
Hampir setengah tahun aku belajar bersamanya. Latihan keras dengan menghafal mantra-mantra yang begitu banyak dan masih lagi mempraktekkan secara langsung. Seperti dihadapkan hidangan lezat, aku melahap semua itu dengan sigap. Walau ada beberapa kesalahan, namun Arisanti membantuku meluruskannya.
Tipe pelatihannya sangat kejam. Walau tak sekejam kakek tua itu, tapi ini cukup kejam. Aku di paksa melakukan latihan keras tanpa asupan makanan selama enam bulan. Dia menyuruhku bertapa ketika aku mulai merasa kelaparan. Dia mengajarkanku sebuah tehnik yang dimana itu sangat bermanfaat ketika kelaparan. Walau begitu, itu tetaplah kejam, kurasa.
Kami akhirnya harus berpisah. Dia tak akan meninggalkan pegunungan ini karena dia adalah kunci dimana keseimbangan berada. Jika dia pergi, maka yang terjadi adalah banjir dimana-mana.
Bukan tanpa alasan dia berargumen seperti itu. Itu cukup masuk akal bagiku. Ketika dia meninggalkan tempat ini, pengekang hawa dingin di gunung ini akan hilang, karena itu adalah perwujudan dari hasratnya. Es yang membatu itu akan mencair seiring berjalannya waktu dan mengakibatkan banjir dimana-mana jika dia melepas pengekangnya. Yah, alasan lain adalah dia akan bertanggung jawab atas apa yang dia buat. Cukup mengesankan bagi ras iblis seperti dia.
Dalam kurun waktu enam bulan, penampilanku agak berubah. Bajuku compang camping tak karuan. Sudah seperti gembel saja. Ditambah tubuhku mulai kurus dan hampir kering. Yah ini tak masalah. Aku dapat berkelana lagi. Lagian tak mungkin aku kembali lagi ketempat asalku. Itu mustahil.
Aku menuju kota di dekat hutan terlarang. Di sana ada seorang sesepuh kota juga teman Arisanti. Katanya aku akan diberi identitas baru dan pekerjaan jika aku menyerahkan gulungan mantra ini. Pertanyaannya, bagaimana bisa dia mendapat gulungan ini. Dasar iblis aneh!
"Ada yang bisa saya bantu, tuan?" Kata seorang penjaga kedai di kota tujuan ku, Kota Jaya.
"Ah, aku ingin hanya ingin bertanya, dimana kediaman sesepuh Husen?" aku langsung saja keintinya.
"Ah, beliau adalah pemilik kedai dan guild ini. Apa anda sudah membuat janji?"
Dia cukup ramah.
"Aku diberi tugas oleh kawan lamanya untuk memberikan gulungan ini" aku menunjukan gulungan dari Arisanti.
Aku agak terkejut ketika dia tiba-tiba pergi setelah melihat gulungan ini. Setelah itu, tak lama kemudian seorang kakek tua muncul dari pintu dan menuju tempat pelayanan.
"Maaf, Tuan. Boleh aku melihat gulungannya?" kata sesepuh itu ketika dia dihadapanku.
Aku memperlihatkannya lalu menyerahkan gulungan itu kepadanya. Dia cukup lama memperhatikan gulungan itu sebelum ia mengijinkanku mengikutinya kesuatu ruangan yang berada di lantai dua.
"Silahkan duduk" sesepuh Husen mempersilahkanku.
"Terimakasih, Sesepuh" kataku.
"Ah, jadi kau bertemu dengan dewi salju" sesepuh Husen langsung bertanya ketika aku sudah duduk.
"Iya, Sesepuh. Aku diperintahkan untuk menyerahkannya kepada anda" kataku.
"Jadi, kau ingin aku membuat kartu identitas buatmu. Dan, namamu adalah Kara?"
Kara? Apa yang terjadi? Mungkinkah Arisanti memberi nama seenaknya saja? Sialan dia. Memberi nama tanpa sepengetahuanku.
__ADS_1
"Berarti benar. Disini dikatakan bahwa jika kau hanya diam dan terlihat agak bingung berarti itu benar"
Hah? Apaan sih yang dia tulis dalam gulungan itu. Awas saja jika kau bertemu dengannya lagi. Akan kubuat perhitungan.
"Baiklah. Kamu bisa bergabung dengan kami karena rekomendasi dari dewi salju. Ini adalah kartu identitas kamu" pria tua itu memberi ku sebuah kartu sihir.
"Pendekar pedang?"
"Ya, itu yang dikatakan Dewi. Jadi kamu bisa dikategorikan sebagai pendekar pedang dalam guild. Kami menerapkan sistem poin untuk pendekar pedang agar mereka juga dapat menyelesaikan tugas level sepuluh atau tugas paling berbahaya"
"Baiklah, kau bisa kebagian peralatan untuk mengambil perlengkapan mu. Jadi, selamat bergabung" imbuhnya.
"Gadis, antarkan dia"
Aku mengikuti gadis itu ke tempat perlengkapan. Disana aku mendapat pakaian lengkap dengan armor baja. Namun karena aku tak nyaman, aku memilih untuk ditukarkan dengan jubah saja. Pendekar pedang dengan jubah, itu terlihat keren.
Aku ditawari pedang juga. Namun aku menolaknya juga. Aku sudah punya dua pedang sendiri. Si Yama kesayanganku.
"Itu terlihat pedang biasa" kata penjaga perlengkapan.
"Yah, aku hanya terbiasa menggunakan pedang kecil ini daripada pedang besar dengan atribut sihir itu" kataku sebagai alasan.
"Yah, apa boleh buat" dia masa bodo.
Ada banyak pendekar pedang yang mengantri gilirannya. Rata-rata masih berusia belasan hingga dua puluhan tahun. Dan aku. Ee, entah berapa usiaku sekarang. Aku lupa akan usiaku sendiri. Hadeh...
Para peserta lumayan juga. Walau tekniknya asal-asalan, namun yang mereka incar adalah bagian-bagian vital seperti leher dan jantung. Walau demikian tak buruk juga untuk segi stamina mereka. Mereka bisa bertahan rata-rata satu menit melawan pria penguji itu. Dan rata-rata mendapat tingkat tiga dan empat tergantung skill mereka.
"Selanjutnya adalah Kara. Silahkan memasuki arena"
Yosh. Mari beri sedikit ilmu pada pengguna pedang baru ini.
"Aku sudah siap" kataku setelah memasuki arena.
"Hei, kau masih memasang sarung pedangmu" kata penguji.
"Tak masalah. Ini hanya latihan saja, kan?"
"Hei, kau! Jika tak mengikuti aturan disini, lebih baik kau pergi saja!" dia naik darah.
__ADS_1
"Haih. Jika terjadi sesuatu terhadap pedangmu, aku tak mau ganti rugi" terpaksa aku membuka sarung pedang ku.
"Heh, cukup sombong juga kau, ya" dengan sigap dia langsung menyerangku.
Aku memilih menghindari tebasannya daripada mengadu oedang dengannya. Bisa jadi apa pedang dengan kualitas itu dibanding dengan Yama.
"Heh, mau sampai kapan kau menghindar?" dia menggunakan gerakan yang brutal.
Seperti sebelumnya. Dia juga hanya bisa mengayunkan pedangnya dengan asal-asalan. Banyak celah terlihat. Aku bisa saja menumbangkannya dengan sekali gerak. Tapi aku cukup menikmati kesengsaraannya. Hehehehe.
"Cih, cukup lihai menghindar kau rupanya. Coba kau hindari serangan ini"
Dia agak aneh. Terasa kekuatannya bertambah. Tak cukup sampai disitu. Gerakan dan kecepatannya meningkat cukup drastis. Sepertinya menarik!
Serangannya kali ini aku mengadu pedangku dengan pedangnya. Dengan kekuatan tempurnya sekarang, apa yang akan terjadi jika pedang kami berbenturan?
KLAANGGG!
Semua terpana. Aku sudah mengira ini. Kurasa aku akan menarik perhatian lagi.
"Wah, pedangnya hancur"
"Iya, hancur"
"Bagaimana dia melakukannya?"
"Apa penguji itu memang selemah itu?"
Yah, suara tetangga mulai memanas dan aku khawatir...
"Sial! Kau pasti curang. Apa yang telah kau perbuah, hah?!"
Yah, sudah kejadian. Dia marah-marah tidak jelas.
"Kau pasti curang! Berikan kepadaku pedang itu!" dia semakin menjadi.
"Aku sudah memperingatkan mu, kan. Jika terjadi sesuatu aku tidak akan bertanggung jawab" tentu saja aku enggan memberikan Yama kepadanya. Ini berat, dia tak akan kuat.
"Kau pasti curang! Dia curang! Lihat, dia bahkan tak mengijinkan kami memeriksa pedang itu! Pasti ada yang dia sembunyikan!"
__ADS_1
Sial. Dia semakin menjadi. Seolah-olah aku yang bersalah disini. Padahal aku sudah memperingatkannya agar Yama masih memakai sarungnya, tapi dia ngeyel. Dasar udik!
"Hentikan!" sebuah suara memecah keheningan.