
"Kau kenapa tidak memberi kabar kepada ibu?" Tanya ibu Asil. "Maaf Bu, aku tiba-tiba diberikan tugas jadi aku langsung mengerjakan nya agar besok tidak kerepotan lagi. Tapi ketika ingin memberi pesan kepada ibu, batrei ponsel ku habis. Nih liat nih gak mau hidup." Asil mengeluarkan ponselnya. "Oh seperti itu yah, baiklah. Lain kali kamu beritahu ibu yah." Ucap ibu yang lega ketika Asil berada di dekat nya. "Iya bu, maaf kan aku." Ucap Asil.
......................
Sementara Agha.
"Kenapa semua khawatir kepada anak itu?" Ucap Agha kepada Balian. "Mungkin karena dia seorang wanita kak, lagi pula umur nya masih kecil." Jelas Balian. "Oh apakah harus begitu." Ucap Agha menyilangkan tangan didepan dada. "Yah kakak juga khawatir kan?" Balian menggoda Agha. "Aku sih tidak." Agha berbicara dingin dan tenang, hati yang sangat keras. "Kau hanya tidak ingin mengaku." Ucap Balian. "Sudahlah, pergilah istirahat." Timpal Agha. "Wau perhatian." Goda Balian. "Sudahlah sana." Agha mendorong Balian kedepan pintu. "Baiklah, night kak." Balian melangkahkan kakinya. "Terimakasih adik kecil." Ucap Agha dan langsung menutup pintunya.
......................
Agha duduk dalam kesendirian nya, Agha slalu tidur terlambat karena tugas ataupun hal lain. Dipertengahan malam Agha hanya melihat kearah luar jendelanya. Ntah apa yang mengganggu pikiran Agha saat itu.
Tok, tok. Suara pintu kamar Agha diketuk.
"Agha kau sudah tidur?" Tanya seseorang dari luar,yang tidak lain adalah ibu Agha.
"Belum." Sahut Agha.
Cklek, pintu langsung dibuka.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya ibu sembari duduk di dekat Agha.
"Aku tidak memikirkan apa-apa." Jawab Agha. "Tidak mungkin, pasti ada yang mengganggu mu." Ucap ibu Agha mencari tahu. "Aku tidak memikirkan apapun." Agha masih teguh dengan jawaban nya di awal. "Kau pasti sedang punya masalah." Ibu terus menyelidiki. "Ah baiklah. Aku memikirkan adik kecil ku." Ucap Agha. "Balian.Apa yang terjadi?" Tanya ibu. "Ibu tahu dia memanggil ku kakak, bukan hanya sekali namun beberapa kali." Agha tersenyum. "Sudah lama sekali." Ucap Ibu sambil menghela nafas. Dan keadaan menjadi tenang.
"Apakah ibu boleh membahas sesuatu." Ucap Ibu kembali membuka pembicaraan. "Iya silahkan." Jawab Agha. "Apakah kau tidak menyukai Eren?" Tanya ibu. "Huh..... Melihat nya saja aku tidak pernah." Cetus Agha dingin.
"Apakah aku harus mempertemukan kalian." Gumam ibu Agha.
"Baiklah, ibu akan pergi." Ucap Ibu dan langsung berdiri. "Oh baiklah." Balas Agha.
Agha menghela nafas pelan. Agha terlihat nyaman sendirian.
"Aku harus tidur." Gumam Agha.
...----------------...
Keesokan harinya. Terlihat Asil bangun dengan cepat, dan telah bersiap-siap untuk pergi bekerja.
Asil melangkah keluar kamar.
"Semuanya sedang berkumpul, tapi kenapa tidak ada tuan Agha." Gumam Asil melihat ibu dan Balian sedang mengobrol.
__ADS_1
"Eh Asil, kesini nak." Panggil ibu Agha.
"Eh ketahuan." Gumam Asil. "Baik nyonya." Asil segera melangkah.
"Hari ini kita akan kerumah Baris." Ucap Ibu Agha. "Dan kita semua akan kesana, Asil kau ikut yah." Lanjutnya dan Asil membalas dengan Anggukan Kepala.
"Agha kemarilah!" Panggil ibu ketika melihat Agha di tangga. "Iya." Sahut Agha. "Kenapa mataku slalu melihat anak kecil itu." Gumam Agha.
Agha langsung duduk disamping Balian. "Kenapa?" Tanya Agha. "Apakah hari ini kita bisa pergi kerumah Baris?" Tanya ibu. Agha dan Balian saling melihat satu sama lain, Balian lalu menganggukkan kepalanya. "Baiklah." Ucap Agha.
"Ah dia mau, ini akan menjadi pernikahan pangeran dan putri. Ah apa yang aku pikirkan." Gumam Ibu. "Oh baguslah." Ucap Ibu.
"Wah tuan Agha ternyta menerima tawaran nyonya." Gumam Asil sambil tertunduk.
"Akan ku selesaikan permasalahan kakak." Gumam Balian.
"Ayo kita berangkat." Ajak ibu. "Hm, baiklah." Jawab Agha singkat.
......................
Sesampainya dikediaman Baris, seperti biasa keluarga terkemuka seperti keluarga Agha disambut dengan hormat. Walaupun terkadang Agha berpikir bahwa itu hal yang berlebihan.
"Selamat datang tuan nyonya." Sapa Baris.
"Bolehkah aku bertemu dengan putri mu." Ucap ibu. "Oh tentu nyonya, akan aku panggilkan." Ucap Baris.
Tak berapa lama akhirnya seorang wanita datang dengan gaya jalan yang sangat anggun.
"Wah cantik nya." Asil terpukau melihat kecantikan dan keanggunan wanita itu. Sementara Agha tetap dengan ekspresi tidak perduli.
"Hai semuanya." Sapa wanita itu.
"Wah cantik sekali." Ibu Agha memuji dan berdiri dari duduknya.
"Terimakasih nyonya." Sahut wanita itu.
Nama : Eren (Anak Baris yang akan dijodohkan kepada Agha)
Agha tidak perduli,dia tetap diam dengan pandangan dinginnya.
__ADS_1
Ibu kembli duduk, diikuti oleh Eren.
"Nyonya ini adalah Eren anak ku." Ucap Baris memperkenalkan anak nya. "Oh iya, aku sudah tahu itu." Ibu tersenyum.
"Oh yah, Eren ini adalah ibu dari tuan Agha." Ucap Baris. "Iyah ayah, aku sudah mengetahui tentang itu." Ucap Eren dengan senyuman.
"Dan ini adalah Agha." Ucap ibu memperkenalkan Agha yang hanya diam tidak perduli.
"Hai." Sapa Eren namun Agha tidak menggubris sapaan nya.
"Ahaha, maaf Agha sepertinya sedang memikirkan sesuatu." Ucap ibu sambil tertawa kecil. Agha menoleh kepada ibunya tanpa memberikan kata-kata.
"Iya, itu adalah Balian adik Agha, dan disamping ku adalah Asil." Ibu memperkenalkan semua yang ikut dengan nya.
"Asil juga adik Agha?" Tanya wanita itu polos. "Ah bukan, aku asisten tuan." Jawab Asil. "Oh asisten, kenapa ikut juga?" Tanya wanita itu tanpa punya perasaan salah. "Yah?" Asil terkejut mendengar nya. "Yah maksudnya, kau bukanlah anggota keluarga." Ucap Eren lagi. "Oh iya maaf kan saya." Asil menghela nafasnya dan tertunduk.
"Kenapa kau bicara seperti itu?" Agha angkat bicara. "Hah? Apakah aku salah? Itu benarkan." Ucap Eren. "Hu.. Polos sekali." Agha tersenyum kecil.
"Balian mau tunggu disini bersama ibu, aku dan Asil punya pekerjaan." Agha langsung berdiri. "Baiklah." Ucap Balian yang mengerti keinginan Agha. "Ayo Asil, kita masih punya pekerjaan." Agha menarik tangan Asil.
"Maaf kan sikap Agha yah, dia memang sedang sibuk tapi aku tetap memaksanya." Ucap ibu mencairkan suasana.
"Ah tidak apa-apa nyonya, maaf kan sikap ku." Ucap Eren polos.
"Cih bunglon. Berubah nya cepat sekali." Gumam Balian.
Setelah lama mengobrol, hanya ibu, Baris, dan Eren yang berbicara. Sementara Balian hanya diam mengawasi, sesuai dengan perintah Agha.
"Baiklah, terimakasih telah hadir nyonya." Ucap Baris dan menjulurkan tangan kepada ibu. "Iyah, aku juga berterimakasih kalian menerima kedatangan kami." Ibu membalas jabat tangan Baris.
Setelah ibu dan Balian pergi.
"Apakah mereka sekaya itu?" Tanya Eren. "Hm tentu." Ucap Baris. "Mengejutkan ternyata sangat sulit meluluhkan hati lelaki bodoh itu." Ucap Eren dan berlalu pergi.
......................
"Kenapa tuan membawa ku keatas atap begini?" Tanya Asil. "Hei jangan berpikiran aneh kau." Ucap Agha. "Heh? Aku hanya bertanya." Tukas Asil. "Kau harus melihat pemandangan dan terpaan angin sejuk dari atas sini." Ucap Agha sambil berjalan.
Asil mengikuti Agha. "Wah ternyata dari atas sini semuanya kelihatan!" Asil terpukau bisa melihat ribuan gedung dari atas atap gedung perusahaan mega yang di bangun oleh Agha.
__ADS_1
...****************...