Pendekar Benang Merah

Pendekar Benang Merah
Bandit Badai Salju


__ADS_3

Semenjak insiden di ruang senjata aku selalu menutup diri. Bukan karena aku malas untuk bergaul dengan orang-orang ini, tapi ini lah perintah dari kepala akademi sihir. Dia bilang agar aku tidak menimbulkan masalah lagi di masa depan nanti. Meskipun aku bukan pengguna sihir, tapi kepala akademi merasakan adanya kekuatan lain di diriku. Untuk menutupi kekuatanku aku harus belajar sihir mulai dari sekarang.


Di dalam kelas suasananya ramai sekali. Aku duduk di bangku paling depan dengan seorang gadis berkacamata dengan rambut panjang hitam pekat. Dia ramah, selalu membantuku beberapa hari ini. Kurasa dia orang yang berbeda dari teman yang lain yang bersikap arogan. Nama gadis itu adalah Hani.


Aku ingat saat pertama kali masuk kelas pemula ini. Pada waktu itu guru memperkenalkan aku di depan kelas. Pada saat dia mengatakan aku belum membangkitkan fondasi sihir mereka semua mengejekku, mengataiku sebagai sampah. Namun yang membuat pandanganku berbeda adalah Hani. Dia dengan lantang membelaku. Bukan membela, sebenarnya dia tidak mau ada pembullyan di kelasnya. Sebagai ketua kelas dia cukup tegas, dia membela siapapun yang di tindas, walupun itu orang yang tidak dia kenal. Menarik.


Kebanyakan yang bersekolah disini adalah anak orang kaya. Tidak heran jika diskriminasi di sini sangat terlihat jelas, bahkan hal yang biasa. Tidak peduli betapa berbakatnya kau, di sini kasta lah yang berbicara.


Dalam tiga hari aku melakukan pelatihan dini sini, berharap bisa belajar sihir. Akan tetapi...


"Hah, gagal lagi. Padahal konsepnya sederhana" aku berharap bisa menguasai hal baru ini.


"Sudahlah. Istirahat dulu, Modo" Hani meng hampiriku dengan membawa air minum.


"Terimakasih, Hani" aku menerima air yang ia berikan.


"Apa keahlian sihirmu itu?" aku berusaha membuka pembicaraan agar tidak terlalu canggung.


Dia tersenyum dan hanya menggelengkan kepala.


"Jangan bilang.."


"Aku tidak mempunyai keahlian khusus. Aku hanya bisa beberapa gerakan dan sedikit sihir" katanya.


"Lalu?"


Kemudian dia membaca mantra dan menunjukan ku beberapa gerakan yang cukup elegan. Dia mengatakan jika dia lulus ujian masuk karena syarat tambahan dari penguji, sama sepertiku dulu. Walau dia dari kalangan bangsawan namun kemampuan ini termasuk skil yang standar. Tidak seperti anak bangsawan lain yang melatih sihir khusus yang diwarisi dari pendahulunya.


"Jadi kau berasal dari keluarga assasin?"


Seketika dia menghentikan gerakannya dan menoleh kepadaku.


"Bagaimana kau bisa tau?" dia langsung mendekatiku.


"Gerakan elok itu untuk membunuh. Hampir tiada celah dalam gerakan itu, namun kau belum sepenuhnya menguasai itu. Jika kau dapat menguasainya, akan jadi seperti ini" aku menunjukan gerakannya barusan dan menyempurnakan gerakan itu.


"He-hebat. Bagaimana kau bisa mengerti teknik rahasia keluargaku?" dia terpana melihat hasil kreasiku yang memotong kayu dengan sempurna walau hanya dengan pedang kayu.


"Aku cuma melihatnya darimu" kataku.

__ADS_1


"Ajari aku" pintanya.


"Bagaimana, ya. Aku bukan keluargamu, jadi tidak mungkin, kan?"


"Tidak apa. Tugasmu hanya mengoreksi gerakanku. Aku dengar kau merobohkan ruang senjata saat kau masuk lusa"


Aku tidak bisa berkata lagi. Memang itu kejadiannya.


"Kau juga ahli pedang, kan? Apa kemampuan khususmu?" dia bertanya.


"Um-itu. Sebaiknya jangan. Hutan ini bisa jadi rusak nanti" aku berusaha menolak.


Dia terdiam. Sepertinya dia kecewa jika aku tidak memberitahunya. Tapi ini demi kelangsungan hidup binatang yang ada di hutan ini, jadi aku menolaknya.


"Tak apa. Jika kita dapat misi bersama maka kau akan tau" aku berusaha menghibur.


Aku tak menyangka dia akan seperti itu. Padahal hanya sebuah jurus, kan? Lagi pula itu berbahaya.


"Aku akan mengajarimu" akhirnya aku menyetujui permintaannya.


"Benarkah?"


Mulai hari ini aku dan Hani selalu berlatih saat sekolah berahir. Aku memilih hutan belakang akademi karena disini tempat yang aman. Tidak ada gangguan maka latihan akan berjalan lancar.


"Lihat itu. Mereka selalu ke hutan saat sekolah berakhir. Apa yang mereka perbuat"


Kemudian gosip tentang kami menyebar di akademi. Entah bagaimana bisa suara cepat menyebar. Menurutku benar adanya pepatah suara lebih panjang dari apapun.


Beberapa hari kemudian Hani dan aku tidak latihan bersama lagi. Dia sepertinya terganggu oleh ganggu oleh suara tidak sedap itu. Namanya juga cewek, ada suara sedikit jadi beban pikiran.


Dari kejadian itu aku jadi bisa berjalan-jalan sekaligus mencari info tentang kelompok yang menculik Widi tempo hari. Aku berjalan di sekitar akademi yang hiruk-pikuk sembari sesekali menguping penggosip itu. Sampai saat..


BOOMMM!!!


Terdengar suara ledakan tak jauh dari tempatku berdiri. Spontan aku langsung bergegas menuju keributan itu. Ternyata ada sebuah pertarungan yang berpusat di ruang senjata. Paman penjaga ruang senjata terluka dan beberapa guru juga.


Terlihat kepala sekolah sedang berbicara dengan seseorang dengan jubah yang aku kenal. Jubah yang bergambar trisula denga daun bambu ditengah.


"Siapa dia" aku bersuara.

__ADS_1


"Kau tidak tau? Itu adalah jubah dari kelompok bandit badai salju" seseorang menjelaskan kepada ku.


Ternyata itu namanya. Sepertinya dia tidak sendiri. Ada puluhan, bukan ada seratus anggotanya. Untuk apa dia datang kesini. Apa ingin menjajah tempat ini?


Samar-samar kepala sekolah berkata "Kami tidak akan menyerahkannya"


Apa yang sebenarnya terjadi. Dan apa yang tidak ingin di serahkan?


"Kepala sekolah Rangga, apa kau bisa mengalahkan kami?" dalam sekejap sekita lima puluh orang telah mengepung kami. Sepertinya sisanya berada di tempat lain.


"Apa hanya itu?" kepala sekolah mengeluarkan lingkaran sihirnya.


Kekuatan yang hebat. Dengan kekuatan seperti ini dia bisa menghancurkan akademi dengan sekali serang.


"Semuanya siap bertarung" seru seorang siswa senior rank A.


"Para pemula harap mengikuti instruksi dari senior. Segera ke tempat evakuasi" Senior lain memberi instruksi.


Kami para pemula mengikuti instruksi dan pergi kedalam ruangan khusus yang sudah diberi penghalang sihir.


Dari luar terdengar intruksi lain. Siswa rank C berjaga agar para pemula tidak melewati penghalang. Rank B sampai SS bersiap untuk bertempur.


Di luar pertempuran hebat terjadi. Kepala sekolah, Rangga menghadapi ketua bandit itu dengan seluruh kekuatannya. Dalam sekejap akademi yang berisi hiruk-pikuk tawa dan cerita-cerita gosip berubah menjadi teriakan dan tangisan.


Satu persatu siswa akademi terjatuh. Ada yang mati dan ada yang terluka. Tim penyembuh berusaha keras di barisan belakang. Tim pertahanan mengkover para penyembuh agar tidak terluka. Tim penyerang jarak jauh dan dekat tampak mengalami kesulitan hingga tanda darurat diberikan. Semua pemula panik dan histeris. Semua tak terkendali.


Dari sini aku melihat Hani keluar penghalang berlari menuju seorang gadis penyembuh yang terluka. Dengan berani dia menerobos pertempuran. Aku harus berusaha keluar dari kerumunan ini segera. Jika tidak Hani dalam bahaya.


Benar dugaanku. Dari atas ada seorang bandit tengah mengayunkan pedangnya kearah Hani. Dia dalam bahaya!


"Tarian benang merah. Badai"


Seketika bangunan yang tadinya utuh menjadi potongan kecil. Orang-orang yang di dalam jangkauan menjadi mayat dan daratan menjadi debu.


"Siapa itu?" kata Kepala akademi dan ketua bandit bersamaan.


"Bukan siapa-siapa. Hanya orang asing yang kebetulan lewat"


Mereka yang ada di sini gemetaran. Mereka yang ada disini tidak bisa melakukan apa-apa dan berbicara apa-apa. Yang mereka katakan dalam hati hanya "Tekanan yang sangat kuat"

__ADS_1


__ADS_2