
Jam berlalu, Asil tengah bersiap-siap ingin pulang.
Tok.. tok.. "Permisi." Ucap seseorang dari luar. "Iya masuk lah." Sahut Asil.
"Permisi nona Asil." Ucap seorang staff wanita di perusahaan itu. "Iya, ada apa kak?" Tanya Asil. "Nona, ini ada beberapa dokumen. Seperti nya presdir tidak ada yah." Ucap wanita itu lagi. "Ah iya, beliau sedang berada di luar." Ucap Asil. "Ou, begitu yah. Hmm, baiklah kalau begitu akan ku serahkan kepada nona,tidak terlalu banyak.Ini dia, oh yah nona bisa memberikan kepada ku lagi besok pagi." Ucap wanita itu lagi. "Oh baiklah." Ucap Asil, dan wanita itu segera meninggalkan ruangan.
"Astaga ini sangat banyak, bagaimana mungkin dia membawanya kemari. Menggunakan lift tetap saja melelahkan memegangi ini semua kan berat." Gumam Asil melirik tumpukan dokumen yang diberikan kepadanya.
"Ini banyak, dan kenapa harus besok pagi aku menyerahkan nya. Aaaaaa.... aku lembur gitu, sangat menyusahkan." Ucap Asil kepada dirinya sendiri.
......................
Sementara itu, Agha sudah kembali kerumah.
"Agha kamu sudah pulang." Tegur ibu Agha. "Oh, iya." Jawab Agha singkat. "Agha apa kau sudah memikirkan tentang."/ "Itu lagi, aku kan sudah bilang, berhenti membahasnya. Kenapa ibu sangat ingin hal itu terus mengganggu ku." Ucap Agha langsung memotong pembicaraan dan pergi menuju ruangan nya, ruangan khusus tempat Agha menyendiri.
"Ya ampun susah sekali membicarakan nya kepada Agha, aku bingung bagaimana caranya mengeluarkan Agha dari kesendirian nya. Bagaimana bisa dia nyaman seperti ini." Batin ibu Agha.
"Nyonya makanan nya sudah siap." Ucap seorang wanita membuyarkan lamunan ibu Agha.
"Eh, ah bu Asil."/"Apa aku bisa membicarakan tentang perjodohan itu kepada bu Asil yah, pasti dia mengerti dan bisa membantu ku." Gumam Ibu Agha yang masih memikirkan tentang perjodohan Agha, ia hanya menatap kearah ibu Asil tanpa melanjutkan kata-kata.
"Nyonya." Ibu Asil melambaikan tangannya didepan wajah ibu Agha.
__ADS_1
"Eh iya maaf, aku hanya memikirkan sesuatu. Ah, iya bisakah kita mengobrol sebentar?" Ucap ibu Agha. "Oh tentu nyonya, tapi makanan nya." Ibu Asil kelihatan kebingungan melihat tingkah laku majikannya. "Nanti saja." Ibu Agha langsung menarik tangan ibu Asil.
......................
Ibu Agha membawa ibu Asil menuju ruang kerja nya. Yah, masing-masing ibu dan Agha memiliki ruangan tersendiri.
"Aku ingin membicarakan sesuatu, yah walaupun itu tidak terlalu penting." Ucap Ibu Agha. "Apakah nyonya ada masalah?" Tanya ibu Asil. "Ah bukan hal yang seperti itu, oh yah silahkan duduk." Ucap Ibu Agha.
"Jadi begini, bagaimana menurut mu tentang menjodohkan anak?" Ucap ibu Agha tanpa basa-basi. "Yah?" Ibu Asil menjadi semakin bingung.
"Eh, maaf. Apakah pernah memikirkan untuk menjodohkan Asil?" Tanya ibu Agha. "Oh, kalau soal itu, hmm saya tidak mau membebani anak saya nyonya." Ucap ibu Asil. "Hm, bagaimana?" Ibu Agha bertanya heran dengan pernyataan ibu Asil. "Eee, gini kalau saya tidak ingin menjodohkan Asil, saya lebih suka dia mencari pasangan hidup nya sendiri.Saya tidak mau menyesal, bagaimana jika anak saya tidak bahagia dengan pasangannya. Saya hanya ingin melihat kebahagiaan Asil saja." Jelas ibu Asil. "Oh, begitu yah, oke. Terimakasih bu Asil." Ucap ibu Agha. "Baik nyonya, o iya apakah saya bisa pergi?" Ibu Asil meminta izin. "Iya, iya silahkan." Ucap Ibu Agha dengan wajah yang berseri-seri.
"Uhuhu, apa kubilang memang pemberi saran terhebat adalah ibu-ibu. Baiklah aku akan berusaha membuat Agha jatuh cinta kepada Eren." Gumam ibu Agha.
......................
"Aku sangat muak dengan pembahasan perjodohan itu." Ucap Agha yang di penuhi emosi. "Tuan, anda bisa menjalani nya terlebih dahulu." Saran Balian. "Tidak bisa seperti itu, itu sama dengan hmmm memanfaatkan wanita." Ucap Agha. "Hah?" Balian terkejut dengan kata-kata Agha. "Eh.. Tadi apa yang aku bicarakan." Ucap Agha lagi. "Ti-tidak ada tuan." Balian berkeringat dingin. Agha berdiri dari duduk nya.
"Putri Baris, siapa namanya?" Agha menyilangkan tangan di depan dada, sambil berjalan bolak-balik.
"Oh, itu. Kalau tidak salah, nyonya bilang Eren." Jawab Balian. "Oh Eren, perasaan pernah ibuku mengatakan nama itu. Hah, memang yah orang yang tidak penting itu susah diingat." Tukas Agha. "Asil?" Balian berbicara pelan. "Apa kau bilang, wanita itu aku ingat karena dia slalu ada disekitar ku.Maksudnya kan ibu ku menjadikan nya asisten ku, karena ibuku berteman dengan ibu nya." Yah, dulu diwaktu SMA dan di Universitas ibu Agha dan ibu Asil bersahabat, mereka sangat dekat.
Namun pada saat lulus mereka berpisah dan menuju jalan masing-masing, nasib mereka sama.
__ADS_1
Mereka harus tinggal bersama lekaki yang kasar. Begitulah takdir mereka, ibu Agha bercerai dengan suaminya karena sudah tidak tahan dengan perlakuan yang kasar.
Dan mulai menjadi ibu tunggal lalu ia bekerja keras sehingga bisa mendirikan perusahaan yang sangat besar, anak nya menjadi penerus perusahaan dan pemimpin perusahaan namun, Agha membuat jalan lain karena dia tidak puas mempunyai jabatan presdir, Agha membuat jalan lain dengan masuk kedunia mafia dan menjadi bos terkemuka. Itulah awal dari pembentukan sifat Agha yang penuh wibawa, dan menghilangkan sifat kemanusiaan nya mungkin ada namun hanya seujung kukunya saja.
"Baris, sangat licik mungkin. Menggunakan anaknya untuk membayar hutang dengan ibuku, cih sangat licik menjual putrinya sendiri." Ucap Agha sambil tersenyum kejam. "Maka dari itu, aku akan membuat hidup nya seperti dineraka.Bagaimana bisa dia membujuk ibuku apa yang dia pikirkan. Masuk ke wilayah ku berarti dia memberikan nyawanya untuk ku." Tegas Agha. "Jadi bagaimana tuan?" Balian ikut berdiri.
"Kau cari informasi tentang wanita itu, dan selesaikan dia segera buang saja. Aku muak sekali, belum melihat nya saja aku sudah jijik bagaimana jika aku melihat nya." Ucap Agha sambil menghela nafasnya. "Baik tuan." Balian menjawab dengan tegas, sambil tersenyum.
"Asik! Mangsa baru. Aku akan membunuhnya, wah sudah lama sekali aku tidak ditugaskan seperti ini. Tuan Agha memang baik, pantas saja aku menyukainya." Gumam Balian yang kegirangan mendengar Agha memberi tugas kepadanya.
Nama : Balian
Umur : 22 tahun
Pekerjaan : Ajudan (ajudan kesayangan tuan Agha)
Balian adalah anak yang diadopsi oleh ibu Agha, pada saat itu Balian tidak punya siapapun. Ibu dan ayah Balian meninggal dalam sebuah kebakaran, di perusahaan tempat ayah dan ibunya bekerja.Balian yang masih belia tidak punya siapapun, ia hidup terlantar. Namun ibu Agha menemukan Balian, dan langsung bersimpati.Dan akhirnya tanpa pikir panjang Balian diangkat sebagai anak oleh ibu Agha.Tetapi Balian tetap berlaku sekedarnya, dan tetap memanggil ibu Agha dengan panggilan nyonya, kadangkala ia memanggilnya dengan sebutan ibu namun itu jarang terjadi.
Balian diadopsi saat umurnya masih 7 tahun, pertama kali Balian melihat Agha ia seperti melihat sosok Agha seperti seorang kakak, Agha dengan sifat dinginnya walaupun sifat nya yang sekarang lebih berbeda.
Ketika pertama kali bersekolah Balian mendapatkan banyak cacian dari teman-teman nya. Namun Agha slalu menjadi yang terdepan melindungi adik angkatnya, yah itulah yang membuat Balian slalu ingin berada di dekat Agha dan melindungi Agha seperti yang ia lakukan pada Balian disaat mereka masih kanak-kanak.
__ADS_1
Bagi Agha sendiri Balian adalah adiknya, namun sangat sulit untuk mengungkapkan itu. Balian hanya memanggil Agha dengan panggilan tuan dikarenakan umur mereka bertaut jauh. Balian terkadang memanggil Agha dengan panggilan kakak pada saat-saat tertentu, seperti saat hanya diam berdua tanpa pekerjaan. Namun yah Balian tidak slalu sering memanggil Agha dengan panggilan itu. Bagi Agha itu adalah kata-kata yang sangat langkah untuk didengar dari Balian. Sementara Agha tetap bersifat dingin dan dewasa.
...****************...