
Dalam dunia persilatan ada tiga golongan utama yakni siswa, petarung dan pendekar. Siswa merupakan tahapan awal pengenalan beladiri dan dasar-dasarnya. Kemudian petarung yakni menguasai gerakan-gerakan dan tenaga dalam sampai tahap tertentu dan terakhir adalah pendekar yakni ahli beladiri yang menguasai penuh tenaga dalam dan dapat menggunakannya sesuka hati.
"Jadi kalian termasuk tingkat petarung untuk sekarang ini" jelas guru berkacamata di depan puluhan petarung saat ujian kenaikan pangkat. Di samping kiri dan kanan terdapat beberapa guru lain yang sudah bersedia untuk membentuk formasi teleportasi pemindahan peserta.
"Ini adalah ujian terahir untuk kalian. Jika kalian lolos kalian akan mendapatkan gelar seorang pendekar" imbuhnya.
"Baiklah, kalian akan dikirim ke daerah yang bernama dataran kematian. Di sana terdapat hewan buas dan jika beruntung kalian akan bertemu dengan para siluman penghuni pulau tersebut dan tugas kalian adalah bertahan hidup selama sebulan dan jika ada yang tidak sanggup kalian boleh mengundurkan diri, pulang sebagai pecundang"
Semua tertegun mendengar penjelasan dari guru berkacamata tersebut. Sepertinya mereka mulai mengkhawatirkan diri mereka sendiri-sendiri saat berada di pulau dataran kematian bisa saja mereka menemui ajal mereka dan hanya meninggalkan nama saja.
Di tengah barisan aku dan Kelana mendiskusikan sesuatu diam-diam. aku menggambar suatu lukisan di telapak tangan Kelana seraya berkata "Dengan ini aku akan menemukanmu"
Yah, ini sudah cukup untukku mendeteksi dimana ia berada dan akan sigap menolongnya ketika dalam bahaya. Bukan apa, karena dia adalah temanku.
Sementara itu guru berkacamata, guru Zong mulai melantangkan suaranya kembali.
"Jika tidak ada kita mulai!"
Dalam sekejap para guru yang sudah berbaris rapih mengeluarkan tenaga dalam mereka dan mengumpulkannya menjadi satu dan membentuk sebuah lubang dimensi seperti lubang hitam namun berpola. Bentuknya bulat di pinggirannya terdapat motif kuno, terlihat seperti bunga matahari dan di dalamnya hitam.
Satu persatu murid mulai masuk dan di kirim ke dataran kematian dengan sekejap. Mereka akan ditempatkan secara terpisah dan jarak antara mereka cukup jauh, seperti tiga kali suara. Satu suara berarti 1,23 KM jadi kalau 3 suara. Hitung sendiri lah.
Semuanya sudah berada di dataran kematian. Di tempat aku berada terdapat sebuah sungai yang berasal dari air terjun. Kelana berada di tempat yang berbeda di jauh dari tempatku berada namun aku masih dapat merasakan tenaga dalamnya walau hanya sedikit. Sepertinya dia di sisi lain pulau ini, pikirnnya.
Sesuai rencana aku langsung bergegas menuju kearah Kelana berada. Ia menggunakan kecepatannya dalam bergerak, dengan ini ia akan mempersingkat waktu hingga petang menjelang jika tidak ada hambatan. Kalau di ditempuh dengan berlari biasa bisa memakan waktu beberapa hari.
Di sisi lain seorang tengah dalam masalah besar. Ia bertemu hewan spiritual. Hewan hasil kawin silang antara siluman dan hewan biasa. Kekuatannya setara dengan seorang pendekar, tentu jauh dibandingkan dengan petarung itu.
Orang itu berlari sekuat tenaga menghindari harimau putih berekor api putih. Api itu dingin bahkan lebih dingin dari salju yang berada di belahan dunia utara dan selatan. Jika terkena ekornya saja dia akan mati kedingingan secara perlahan. Seperti racun dia menyebar lewat luka yang di sebabkan oleh pembakarab dan menyebar lewat pembuluh darah.
"Tolong!!" teriak orang itu seraya berlari sekuat tenaga.
Hewan itu sangat cepat. Sekejap saja harimau itu mampu menyusul orang itu dan memberi serangan. Untung orang itu dapat menghindar dan tersungkur ke tanah. Namun tidak akan bertahan lama dia bisa bertahan harimau itu sudah memberi ancang-ancang.
"Aku adalah Rivan. Putra dari pendekar di kota Tirai Putih. Aku tidak akan menyerah hanya karena kau lebih kuat dariku harimau bodoh"
__ADS_1
Pemuda itu mulai memasang kuda-kudanya. Dia mengeluarkan seluruh tenaga dalamnya dan siap untuk berperang. Di hadapannya harimau putih juga bersiap untuk menyerang pemuda itu.
Harimau putih mempunyai kelemahan di kedua bola matanya. Karena kemampuan spesialnya adalah penglihatan tajamnya dan kurang dalam pendengaran. pikir pemuda itu.
"Sekali serang dapat mata!" serunya seraya mengeluarkan belatinya dan mulai bergerak.
Saat bersamaan harimau itu meraung dan mulai menerkam. Pemuda itu menghindar dan berusaha menggoreskan belatinya kemata harimau itu, tapi meleset.
"Sial" upatnya.
Dengan sigap ia menjauh dan mulai melakukan serangannya selanjutnya. Pemuda itu bergerak ke area pepohonan karena di area terbuka dia sangat dirugikan. Karena kemampuan matanya harimau itu menjadi lebih cepat.
Seperti pemburu pada umumnya harimau itu tidak melepas pemuda itu. Harimau itu mengejar dengan kecepatannya namun pemuda itu berhasil melompat ke pohon dan menghindari terkaman harimau itu lagi.
"Sekarang saatnya" ujarnya.
Dia melompat tepat di depan harimau itu dan berhasil menggores satu mata dari harimau itu.
"Berhasil!" serunya.
Harimau itu mulai mengamuk. Ekornya dikibas kan ke tanah dan menghasilkan ledakan yang luar biasa. Sekejap api dingin menyebar dan membekukan pepohonan yang ada di sekitarnya.
"Sial, dia ngamuk. Bagaimana ini"
Secepat kilat harimau itu sudah berada di depan Rivan.
"Cepat sekali"
Rivan terkena cakaran dari harimau itu tepat di lengannya dan terpental menembus dua pohon sekaligus.
"Di-dia kuat sekali" rintih Rivan.
Perlahan api dingin menyebar di lengannya. Ia merasakan lengannya mulai mati rasa dan sekujur tubuhnya menggigil.
"Harimau itu memang kuat. Uhuk (batuk). Sekali serang saja langsung membuatku tak berdaya" ujarnya.
__ADS_1
Pandangan Rivan mulai kabur. Samar-samar ia melihat harimau itu mendekat dan semakin mendekat. Seakan tau ia tak akan pulang kerumah ia perlahan meneteskan airmata. Ia terbayang ketika ia membuat janji kepada adiknya ia akan pulang dan menjadi pendekar seperti mendiang ayahnya. Ia terbayang senyuman adiknya yang percaya jika kakaknya akan menjadi pendekar hebat seperti ayahnya.
"Kurasa aku tak akan pulang, Mel. Ayah, aku akan menemani mu di surga"
"Jangan berkata seperti itu" sebuah suara terdengar sangat dekat dan kemudian lengannya terasa hangat dan perlahan ia merasakan tubuhnya kembali.
"Kau akan pulang dan bertemu adikmu lagi"
Perlahan Rivan merasakan tenaganya pulih kembali. Ia membuka matanya dan melihatku berada di dekatnya. Aku tersenyum kepadanya sembari menyalurkan hawa panas untuk menetralisir racun dingin yang di sebabkan oleh harimau tadi. Sementara itu Rivan menoleh kearah harimau putih yang tergeletak di tanah bersimbah darah. Ia kaget sehingga menggerakkan tubuhnya dan rasanya sakit sekali.
"Jangan gerak dulu. Biar selesai pengobatannya dulu baru boleh gerak" kata ku.
"T-terimakasih" ujar Rivan dan aku hanya membalas dengan senyuman.
Setelah beberapa saat.
"Oke. Sekarang kamu bisa berjalan. Tapi aku sarankan untuk sembunyi dan hindari pertempuran terlebih dulu jika tidak lukamu tidak kunjung sembuh" kataku seraya berdiri dan melangkah menjauh.
"Tunggu, Modo" seru Rivan.
"Hmm?" aku menoleh.
"Bolehkah aku ikut denganmu?" pintanya.
"Soal tempo hari aku membully-mu, aku minta maaf soalnya..."
"Tak usah diingat. Sudah lama juga, kan?" kataku sambil tersenyum dan mulai melangkah lagi. Lagian itu sudah lama sekali. Sudah lah, hanya kesalahan kecil.
"Maaf kawan, kurasa itu tidak diperkenankan" kataku.
"Ah, baiklah" kata Rivan agak kecewa.
"Dengan kau bersembunyi tak akan ada yang bisa menyakiti kau" kataku sambil berjalan menjauh.
"Sampai jumpa" pungkasku. Kemudian aku bergegas menuju tempat kelana berasal.
__ADS_1