
Sering kali kita merasa sangat kesal di kala mengalami suatu hal yang memang di sengaja dan hal tersebut pasti nya memancing emosi kita namun jika yang berbuat jahil tersebut mahkluk tak kasat mata apakah kita tetap emosi atau kah yang terjadi kita berlari tunggang langgang karena ketakutan?
Seperti nya perasaan itu yang sedang di alami oleh Pak Susena yang akan berniat jahat kepada Teresa dan Carlos, Niat Pak Susena malam ini akan memutus kawat rem pada mobil milik Carlos yang akan di gunakan besok pagi bertolak menuju ke Ibukota namun seperti nya niatan Pak Susena berjalan dengan lancar dan kawat rem sudah bisa di putus oleh nya lalu setelah itu apa yang terjadi kepada Pak Susena dengan kejailan Wiyasa malam ini.
Angin laut pun berhembus cukup kencang malam ini dan suara binatang malam silih berganti bersahut-sahutan membuat bulu kuduk berdiri di tambah dengan kejailan Wiyasa kepada Pak Susena yang menampak kan diri dengan menyerupai wujud salah satu putra I Gusti Ketut yang tewas di tangan Pak Susena malam tragedi pembantaian itu terjadi.
" Tumben sekali malam ini terasa berbeda hawa nya dengan hari-hari biasa nya, Apakah akan datang badai lagi malam ini?"
Bergumam lah Pak Susena sambil sesekali melempar pandangan nya ke sekeliling nya.
" Beli Susena ...."
Suara dari arah ayunan samping villa.
" Siapa itu?"
Tanya Pak Susena sambil mengarahkan senter ke arah asal suara.
" Kemari lah Beli Susena, Bukan kah kamu dahulu yang sering mengajak ku bermain?"
Jawab sosok yang sedang bermain ayunan membelakangi Pak Susena dan sesekali tertawa.
" I Gusti Komang ... tidak mungkin saat itu dia sudah mati di tangan ku!"
Ucap Pak Susena dengan mata terbelalak sebab terkejut dan tidak percaya.
" Beli Susena apa kamu masih ingat bagaimana cara mu membunuh ku atau kah kamu ingin aku ingat kan?"
Ucap sosok tersebut sambil bangkit dari duduk nya dan berbalik menghadap Pak Susena.
Wujud Wiyasa saat itu sungguh menyeramkan sebab Wiyasa menyerupai wujud I Gusti Komang saat menghembuskan nafas terakhir dengan kondisi mengenaskan, mata yang terlepas, lidah yang menjulur dan leher yang masih terlihat jelas luka sayatan yang menganga karena benda tajam dan pasti nya hal itu membuat Pak Susena sangat ketakutan melihat nya.
" Apakah sekarang kamu sudah mengenali siapa aku Beli Susena?"
Tanya sosok tersebut sambil berjalan mendekati Pak Susena.
" Tidak ... ini hanya ilusi ku saja, Pergi kamu tidak ...."
Ucap Pak Susena yang terjatuh di samping mobil milik Carlos sambil menutupi wajah dengan lengan nya.
Saat itu kebetulan sekali Carlos keluar dari kamar nya dan berniat untuk menuju dapur karena malam itu terasa panas sehingga Carlos mengalami dehidrasi dan saat Carlos sampai di lantai satu tepat nya di ruang makan akan melanjutkan langkah nya menuju dapur saat itu Carlos mendengar teriakan Pak Susena yang lumayan keras karena kondisi yang sepi villa maka suara Pak Susena terdengar sangat jelas di telinga Carlos.
Ada apa itu di garasi mengapa Pak Susena berteriak seperti ketakutan, Apakah Pak Susena sedang mimpi buruk hingga berteriak sekeras itu tapi untuk apa juga dia tidur di garasi bukan kah rumah nya di belakang villa ini dan jarak nya pun sangat dekat dengan villa ini?
Bergumam lah dalam hati Carlos sambil sesekali ia menoleh ke kanan dan ke kiri karena di takut kan ada perampok yang masuk kedalam villa tersebut, Dengan berjalan perlahan Carlos melangkahkan kaki nya menuju garasi untuk melihat apa yang terjadi dengan Pak Susena dan ternyata benar saat itu setelah Carlos menyalakan lampu di garasi terlihat lah tubuh Pak Susena di ujung garasi.
" Jangan ... Jangan ganggu aku ... bukan aku pembunuh nya pergi sana kamu ...."
__ADS_1
Ucap Pak Susena dengan ketakutan dan tubuh yang gemetar serta keringat dingin yang bercucuran duduk di ujung garasi dengan wajah pucat pasi.
" Pak Susena, Bapak sedang apa di sini lalu apa maksud ucapan Pak Susena itu tadi?"
Tanya Carlos sambil mendekati tubuh Pak Susena sambil sesekali menggoyang-goyangkan pundak Pak Susena.
" Jangan mendekat, Pergi sana kamu ...."
Jawab Pak Susena sambil mendorong tubuh Carlos hingga terjatuh lalu Pak Susena bangkit dari duduk nya dan berlari menuju pintu samping villa.
" Ada apa dengan Pak Susena lalu siapa yang dia lihat sebenarnya, Ini tang pemotong mengapa tergeletak di lantai sedangkan sedari sore aku tidak membuka tempat alat sama sekali lalu siapa yang meletakkan tang potong di lantai?"
Tanya Carlos sambil memegang tang potong yang ia temukan tergeletak di lantai dengan tatapan bingung.
Setelah meletakkan tang potong di boks alat lalu Carlos pun melanjutkan langkah nya menuju dapur untuk mengambil air minum namun lagi dan lagi Carlos melihat ulah aneh Pak Susena yang berlari mengelilingi taman belakang villa hingga ke kolam renang bahkan sampai masuk kedalam kolam renang lalu keluar dan berlari lagi hal itu terus berulang kali di lakukan oleh Pak Susena dan Carlos hanya mampu melihat nya saja dari jendela dapur.
Apa yang sebenarnya ia lakukan apakah memang kebiasaan dia seperti itu setiap malam melakukan olah raga dari berlari, berenang hingga jalan cepat secara estafet ataukah Pak Susena sedang mengigau tapi kok mengigau nya jelek sekali dan tidak wajar, Sudah lah biar kan saja nanti juga kalau dia sudah lelah pasti berhenti sendiri lebih baik aku melanjutkan tidur ku.
Bergumam lah Carlos sambil sesekali tersenyum simpul sebab merasa lucu melihat ulah Pak Susena yang sedang ketakutan di kejar oleh Wiyasa yang menyerupai wujud I Gusti Komang putra dari I Gusti Ketut yang telah meninggal dunia dan pelaku nya adalah Pak Susena.
Sedangkan di rumah Daniel malam ini Risma badan nya merasa kurang sehat bahkan badan Risma pun demam sehingga diri nya banyak beristirahat di kamar nya bahkan saat Daniel pulang dari kantor pun Risma tidak mengetahui nya sebab Risma tidur sangat lelap, Saat itu Daniel setelah mandi dan melihat suhu tubuh istri nya berniat mengambil tempat untuk air namun ia melihat pintu kamar putri nya terbuka lebar maka ia pun mendekati kamar putri nya.
Siapa yang dari kamar putri ku dan tidak menutup nya bagaimana kalau sampai putri ku di culik orang, Ini pasti ulah Mimin yang suka teledor, Lihat saja nanti kalau aku bertemu dia di dapur akan aku tegur dia.
Bergumam lah dalam hati Daniel sambil melangkahkan kaki nya menuju kamar Lia putri kecil nya berniat untuk menutup pintu kamar nya dan melihat putri kecil nya yang sudah tidur pasti nya pikir Daniel, Namun saat Daniel tiba di depan pintu kamar putri nya Daniel di buat berfikir sebab mendengar tawa putri nya seperti sedang bercanda dengan seseorang.
Sampai Daniel melihat di bawah ranjang, di balik pintu dan kedalam lemari namun tidak di temukan satu orang pun di ruangan tersebut dan saat Daniel membalikkan tubuh nya setelah membuka lemari baju Lia lagi-lagi Mimin membuat terkejut hingga Daniel berteriak histeris karena melihat Mimin yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang nya tanpa menimbulkan suara sambil membawa ember.
" HANTU JAMU GENDONG KENA KAMU, BUUKK!"
Teriak Daniel yang refleks melemparkan boneka beruang ke wajah Mimin.
" Aooo ... Tuan ini saya Mimin bukan hantu jamu gendong,"
Ucap Mimin sambil mengelus kening nya dengan wajah kesal.
" Mimin kamu sedang apa di belakang ku, Bikin aku kaget saja!"
Ucap Daniel dengan nada sedikit tinggi.
" Saya mau mengambil baju Non Lia yang kotor Tuan agar besok pagi bisa segera saya cuci kan sekarang sedang musim hujan Tuan,"
Jawab Mimin dengan nada polos dan masih mengelus kening nya.
" Ya sudah lah, Min setelah ini tolong bawakan air di baskom untuk mengompres istri ku ya,"
Ucap Daniel sambil mendekat ke arah ranjang Lia.
__ADS_1
" Iya Tuan,"
Jawab Mimin sambil meletakkan baju kotor Lia di dalam ember.
" Kok tidur lalu tadi yang tertawa siapa kalau anak ku tidur?"
Tanya Daniel sambil memandangi wajah Lia yang sedang tertidur lelap.
" Saya tidak tertawa Tuan bahkan saya sedang merasakan pening kepala saya setelah di lempar boneka dengan Tuan,"
Jawab Mimin dengan ekspresi wajah polos.
" Siapa juga tanya ke kamu Min, Sudah sana hantu jamu gendong lekas ambil kan air untuk mengompres istri ku,"
Ucap Daniel dengan nada sebal ke Mimin.
" Kemaren di bilang kuntilanak berkali-kali sekarang hantu jamu gendong sebentar lagi apa lagi coba?"
Bergumam lah Mimin sambil melangkah keluar dari kamar Lia.
Setelah itu Daniel pun keluar dari kamar Lia dan sedikit menutup pintu nya sambil berfikir apa yang terjadi lalu apa yang sudah di lihat nya itu hanya ilusi belaka ataukah benar terjadi lalu Daniel pun masuk kedalam kamar nya dan di lihat istri nya sudah tidak berada di ranjang nya dan pasti nya Daniel merasa kebingungan mencari istri nya yang menghilang begitu saja.
Namun sesungguhnya Risma sedang berada di ruang makan karena merasa lapar dan ia pun berniat untuk makan setelah itu minum obat dan kembali ke kamar nya untuk beristirahat dan saat itu Daniel segera keluar dari kamar nya dan berteriak memanggil istri nya seperti orang yang sedang ketakutan melihat hantu dan hal itu membuat Risma terkejut hingga tersedak.
" SAYANG ... SAYANG ... KAMU PERGI KEMANA!"
Teriak Daniel dari depan kamar nya sampai menuju anak tangga.
" Ya Tuhan kenapa lagi si dengan suami ku ini apa dia melihat Wisesa apa Ayu atau Wiyasa sampai berteriak seperti itu, Sadar tidak suara dia itu bisa membangunkan Lia!"
Umpat Risma sambil meletakkan gelas di meja.
Kemudian sampai lah Daniel di lantai bawah dan melihat Risma sedang duduk di meja makan dengan tatapan bingung melihat ke arah suami nya yang sudah panik wajah nya saat itu lalu Risma tanpa berbicara melanjutkan makan nya.
" Sayang kamu membuat ku takut saja, Kalau mau makan kamu bilang saja biar aku yang mengambil kan ke bawah kan kamu sedang sakit,"
Ucap Daniel sambil duduk di samping Risma.
" Sayang aku hanya demam biasa dan aku masih kuat jalan memang nya aku sudah sakit sampai kritis apa harus meminta mu untuk mengambilkan makan,"
Jawab Risma sambil melahap makanan di hadapan nya.
Lalu mulai lah terjadi adu argumen antara Daniel dan Risma karena berbeda pendapat namun setelah itu mereka pun bercanda kembali dan menuju kamar untuk beristirahat dan Risma pun melarang Mimin untuk membawa air di baskom untuk mengompres nya sebab dirasa tubuh Risma lebih baik dari pada tadi.
Lalu apakah yang terjadi dengan Pak Susena apakah akan menghabiskan malam ini dengan olahraga berlari, berenang dan jalan cepat secara estafet karena di kejar Wiyasa ataukah Pak Susena berhasil lolos dari kejaran Wiyasa dan bagaimana nasib Carlos dan Teresa besok saat akan kembali ke Ibukota apakah mereka bisa terselamatkan dari maut atau kah maut menghampiri mereka dan bagaimana sikap I Gusti Ketut bila benar hal tersebut terjadi kepada Carlos dan Teresa?
Jangan pernah beranjak dari kisah mereka semua dan temukan jawaban nya hanya ada di PEMBURU LEAK dan jangan pernah bosan untuk selalu dukung author agar semangat nulis nya.
__ADS_1