Pendekar Benang Merah

Pendekar Benang Merah
Dimensi Lain


__ADS_3

Kepalaku terasa sakit sekali. Pandanganku kabur dan tubuhku terasa begitu berat. Sekuat tenaga aku berusaha bangkit.


" Argh! sakit sekali, rasanya ingin pecah kepala ini" aku bergumam sendiri.


Saat aku mencoba berdiri tanganku menyentuh sesuatu yang aneh. Terasa lembut, agak kenyal namun terbalut kain.


Perlahan-lahan pandanganku mulai membaik. aku menoleh kearah benda aneh itu. Ternyata ...


"Eeehh!" aku terperanjat.


Ternyata itu Widi. Dan yang aku pegang tadi adalah milik pribadinya. Tak usahlah aku jelaskan. Itu kecelakaan.


Widi pingsan di sampingku dan ada yang berbeda dari penampilannya. Sayapnya hilang! Padahal sayapnya selalu di belakangnya setiap saat mengingat jika ia adalah perwujudan sempurna dari ras siluman.


"Arghh!" Widi mulai sadar.


"Dimana ini?" tampaknya ia menyadari jika ini bukan dataran kematian.


Benar juga. Ini bukan di dataran kematian. Jika dilihat dari langitnya, warna langit di sini agak lebih cerah. Suasana lebih sejuk dan hampir tidak ada aura tenaga dalam sama sekali. Amat sangat tipis


Tunggu dulu! Widi juga tidak memiliki aura tenaga dalam sama sekali. Dia berubah layaknya manusia seutuhnya. Tapi yang lebih aneh adalah kekuatanku masih ada, walaupun tidak hilang sepenuhnya. Sebenarnya apa yang terjadi?


Seingatku aku masih berada di dataran kematian bersama Kelana dan kemudian aku di ajak Widi, kemudian aku tidak ingat.


"Kamu siapa?" tiba-tiba Widi bertanya seperti itu.


Aku tercengang. Apa maksud semua ini? bukannya dia kenal aku? kita pernah bersama beberapa bulan waktu itu, dan dia juga mengatakan jika aku adalah temannya. Apakah dia orang asing yang mirip dengan Widi? Aku pernah dengar jika Tuhan menciptakan manusia itu mempunyai kembaran hingga tujuh kembaran. Namun kalaupun kembarannya pasti ada perbedaannya, tapi apa? atau dia hanya kehilangan ingatannya?


Tapi mungkin dia bukan Widi. Widi punya sayap dengan bulu di punggungnya. Ah, aku bingung.


"Kamu siapa?" dia bertanya lagi.


Tampak jelas dia memang tak mengenalku sama sekali. Mungkin ini memang orang yang mirip dengan Widi.


"Aku, Modo" aku menjawab pertanyaan wanita itu kemudian tersenyum.


"Ah, Modo. Apakah kita saling kenal?" dia bertanya lagi. Aku semakin bingung.


"Entahlah" mungkin itu kata yang tepat.

__ADS_1


"Lalu, aku ini siapa?"


Tunggu dulu. Ini aneh. Dia bahkan tidak tau namanya sendiri? Ini membuatku gila.


"Hm. Kenapa? Kau pasti tau sesuatu kan? Katakan siapa aku ini dan kenapa aku bersamamu?"


Pertanyaan yang sulit. Aku harus apa?


Oke, aku akan menjelaskan apa yang aku tau saja.


"Pertama, aku tidak tau ini dimana dan siapa namamu itu. Kedua, mungkin kita teman tapi aku tidak tau pasti namamu itu, yang aku tau kau itu mirip dengan temanku, Widi" akhirnya aku mengatakan sesuatu.


Sejenak hening. Hanya terdengar hembusan angin yang lembut. Aku selalu memperhatikannya. Dia terlihat sedang memikirkan sesuatu. Sesekali memegang kepalanya.


"Baiklah" dia memecah keheningan.


"Huh. Baiklah apa?" aku kebingungan sendiri.


"Mungkin aku adalah temanmu itu" katanya.


"Ehh"


"Jadi, untuk sementara panggil saja aku Widi. Setidaknya sampai ingatanku kembali. Lagian aku tak tau aku siapa"


"Baiklah. Sekarang kita cari tau tentang tempat ini terlebih dahulu dan kamu jangan jauh-jauh dariku" kataku seraya berdiri.


"Hmm" dia mengangguk.


Ditengah teriknya mentari aku dan Widi berjalan menyusuri jalan tanpa tujuan. Kami berusaha tanya kepada setiap orang yang kami temui di sepanjang jalan. Ternyata ini ada di dataran kepala gajah dan tempat yang kami pijak ini kerajaan Taring Gajah.


Menurut informasi yang kami dapat dataran ini memang berbentuk seperti kepala gajah lengkap dengan taring dan belalainya. Orang-orang disini menyebutnya dataran kepala gajah. Dataran ini terbagi menjadi empat wilayah kerajaan besar, yaitu wilayah kerajaan barat, utara, tengah dan selatan. Sedangkan wilayah timur terdapat kerajaan taring gajah dan kerajaan pasir hitam. Jadi aku berada di wilayah timur dataran ini.


Untuk menyusun rencana kedepannya kami menuju kota terdekat, Kota Angin. Tempatnya berada di antara tiga gunung yang mengelilingi kota ini. Hanya ada satu jalan masuk utama. Kota ini dikelilingi oleh tembok yang tinggi, kemungkinan ini adalah tembok pertahanan kota.


Kami memasuki kota setelah diperiksa oleh penjaga gerbang. Beberapa penjaga tersebut cukup kuat. Jika di tempat lamaku mereka setara dengan petarung.


Kota ini cukup besar dan sangat ramai. Banyak pedagang disini. Mereka menjajakan berbagai macam barang, dan mayoritas menjajakan peralatan perang, seperti pedang, perisai, panah dan masih banyak lagi. Aku tertuju ke sebuah tempat yang bertuliskan guide teratai.


Kata orang disini tempat itu merupakan tempat bagi para petualang yang akan menerima sebuah misi dan akan di bayar jika menyelesaikan misi. Tempat itu sepertinya menarik, lagi pula aku butuh dana untuk bertahan hidup disini. Walaupun bisa saja aku berburu, namun jika aku bergabung dengan mereka aku akan mendapat beberapa keuntungan diantaranya informasi dan pengalaman baru.

__ADS_1


Guide ini cukup besar. Terdiri dari beberapa lantai sesuai dengan tingkat misi dan kemampuan pejuang. Aku dan Widi masuk loby untuk mendaftarkan diri. Guide ini terdiri dari empat kategori pejuang. Ada mandiri, duo, trio dan kelompok. Beruntung sekali aku bisa membentuk tim duo dengan Widi, kelompok yang hanya terdiri dari dua orang. Kurasa ini sudah cukup. Walau Widi tidak memiliki kemampuan tenaga dalam untuk saat ini kurasa itu cukup dengan kemampuanku saat ini untuk menerima misi tingkat rendah.


"Siapa nama anda, tuan?" kata wanita di meja pendaftaran.


"Namaku, Ma,," hampir saja aku bilang namaku.


"Dan ini. Ayu" imbuhku kemudian tersenyum.


Kurasa ini cukup cerdas. Aku tidak mau identitas ku diketahui orang banyak.


"Lalu nama tim kalian apa?"


"Benang Merah" jawabku. Tak apa lah aku menggunakan mana itu lagi.


"Baik, tuan. Silahkan cek kemampuan kalian di cermin kejujuran itu" dia menunjuk sebuah cermin.


Aku mempersilahkan Widi untuk berhadapan dengan cermin tersebut. Setelah beberapa saat cermin itu mengeluarkan hawa dingin hingga orang-orang ketakutan dibuatnya. Aku terkejut melihat kemampuan alami ternyata elemen api, namun itu bukan energi dari tenaga dalam.


"D-dia pengguna sihir es yang langka" seru wanita tadi yang melayani kami.


"Aku, Yun. merasa terhormat bisa bertemu dengan anda" kata wanita itu.


"Sihir?" kataku heran.


Seketika semua orang mengarahkan pandangan mereka kepada kami. Widi masih bingung dengan apa yang terjadi. sementara itu, Samar-samar aku mendengar orang-orang itu saling berbisik mengagumi kekuatan alami Widi.


"Iya, tuan. Bakat alami seseorang akan menentukan masa depan orang itu" jelasnya singkat.


Sekarang adalah giliranku. Aku berada tepat di depan cermin. Tidak terjadi apa-apa. Sampai setengah jam kemudian cermin itu hanya berwarna putih saja, tidak terjadi sesuatu.


"Putih? Hanya itu?" ujar Yun.


"Aneh. Bakat anda tidak terlihat tuan" imbuhnya.


Aku terdiam dan hanya menatap cermin itu. Cukup lama. Hingga kejadian aneh terjadi. Cermin itu pecah saat aku memalingkan badan hendak pergi.


"APA?" teriak Yun.


"Tidak mungkin" dia gemetaran.

__ADS_1


__ADS_2