
Lembah salju terletak di tengah-tengah pegunungan. Lembah ini terkenal akan keangkerannya. Suhu disini sangat ekstrem. Bahkan orang biasa akan mati kedinginan disini.
Lembah salju merupakan lembah dimana mahluk hidup yang sangat suka dingin tinggal. Banyak spesies yang menghuni tempat ini. Rata-rata mereka adalah hewan magis yang sangat kuat. Aku sendiri tidak tau ada berapa tingkat mereka karena aku belum pernah mendengar tentang itu. Para penyihir pemanggil mungkin tau akan hal ini.
Di sebuah sudut lembah terjadi pertempuran hebat antara naga salju dan tiga penyihir suci. Mereka saling melancarkan serangan silih berganti. Naga salju tersudut karena kalah jumlah dan juga strategi. Walau begitu aku tak menyangka jika naga salju mampu bertahan hingga sekarang.
Melihat kondisinya, sepertinya naga salju sudah mencapai batasnya. Disisi lain para penyihir juga hampir kehilangan banyak mana. Mungkin ini yang membuat mereka hampir seimbang.
Tiga penyihir itu mempunyai tipe kekuatan yang berbeda. Aku tak tau namanya apa, namun jenis kekuatan mereka aku paham betul. Satu diantara mereka pengguna elemen api, dan satu lagi mempunyai skill spesial yakni skill penyegel. Aku belum pernah menjumpai hal semacam ini. Namun kekuatan segelnya lumayan kuat.
Yang menjadi masalah kenapa naga salju kewalahan adalah penyihir tipe penyembuh yang berada di belakang mereka. Dia menyembuhkan luka disaat serangan mengenai rekan mereka saat itu juga. Bisa dibilang kedua penyihir itu mempunyai regenerasi instan saat bertarung. Sungguh merepotkan.
BAAAMM!!
Naga salju terjatuh dan menabrak tebing. Dia sudah berada di ambang batas. Dengan tertatih-tatih dia berusaha bangun, namun sialnya penyihir dengan atribut penyegel itu langsung mengekangnya dan tak bisa bergerak.
"Hahaha. Kau sebaiknya menyerah dan tunduk pada kami. Jika tidak, segel ini akan mengekangmu hingga kau tak bisa merasakan tubuhmu lagi" kata penyihir api seraya mendarat tepat di dekat naga salju.
Naga salju tak bisa berkutik. Tenaganya terkuras sekarang. Kesadarannya hampir memudar karena hantaman terakhir itu sepertinya sangat kuat.
"Bagus. Kita buat kontraknya, kawan-kawan"
Ketiga penyihir itu merapal mantra kontrak jiwa. Dengan demikian naga itu akan sepenuhnya menjadi budak mereka. Aku penasaran apa yang akan mereka lakukan jika sudah mendapatkan naga salju.
"Hentikan!"
Mereka seketika menghentikan perapalan segel itu.
"Siapa kau? Jangan ganggu urusan kami!" kata penyihir api.
"Teleportasi?" penyihir yang menguasai atribut penyegel menyadarinya.
"Siapa kau sebenarnya?"
"Aku hanyalah pendekar pedang. Bukan siapa-siapa" kataku sembari mengayunkan pedang melepaskan segelnya.
"Apa! Tidak mungkin!" kata mereka bersamaan.
__ADS_1
"Maaf, tuan. Kami hanya ingin membuat kontrak jiwa dengan naga ini. Mohon jangan menghalangi" kata penyihir yang ternyata adalah wanita itu, penyihir penyembuh.
"Sebelumnya saya juga ingin mohon maaf nyonya" yah dia terlihat seperti ibu-ibu.
"Dia adalah kawan saya. Jadi sudah seharusnya aku membantunya. Mohon mengerti" kataku sembari memberi sedikit mana kepada naga salju.
Kurasa itu sudah cukup untuknya berbicara seperti biasa. Jadi dia bisa memberi kesaksian.
"Dia benar" dengan suara parau naga salju mencoba memberi kesaksian.
"Dia bisa bicara?" mereka bertiga kaget.
"Eh, kau tak tau jika dia bisa bicara?" tanyaku.
Mereka terdiam. Hanya menggelengkan kepala.
Aku bingung. Bagaimana bisa mereka berburu tanpa mengetahui informasi dari buruannya. Aku juga penasaran darimana mereka tau keberadaan naga salju.
"Maaf sebelumnya. Darimana anda tau jika ada naga di lembah ini?"
"Kami tak akan memberi informasi kepada musuh" kata penyihir api.
"Kau sudah menghalangi kami, jadi.." dia mengeluarkan aura membunuh sangat kuat.
"Jadi kau ingin bertarung, begitu?" kataku sembari mengintimidasinya dengan aura milikku.
"Ukh! Sa-sangat kuat"
Aku tak punya pilihan lain. Setidaknya ini cukup untuk mengintimidasinya. Aku tak suka bertarung. Terlalu banyak darah yang tertumpah, banyak janda dan anak yatim pula. Hemh, itu masuk akal.
Disaat yang bersamaan aku menyalurkan energi sekitar untuk menyalurkan mana kedalam tubuh naga salju. Teknik ini aku dapat ketika aku berlatih di puncak tertinggi. Pada awalnya aku masih ragu jika ini berhasil, namun berkat Alice aku menjadi yakin jika teknik ini sangat berguna. Alice memang kelinci percobaan terbaik. Tak sia-sia aku merekrutnya.
Sejujurnya aku memberi sedikit Alice aliran mana sebelum menyuruhnya bermeditasi. Karena basic Alice adalah mana aku mengambil energi sekitar untuk mentransfernya. Ini seperti penyaluran tenaga dalam di dunia tabib di daratan asalku. Jadi aku hanya mempraktekkannya disini.
"Ugh! Kita harus melawannya!" kata penyihir api.
"Apa kau gila? Dia jelas lebih kuat dari kita. Mana mungkin kita dapat mengalahkannya" si perempuan menyangkal.
__ADS_1
"Aku familiar dengan aura ini. Dia adalah penyihir benang merah. Dia hanya mempunyai kekuatan mental saja. Pada saat tiga kubu aliansi menyerang dia, dia hanya mengelabui kami dengan ilusi kemudian kabur"
"Apa kau yakin, Ri? Tapi bagai mana kita mengatasi intimidasi ini?" kata penyihir tipe pengekang.
"Aku punya ini"
Sementara aku sibuk berkonsentrasi menyalurkan mana ke naga salju, mereka membuat sebuah rencana.
"Heh, tak mempan lagi ya level ini" kataku setelah menyadari bahwa mereka tidak tertunduk lagi.
"Hahaha. Trik yang sama tak akan mempan padaku. Semenjak saat kita berhadapan di dekat hutan cemara waktu itu, kami aliansi penyihir dunia membuat artefak agar terhindar dari ilusi ataupun intimidasi yang selevel dengan mu"
"Itu benar. Aku baru menyadari jika aura ini sangat familiar bagi kami" imbuh temannya.
"Oh, jadi kalian salah satu dari mereka. Sekarang aku mengerti"
Jika mengingat tentang hari itu hatiku sangat hancur. Aku tak menghabisi mereka karena mereka tak layak untuk mati. Mereka hanya alat untuk menguasai dunia. Ini tak sebanding dengan pengorbanan dan hasil yang mereka dapat. Kenapa mereka tak sadar juga.
"Jadi, apa maumu?"
"Tentu saja. Kami akan memenggal kepalamu!" kata penyihir api.
"Jadi, kau ingin membunuhku?" kataku setelah aku berpindah tempat tepat di belakang penyihir itu.
"Aaggkh! Sejak kapan?"
"Kau tak menyadari kenapa aku mengampuni kalian? Karena kalian tak layak untuk menghiburku" kataku sembari mencabut Yama dari tubuhnya.
"Kurang ajar! Berani sekali kau membunuh kawan kami! Haaa"
Sebelum mereka selesai merapal mantra. Saat itulah anak yatim dan janda baru muncul. Sedangkan yang satunya.
"Kau juga ingin seperti mereka?" tanyaku kepada penyihir wanita itu.
Dia gemetaran. Tubuhnya seperti melemah seketika. Ketakutan jelas terlihat di wajahnya. Sungguh aku tak tega.
"Pergilah. Katakan pada atasanmu. Aku siap melayani kalian kapan saja!"
__ADS_1
Aku langsung pergi bersama naga salju yang berangsur membaik. Lukanya memang parah, namun dia masih bisa terbang seperti biasa. Jika untuk terbang sampai ke sarang, ku rasa itu lebih dari cukup. Dan untuk aliansi penyihir atau apalah itu. Aku akan mengurusnya nanti.