
Nama :Asil
Status :Pelajar (Mahasiswi)
Umur :19 Tahun
Aku Asil, aku seorang pelajar. Aku masuk di Universitas terkenal CU, yah selain terkenal uang masuk nya juga mahal.
Universitas CU. "Hei hari ini dosen nya tidak bisa masuk." Ucap seorang siswi sembari melangkahkan kaki ke ruang kelas. "Ih siapa yang bilang, bagaimana kalau beliau muncul tiba-tiba." Tukas temannya. "Ahaha aku akan berkeringat dingin." Mereka sangat seru berbincang. Tapi dimana Asil?
"Hu aku sangat lelah, bagaimana bisa bos menyuruhku bekerja lembur. Dia seharusnya memberikan keringanan kepada seorang pelajar." Gumam Asil yang tengah duduk menempelkan wajahnya di meja.
"Hai Sil!" Sapa seseorang kepada Asil "Hai!" Balas Asil
Nama : Hana
Status :Pelajar (Mahasiswi), Sahabat Asil
Umur :19 tahun.
__ADS_1
"Lah kamu kenapa tetap bersedih, dosen kesukaan kamu tidak hadir yah." Hana menyentil kepala Asil. "Ih... Aku tidak suka dengan dosen itu, walaupun dia masih muda." Tukas Asil. "Ahk, tapi itu dosen paporit mu kan." Goda Hana. "Hei, Dia itu sudah tua." Asil menegakkan tubuhnya yang tidak ada kekuatan itu. "Kau salah umurnya masih 30 tahun, aku sangat terkejut mendengar umur nya masih muda tapi sudah menjadi dosen." Ucap Hana kepada Asil. "Hu..Dia terlihat masih muda karena belum menikah, jika dia menikah kau pasti tidak suka melihat nya." Balas Asil. "Hm,aku akan menjadi simpanannya haha!" Tukas Hana sambil tertawa licik. "Dasar,calon pelakor." Tukas Asil.
"Hm.. Ternyata di benar-benar tidak datang." Ucap Asil. "Nah kan,Tebakan ku tidak mungkin salah!" Pekik Hana yang sedang membaca buku. "Eh, apanya?" Tanya Asil yang terkejut dengan kata-kata Hana. "Ini, sudah kuduga musuh tuan Karan ada didalam rumahnya sendiri." Ucap Hana. "Hu, Astaga ku kira apa." Asil mengelus dadanya. "Hei, apa yang kau pikirkan?" Tanya Hana dengan menyipitkan matanya kepada Asil. "A.. Apa maksud mu?" Tanya Asil gelagapan. "Hm,baiklah aku akan pura-pura tidak tahu saja." Hana menyilangkan tangan di depan dada. "Hei apa maksudnya!" Teriak Asil. "Ah, aku tidak dengar." Timpal Hana. Asil akhirnya kembali menempelkan wajahnya pada meja.
"Aaaa... Tuhan aku lelah!" Teriak Asil sambil Merentangkan tangannya. "Hei sampai kapan kau akan membaca novel itu?" Tanya Asil kepada Hana. "Hi, kau fokus saja dengan lamunan mu." Tukas Hana. "Kita cari makanan yuk." Ajak Asil. "Ah, boleh-boleh." Hana langsung bersemangat dan berdiri dari duduknya. "Heh, dasar Hana. Mendengar kata makanan saja langsung cerah, yah walaupun apa bedanya dengan ku wehehe." Batin Asil. "Hei ayo!" Tukas Hana yang telah berdiri di depan pintu. "Eh, Iya tunggu." Asil berlari kecil.
......................
"Kau mau makan apa?" Tanya Hana kepada Asil. "Hm, kebab saja." Asil langsung duduk. "He,setiap hari kau memesan itu." Tukas Hana. "Karena aku menyukainya, apa bedanya dengan mu." Asil mencubit tangan Hana. "Hm!" Hana langsung berbalik badan untuk memesan.
"Yummy, enak nya!" Ucap Asil yang sangat menikmati makanannya. "Hm, seperti baru pertama kali memakannya." Balas Hana. "Hei kau tidak tahu bagaimana cara menikmati makanan." Tukas Asil sambil tetap melanjutkan makannya.
"Aku selesai." Ucap Hana. "Hm sangat lama." Balas Asil. "Kua bilang harus menikmati!" Tukas Asil sambil menepuk kepala Asil. "Hah, Baiklah." Ucap Asil sambil menghela nafas.
......................
"Uh bos mu sangat kejam." Ucap Hana ketika melihat pesan dari bos Asil. "Yah begitulah." Asil menghela nafas nya. "Apakah kau akan pergi?" Tanya Hana. "Yah, aku akan pergi." Ucap Asil sembari mengambil tasnya. "Kalau begitu hati-hati yah." Hana menepuk punggung Asil. "Yah baiklah, selamat tinggal." Asil langsung pergi dengan tergesa-gesa.
......................
"Hei, kenapa lama sekali!" Pekik seseorang kepada Asil. "Aku butuh waktu menunggu bus untuk kemari." Tukas Asil. "Ouh, kalau begitu langsung bekerja sana." Ucap nya kepada Asil. "He, enak sekali jadi bos, dia hanya menyuruhku saja. Kemarin aku sudah lembur." Gumam Asil sambil mulai melakukan pekerjaan nya.
__ADS_1
......................
"Aku mau pulang, tugas ku sudah selesai!" Ucap Asil kepada pria yang sedang duduk di meja kasir. "Oh, ini gaji mu. Besok Capee akan aku tutup." Ucap lelaki itu sembari memberikan amplop berisi uang kepada Asil. "Hu, kan hanya kau tutup sehari bagimana mungkin gaji ku kau berikan sekarang, aku butuh untuk membayar semester depan jadi aku belum ingin mengambil gaji ku." Ucap Asil. "Maaf nak, capee ini akan aku tutup selamanya." Ucap lelaki itu. "Hei bagaimana mungkin seperti itu, kenapa sangat tiba-tiba. Lalu bagaimana dengan kuliah ku." Asil langsung kebingungan. "Aku punya urusan keluarga, kami butuh banyak uang, jadi mau tidak mau capee ini akan aku tutup dan ku jual kepada pengusaha yang akan membelinya, dia bilang dia butuh untuk membuka tokohnya di tempat ini dan aku juga butuh uang." Jelas lelaki itu. "Tapi kan dia bisa membeli tempat lain." Tukas Asil. "Tapi tempat ini sudah strategis, ah sudah la aku sedang butuh uang sekarang." Ucap lelaki itu.
"Bagaimana ini bagaimana bisa Capee itu tutup, lalu bagaimana uang ku untuk semester depan. Aku harus bagaimana ayah menganggur, ibu tidak akan bisa mencukupi biaya semester depan untuk ku, ah sial!" Gumam Asil sambil berjalan.
Bruk... "Hei hati-hati kalau berjalan!" Teriak seorang pria tinggi. "Eh, maaf tuan saya, saya tidak sengaja maaf tuan." Ucap Asil yang tidak sengaja menabrak seseorang didepan nya. "Baiklah lainkali perhatikan jalanmu!" Ucap pria itu. "Baik tuan maaf." Asil tertunduk menahan tangis. Dan pria itu langsung pergi berlalu.
"Hiks... Hiks.... Ibu! Aku lelah.. Aku harus bagaimana hiks...." Asil berbicara kepada dirinya sendiri sambil menangis di jalan.
......................
"Aku pulang." Ucap Asil sembari membuka pintu. "Nak, kau pulang lebih awal hari ini." Sapa seorang wanita. "Ibu.. Hiks... Bagaimana ini." Ucap Asil sambil menangis di pelukan ibunya. "He, Hei, kau kenapa?" Tanya ibu kepada Asil. "Bu.. Hiks.. Aku.. Hiks.. Aku tidak bisa bekerja lagi bagaimana dengan kuliahnya ku.. hiks." Asil menangis sejadi-jadinya. "Astaghfirullah nak, tidak apa-apa sil jangan menangis sayang." Ibu menenangkan tangisan Asil.
"Hei.. Hei kenapa kau menangis seperti itu. Aku mengantuk buat kan aku makanan!" Ucap seorang lelaki yang baru memasuki rumah. "Ayah.. Hiks aku di pecat." Asil memeluk ayahnya. "Hah?Apa kau di pecat!" Pria itu langsung berteriak. "Kau minum lagi?" Tanya ibu kepada ayah. "Apa peduli mu, aku membeli semuanya dengan uang ku. Kalian tidak berguna!" Ayah membanting ke-dua wanita itu, lelaki itu pemabuk, ia slalu pulang seperti itu membentak ke-dua wanita itu adalah hal yang biasa ia lakukan.
"Nak, Kamu tidak apa-apa kan?" Ibu bertanya dan memeluk erat Asil. "A.. Aku tidak apa-apa bu." Ucap Asil sambil menghapus air mata nya yang tak berhenti mengalir. "Baiklah kembali lah ke kamar mu nak." Ibu mencium kening Asil.
"Sekarang bagimana bisa aku hidup." Gumam Asil yang tak bisa berhenti menangis.
Tok, tok.. Clek pintu kamar Asil terbuka. "Nak." Ibu langsung masuk dan duduk di tepi kasur Asil berdekatan dengan anaknya. "Iya." Ucap Asil. "Ayo makanlah dulu." Ibu menyuapi makanan kepada Asil. "Apakah ibu sudah makan?" Tanya Asil menghentikan juluran tangan ibu yang terus menyuapi nya dengan penuh kasih sayang. "Hm, ibu sudah makan, sebelum kau tadi ibu suda terlebih dulu." Ucap ibu sambil mengelus wajah anaknya. "Ibu." Lirih Asil. "Iya nak." Jawab ibu. "Ibu berbohong, ibu pasti belum makan." Ucap Asil. "Kamu makan saja, jangan perdulikan ibu." Ucap malaikat yang tidak bersayap kepada Asil. "Ibu, ibu makanlah juga. kita makan bersama saja." Ucap Asil sembari mengambil sendok dari tangan ibu dan menyuap nya. "Terimakasih sayang." Ucap wanita itu menahan air matanya.
"Bu mungkin aku tidak akan melanjutkan kuliah ku." Ucap Asil kepada ibunya. "Kenapa?" Tanya ibu kepada Asil. "Kita tidak punya biaya lagi bu." Ucap Asil. "Nak." Ibu menangis dan memeluk Asil. "Maaf kan ibu nak, tidak bisa memberikan kehidupan yang indah untuk mu. Kau harus menahan siksa bersama ku, aku sangat berdosa ya Tuhan." Ibu terus memeluk anaknya yang cantik dan seharusnya dia sekarang bersenang-senang bersama teman-teman nya namun ia harus bekerja. "Tidak bu tidak ini adalah takdir, ini bukan salah ibu. Dan tidak ada yang membuat kesalahan." Ucap Asil kepada ibunya.
__ADS_1
...****************...