
Agha menahan tawanya karena melihat tingkah Asil yang lucu.
"Hei, nona apa yang kau lakukan?" Tegur Agha sambil tersenyum.
"Ah? Eh, t-tuan Agha, aku hanya bicara saja. Haha, kau tidak mendengar nya bukan?" Asil menoleh dan sedikit menyembunyikan rasa malunya.
"Mendengar apa, ummm apa yang ku dengar tadi? Astaga, aku akan slalu mengingat nya." Ucap Agha menahan tawa. "A-aku hanya bicara saja, kau lupakan saja semuanya." Timpal Asil. "Melupakan? Tidak bisa, aku tidak menerima perintah dari siapapun." Ucap Agha. "Hah? A-apa maksudnya?" Asil kebingungan harus menanggapi apa kata-kata Agha, dan tanpa menjawab pertanyaan Asil Agha langsung duduk di bangku nya.
"Bagaimana dengan perjodohan mu kali ini?" Tanya Asil. "Hah? Perjodohan? Aku akan menerima nya, karena yang kali ini adalah yang terbaik." Jawab Agha. "Ooh, begitu yah." Balas Asil singkat, sembari berjalan keluar menuju pintu.
"Hei, anak kecil. Apakah kau ingin melihat taman bersama ku?" Tanya Agha. "Hah, taman?" Asil menoleh dan menghentikan langkah kaki nya.
Agha berdiri dan melanjutkan kata-kata nya. "Uuum, yah taman. Jika kau ingin ikut, kita akan pergi setelah makan siang." Ucap Agha sambil berjalan menuju Asil.
"Baiklah." Jawab Asil singkat, dan langsung berlalu pergi.
"Ck apakah dia cemburu, dia ternyata bisa begitu." Batin Agha, masih tetap menahan tawanya.
.
.
.
"Hi, aku tidak menduga dia akan menerima yang kali ini, Aaaaa! Aku yang terlambat." Gumam Asil, sambil berjalan cepat. Menuju ke atas gedung.
Asil melihat sekeliling kota besar dengan perasaan bahagia. "Memang ini adalah hal terbaik yang harus dilakukan, orang lain juga harus datang keatap." Gumam Asil.
.
.
Tap. Tap. Suara langkah kaki yang juga menuju keatas gedung.
"Hu?" Asil menoleh kebelakang, untuk melihat siapa yang datang.
"T-tuan Agha." Tegur Asil. "Ah, kau melihat ku." Balas Agha.
"Apa yang tuan lakukan disini?" Tanya Asil datar. "Eh? Ini gedung ku, dan semua sudut nya adalah milik ku. Kenapa kau bertanya seperti itu?"
"Oh iya, aku juga tahu itu." Tukas Asil kesal.
Agha menghela nafasnya, dan memejamkan mata untuk menikmati udara segar.
__ADS_1
.
.
.
......................
Waktu yang ditunggu akhirnya tiba, jam makan siang telah selesai.
"Ayo." Ucap Agha kepada Asil. "Oh, iya." Balas Asil.
.
.
.
Sementara itu.
"Ah.. Enaknya bersantai di kolam air panas." Gumam Balian.
"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kepada kakak."
.
.
.
"Uuu? Kenapa telinga ku gatal?" Ucap Agha. "Hah? Kenapa?" Tanya Asil. "Bukan apa-apa." Jawab Agha.
"Tuan, apakah taman nya jauh?" Tanya Asil. "Yah, lumayan." Jawab Agha.
.
.
.
Setelah melalui perjalanan yang panjang akhirnya mereka sampai di taman, dengan hamparan bunga tulip yang sangat indah.
"Baiklah kita akan menunggu sebentar lagi." Ucap Agha. "Uh? Kenapa?" Tanya Asil. "Kau akan menyukai nya." Jawab Agha.
__ADS_1
.
.
Setelah menunggu, matahari terbenam pun tiba.
"Wah! Indahnya!" Ucap Asil.
"Ini seperti di negeri dongeng." Ucap Asil bahagia, sambil berlari kecil diantara ribuan bunga tulip yang mekar.
"Tuan apakah kau akan membawa calon istri mu kesini?" Tanya Asil tiba-tiba. "Hah? A-aku sudah membawanya." Ucap Agha.
"Haha dia ada disini, aku akan menjadi bayangan." Gumam Asil sambil tertunduk.
"Kau." Ucap Agha. "Kau?" Asil kebingungan.
"Ahaha.Kau, aku haha aku apa ini haha." Ucap Asil sambil tertawa. "Haha! Tuan ini tidak lucu." Ucap Asil lagi.
"Aku memang tidak sedang bercanda. Kau, aku ingin kau menjadi istri ku." Ucap Agha serius. "Ta-tapi nenek?" Asil tertegun sejenak.
"Iya, nenek tahu keinginan ku. Aku mencintaimu." Ucap Agha lagi. "Tuan.. Bagaimana mungkin? Apakah ini hanya mimpi?" Asil kebingungan mendengar kata-kata Agha.
"Apakah kau akan tetap memasang wajah itu?" Tanya Agha sambil tersenyum. "Aku hanya terkejut, aku, aku tidak pernah tahu apa yang kau rasakan tuan. Aku tidak tahu harus bicara apa." Ucap Asil tanpa menyadari air matanya terjatuh.
"Hiks.. Aku tidak bisa menduganya." Ucap Asil lagi.
"Apakah kau mau menikah dengan ku?" Tanya Agha sambil tersenyum hangat. "Aku harus menjawab apa?" Ucap Asil melihat wajah Agha. "Kau harus menjawab ya, kau harus menerima ku." Agha menarik Asil kepelukan nya.
"Hiks... Hiks... Yah, aku, aku menjawab nya. Aku ingin kau menjadi milikku." Jawab Asil.
"Terimakasih.Kau sekarang milikku, aku akan slalu menjaga mu." Ucap Agha pelan.
"Aku tidak akan membiarkan orang lain mendekati mu, aku akan egois." Ucap Asil.
Mereka kembali menikmati matahari terbenam. "Aku sangat beruntung. Ini seperti mimpi yang sangat indah." Batin Asil.
...****************...
THE END
(CERITA HANYA FIKTIF BELAKA, TERIMAKASIH SUDAH BERGABUNG UNTUK MEMBACA !)
__ADS_1