Penakluk Hati Sang Mafia Kejam

Penakluk Hati Sang Mafia Kejam
Chapter 3 (Episode 4)


__ADS_3

Agha, Balian, dan Asil akhirnya tiba di rumah.


"Haa..... Aku lelah!" Gumam Asil sambil merebahkan tubuhnya.


"Apakah bole jika aku kagum melihat tuan Agha? Ah, apa ini bagaimana bisa. Tidak dia hanya bersimpati saja." Batin Asil yang masih mengingat kata-kata Agha.


"Hei anak cantik ibu." Sapa ibu sambil duduk di samping Asil. "Uh? Ibu." Balas Asil sembari merubah posisi menjadi duduk.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya ibu. "Ah tidak ada, aku hanya memikirkan tentang pekerjaan ku." Jawab Asil, menutupi perasaannya. "Apakah kau mengalami kesulitan?" Tanya ibu lagi. "Oooh, tidak." Jawab Asil. "Kau adalah anak ku, ibu tahu apa yang sedang terbenam di hati mu." Ucap ibu. "Umm, ibu. Apakah salah jika seseorang mengagumi orang lain yang melebihi dirinya sendiri?" Tanya Asil sambil membaringkan tubuh di pangkuan ibu.


"Hah? Siapa yang kau kagumi?" Tanya ibu. "Tidak ada. Aku hanya bertanya." Jawab Asil tetap menyembunyikan perasaan nya. "Ah anak ini, katakan siapa orangnya?" Tanya ibu lagi. "Aku tidak yakin, orang yang sangat ku kagumi adalah tuan besar Agha Sezen." Jawab Asil. "Apa yang terjadi? Apakah tuan besar mengatakan sesuatu?" Tanya ibu kepada Asil. "Tidak, bukan hal yang penting. Tapi jika aku melihat nya, dia seperti orang yang hangat." Jawab Asil sambil tersenyum. "Umm, ibu tau. Karena ibu juga pernah mengagumi seseorang, yang dibutuhkan hanyalah berusaha. Jika kau dengan tulus mencinta nya, maka dia juga akan sama." Jelas ibu. "Ah ibu, ini bukan cinta. Kenapa ibu tidak melarangku?" Ucap Asil. "Kau hanya belum tahu perasaan mu sendiri, ibu tidak melarangmu karena ibu tahu apa yang kau lakukan itu adalah yang terbaik. Ibu akan melarangmu jika itu bertentangan dengan keinginan mu sendiri." Jelas ibu sambil mengelus lembut kepala Asil.


.


.


.


.


...----------------...


Keesokan harinya.


"Wah... Pagi yang indah dan cuaca nya juga cerah, aku akan naik bus untuk kekantor." Gumam Asil sembari merenggangkan tubuhnya.


Selesai menikmati matahari paginya Asil kembali beraktivitas.


.


.


.


.


.


"Nana, aku akan pergi ke kantor di pagi indah ini. Melihat wajah tuan yang menyeramkan." Gumam Asil sedikit tertawa, sembari merapikan rambut panjang nya.


.


.


.


.


.


.


.


"Ah itu dia Asil." Ucap Balian yang menengok kearah Asil yang baru selesai bercanda.

__ADS_1


"Uh?Iya ada apa tuan?" Tanya Asil. "Ibu ingin kau bertemu dengan seseorang." Jawab Balian sambil tersenyum. "Seseorang? Siapa?" Tanya Asil penasaran. "Ayo ikut dengan ku!" Ajak Balian.


.


.


.


.


.


"Ayo cepat-cepat." Ucap Balian sambil berlari menaiki tangga. "Iya, iya, tapi kenapa keatas? Memang nya siapa yang ingin bertemu?" Tanya Asil tambah penasaran.


Balian tidak menggubris pertanyaan Asil, dan tetap berjalan.


.


.


.


.


.


"Nah disini." Ucap Balian. "Uh? Ini ruangan kerja nyonya besar kan?" Tanya Asil. "Iya." Jawab Balian singkat. "Hah? Apakah aku membuat kesalahan?" Tanya Asil ketakutan. "Ahaha, dasar si negatif thinking. Ayo, kita hari cepat." Ucap Balian sambil tertawa kecil.


Cklek. "Permisi." Ucap Balian sambil membuka pintu.


"Ah ini mereka." Sahut ibu Agha sambil tersenyum.


"Ayo sini, masuklah." Ucap ibu Agha. "Oh baiklah." Balas Asil.


"Nah Asil biar ku perkenalkan ini adalah ibuku." Ucap ibu sambil memperkenalkan seorang wanita tua. "Ooh.Ha-halo nyonya." Sapa Asil.


"Haha, dia sangat sopan. Nak jangan memanggilku begitu, kau panggil saja aku nenek Anka." Ucap nenek Anka sambil tersenyum. "M-maafkan saya nyonya, eh maksudnya nenek." Ucap Asil gugup.


"Apakah dia wanita yang slalu kau ceritakan?" Tanya nenek kepada ibu Agha. "Oh iya bu, bukankah dia sangat cantik?" Jawab ibu. "Apakah Agha menyukainya?" Tanya nenek lagi. "Hah? A-apa, maksudnya apa?" Tanya Asil kebingungan. "Eh, haha. Tidak ada, aku hanya bertanya iseng saja." Jawab nenek karena lupa Asil ada di dekat nya. "Asil kau akan dibunuh oleh kakak." Ucap Balian pelan. "Huh?"/ "Hei Balian, kau akan ibu hukum." Ucap ibu sambil menarik telinga Balian. "Ah tidak, aku hanya bercanda." Gerutu Balian.


Cklek. "Ah, pagi semuanya." Ucap Balian sambil melangkahkan kakinya memasuki ruangan ibu.


"Aduh cucu ku hari ini terlihat begitu tampan." Ucap nenek sembari menghampiri Agha. "Nenek, selamat pagi." Sapa Agha sambil tersenyum. "Aku lebih tampan." Ucap Balian pelan.


"Oh yah, Agha nenek, Balian, dan ibu juga, kami ingin membicarakan sesuatu yang penting." Ucap ibu. "Penting? Memangnya apa?" Tanya Agha. "Sangat penting, kau akan terkejut jika tahu." Ucap Balian. "Aduh cucu ku yang satu ini, kau juga harus mencari gandengan." Ucap nenek menggoda Balian. "Aku tidak mau itu, jika aku begitu maka ibu akan sendirian, dan tidak ada teman untuk berbicara." Ucap Balian sambil tertawa kecil.


"Uh? Gandengan? Jadi tuan Agha akan dijodohkan lagi, baiklah itu tidak masalah aku akan bahagia jika tuan bahagia. Ah, lebih baik aku pergi, mungkin mereka ingin cepat memulai pembicaraan nya." Batin Asil.


"Umm, nyonya, nenek. Aku akan berangkat bekerja sekarang." Ucap Asil. "Ah, kenapa cepat sekali?" Tanya nenek. "Maaf nek, tapi ada banyak pekerjaan di kantor." Jawab Asil. "Oh begitu yah, yah suda hati-hati." Ucap nenek sambil mengelus lembut wajah Asil. "Baiklah, aku permisi dulu. Sampai jumpa nanti nenek." Ucap Asil dan berlalu pergi.


.


.


.

__ADS_1


"Jadi apa yang akan dibicarakan?" Tanya Agha. "Hah.... Anak itu sangat sopan, pantas jika kalian sangat menyukai nya. Aku juga suka." Ucap nenek sambil menghela nafasnya. "Apakah kita akan membahas anak kecil itu?" Tanya Agha lagi. "B-bukan." Jawab ibu. "Lalu?" Tanya Agha penasaran. "Kau dan dia." Jawab Balian enteng. "Yah? A-aku dan dia? Apa ini, hah aku tidak mau!" Tukas Agha dan langsung berdiri.


"Heo, Agha dengarkan dulu." Ucap ibu menenangkan Agha. "Iya, aku pernah melihat kakak memeluk Asil." Celoteh Balian. "He-hei apa yang kau katakan? Memeluk nya? Hah aku tidak pernah melakukan itu." Gerutu Agha. "Aku melihat nya." Ucap Balian pelan. "Kau menguntit." Balas Agha.


"Sudah-sudah jangan bertengkar, kalian ini ibu nya juga Ikut-ikutan." Ucap nenek menenangkan suasana. "Maaf ibu." Ucap ibu Agha tersipu malu.


"Agha, nak nenek ingin membahas pernikahan mu. Apakah kau akan begini terus? Hidup dalam kesendirian?" Tanya nenek kepada Agha. "Hah.... Kemarin aku dijodohkan seperti ini, dan yang datang adalah ular." Ucap Agha. "Wanita yang kali ini sangat spesial, dia akan mampu merawat mu, dan slalu mencintai mu." Ucap nenek lagi. "Dia adalah anak kecil." Gerutu Agha. "Asil lebih dewasa daripada kakak." Tukas Balian.


"Ah sudah la aku ingin pergi bekerja, permisi nenek, sampai jumpa nanti." Ucap Agha dan langsung keluar dari ruangan.


"Mereka hanya butuh waktu berdua." Ucap Balian sambil tersenyum. "Iya, sangat sulit untuk meyakinkan hati Agha." Ucap ibu sambil menghela nafasnya.


.


.


.


.


.


.


Agha menyetir mobilnya dengan kecepatan penuh.


"Lagi-lagi dijodohkan, kemarin dengan ular dan hari ini dengan anak kecil." Ucap Agha kesal. "Tapi apakah dia mencintaiku, terlihat dari ekspresi yang dia berikan saat aku memangkunya waktu itu, kemarin di pestifal balon udara, dan hari ini. Ah.. Tapi itu juga sudah biasa." Gumam Agha sambil sesekali menghela nafasnya.


......................


.


.


.


.


.


.


Sesampainya di kantor, Agha sudah berada didepan ruangan nya. "Kenapa aku jadi begini, aku tidak bisa melupakan kata-kata nenek, huuu... Awas saja nanti kau Balian." Gumam Agha, dan membuka pintu dengan pelan.


"Uummmm, kenapa aku tidak bisa berhenti memikirkan nya." Ucap Asil sambil menempelkan wajahnya diatas meja.


"Apa yang dia lakukan." Batin Agha sambil melihat Asil diam-diam.


"Aaaa! Apakah aku harus mengatakan sebelum terlambat, tuan Agha aku mencintaimu, mengagumi mu, menyukai mu. Aaa! Ingat harga diri Asil, iuh aku akan terlihat gampangan jika seperti itu pasti lelaki itu akan tertawa ketika melihat ku, atau mungkin dia akan ilfil dan tidak menyukai ku. Aaa Tuhan, jika aku tidak mengatakan perasaan ku aku akan terluka jika aku mengatakan nya dia akan membalas atau akan membenciku, dan jika seperti itu maka hubungan tuan dengan nona akan hancur. Aaa tidak aku akan tetap menyimpan perasaan ku, aku tidak boleh menjadi orang yang jahat. Aku akan bahagia jika tuan bahagia." Ucap Asil sembari berdiri menyemangati dirinya sendiri, namun tidak menyadari kehadiran Agha dibelakangnya.


"Cih, aku ingin tertawa melihat tingkahnya. Dasar anak kecil, ah tidak aku tidak akan menyia-nyiakan wanita yang baik ini." Batin Agha sambil melangkah menuju Asil.


.


.

__ADS_1


.


...****************...


__ADS_2