Penakluk Hati Sang Mafia Kejam

Penakluk Hati Sang Mafia Kejam
Chapter 2 (Episode 5)


__ADS_3

Asil kembali kekamar nya dan duduk di pinggir kasur. Ia seperti memikirkan sesuatu dan sesekali menghela nafasnya.


.


.


.


"Bagaimana adik kecil apakah kau menemukan sesuatu?" Tanya Agha, kepada Balian yang sedang sibuk dengan makanannya. "Hei apakah kau mendengarkan ku?" Tanya Agha lagi,kali ini suara nya lebih kuat karena kesal Balian tidak menggubris pertanyaannya. "Aku selesai." Ucap Balian. "Hai!" Teriak Agha kesal. "Iya, iya. Aku mendengar pertanyaan kakak." Ucap Balian sembari beranjak dari kursi nya.


"Cih.Sangat mengesalkan." Gerutu Agha. "Wah kakak sekarang sangat perduli dengan anak kecil itu." Balian tersenyum. "Ah, sudahlah." Agha berdiri dan berlalu pergi.


"Hah? Apakah dia sekarang baperan?" Ucap Balian bingung. "Mungkin tuan." Jawab seorang pelayan wanita. "Ah bisa jadi." Ucap Balian dan langsung mengejar Agha.


"Kak! Wah kau ternyata marah." Goda Balian. "Aku tidak perduli." Ucap Agha dingin. "Hu.... Ayolah. Baiklah Balian mu ini akan mengatakan informasi." Balian tersenyum dan merangkul bahu Agha. "Yah cepatlah." Balas Agha. "Kakak galak sekali." Goda Balian lagi. "Kau akan mengatakan nya atau tidak?" Tanya Agha yang sudah kesal. "Baiklah, baiklah." Ucap Balian sembari berjalan disamping Agha.


"Jadi maksud mu penculikan itu sudah direncanakan?" Tanya Agha. "Ya.Jika tidak seperti itu lalu bagaimana lagi. Pasti Asil adalah orang yang penting bagi mereka." Jelas Balian. "Anak kecil, bisa saja tidak. Mungkin mereka menculiknya hanya ingin menjadikan Asil pelayan bar." Tukas Agha. "Itu lebih parah." Ucap Balian. "Kita telah membunuh dua anak buahnya. Lalu darimana kita akan mengambil informasi?" Tanya Balian. "Aku sudah muak jika harus membuat orang lain berbicara." Agha duduk di kursi nya dan menghela nafas panjang.


Di ruangan Agha yang besar sekarang hening. Balian menghela nafas nya sembari memainkan bola yang ada di atas meja Agha.

__ADS_1


"Apakah kau ingat pertama kali kita terjun ke dalam bisnis?" Tanya Agha menghalau kesunyian. "Hm.Yah, aku ingat." Jawab Balian. "Yah aku ingat setiap perjalanan kita." Agha tersenyum. "Kau tidak mau menjadi anak buah siapapun, kau menginginkan posisi yang tinggi. Sementara aku slalu mengikuti kakak, kakak slalu tepat waktu untuk menyelamatkan aku dari dewa kematian. Aku ingin menjadi pemberani seperti kakak, aku ingin menjadi seperti kakak dan akhirnya kakak mengizinkan aku untuk mengikuti kakak dan organisasi." Ucap Balian mengingat kenangan mereka. Dan ruangan kembali senyap.


"Aku sangat mengidolakan kakak. Aku ingat saat aku di bullying karena tidak mempunyai orang tua kakak datang dan siap menghadapi orang-orang jahat itu." Ucap Balian lagi. "Itu karena aku menyayangi adik ku." Balas Agha dingin. "Yah itulah kenapa aku menyukai mu, kau adalah segalanya untuk ku." Balian tersenyum.


"Ha.. ... Sampai kapanpun kau tetap lah keluarga ku. Kau adalah adik kecil ku." Agha mengelus kepala Balian dan beranjak dari kursi nya. "Aku akan memeriksa keadaan anak kecil itu, kau bisa ikut atau kau mau membaca buku disini." Ucap Agha. "Aku disini saja, kakak pasti ingin punya waktu bersama nya." Ucap Balian menggoda Agha. "Dasar anak ini.Kau saja yang melihat nya." Ucap Agha kesal. "Aku hanya bercanda." Balian mengelak dan mengambil buku diatas rak.


......................


Tok. Tok. / "Iya masuk!" Sahut Asil yang mendengar ketukan pintu dari luar.


"Eh tuan!" Asil terkejut melihat Agha. "Kenapa?Apakah kau menyimpan barang terlarang di kamar mu?" Tanya Agha dengan nada dingin. "Ah ti-tidak ada tuan." Asil tertawa kecil menanggapi pertanyaan aneh Agha.


"Tuan ada keperluan apa?" Tanya Asil. "Kau seperti tidak suka dengan kedatangan ku. Kau bahkan bertanya sambil berdiri." Ucap Agha. "M-maaf tuan." Ucap Asil dan langsung duduk di pinggir kasur. "Kau duduk terlalu jauh." Ucap Agha dan langsung berpindah duduk didekat Asil. "Jadi tuan ada keperluan apa?" Tanya Asil lagi sambil menggeser kan duduknya.


"Kenapa kau menjauh?" Tanya Agha. "Eh, hehe. T-tidak apa-apa." Jawab Asil sembari tertawa. "Apakah kau tidak nyaman bersama ku?" Tanya Agha lagi. "Oh tentu saja tidak. Tuan adalah bos ku, jika terlalu dekat dengan tuan berarti aku tidak sopan." Ucap Asil yang semakin takut untuk menjawab pertanyaan yang diberikan Agha. "Kalau begitu mendekatlah. Karena ini adalah perintah dari bos mu." Ucap Agha. "B-baiklah." Balas Asil.


"Aku tahu kau sedang memikirkan hal lain." Ucap Agha. "T-tidak ada tuan." Asil tersenyum. "Kau pasti sering memikirkan antara aku dan Eren." Ucap Agha sembari menggenggam tangan Asil. "Kenapa kau slalu memikirkan itu?" Tanya Agha. "A-aku, aku, aku hanya berpikir kenapa tuan membentak nya." Ucap Asil memberanikan diri. Agha menghela nafas nya dan melepas genggaman nya.


"Aku tidak menyukai nya. Kau tau bagaimana rasanya jika kau dijodohkan dengan orang yang tidak kau sukai." Ucap Agha sembari berdiri. "Kenapa tuan tidak menyukai nona Eren? Menurutku nona Eren cantik dan baik." Ucap Asil. "Kau tidak bisa menilai semua orang dari penampilannya saja." Ucap Agha dan berbalik melihat wajah Asil.

__ADS_1


"Lalu siapa orang yang tuan sukai?" Tanya Asil lagi. "Hm.. Yah itu ada. Aku sedang menunggu waktu untuk bersama dengan nya." Jawab Agha.


"Wanita yang beruntung." Batin Asil.


"Apakah kau pernah menyukai seseorang?" Tanya Agha. "Hah? A-aku hmmm, ya." Jawab Asil gugup. "Siapa orang nya?" Tanya Agha sambil tersenyum. "Itu, eeeee. Dia adalah kakak kelasku saat SMA dulu. Hmm, itu cinta monyet tuan." Asil tertawa tersipu malu menjawab pertanyaan Agha. "Apakah sekarang kau masih menyukai nya?" Tanya Agha lagi. "Aku bisa tegas menjawab tidak. Aku muak melihat nya." Jawab Asil. "Muak? Apakah dia membuat kesalahan?" Agha terus melontarkan banyak pertanyaan untuk Asil. "Ah tidak seperti itu. Biasanya jika perasaan itu hanya sepihak maka pihak yang lain akan mengambil keuntungan." Ucap Asil. "Hah! Apakah dia.!" Agha berteriak terkejut menerka-nerka apa yang terjadi. "He-hei tidak begitu.Dia hanya memilih wanita lain dan memanfaatkan aku untuk menjadi jembatan menuju wanita itu." Jelas Asil.


"Hahaa....Mengenaskan sekali." Agha tertawa terbahak-bahak mendengar penjelasan Asil. "Kau tidak berpikir dan dimanfaatkan." Agha masih tertawa dan membuat Asil kesal. "Heh." Asil cemberut melihat Agha.


"Kau seharusnya berhati-hati. Kau tidak boleh melihat orang lain dari luarnya." Agha tersenyum melihat Asil yang diam kesal. "Yah tentu." Balas Asil.


"Yah.Baiklah , aku akan pergi. Lanjutkan istirahat mu." Ucap Agha dan berlalu pergi.


.


.


.


"Aku takut tuan jika menyukai seseorang. Bagaimana jika hal itu terulang lagi, bagaimana jika tidak ada yang menginginkan aku. Nona Eren yang cantik saja bisa ditolak apalagi aku." Gumam Asil.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2