyang itu tadi dan hal tersebut membuat Teresa menangis bahagia sebab setelah berpuluh-puluh tahun akhir nya bisa melihat kedua orang tua nya kembali meski mereka berbeda alam.


" Ayah, Ibu ... benarkah yang aku lihat apakah aku sedang bermimpi saat ini?"


Tanya Teresa diiringi senyum dan tangis bahagia.


" Kamu tidak sedang bermimpi putri ku, Kami datang untuk mengatakan sebuah kebenaran yang tidak kamu ketahui selama puluhan tahun,"

__ADS_1


Jawab Nilu Putu Dwi Karna diiringi senyum simpul.


" Mendekat lah putri ku jangan takut Ayah dan Ibu akan memberitahu mu sesuatu."


Ucap I Gusti Ketut diiringi senyum bahagia.


Kemudian melangkah mendekat lah Teresa dan tangan Teresa di raih oleh Ibu nya dan di ajak untuk memasuki ruangan di mana dulu jasad I Gusti Ketut di rantai dengan wujud leak berambut putih yang tadi di lihat oleh Teresa, Awal nya Teresa bingung melihat ruangan yang pengap dan cahaya lampu yang redup serta banyak nya peti kayu yang menumpuk di ruangan itu.


" Ibu ruangan apa ini dan apa isi peti kayu yang banyak tertumpuk di ruangan ini?"


Tanya Teresa dengan tatapan yang menyebar keseluruh ruangan.


" Putri ku di sini lah jasad Ayah mu terpasung dan di rantai oleh mereka yang telah menghabisi kelima saudara mu serta kedua orang tua mu,"


Jawab Nilu Putu Dwi Karna dengan tatapan sedih.


" Ayah, Ibu katakan siapa pelaku dari semua ini dan aku akan menuntut balas kepada pelaku nya sekarang juga!"


Ucap Teresa dengan tatapan dan nada geram.


Kemudian I Gusti Ketut dan Nilu Putu saling pandang dan menatap Teresa dengan senyum kedamaian sambil mereka berdua menggelengkan kepala sebuah isyarat bahwa mereka berdua tidak mengijinkan Teresa untuk membalas dendam kepada pelaku nya sebab mereka berdua memiliki cara sendiri bagaimana menghukum orang yang busuk hati nya.


Tidak lama kemudian I Gusti Ketut mulai menceritakan kejadian nya secara detail kepada Teresa bahwa di balik tragedi berdarah malam itu dalang semua nya adalah Pak Susena yang merasa sakit hati tidak bisa memiliki Nilu Putu Dwi Karna dan niat awal nya Pak Susena hanya ingin menghabisi I Gusti Ketut saja namun amukan masyarakat yang terkena fitnah Pak Susena malah menewaskan Nilu Putu Dwi Karna.


Saat mendengar kisah yang di ceritakan oleh I Gusti Ketut saat itu rasa tubuh Teresa terasa lemas dan tidak menyangka bahwa dari semua masalah yang terjadi di villa tua tersebut dalang nya adalah Pak Susena, Setelah menceritakan semua kejadian tersebut secara gamblang I Gusti Ketut dan Nilu Putu berpesan agar Teresa tidak membalas dendam kepada Pak Susena sebab semua yang di lakukan manusia pasti ada karma nya masing-masing.


Maka Teresa pun menuruti pesan dari Ayah dan Ibu nya, Tidak lama kemudian Teresa pun kembali ke kamar nya dan ternyata Carlos sudah berada di kamar tersebut sedang berdiri di balkon sambil memandang ke arah sebuah gunung yang sangat indah, Kemudian Teresa pun menghampiri Carlos yang berada di balkon kamar nya dengan raut wajah sedih.


" Pa ... apakah sudah lama kamu di sini?"


Tanya Teresa sambil melangkah menghampiri Carlos.


" Iya Ma, Kamu dari mana Ma tadi aku mencari mu tapi tidak ada bahkan sampai aku ke rumah Pak Susena kamu juga tidak ada di sana,"


Jawab Carlos sambil menoleh ke arah Teresa.


" Aku dari kamar yang berada di ruang makan dan terkunci itu Pa,"


Jawab Teresa dengan nada lemas.


" Apakah sudah di temukan kunci nya dan apa yang kamu temukan di sana Ma, Apakah ada sosok hantu yang membawa rantai seperti yang di kata kan Daniel waktu itu Ma?"


Tanya Carlos dengan tatapan serius.

__ADS_1


Saat itu Teresa hanya menjawab dengan mengangguk kan kepala dan tiba-tiba mengalir lah air mata Teresa membasahi pipi nya mengenang apa yang sudah di katakan oleh kedua orang tua nya, Dengan rasa dada yang sesak Teresa menceritakan semua nya kepada Carlos sambil di peluk oleh Carlos dan pasti nya hal itu membuat Carlos terkejut ternyata dalang dari semua ini adalah orang terdekat dari keluarga nya Teresa.


" Ma apa tindakan mu sekarang apakah kamu akan menyerahkan kepada hukum atau bagaimana?"


Tanya Carlos sambil membelai lembut Teresa.


" Tidak akan aku serahkan kepada hukum manusia sebab aparat hukum pasti meminta bukti tapi aku akan menyerahkan masalah ini kepada hukum Tuhan dan hukum Alam, Pa antar aku kerumah Pak Susena ada yang ingin aku tanyakan kepada nya."


Jawab Teresa sambil menyeka air mata nya.


Kemudian Carlos pun mengantar Teresa menuju rumah Pak Susena saat itu malam pun telah tiba udara dingin mulai terasa menusuk tubuh gelap nya malam pun menghalangi jarak pandang yang hanya mengandalkan cahaya dari senter atau obor untuk menerangi langkah, Tidak butuh waktu lama sampailah Teresa dan Carlos di teras rumah Pak Susena dan kebetulan saat itu Pak Susena sedang duduk di sebuah bangku yang terbuat dari bambu di teras rumah nya.


" Selamat malam Pak Susena, Bisa minta waktu nya sebentar Pak sebab ada yang ingin di tanyakan istri saya kepada Bapak,"


Ucap Carlos diiringi dengan senyum tenang.


" Bisa Tuan, Silahkan duduk Tuan dan Non, Maaf kalian akan bertanya mengenai apa ya?"


Tanya Pak Susena dengan tatapan gugup bergantian memandang ke arah Carlos dan Teresa.


" Pak Susena tolong jawab dengan jujur dimana letak abu kedua orang tua ku dan kelima saudara ku dan bila belum di aben tolong tunjukkan di mana makam mereka sebab saya akan menyempurnakan nya sesuai keyakinan mereka,"


Jawab Teresa dengan tatapan tajam kepada Pak Susena.


" Non sekali lagi saya mohon ampun dan demi putri ku yang sudah tiada saya bersumpah tidak mengetahui masalah itu sebab saat kejadian saya sedang tidak berada di rumah tapi sedang berada di desa sebelah,"


Ucap Pak Susena yang masih saja berkelit dengan dalih kata sumpah.


" Baik lah bila itu mau Pak Susena dan tolong besok tutup ruangan yang menuju ke ruang makan dan tangga lantai atas dan bila ada yang menyewa ijinkan saja tapi hanya batas sampai di ruang tamu dan kamar tamu, Sebab semua keturunan ku tidak akan ku ijinkan menginjakkan kaki nya ke villa ini lagi,"


Jawab Teresa dengan tatapan geram kepada Pak Susena.


" Pak Susena segera lah taubat dan aku semua dosa Bapak agar Tuhan masih membuka pintu taubat untuk Bapak."


Ucap Carlos sambil menepuk pundak Pak Susena.


Setelah itu Teresa dan Carlos pun kembali ke villa sedangkan Pak Susena memikirkan semua perkataan Teresa dan Carlos itu tadi dan dalam pikiran Pak Susena begitu banyak nya pertanyaan dan kemungkinan, Karena rasa ketakutan yang semakin menggeluti batin dan pikiran Pak Susena maka muncul lah ide jahat nya untuk menghabisi Teresa dan Carlos dengan cara rem mobil nya di putus dan pasti nya hal tersebut terkesan sebuah kecelakaan.


Lalu apakah niat Pak Susena akan berjalan lancar untuk menghabisi Teresa dan Carlos yang di rasa Pak Susena mereka berdua telah mengetahui semua nya tentang tragedi tersebut ataukah hal yang di rencanakan Pak Susena akan di gagal kan oleh Wiyasa yang saat ini sudah berada di hutan pinus atau kah semua rencana Pak Susena akan menjadi bumerang bagi diri nya sendiri?


Ikuti terus kisah perjalanan mereka semua dan temukan jawaban nya hanya di PEMBURU LEAK dan jangan pernah bosan untuk selalu dukung author agar semangat nulis nya.


__ADS_1


__ADS_2