
Pasukan besar telah tiba. Pasukan ini sedikit lebih banyak dari pasukan iblis yang di dunia ku sebelumnya. Para raja kota pun turut hadir dalam keributan ini. Mereka merasa terancam jikalau Naga Putih akan mengamuk dan membahayakan rakyat mereka. Bisa saja aku menjelaskan apa yang terjadi dengan damai, namun akan merepotkan jika peperangan terjadi disini.
"Ho, ternyata benar dugaanku. Dia dikendalikan penyihir kuat" ujar Anastasya, Ratu dari kerajaan Taring Putih.
Tak berselang lama para raja lain sampai juga. Ada Raja Gabriel dari kerajaan Awan dengan tunggangannya. Entah jenis apa itu. Seperti macan tutul dengan sayap perak. Ada Raja Son dari kerajaan Batu. Dia terbang dengan artefak langka mungkin. Dan Raja Kota Abie, Tor. Dia terbang dan datang agak terlambat.
"Harusnya aku sudsh menyadarinya sejak fenomena itu muncul. Salam 'Sang Saint' penyihir hebat Benang Merah" kata Raja Kota Abie, Tor.
"Semenjak anda membantu akademi Kota Sembunyi rumor anda telah menyebar ke berbagai penjuru negri ini. Semalat datang di aliansi tiga kerajaan kami" tambah Raja Kota Tor.
Aku baru tau jika wilayah ini adalah wilayah aliansi mereka. Pantas saja Kerajaan Awan sangat leluasa bertindak meski di wilayah kerajaan Batu. Pada umumnya akan ada penjagaan di setiap perbatasan walau jaraknya agak berjauhan dari perbatasan. Ternyata itu penyebabnya.
"Karena ada sedikit masalah disini, terpaksa aku memanggil rekanku" kataku.
"Ah, aku pernah dengar. Jika mahluk yang dipanggil itu levelnya tinggi mereka bukan lagi mahluk panggilan, namun rekan. Ini cukup menarik" Kata Raja Gabriel.
"Kau itu penyihir tipe pemanggil yang hebat, mengapa tak bergabung dengan aliansi kami? " Raja Gabriel langsung ke inti.
" Ah, sial. Orang itu terlalu bodoh dalam bernegosiasi" ujar Ratu Anastasya.
"Hei, perempuan. Aku tak suka basa-basi. Mengapa tak selesaikan dengan segera!?"
"Kukuku. Benar, Gabriel. Mengapa anda tidak bergabung dengan kami, tuan Benang Merah? Atau tuan Modo?" kata Son.
Mereka mengetahui identitasku. Haruskah aku menghabisi semua yang ada disini? Tidak, mereka tak bersalah sama sekali. Kecuali...
"Jika aku menolak?" kataku.
"Maka kami akan mengalahkanmu disini" sebuah suara yang aku kenal berkata demikian.
"Hani?" aku terkejut.
"Salam buat Ratu aliansi" semua yang hadir disini memberi hormat.
"Bergabunglah dengan kami. Kau akan mendapat gelar kehormatan dari aliansi terkuat di benua ini" tutur gadis berkacamata itu.
"Aku menolak" kataku tegas.
"Lalu mengapa kau mau menolong Kalya walau kau tak mengenalnya? Atau kau tak kasihan gadis ini akan kami kirim ke neraka?" Hani menyekap Kalya dengan pedang tepat di depan heler Kalya.
Aku terdiam.
__ADS_1
Sekarang aku tau. Hani hanya menyembunyikan kekuatan yang sebenarnya. Jika diingat, gerakan berpedangnya itu sungguh luar biasa. Jika hanya assasin tak mungkin dapat menggunakan gerakan rumit seperti itu.
"Jadi begitu" aku tersenyum.
"Silahkan. Toh aku tidak ada urusannya dengannya. Aku membantu karena kasihan"
"Begitu, kah?" dia sangat tenang.
"Kau mungkin hebat. Namun kau tak mungkin mengalahkan kami, kan?" akhirnya dia menunjukkan taringnya.
Ternyata dugaanku benar. Dari tadi aku merasakan hawa kehadiran dari empat penyihir hebat. Setidaknya peringkat mereka satu tingkat dari kebanyakan penyihir hebat yang ada di sini.
"Bagaimana?" Hani tersenyum, ia merasa menang sekarang.
"Baiklah, jika itu mau kalian" kataku sembari mengeluarkan Yama.
"Walaupun aku bergabung dengan kalian aku tak akan merasa bebas nanti. Kau tau, aku paling tak suka diperintah. Jika kalian menjadikanku pemimpin kalian, mungkin aku akan mempertimbangkannya"
"Lancang sekali kau!" seorang penyihir menyerangku dari belakang.
"Walaupun kalian menjadikanku pemimpin aliansi kalian" penyihir itu terbelah menjadi dua.
"Serang dia!" pertempuran di mulai.
"Lagian aku bukan guru yang baik" imbuhku saat mereka membentuk formasi menyerang.
Sejak dulu kelemahan sihir adalah perapalan mantra yang memakan waktu. Walau hanya 0,0001 detik saja dalam dunia persilatan itu sudah termasuk kerugian.
Yama sudah ku hunus. Dengan kecepatan tinggi aku meliuk-liuk di udara. Aku langsung membantai penyihir tipe penyembuh. Itu akan memakan banyak tenaga jika si penyembuh terus-terusan menyembuhkan para penyerang.
"Dia menghilang"
"Para penyembuh banyak yang tewas!"
"Pelindung, cover penyembuh. Cepat!"
Kepanikan ada dimana-mana. Sekarang....
"Jurus pembaharuan" aku sudah siap mengakhiri ini.
"Dia di atas. Sergap di--a" dengan sekejap penyihir tingkat rendah terbelah menjadi beberapa bagian.
__ADS_1
"Badai penghenti waktu" dengan mulus aku mendarat di tanah.
Sementara itu, nafas api Naga Putih membumi hanguskan segala yang ada di handapanya. Api abadi yang tak bisa padam yang terasa dingin bahkan lebih dinging dari es. Perlahan-lahan menyiksa mereka hingga mereka mati tak bersisa. Jiwa-jiwa yang terkena api itu pula akan merasakan siksaan yang tak terbayangkan. Seperti berada di neraka!.
Penyihir terhebat mereka sedikit susah di hadapi. Mereka setara dengan jendral iblis pada waktu itu. Ditambah mereka dapat menyerang dari jarak yang cukup jauh juga merepotkan ku. Walaupun aku berhasil melumpuhkan kontributor terkuat mereka masih saja aku kerepotan karena penyihir penyembuh itu.
"Tebasan pertama"
Ternyata benar. Ada penghalang yang mengelilingi penyihir penyembuh itu. Jika begitu.
"Tarian benang merah"
Tebasan acak yang dapat menhancurkan suatu kota ini terpaksa aku keluarkan. Pelindung itu sangat kuat. Bahkan setelah pembuat pelindung itu tewas, mantranya masih bekerja.
Sekarang aku hanya butuh mengalihkan perhatian mereka dan menembus pertahanan itu.
"Teleportasi" denga sekejap aku berpindah tepat di depan penyihir penyembuh itu.
"Maaf" kataku setelah kepalanya terpisah dari tubuh.
Sekarang tinggal tiga kecoa yang membuat rusuh ini dan juga...
"Hentikan!" tiba-tiba Hani berseru.
"Menyerahlah. Jika tidak... "
" Jika tidak, apa?" kataku.
"Jika tidak bocah ini akan kuhabisi" dia menyandra Draga.
Dasar bodoh. Walau Draga masih kecil, namun dia naga yang spesial. Meski senjata sakti sekalipun akan susah menggores kulit Draga.
"Ini adalah mantra pengendali. Akan bagus bila aku mempunyai senjata seperti ini" kemudian Hani tertawa jahat.
Aku terdiam dan...
”Bagaimana kalau kau pergi ke neraka" ujarku sembari memenggal kepalanya.
Jujur saja aku agak berat melihat dia mati mengenaskan di tanganku. Dia selalu tersenyum padaku. Tingkahnya yang ceroboh dan perpikir agak lama, itu yang membuat aku ingin selalu disampingnya. Tapi mengapa harus dia pemimpin aliansi tiga kerajaan? Masih banya orang lain, kan? Kenapa harus penghianatan seorang teman sedangkan musuh juga banyak. Mengapa ini terjadi padaku? Apa salahku?
Tanpa sadar airmataku mengalir. Kurasa awan juga merasakan hal yang sama. Dia turut menangisi peperangan yang hanya dipicu oleh masah sepele. Hanya karena ingin menjadi yang terkuat dan mendapatkan kehormatan, mereka rela menjadikan istri mereka janda.
__ADS_1