
"Umm, apakah dia marah? Ah, ini kan masih pagi kenapa suhunya naik." Gumam Asil.
"Hei! Apakah kau akan berdiri disana saja,atau akan membersihkan ruangan?" Tegur Agha. "Eh e iya, iya tuan. Aku akan membersihkan ruangan." Balas Asil terkejut.
.
.
Gubrak!! Tiba-tiba pintu terbuka dengan keras.
"Hei! Pelan-pelan!" Teriak Agha.
"Eh.Maaf tuan, maaf. Tuan hari ini ada Pestifal!" Ucap Balian dengan bahagia.
"Uh? Pestifal apa?" Tanya Asil. "Ah iya kau juga harus melihat nya." Jawab Balian. "Hei kau harus menjawab, pestifal apa yang kau bahas?" Tanya Agha lagi. "Ini adalah kejutan, jadi ayo kita pergi!" Ucap Balian penuh semangat.
"Aku tidak mau." Tukas Agha. "Yah sudah, umm. Asil apakah kau ingin pergi bersamaku?" Tanya Balian kepada Asil. "Oh? A-aku? Apa boleh?" Asil tidak yakin akan dibolehkan oleh Agha. "Tidak." Jawab Agha singkat. "Ah, ayolah. Kau harus pergi disana ada pemandangan yang sangat indah." Ucap Balian meyakinkan Asil. "Hei, aku bilang tidak ya tidak." Ucap Agha dingin. "Tapi ini langkah bagi ku, bagi kita. Karena kita slalu sibuk, ayolah hanya sehari." Ucap Balian dan langsung menarik tangan Asil. Tanpa menggubris kata-kata Agha Balian langsung keluar ruangan.
"Anak ini." Gumam Agha.
.
.
.
.
.
.
"Hah? Kau akhirnya ikut." Goda Balian kepada Agha. "Cepat lah." Balas Agha dingin.
"Yah,ayo kita berangkat!" Ucap Balian bersemangat.
.
.
.
.
"Kita akan kemana?" Tanya Asil. "Umm bagaimana yah, aku tidak mau mengatakan nya. Ini adalah kejutan karena pemandangan nya nanti sangat indah, aku tahu kau pasti belum pernah kesana." Jawab Balian sambil tersenyum.
"Uh?" Asil diam dengan rasa penasaran nya.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
Setelah lama diperjalanan akhirnya mereka tiba di tujuan.
"Yaps, kita sudah sampai ayo turun!" Balian terlihat penuh semangat.
"Umm, tempat nya cukup jauh dari kantor ternyata." Ucap Asil. "Jika tempatnya berdekatan, maka ini akan jadi pemandangan yang biasa saja." Jelas Balian. "Oo begitu." Balas Asil. "Iya, ayo kita harus mencari tempat untuk duduk, kebetulan pestifal nya belum di mulai. Jadi kita harus menunggu." Ucap Balian sambil berjalan mengikuti Agha yang sudah berjalan lebih dulu.
.
.
"Wah, indahnya!" Ucap Asil sambil tersenyum sumringah melihat hamparan luas bunga tulip.
"Apakah kau suka?" Tanya Agha. "Eh? I-iya, aku sangat suka." Jawab Asil. "Ini akan terlihat indah jika ada sunset atau sunrise." Sahut Balian. "Oh begitu yah. Emm, apakah tuan muda Balian sering pergi kesini?" Tanya Asil. "Hmm, tidak terlalu sering, hanya jika ada pestifal saja. Kalau bunga ini aku sudah bosan melihatnya, tapi pestifal disana sangat indah!" Jelas Balian. "Wah beruntung nya.Akhirnya aku juga bisa menikmati hidup." Ucap Asil sambil tersenyum.
Setelah selesai melihat keindahan bunga tulip , mereka kembali berjalan sembari menikmati alam.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
......................
"Wah matahari nya sudah hampir terbenam!" Ucap Asil dan Balian bersamaan.
"Seperti biasa penuh semangat." Gumam Agha.
__ADS_1
"Wah, lihat, lihat itu tuan Balon nya terbang." Ucap Asil sembari menarik tangan Agha.
"Iya."Jawab Agha dingin. "Eh, maaf tuan." Ucap Asil terkejut melihat tangan yang digandeng nya.
"Kalian disini saja aku akan merekam momen yang ku tunggu." Ucap Balian sembari mengeluarkan kameranya. "Baiklah." Balas Asil
.
.
.
"A-apakah tuan Agha juga sering datang kesini?" Tanya Asil membuka pembicaraan, walaupun di penuhi ketakutan untuk berbicara. "Oh, aku ada sesekali datang, aku tidak tahu apa yang harus dinikmati dari pestifal seperti ini." Jawab Agha singkat. "Hah?" Asil terlihat bingung. "Yah aku datang hanya karna aku terpaksa menemani nyonya besar ataupun Balian." Jelas Agha. "Ooo.Kalau aku ini adalah pengalaman pertama ku, dulu aku sibuk harus sekolah dan bekerja paru waktu." Ucap Asil sambil tersenyum.
"Lalu ayahmu?" Tanya Agha. "Yah? Ayah, ayah ku, ah ntahlah. Ayah hanya menganggur, tapi dulu tidak ayah dulu punya pekerjaan itu sudah lama saat itu aku masih kelas satu SD." Jawab Asil. "Hm, begitu yah." Agha memberikan tanggapan singkat.
"Lalu sekarang?" Tanya Agha lagi. "Umm, aku juga tidak tahu. Ayah seorang pengangguran yang hanya bisa menyiksa ibu dan aku, saat pulang dari minum-minum pasti ayah akan marah-marah kepada ibu, aku slalu pulang lama agar tidak melihat pertengkaran mereka. Walaupun itu sudah biasa, namun ibu kuat dia tidak sama sekali membenci ayah bahkan ibu tidak meninggalkan ayah." Jelas Asil, dan tanpa ia sadari benteng air matanya runtuh. "Oh maaf kan aku, seharusnya aku tidak bertanya." Ucap Agha sambil mengusap air mata diwajah Asil.
"Ah maafkan aku tuan, terimakasih." Ucap Asil.
"Jika kau suka, kita akan kembali melihat pestifal ini." Ucap Agha sambil tersenyum. "Umm, terimakasih tuan besar." Ucap Asil tersipu.
.
Keadaan diantara Agha dan Asil kembali senyap, Asil dan Agha terlihat sangat menikmati keindahan alam yang terpampang luas di depan mereka.
.
.
"Wah selesai." Ucap Asil. "Dimana anak itu?" Tanya Agha sambil melihat keberadaan Balian.
"Hei yo, aku sudah mendapatkan video estetik yang aku inginkan!" Teriak Balian sambil berlari kecil menuju Asil dan Agha.
"Wah aku baru tau jika tuan muda suka menguat video." Ucap Asil.
"Hei coba kalian lihat. Indah bukan?" Tanya Balian sambil menunjukkan rekaman video yang ia ambil. "Indahnya!" Ucap Asil sambil tersenyum. "Uuuu, tentu saja. Aku ini adalah poto grafer yang hebat." Ucap Balian bangga kepada dirinya sendiri.
"Terlalu bangga diri." Tukas Agha. "Hei aku ini memang berbakat!" Ucap Balian.
"Dasar anak kecil. Cepatlah kita harus pulang!" Ucap Agha.
"Kakak harus mengakui kehebatan ku!" Tukas Balian kesal.
"Ayo Asil, kita harus pulang." Ucap Agha tanpa menggubris kata-kata Balian. "B-Baiklah.Ayo tuan Balian." Balas Asil sambil tersenyum.
"Ternyata dia lelaki yang baik dan pengertian, dia juga sangat hangat. Ah, tidak aku tidak boleh berlebihan, setiap orang juga begitu." Batin Asil.
.
.
.
__ADS_1
.
...****************...