
(PERTEMUAN DUA MAFIA KEJAM)
Keesokan harinya, Asil kembali disibukkan dengan pekerjaan nya. "Ini disini, buku yang ini di rak dua, buku yang ini seharusnya ada di rak tiga." Gumam Asil saat menyusun buku-buku di rak ruangannya.
.
.
"Wah, kau sangat rajin." Sapa Balian. "Eh, tuan. Iya aku sedikit membereskan buku-buku ini agar tidak berantakan." Balas Asil. "Uuuu! Umm apakah kau menyusunnya sesuai kelompok?" Tanya Balian. "Oh, tentu tuan. Agar tuan Agha bisa nyaman diruangan nya." Jawab Asil. "Ouh, ternyata kau perhatian kepada kakak ku." Ucap Balian sambil melirik beberapa buku. "Ah itu karena aku anak buah nya." Asil tertawa kecil. "Aku juga tahu tuan suka membaca buku." Ucap Asil lagi. "Iya, itu benar. Jika aku membaca buku perasaan ku akan tenang." Jelas Balian. Asil hanya menanggapi dengan anggukan.
......................
"Azel! Ide mu itu tidak ada yang bisa diguna." Teriak Eren. "Cih, daripada kau yang tidak memakai otakmu untuk berfikir." Tukas Azel. "Kalau begitu kau fikirkan hal yang akan kita lakukan selanjutnya." Ucap Eren.
.
.
.
"Aku tau!" Teriak Azel seketika. "Apa yang kau tahu?" Tanya Eren. "Ayo ikuti aku." Ucap Azel dan menarik tangan Eren.
.
.
.
"Kita akan kemana?" Tanya Eren. "Kau menyuruhku untuk berfikir kan. Jadi ini adalah rencana barunya." Jawab Azel.
Azel mengendarai mobil nya dengan kecepatan tinggi.
"He-hei pelan-pelan." Ucap Eren. "Ayolah, kita harus cepat." Balas Azel.
.
.
.
"Kita sampai." Ucap Azel dan langsung menghentikan mobilnya.
"Rumah yang megah!" Eren terpukau melihat rumah yang ada di hadapan nya.
"Ayo kita masuk." Ucap Azel dan mulai berjalan.
.
.
.
"Ini rumah siapa?" Tanya Eren. "Nanti akan ku beritahu." Jawab Azel.
"Ah... Terserah lah." Gumam Eren.
.
__ADS_1
.
.
"Hai." Sapa Azel kepada seorang pria yang sedang duduk membelakangi mereka. "Kau datang." Balas pria itu sembari beranjak dari duduknya.
"Wah kau bersama siapa?" Tanya pria itu. "Oh iya, ini adalah Eren. Eren dia adalah tuan Alden." Ucap Azel.
Nama :Alden
Status :Bos Mafia, pengusaha, menyukai persaingan.
Umur :Tidak diketahui
"Yah aku adalah Alden. Ah tidak, panggil aku tuan." Ucap Alden sembari mendekatkan wajahnya kepada Eren. Eren hanya diam melihat wajah dingin Alden.
"Aku tidak suka melihat rasa takut mu." Alden berbisik kepada Eren.
"M-maaf tuan." Balas Eren.
"Ha.... Apa yang kalian butuhkan?" Tanya Alden. "Kami butuh bantuan mu." Jawab Azel. "Kau? Atau kau ingin membantu nona ini?" Tanya Alden. "No, tepatnya kami." Ucap Eren. "Oh, kalian ingin bantuan seperti apa? Uang, atau kekuatan?" Tanya Alden lagi. "Apapun yang bisa kau bantu." Jawab Eren. "Hahha.... Apa ini konyol. Bagaimana mungkin kau tidak tahu apa yang kau ingin kan." Ucap Alden sambil tertawa. "Apakah kau tidak bisa membantu kami?" Tanya Eren. "Bisa, tentu bisa. Tapi taruhan nya sangat besar." Ucap Alden dingin. "Ikuti aku." Ucap Alden lagi.
.
.
.
"Silahkan duduk." Tawar Alden. "Terimakasih tuan." Balas Eren.
.
.
.
......................
"Kak hari ini ada seseorang yang ingin membuat janji temu dengan mu." Ucap Balian. "Janji temu, apakah penting?" Tanya Agha. "Ini persoalan bisnis. Katanya bisnis yang besar." Ucap Balian. "Dimana?" Tanya Agha. "Ya, hanya tempat yang pilihannya sangat aneh. Di bar Kuma." Ucap Balian lagi. "Sepertinya kita tahu dia." Agha tersenyum. "Yah sudah pasti." Ucap Balian.
...----------------...
Keesokan harinya. "Pagi cerah, cerah sekali." Gumam Asil sambil menyapu ruangan kerjanya, karena Agha tidak memperbolehkan orang lain untuk sembarang masuk kedalam ruangannya.
"Tuan ku memang tampan, tapi dia galak seperti sungai. Galak, galak, galak sekali. Marah-marah adalah pekerjaannya, tapi baik ketika ada mau nya." Asil bernyanyi dengan riang sambil tersenyum.
"Sangat indah nyanyian pagimu." Tegur seseorang. "Hah! Tuan! Itu, aku, aku hanya bernyanyi." Asil menoleh dan terkejut melihat Agha di dekat pintunya
"Iya, itu hanya nyanyian." Ucap Balian. "Maaf tuan, saya akan mengambil kopi untuk anda." Asil tertawa kecil melihat wajah Agha yang penuh kemarahan. "He, sangat pandai membujuk." Ucap Agha. "Aku juga mau!" Ucap Balian. "Baiklah." Balas Asil dan segera keluar dari ruangannya.
.
.
.
"Apakah kita akan membawa Asil?" Tanya Balian. "Ya, dia harus tahun tugas nya, lagipula ini pertemuan untuk kemajuan perusahaan. Disana juga ada pembahasan yang sangat penting jadi Asil datang untuk mencatat dan belajar." Ucap Agha.
__ADS_1
......................
Ruang pertemuan bar Kuma.
"Wah tuan Agha suda lama kita tidak bertemu." Sapa seorang pria tua kepada Agha sembari menjulurkan tangannya. "Tuan Amargan." Agha menerima jabat tangan dari pria itu. "Ternyata selain Balian kau hari ini juga mengajak istri mu." Ucap pria itu ketika melihat Asil dan Balian yang berdiri di belakang Agha. "Istri? A-aku bukan istri tuan, aku adalah asisten tuan yang baru." Jelas Asil. "Ohoho, oalah asisten toh, aku kira kau istrinya. Maaf kan aku." Ucap pria itu sambil tertawa.
.
.
"Kenapa terasa aneh ya." Gumam Asil. "Keu kenapa?" Tanya Balian kepada Asil. "Tidak apa-apa tuan, hanya saja seperti ada yang aneh." Ucap Asil. "Katakan jika ada yang membuat mu tidak nyaman." Bisik Balian.
.
.
"Wah itu sepertinya Alden." Ucap pria itu kepada Agha. "Alden?" Agha menoleh kearah yang di tunjuk oleh pria itu. "Dia juga pengusaha muda sama seperti mu." Ucap pria itu. "Oh ya." Balas Agha singkat dan memalingkan pandangan nya.
"Tuan Alden!" Panggil pria itu. Alden menoleh dan langsung menuju tempat Agha.
"Halo tuan-tuan bagaimana keadaan kalian?" Tanya Alden. "Sangat baik, aku tidak tahu ternyata kau sangat pandai mengembangkan bar milik ayahmu." Ucap pria itu kepada Alden. "Ah anda sangat banyak memuji saya. Terimakasih." Balas Alden.
"Oh ya, kau Agha. Apakah aku benar?" Tanya Alden. "Kau benar, senang bertemu dengan mu." Jawab Agha dingin. "Kau sangat berwibawa." Alden tersenyum dan melihat kearah Asil.
"Apa dia melihat ku. Apakah aku dia tidak menyukai ku." Gumam Asil.
"Hai nona." Sapa Alden kepada Asil. "I-iya tuan." Sahut Asil. "Siapa namamu?" Tanya Alden kepada Asil. "A-aku Asil." Jawab Asil.
"Tuan-tuan kita mulai pembicaraan nya!" Ucap seorang pria sambil mengetuk gelas menggunakan sendok.
"Menarik." Ucap Alden.
......................
Rapat berlangsung.
"Ini aneh kenapa dia memperhatikan aku sedari tadi." Gumam Asil yang duduk disamping Agha.
.
.
......................
"Akhirnya berakhir." Gumam Balian.
"Tuan apakah kau merasakan hal yang aneh?" Tanya Asil kepada Balian. "Aku tidak, apakah ada yang menganggu mu?" Tanya Balian. "Iya tuan, apakah tuan melihat pria yang berambut panjang hitam itu? Dia pandangan nya." Ucap Asil dan melihat kearah Alden. "Alden? Sudahlah sepertinya itu hanya mata tidak sopan para lelaki." Bisik Balian.
"Hei anak kecil ayo kita pergi." Ucap Balian kepada ke-dua anak kecilnya.
"Baiklah." Sahut Asil dan berlari kecil. "Hei jangan begitu." Tegur Balian yang berjalan dibelakang Asil.
.
"Cantik tapi ingin dimusnahkan." Gumam Alden.
.
"Helo tuan Agha." Sapa Alden dan menghentikan langkah Agha.
__ADS_1
"Oh Hai tuan." Balas Agha. "Aku ingin mengundang mu untuk mengobrol dengan ku." Ucap Alden. "Yah tentu." Balas Agha. "Yah akan ku kabari pertemuan nya." Ucap Alden. "Baiklah senang bertemu dengan mu." Ucap Agha dan langsung berlalu pergi.
...****************...