
Gerbang keluar tampak ramai. Penduduk yang ingin bepergian satu persatu meninggalkan gerbang keluar kota Tersembunyi ini. Aku dan Hani juga istruktur dari akademi mengunggu datangnya keluarga bangsawan yang ingin bepergian itu di dekat gerbang. Sembari menunggu instruktur berisik ini selalu ngomel dan pamer kehebatannya dalam menjalankan misi. Alasannya ikut adalah karena kepala sekolah memerintahkan dia untuk jadi pengawas pada misi pertama ini, sekaligus ujian kenaikan level bagi kami.
Misi kami yakni mengantar anggota kerajaan tengah ini hingga sampai ke kota selanjutnya. Sebenarnya ini misi tingkat C jika perjalanan lancar tanpa hambatan dan akan menjadi tingkat B atau keatas jika menghadapi musuh yang tingkat levelnya tinggi.
Dalam sebuah kereta kuda dengan dekorasi ukiran yang unik di bagian luar dan tampak elegan terdapat orang pentin dari kekaisaran yang akan kami kawal. Sebenarnya aku tidak tau siapa yang kita kawal ini, kami tidak diberi izin untuk mengetahuinya. Kami hanya ditugaskan untuk mengawal sampai ke tujuan selanjutnya dengan selamat, setelah itu misi selesai.
Kami berangkat pagi-pagi agar sampai di bukit cemara saat petang nanti dan akan bermalam disana. Perjalanan kita ke kota tujuan setidaknya memakan waktu dua hari dan setengah malam atau sehari semalam dan setengah hari. Bisa saja kita memaksakan berjalan terus tanpa henti jika itu keadaan darurat dan akan memakan waktu yang tak bisa diperhitungkan jika ada bandit badai salju menghadang . Untuk itu ada tiga tim dan dua dukungan pengawalan dalam operasi ini. Satu di bagian depan untuk memastikan jalan aman. Dua ada di tengah mengapit kereta kudanya. Tiga ada di belakang, dan dua lagi pasukan bayangan yang tidak diketahui keberadaannya. Inilah formasi lingkaran setan yang terkenal di negara tengah ini.
Formasi ini mengandalkan tiga pasukan inti yang memandu jalan. Biasanya pasukan inti tidak begitu banyak, sedikitnya tiga banjar lima baris yang di isi oleh penyihir tingkat C atau B. Yang membuat formasi ini menakutkan adalah pengawal bayangan itu sendiri. Dikatakan bahwa level peringkatnya lebih tinggi dan tidak diketahui keberadaannya.
Awalnya banyak yang menganggap ini hanya isapan jempol saja, setelah beberapa kejadian yang mengerikan ketika anggota kerajaan di sergap pun terbukti adanya. Bahkan kabar terbaru bukan hanya dua atau tiga tingkat S penyihir, tapi lima tingkat SS penyihir. Dari situlah pengawalan kerajaan di takuti oleh para bandit dan perampok.
Aku bisa di bilang beruntung dapat turut serta dalam rombongan ini. Aku dan Hani di tempatkan di bagian tengah yang mengapit kereta kuda. Tidak ada suara yang keluar dari mulut, haanya terdengar derap kaki kuda dan decitan roda kereta yang nampaknya terlihat usang itu. Kami semua waspada hingga langkah kaki kami pun hampir tidak kmterdengar.
Ada aturab penting saat mengawal anggota kerajaan. Kita dilarang untuk berbicara satu sama lain dan hanya berguna bahasa isyarat saja. Peraturan selanjutnya siapapun yang memulai pembicaraan adalah musuh dan terkhir jika melewati batas wajar dalam bergerak seperti yang yelah diatur juga akan di akui sebagai musuh.
"Huh, merepotkan" bisikku sangat lirih.
Hari menjelang petang. Bayang-bayang dan kongkat kayu sama panjang. Aku merasakan ada sesuatu yang aneh ketika kami hampir mencapai tempat tujuan. Hawa kehadiran pasukan bayangan telah berganti. Mungkin ini taktik dari formasi lingkaran ini.
Semakin lama semakin banyak hawa kehadiran penyihir rank atas perlahan menhampiri kami. Ini bukan hawa kehadiran biasa. Ini hawa membunuh yang sangat kuat dari salah satu, Pengawal? Pengawal di barisan belakang mengapa mempunyai niat membunuh yang sehitam ini? Sejak kapan?
Jika di perhatikan formasi pengawalan ini sedikit demi sedikit mulai bergantian orang. Barisan belakang sudah terganti semua. Instruktur juga menghilang. Ini gawat, jangan-jangan ini adalah penyergapan.
Aku berusaha tetap tenang dan berjalan seperti pasukan yang lainnya. Jika keadaan ini memburuk, maka tidak ada jalan lain. Untungnya hanya aku yang mengetahuinya. Aku ingin tahu apa yang akan mereka lakukan pada barisa tengah ini.
Kami terus berjalan menuju tempat yang di rencanakan, bukit cemara. Disana biasanya ada pasukan kerajaan yang mendirikan pos jaga. Pos itu di tujukan untuk melayani masyarakat jika membutuhkan pertolongan dalam perjalanan dari kota Tersembunyi ke kota Abee. Kurasa kerajaan tengah ini tidak buruk.
"Berhenti!" sebuah suara perempuan beseru dari dalam kereta. Seketika seluruhnya berhenti.
"Apa yang kalian inginkan?" suara itu bertanya. Kepada siapa?
__ADS_1
Atau dia menyadari sesuatu.
"Ho, Menarik" gumamku.
Semua terdiam. Tidak ada pergerakan. Kemudian.
BLAAAAR!
Sebuah serangan mengenai salah seorang pengawal barisan belakang. Dia tewas.
"Aku tanya sekali lagi. Apa yang kalian inginkan?" wanita itu berseru lagi.
Masih sama, semua terdiam.
DASSH!
Satu kepala barisan depan terpisah dari tubuhnya. Cukup mengerikan. Dia tidak punya belas kasih sama sekali. Sepertinya.
"Sudah cukup putri" seseorang dengan tenaga sihir yang kuat mendarat tepat di depan kereta kuda.
"Jaka?" kata wanita itu.
"Mau apa kau?"
"Tentu saja menagih hutang" kata pria yang bernama Jaka itu.
Sepertinya ini bermula dari dua pasang insan yang di mabuk asmara. Astaga.
"Belum puas kau mengunci aliran energiku?" tanya putri tenang.
"Aku belum puas" dia menghancurkan kereta kuda dengan sekali hempas.
__ADS_1
Semua berantakan. Paman kusir juga terpental cukup jauh. Sedangkan putri tergeletak di tanah.
"Ho, jadi kau lumpuh, sayang?" jaka mencoba mendekati putri. Putri menjauh.
"Mau kemana?" Jaka mencekik leher putri.
Hah, sial. Wanita secantik dia kenapa harus diperlakukan seperti itu? Apa dia tidak takut jika ibunya akan di perlakukan seperti itu.
Ini keadaan yang sangat berbahaya. Aku mencoba menghubungi kepala akademi namun tidak mendapakan respon.
Sial. Kemana tua bangka itu.
Aku menoleh kearah Hani dan memberi dia isyarat agar dia melarikan diri. Aku berharap jika Hani mengerti apa yang aku isyaratkan. Jika harus membawa lari keduanya itu sangat menyusahkan. Jika harus mengalahkan mereka bukan masalah, masalahnya gelang ini. Jika ketahuan bisa gawat.
Aku mengangguk kepada Hani dan langsung beraksi. Dengan cepat aku menyerang titik vital Jaka dengan beberapa pukulan sederhana sehingga dia menjauh dari putri. Saat itu lah aku menggendong putri dan berlari menjauh.
"Sial! Tangkap ******** itu" seru Jaka.
Aku bergerak dengan cepat walau dengan beban tambahan. Hani juga telah meningkat pesat. Dia dapat mengimbangi kecepatanku.
Kami menuju timur. Untung pasukan Jaka tidak memperketat area ini, jadi kami bisa melarikan diri.
Di tengah pengejaran aku memperluas indraku. Aku harus menemukan tempat untuk bersembunyi untuk saat ini. Kita tidak bisa terus berlari, cepat atau lambat kami akan tertangkap.
"Ah, dapat. Hani, timur laut di tengah air terjun"
Hani mengangguk.
Kami mebelokkan arah menuju air terjun dan masuk ke dalam goa.
"Semoga mereka tidak dapat menemukan kita"
__ADS_1