
"Hei lepaskan aku!" Gerutu Asil kepada anak buah Alden. "Hei diamlah! Atau kau mau mati hah!" Sahut salah satu dari mereka.
.
.
.
.
"Auh... " Ringis Asil. Asil di sekap didalam ruangan yang gelap, tanpa penerangan sehingga membuat Asil hanya bisa diam di satu tempat.
"Aku tidak menduga ini akan terjadi, ternyata benar Eren adalah orang yang jahat. Pantas saja terasa aneh saat berada di tempat itu." Gumam Asil yang geram dengan perbuatan Eren. "Aku sudah menjelaskan aku tidak punya perasaan dengan tuan Agha, tapi kenapa dia malah ingin menyiksaku.Ah apa perduli ku, pokoknya aku harus keluar dari ruangan ini. Dan akan ku ceritakan semuanya." Gumam Asil dan mencoba berjalan didalam ruangan gelap itu.
"Ha...... Tidak ada cela!" Teriak Asil yang mulai kesal karena tidak menemukan cela cahaya.
.
.
.
Cklek.. "Uh?" Asil terkejut mendengar suara pintu terbuka.
"Ayo masuk dan bawa wanita itu kepada tuan!" Ucap seorang lelaki memerintah orang lainnya.
"Hu... lagi" Gumam Asil.
"Ayo cepat!" Ucap seorang lelaki sambil menarik tangan Asil.
.
.
.
.
"Ini dia tuan." Ucap lelaki itu sambil melempar tubuh Asil dari cengkeraman nya. "Cih.Bajingan!" Gumam Asil.
"Apa yang kau inginkan?" Teriak Asil. "Heh, pergilah kalian aku ingin mengobrol dengan nya." Ucap Alden kepada anak buahnya.
__ADS_1
"Ck, ck. Ku dengar ini adalah yang kedua kalinya kau diculik." Ucap Alden sambil berjalan pelan menuju Asil. "Apa yang kau inginkan?" Ucap Asil dengan nada kuat. "Ah.. Dasar mulut wanita, slalu saja memekakkan telinga." Ucap Alden. "Hei orang jahat jangan mendekat!" Teriak Asil. "Hah.. Orang jahat katamu, ini baru permulaan." Alden tersenyum kecil dan mencengkram tangan Asil.
"Lepaskan aku!" Teriak Asil namun tidak digubris oleh Alden.
.
.
.
"Kau mau membawa ku ke mana?" Gerutu Asil. "Diam lah." Alden berjalan dengan sangat cepat tanpa memperdulikan Asil.
.
.
.
"Ayo cepat masuk." Ucap Alden kepada Asil, dan mau tidak mau Asil harus menuruti ucapan Alden.
"Kita akan kemana tuan?" Tanya supir kepada Alden. "Pulau." Jawab Alden singkat, dan dengan segera mobil langsung melaju dengan cepat.
"Apakah aku akan mati, dengan rasa penasaran." Batin Asil yang mulai takut.
......................
"Cepat ikuti aku." Ucap Alden. Kali ini Alden tidak menarik tangan Asil, karena Alden tahu Asil tidak mungkin melarikan diri.
.
.
.
.
Asil hanya mengikuti Alden dari belakang hingga mereka sampai di sebuah rungan yang terlihat seperti ruang kerja.
"Apa yang akan kau lakukan?" Tanya Asil. "Kau cerewet juga ya." Balas Alden dingin.
"Kau akan menjadi pelayan ku, kau harus melakukan apapun yang aku katakan, dan yang aku perintahkan. Kau akan tetap disini." Ucap Alden.
__ADS_1
"Melakukan apapun yang dia perintahkan, cih lebih baik aku kabur atau mati saja." Gumam Asil.
"Jangan coba-coba untuk melarikan diri karena kau tidak akan tahu apa yang akan aku lakukan." Ucap Alden lagi.
.
Tok. tok. "Permisi tuan." / "Masuk lah." Sahut Alden dan beberapa orang langsung memasuki ruangan. Semua orang itu adalah pelayan Alden.
"Ini adalah anak baru yang akan bergabung dengan kalian." Ucap Alden kepada para pelayannya.
"Wah cantik kenapa dia mau bekerja disini." / "Iya yah." Bisik para pelayan sambil melihat Asil.
"Apakah ada yang kalian ingin tanyakan?" Ucap Alden. "T-tidak tuan." Jawab para pelayan dengan suara pelan dan gemetaran.
"Hei aku tidak mau jadi pelayan mu!" Teriak Asil kepada Alden. "Aku tidak perduli." Ucap Alden dingin sembari melangkah pergi. "Cih tidak perduli katamu. Dasar pecundang, kau hanya berani bermain dibelakang saja!" Teriak Asil lagi. "Kau pikir kau siapa, kau ingin aku bunuh hah!" Bentak Alden. "Aku lebih baik mati daripada menjadi pelayan orang pengecut seperti mu." Ucap Asil lagi. "Cih, kalau begitu akan kujadikan kau makanan singa ku." Ucap Alden sembari berbalik.
"Makanan singa?Apa tidak ada yang lain." Gumam Asil.
"Bagaimana?Apakah kau berani memberontak kepada ku?" Tanya Alden sambil mencengkram kuat tangan Asil. "Cih, kau lihat saja.Kau akan tamat." Ucap Asil. "Lebih baik kau nikmati pekerjaan mu." Balas Alden.
......................
"Hiks... Hiks... Ibu... a-aku ingin bersama ibu, aku takut disinih." Asil tidak henti-hentinya menangis karena ketakutan.
"Hei kenapa kau menangis?" Tanya seorang pelayan kepada Asil yang tengah terduduk menangis.
"Hu? Aku tidak apa-apa." Jawab Asil.
"Kau katakan saja, aku tidak akan menyakiti mu lagipula kita sama-sama pelayan." Balas wanita itu kepada Asil.
"Hiks.. A-apakah kau tidak sedih berada disinih?" Tanya Asil. "Sedih? Aku memang butuh pekerjaan karena aku anak yatim piatu disini aku bisa bekerja dan makan. Yah daripada hidup dijalanan." Jawab wanita itu dengan terus terang. "Hah?" Asil terlihat bingung. "Ah sudahlah kau tidak perlu menangis. Kau tidak akan di bunuh jika kau menuruti perintah tuan."Wanita itu menenangkan tangisan Asil.
"Oh ya, namaku Derya. Siapa namamu?" Tanya wanita itu kepada Asil. "A-aku Asil." Jawab Asil. "Nama yang indah, kau jangan sedih lagi. Disini kita akan seperti keluarga, walaupun yah hanya pelayan. Para pelayan lain memanggilku kakak, kau bisa memanggilku Derya atau apapun yang kau suka." Ucap Derya sambil mengelus kepala Asil.
Nama : Derya
Umur : Tidak diketahui
Derya adalah pelayan di mansion Alden, Derya adalah anak yatim piatu. Kisah Derya membuat Alden tersentuh dan akhirnya memperkerjakan Derya di mansion nya,bagi Derya pekerjaan yang diberikan oleh Alden sangat berarti. Yah Derya dulunya adalah anak jalanan, Derya tidak punya siapa-siapa dan hal itulah yang membuat Alden ingin membantu kehidupan Derya walaupun hanya menjadikan Derya pelayan.
__ADS_1
Bagi Derya Alden adalah keluarganya walaupun Derya tidak bisa bicara dengan lantang didepan Alden, karena rasa takut nya kepada Alden.
...****************...