Penakluk Hati Sang Mafia Kejam

Penakluk Hati Sang Mafia Kejam
Chapter 2 (Episode 9)


__ADS_3

Keesokan harinya.


"Oh iya, Asil ada bersama ku. Kami masih ingin meliburkan diri dari tugas." Ucap Agha di ponsel nya. "Ah yang benar saja kemarin kalian juga sudah liburkan." Balas ibu. "I-iya tapi kan, hari ini adik kecil ingin berenang." Jelas Agha. "Oh baiklah, jangan terlalu lama di sana. Dan jangan lupa makan dengan baik." Ucap ibu. "Iya baiklah." Balas Agha, dan telpon langsung di akhiri.


.


"Huu..... Lagi-lagi ini terjadi, aku harus melihat anak kecil itu." Gumam Agha sambil menghela nafas.


"Kak ada apa?" Tegur Balian. "Oh, umm. Tidak ada, hanya masalah kecil. Sepertinya kita harus kembali." Balas Agha. "Hah? Memangnya kenapa? Aku masih ingin bersenang-senang." Gerutu Balian. "Ada masalah yang sedang terjadi." Jawab Agha. "Masalah? Apakah ular itu lagi?" Balian langsung menerka.


"Hm.... Baiklah, ayo.kita akan mencari tahu apa yang terjadi." Ucap Agha dan langsung berjalan. "Wah, wah, keadaan yang sangat gawat. Dia seperti nya sangat perduli." Gumam Balian sembari mengikuti langkah Agha.


"Tu-tuan Agha." Sapa seorang staff kepada Agha. "Oh.Apakah Asil masih ada di ruangan?" Tanya Agha. "Asil? Asil sudah lama keluar." Jawab nya.


Agha berjalan cepat menuju ruangannya dan Balian tanpa banyak bicara langsung mengikuti Agha.


"Tidak ada!" Ucap Agha. "Apa jangan-jangan filing mu benar." Ucap Agha kepada Balian. "Wah, ular ini." Balian tersenyum dan menggandeng tangan Agha.


......................


"Halo." / "Agha, katakan apa yang sebenarnya terjadi." / "Hu? Ibu tidak perlu khawatir, aku sudah tahu siapa dalangnya." / "Selesaikan dia, dan batalkan perjodohan nya. Kita tidak bisa berdamai dengan ular itu." Tut..... Telpon langsung berakhir


"Akhirnya bisa bergerak." Ucap Balian. "Kau mendengar nya? kita akan menghabiskan waktu ini dengan permainan." Ucap Agha sembari membuka pintu mobil.


Prok..... prok. ... prok.... Suara tepuk tangan kebahagiaan si penghianat. "Pasti si bodoh Agha tidak tahu apa yang bisa putri ayah lakukan." / "Benar sekali ayah, sudah dua kali dia kecolongan begini. Bodoh sekali."


"Wah, wah, wah. Ku lihat kalian sedang bermain rupanya." Ucap Balian sambil duduk di samping Baris.


"Hu.. kau!" Baris terkejut dengan kedatangan Balian.


"Lanjutkan saja, jangan perdulikan aku." Ucap Balian sambil tersenyum kecil. "Ah... Apa yang kau bicarakan Balian?" Balas Baris. "Apa ya, umm... Oh iya, apa nama permainan nya?" Tanya Balian. "Permainan?" Baris terlihat kebingungan untuk menghadapi Balian. "Hah.... kau juga tidak tahu yah, padahal aku juga ingin bergabung. Kakak ku juga tertarik loh nona Eren." Ucap Balian sembari berjalan menuju Eren.


"Heh... Aku tidak mengerti." Balas Eren. "Ck, ck, ck. Polos nya." Balas Balian.


Tap. Tap. Suara langkah kaki menuju mereka.


"Tuan Agha. Untung saja anda datang, lihat apa yang pelayan ini lakukan. Dia mengancam kami." Ucap Baris sambil berlari mendekati Agha.


"Siapa? Pelayan? Cih. Harga kalian sangat murah!" Ucap Agha dan langsung menodongkan pistol kepada Baris. "A-apa ini tuan, aku tidak tahu apapun." Ucap Baris yang sudah ketakutan melihat wajah dingin Agha. "Apa? Apa lagi? Ini adalah sebuah permainan, kulihat calon istri ku tercinta senang bermain." Ucap Agha dengan senyuman. "T-tuan apa maksud mu?" Ucap Eren sambil memegang tangan Agha. "Sayang, kau suka permainan nya kan?" Tanya Agha sambil mengelus wajah Eren. "Pe-permainan apa?" Eren langsung gemetaran dan menghindar.


"Ayolah, bukankah kau menyukai permainan nya? Apakah sekarang kau menjadi ciut?" Agha kembali melemparkan senyuman kepada Eren. "Bukankah kau menyukai ku?" Lanjut Agha, pertanyaan yang Agha lontarkan membuat Eren gemetar ketakutan.

__ADS_1


"JAWAB AKU!" Teriak Agha sambil mencengkeram kuat tangan Baris dan Eren. "Apakah kalian tidak ingin bermain? Jadi siapa pemenangnya?" Ucap Agha dingin.


"Tu-tuan a-aku tidak bermaksud meng-hianati mu. I-ini karena ayah ku, dia memaksaku." Ucap Eren gemetar. "Wahh, aku terkejut. Kau adalah wanita yang sangat licik, tapi sayang itu tidak berguna untuk ku." Ucap Agha dan langsung menarik Eren dan Baris.


......................


Bruk. "Dimana Alden?" Tanya Balian dingin sambil membanting tubuh Eren dan Baris.


"JAWAB AKU!" Teriak Balian kepada seorang pelayan. "M-mansion." Jawab pelayan itu ketakutan.


"Pulau." Gumam Agha.


Balian tanpa berkata-kata dan kembali menarik Baris dan Eren.


......................


"Tuan ada yang ingin bertemu dengan anda." Ucap seorang pelayan kepada Alden. "Hah? Baiklah." Ucap Alden.


"Lama sekali." Ucap Balian. "Apa yang kalian lakukan disini?" Tanya Alden terkejut. "Kau juga tidak tahu yah, seharusnya kau memilih sebelum menjadikan seseorang sebagai pelayan mu." Ucap Balian. "Apa yang kau ingin kan?" Tanya Alden dingin. "Berhentilah bersikap Berwibawa!" Teriak Balian.


"Aku hanya ingin melihat wajah penghianat. " Ucap Agha dingin. "Hm.. Apa yang kalian inginkan?" Tanya Alden lagi. "Aku ingin melihat permainan mu." Jawab Agha sembari tersenyum. "Apa, kau terlalu bertele-tele." Ucap Alden. "Kembalikan anak kecil miliku." Ucap Agha. "Heh, enak saja. Dia sudah menjadi milik ku, calon istri mu sendiri yang memberikan nya kepada ku. Bukankah anak itu adalah penggoda." Ucap Alden sambil tertawa kecil.


"Ah iya, ayo kita bermain tanpa senjata. Aku sangat ingin melihat keberanian mu. Jika kau menang akan aku kembalikan, jika tidak dia tetap milikku." Ucap Alden lagi.


"Dasar aneh." Gumam Balian.


.


Tanpa pikir panjang Agha langsung menerima tawaran Alden, mansion Alden yang semuanya indah langsung berubah menjadi kapal pecah.


"Apa yang membuat mu sangat ingin menyelamatkan anak itu?" Tanya Balian sambil tetap memberikan perlawanan kepada Agha. "Aku tidak perlu menjawab pertanyaan mu." Ucap Agha dingin. "Kau harus punya tujuan Agha!" Teriak Alden. "Apa penting nya!" Balas Agha.


Permainan mereka langsung berhenti Alden kembali mengatur nafasnya yang ngos-ngosan karena melawan Agha.


"Aku tidak menyangka kau sangat kuat." Ucap Alden memuji. "Karena kita sama-sama menjalankan bisnis aku akan mengembalikan milikmu. Walaupun dulu dia adalah milikku." Ucap Alden.


"Hah.. Apa maksud mu?" Tanya Balian bingung. "Kau akan tau." Jawab Alden.


"Derya!" Panggil Alden.


.

__ADS_1


"I-iya tuan." Sahut Derya sembari berlari menuruni tangga. "Panggil anak itu." Ucap Alden. "Baik tuan." Balas Derya.


"Kenapa?" Ucap Asil sambil tertunduk.


"Ada seseorang yang mencarimu." Ucap Alden.


"Hu? Tuan! Kau datang." Ucap Asil sambil memeluk Agha. "Kau kenapa?" Tanya Agha dingin. "Ah? A-aku hanya bahagia saja." Balas Asil.


"Baiklah dia milikmu, jaga dia baik-baik." Ucap Alden. "Hah? Maksudnya apa? Bukankah kau tidak akan melepaskan aku?" Asil bertanya kebingungan. "Aku melepaskan mu jangan membuat aku berubah pikiran." Ucap Alden sambil berlalu pergi.


"Aku pernah menolaknya dulu, dan sekarang dia tidak mengenaliku. Dia sudah lupa, baguslah. Aku tidak perlu diingat oleh nya, karena itu akan menjadi rasa sakit, tapi bukan salah ku siapa suruh dia menyukaiku." (Alden adalah kakak tingkat yang disukai oleh Asil, untuk menghindari kenangan yang menyakitkan bagi Asil Alden memilih diam dan tidak mengungkit siapa dirinya.


Kejadian sebelumnya/3Tahun yang lalu: "Eh liat tuh dia terus merhatiin kearah sini deh Al." Ucap Erdem kepada Alden / Erdem adalah teman akrab Alden di SMA. "Cih bocah tengil." Balas Alden.


Suatu hari.


"Ha-hai." / "Al ini nih anak yang kemarin, dia bilang mau kenalan sama kamu." Ucap Erdem sambil memperkenalkan Asil. "Udah a, aku gak perduli." Balas Alden dan berlalu pergi.


"Eh? Um, yah sudah lah. Saya permisi kak.


" Ucap Asil. "Maaf yah." Balas Erdem.


Di hari yang lain.


"Hai kak. I-ini gelang buat kakak sebagai permintaan maaf aku, untuk yang kemarin. Maaf karena kakak tidak nyaman." Ucap Asil sambil memberikan gelang kepada Alden. "Apasih.Pergi sana." Ucap Alden tidak perduli.


"Hah? Sakitnya." Gumam Asil.


.


"Kemana yah anak itu?" Ucap Erdem kepada Alden. "Hi, kamu suka anak ingusan?" Ucap Alden. "Aku cuma penasaran biasanya dia bakalan ngeliatin kamu." Ucap Erdem. "Cih, paan sih. Gitu juga banyak diluaran, aku sering ketemu juga sama cewek murah gitu." Ucap Alden. "Hei hati-hati kalo ngomong." Balas Erdem. "Lah memang gitu kan." Alden tertawa kecil.


Trak.... Suara sesuatu yang terjatuh.


"Hah? A-Asil. Sejak Kapan disitu?" Tanya Erdem terkejut. "Oh, maaf jadi aku menguping pembicaraan kalian. Permisi kak." Tanpa berbasa-basi Asil langsung pergi menjauh.


"Padahal dia cuman mau deket aja, gak nyangka responnya." Ucap Erdem sambil menepuk punggung Alden, Alden hanya diam tanpa berbicara.


Lalu beberapa hari akhirnya Asil tidak menampakkan diri didepan Alden, tidak seperti biasanya. Sisi lain Alden merasa bersalah karena perkataan nya sendiri. Dan akhirnya rasa bersalah menyelimuti Alden, sehingga kalaupun bertemu Alden lebih memilih menghindar.


Setelah bertemu dengan Asil lagi, Alden sangat terkejut.Namun tetap mengingat hal yang sudah lama berlalu.)

__ADS_1


...****************...


__ADS_2