
Keadaannya sangat parah. Kehancuran ada dimana-mana. Tidak ada korban jiwa yang di derita pihak akademi. Namun kerugian beras menantinya. Kurasa aku sudah berlebihan mengeluarkan tenaga dalamku. Tapi akibatnya kelompok bandit tidak ada yang tersisa. Hanya ketua bandit saja.
"Katakan dimana markasmu" aku bertanya kepada ketua bandit itu.
"Ha-Hahaha. Tekanan yang sangat kuat. Tapi aku tidak akan mengatakan itu padamu" kata ketua bandit.
"Baiklah" dengan sekejap kepala bandit itu terpisah dari tubuhnya.
"Kurasa kau tidak mudah diajak kerja sama" kataku sembari melagkah meninggalkan tubuh bandit itu.
"Kau tau dimana tempat bandit itu berada?" tanyaku pada kepala akademi.
"Me-mereka ada di gunung putih berselimut salju di utara. Ku dengar mereka berada disana sejak beberapa dekade lalu" katanya dengan penuh ketakutan.
Aku jadi tidak enak hati. Padahal aku sudah menekan tenaga dalamku tapi tetap saja dia ketakutan.
"Sudahlah, aku pergi dulu" aku beranjak menjauhi kepala akademi.
"Tunggu"
Aku berhenti dan menoleh.
"Siapa anda sebenarnya tuan?" tanya kepala akademi.
"Panggil saja benang merah" aku langsung pergi kesebuah tempat untuk bersembunyi.
Hari-hari berikutnya rumor tentang Benang Merah menyebar diseluruh kota Tersembunyi ini. Perbaikan kota dan penanaman pohon disekitar akademi dimulai. Mereka bergerak cepat dalam pembangunan, semua bekerja keras kecuali aku. Aku masih terbaring di asrama yang terbilang salah satu bangunan yang selamat selama kerusuhan.
Sebenarnya tenaga dalamku belum pulih seutuhnya. Semenjak melewati ruang waktu dulu tenaga dalamku belum pulih seutuhnya. Sebagai gantinya aku beristirahat saja, ini sudah cukup. Butuh waktu beberapa hari hingga aku benar-benar bersemangat. Untuk sementara mungkin aku akan di kamar saja.
"Hai. Kau sudah bangun" Hani tiba-tiba masuk ke kamar ku.
"Kenapa kau main masuk saja? Ini kamar cowok" kataku agak sewot.
"Kau terluka saat kerusuhan itu dan pingsan di tepi hutan"
Benar juga. Setelah aku menghilangkan baju zirah itu aku langsung berjalan kembali ke kota Tersembunyi ini. Setelah itu aku tidak ingat.
"Apa kamu sudah baikan?" tanya Hani.
"Yah, agak mendingan" jawabku.
Suasana jadi sepi. Hanya terdengar hembusan angin dari sendela yang terbuka. Ketika aku melirik dia terlihat raut wajahnya memerah. Keadaan macam apa ini. Canggung banget.
"Em-anu. Terimakasih" katanya memecah keheningan.
"Terimakasih?"
"Orang bercaping itu kamu, kan?" tanya hani.
Gawat. Apa dia melihatku? Apa dia menyadari jika itu aku? Atau hanya tembakannya saja? Tidak mungkin, kan? jika dia menebak kenapa tepat sekali.
__ADS_1
"Ah, itu. Kurasa kau salah lihat" aku mengelak.
"Aku tau iku kau saat kau melepas sihirmu itu" katanya.
Mampus, dah. Kenapa aku bisa ketauan. Akankah aku akan pindah tempat lagi seperti dulu. Tidak mungkin, kan? Diluar tidak ada tempat tinggal senyaman ini.
"Itu. Ha-ha-ha. Kau mungkin salah lihat. Bukan aku, bukan" aku berbohong.
Sial. Sial. Sial. Sial.
"Kau mungkin menyembunyikan kekuatanmu karena suatu alasan. Aku berjanji tidak akan mengatakan pada siapapun" setelah itu Hani lari keluar. Sementara aku kebingungan disini.
Beberapa bulan kemudian kondisi kota semakin baik. Pembangunan sudah hampir selesai. Sementara itu popularitas benang merah meroket. Banyak aksesoris yang di jual oleh pedagang yang berhubungan dengan benang merah. Ada caping, baju zirah, masker, dan
"Apa-apaan ini? mana ada gambar pendekar benang merah seperti ini" aku marah ketika seorang pedagang menjual foto lukisan benang merah dengan asal-asalan.
"Ini adalah gambar esklusif yang di lukis oleh ahlinya"
Aku menggerutu sejadi-jadinya. Seenaknya saja menggambar wajahku dengan gambar yang tidak seharusnya. Mata sipit, gigi kelinci, ada kumis. Ini membuatku mual.
"Ada apa ini?" Hani menghampiri ku.
"Kaulihat. Masa pendekar benang merah seperti ini... bla bla bla" aku ngoceh tidak karuan.
Hani tersenyum.
"Bukan seperti ini, paman. Dia itu tampan. Ini tidak mirip" kata Hani. Aku hanya angguk-angguk tanda setuju.
"Haaaah? Ta-tampan?" kataku.
"Ehem" Hani ngangguk sambil tersenyum.
"Y-ya. itu benar" kataku sembari pergi.
Kenapa aku malah mengangguk tadi. Tampan? Setampan itu, kah? Hehehe aku akan membuat kerajaan harem.
"Wahahahahaha" aku tertawa jahat.
"Kau kenapa?" tiba-tiba hani berada di depanku.
"Waaahhh!" aku kaget.
"Kau mengagetkanku, Hani" aku cemberut.
"Sudah, ayo ikut aku" ia meraih tanganku dan menarikku pergi.
"Kita mau kemana?"
"Kita akan keruang kepala akademi" dia menyeretku dengan kuat.
Entah mengapa aku merasa jika aku semakin dekat dengan Hani. Berada di dekatnya aku merasa nyaman. Aku juga punya teman yang bisa diajak bicara. Seperti Kelana. Sedang apa dia sekarang.
__ADS_1
Disisi lain Kelana sedang berlatih keras.
"Waaaaa!"
"Aku tidak mau. Tidak mau!"
Seperti biasa dia bertingkah seperti bocah.
"Tuan, jika anda tidak latihan hari ini maka ketua akan menghukummu" kata seorang pelayan.
"Tidak, tidak, tidak, tidak!"
Yah, seperti itu lah Kenala. Jujur aku rindu padanya.
[Ruang Kepala Akademi]
"Kalian kupanggil kali ini untuk mengawal seorang bangsawan hingga kota sebrang" kata kepala sekolah pada kami setelah kami masuk keruangannya.
"Ini seharusnya misi tingkat C atau B. karena insiden beberapa bulan lalu, mereka belum sembuh total. Sedangkan dari kelompok yang selamat dan memenuhi kriteria hanya kalian berdua. Modo, Hani"
"Apa?" aku dan Hani bersuara senada.
"Dan tugas tambahan adalah cari tahu tentang penyihir benang merah itu. Cari informasi sebanyak yang kau bisa" kata kepala akademi.
"Untuk apa?" tanyaku serius.
"Dia terlalu kuat bagi kita. Untuk jaga-jaga kita harus tau kemampuannya sebatas mana" dia menjawab dengan serius. Tatapan matanya tajam.
"Bukankah dia membantu kita pada waktu itu?" aku melawan tatapan mata itu.
"Jika dia teman. Jika dia sama dengan para bandit itu, maka pihak akademi akan membinasakannya" dia mulai mengeluarkan tekanannya.
"Su-sudah. Kami akan melakukan tugas itu" Hani berhasil menghentikan kami.
Kepala akademi memang kuat. Tapi sepertinya bukan orang yang baik.
"Kami harus merepotkan kalian untuk misi berbahaya ini. Untuk itu kalian akan kami beri gelang ini" kepala akademi memberi sebuah gelang yang mirip dengan gelang yang aku pakai dulu. Gelang teleport.
"Sekarang kalian bersiap dan kalian akan berangkat sebelum matahari terbit. Kalian akan di antar intruktur ini" dia menujuk seorang instruktur.
"Sekarang bubar"
Kami pun meninggalkan ruang kepala akademi itu.
"Kirim tim untuk mengawasi kedua anak itu" kata kepala akademi.
"Baik, ketua" seseorang di dalam bayangan menghilang.
"Aku ingin tau siapa identitas anak itu sebenarnya. Sepertinya tidak sederhana" dia meleletakkan dagunya diatas telapak tangannya.
"Dan kalian temukan info tentang penyihir benang merah. Kita akan bergerak setelah mendapat bantuan dari kekaisaran"
__ADS_1