Penakluk Hati Sang Mafia Kejam

Penakluk Hati Sang Mafia Kejam
Chapter 3 (Episode 2)


__ADS_3

"Asil, kau harus slalu kuat. Kau harus hidup dengan bahagia, kau harus mencari seseorang yang bisa menjaga mu. Jika suatu hari nanti ibu pergi, akan ada yang slalu menjaga mu, mendengarkan curhatan mu." Ucap ibu yang tanpa sadar meneteskan air matanya. "Ah? Ibu? I-ibu kenapa menangis? Jika bisa aku hanya ingin ada di sisi ibu, dan ibu juga begitu, kau tidak boleh pergi apapun yang terjadi, tidak, kau tidak akan meninggalkan aku. Jika kau pergi maka aku akan terus mengejar ibu." Balas Asil dengan air mata yang sudah tergenang, Asil tidak ingin menunjukkan kesedihan nya sambil memeluk erat tubuh ibu.


"Kau harus kuat." Ucap ibu sambil melihat wajah Asil. "Akan aku usahakan ibu." Balas Asil.


.


.


.


.


.


.


Sementara itu.


"Hm, ini membosankan. Memang aku lebih baik bekerja." Gumam Balian


"Aaaaaa!Eh, iya,aku lebih baik menemui kakak." Gumam Balian sambil berjalan menuju pintu.


.


.


.

__ADS_1


.


.


"Tuan!" Panggil Balian sambil mengetuk pintu kamar Agha.


"Iya, sebentar!" Sahut Agha.


Cklek. Suara pintu terbuka


"Kenapa?" Tanya Agha tanpa basa-basi. "Wangi sekali, kakak punya sabun baru yah?" Tanya Balian yang mencium bau harum dari tubuh Agha. "Eh? I-iya memangnya kenapa?" Agha balik bertanya keheranan. "Ah, tidak apa-apa." Jawab Balian.


"Lalu, apa yang kau inginkan?" Tanya Agha lagi. "Oh tidak ada." Jawab Balian. "Ha..... Ada-ada saja." Agha menghela nafasnya. "Kau lelah?" Tanya Balian. "Tidak." Jawab Agha singkat. "Aku boleh masuk?" Tanya Balian lagi. "Oh, boleh." Jawab Agha.


"Kak, aku ingin bertanya sesuatu kepada mu." Ucap Balian membuka percakapan. "Oh, apa?" Tanya Agha. "Hmm, apakah kakak pernah mencintai seseorang?" Tanya Balian dengan nada serius. "Aku? Seperti nya , aku juga tidak tahu." Jawab Agha sambil menyibak rambut di wajahnya. "Hah? Yang benar saja? Ternyata feeling ku benar." Ucap Balian sambil bertepuk tangan.


"Bagaimana jika seseorang yang ada di dekat mu mencintai mu?" Tanya Balian lagi. "Umm.... Aku akan menjawab tergantung." Jawab Agha dengan senyuman tipis nya. "Eh? Hu... Kakak ternyata plinplan." Gerutu Balian. "Hei kau harus tau kondisi." Balas Agha sambil tertawa kecil. "Yah, yah. Aku tau kondisi." Celoteh Balian kesal.


"Cih, dia menjawab seperti materi di buku. Singkat, padat, jelas, sedikit plin-plan." Gumam Balian kesal.


"Adik kecil ku sudah tumbuh dewasa." Batin Agha sambil mengelus kepala Balian.


.


.


.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


"Ah.. Aku mengantuk!" Gumam Asil sembari merebahkan tubuhnya.


...----------------...


Keesokan harinya.


"DuduೄྀNanaೄྀೄྀ." Gumam Asil sembari membersihkan ruangannya.


"Pagi ini indah, tuan belum datang. Aku bisa bekerja dengan tenang, tidak melihat tatapan tajamnya, hah.... tatapannya kenapa sangat menakutkan." / Cklek. "Oh kau berharap tidak bertemu dengan ku." Tegur Agha sambil berdiri didepan pintu.


"O, ou." Gumam Asil sambil menoleh kearah pintu.


"T-tuan Agha, selamat pagi." Sapa Asil ketakutan. "Cih anak ini." Ucap Agha tanpa menggubris sapaan Asil.


"Lah? Terasa percuma." Batin Asil.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2