
"Itu cuma ilusi, Tuan" seseorang berbicara dengan sangat sopan kepada seorang lelaki paruh baya yang tengah duduk di kursi sambil menghadap ke jendela.
"Jadi bukan hanya pemanggil, dia juga melakukan ilusi untuk pasukan sebesar itu?"
"Benar, Tuan"
"Hoo" ujar lelaki paruh baya itu.
"Sampai kapan kau akan lari penyihir Benang Merah?"
....
Hutan terlarang. Tempat dimana hewan buas dan mahluk sihir berada. Aku berjalan menyusuri hutan dengan perasaan tak karuan. Dalam pikiran aku selalu membayangkan tindakan yang dilakukan Hani sangat keterlaluan. Untung saja aku menggunakan ilusi itu untuk menghindari pertumpahan darah. Jika tidak, tempat itu akan menjadi lautan darah karena kemarahan Yama.
Sekarang aku bingung. Kata kakek itu aku harus mencegah peperangan di dunia ini. Jika tidak, aku khawatir akan hancur lebur daratan di dunia ini. Itu semua karena aku merasakan kekuatan besar dari penjuru negri. Kekuatan yang setara dengan pendekar kelas atas, sang penyihir suci.
Daratan ini cukup luas. Aku akan berkelana mulai sekarang. Melupakan tentang Hani, melupakan soal putri Kalya dan menemukan Widi. Jujur aku masih penasaran tentang bagaimana jalur dimensi itu. Apakah itu teleportasi atau apa. Jika itu teleportasi aku mungkin bisa kembali lagi ke dataran itu, dimana Kelana berada. Ah, sudah lah. Untuk sekarang mencari Widi adalah prioritas utama.
Untuk sekarang aku akan pergi ke tempat dimana bandit badai salju berada. Mungkin saja aku akan menemukan petunjuk tentang Widi disana. Apakah dia baik-baik saja sekarang. Sedang apa dia saat ini? Kenapa aku merindukannya?
Setelah melewati hutan larangan aku menuju ke pegunungan salju abadi. Pegunungan ini sangat luas. Akan memakan waktu banyak jika harus mengitarinya. Lebih baik aku gunakan kehendak Tuhan agar jangkauan pandanganku luas. Ini akan mempersingkat waktu. Baiklah, mari mulai.
"Terbuka!"
Ini mudah. Seluruh pegunungan terlihat dengan jelas. Ada pemukiman di tengah lembah itu, namun nampaknya tak ada tanda-tanda dari lambang atau aura yang sama seperti waktu itu. Mungkin saja mereka berada di bagian lain gunung ini. Tapi dimana?
Mari kita lihat di tempat lain. Hampir tidak ada kehidupan dimana mata memandang, kecuali disana. Terdapat pemukiman warga. Sepertinya terlihat familiar. Ah, benar juga. Itu adalah kelompok bandit badai salju. Tapi dimana Widi? Tunggu, apa-apaan ini? Widi dihormati oleh mereka, dan ada dua?
Apa yang sebenarnya terjadi di sini. Mereka sangat mirip. Mungkinkah itu saudara kembarnya, atau hanya kebetulan saja. Bagai pinang dibelah dua, mereka sangat mirip.
__ADS_1
"Baiklah. Aku akan tau setelah sampai disana"
Aku langsung bergegas menunju ke arah selatan dimana markas bandit badai salju berada. Aku terbang menggunakan tenaga dalam. Sekarang aku dapat memanipulasi tubuh dan udara sekitar. Ini sangat bagus jika digunakan untuk bepergian seperti ini. Selain mempersingkat waktu, ini juga memakan sedikit tenaga dalam. Sangat sempurna.
Ini adalah pemandangan baru untukku. Sejauh mata memandang hanya berwarna putih. Salju sepertinya menutupi gunung ini bertahun-tahun. Mungkin malah berabad-abad. Entahlah, tapi aku mulai merasa hawa dingin mulai semakin kuat semakin aku jauh masuk kedalam wilayah pegunungan ini. Rasa dingin ini tak seperti biasanya. Ini sangat berbeda. Pendekar pengguna elemen es saja tidak seperti ini. Energi ini sangat kuat.
Aku ingat ketika aku menyinggung wanita itu. Dia orang yang mudah marah. Saat dia marah padaku, hampir dia membuatku dan seluruh desa menjadi es batu. Namun untung saja kesalah pahaman itu hanya berlangsung sebentar, jadi penduduk desa pun terselamatkan.
Yah, itu kisah lalu. Tak perlu aku bernostalgia. Tapi hawa ini benar-benar mengingatkanku pada dirinya. Bagaimana kabarnya, ya?
Saat aku bernostalgia sekelebat aku melihat ada seseorang berada di puncak tertinggi pegunungan ini. Saat aku menolehnya, dia menghilang. Tapi anehnya aku merasakan hawa keberadaan di sana. Jadi aku memutuskan untuk memeriksanya. Ini hanya halusinasi atau memang ada seseorang disana.
Aku membelokkan arah. Dengan kecepatan tinggi aku menuju puncak tertinggi. Tidak ada siapa-siapa disini. Hanya terdapat bebatuan yang tertutup salju tebal. Walau di puncak, ini seperti tanah rata yang berada di ketinggian. Sangat mengagumkan.
"Siapa itu!" aku merasakan hawa keberadaan tepat di atas baru runcing yang ada di ujung jurang.
Aku tak mengerti. Apa maksudnya itu.
"Maaf, Nona. Dapat melihat. Apa maksud Nona? Sudah seharusnya aku dapat melihat sesama manusia, bukan?"
Wanita itu tersenyum dan melayang turun dari atas batu.
"Ah, aku jadi malu. Percayakah kalau aku sudah berada disini selama ratusan tahun?" wanita itu mencoba memainkan teka-teki.
Aku terdiam.
"Sepertinya kau tak percaya, ya. Terimakasih, loh. Sudah memanggilku nona" katanya kemudian tertawa manis.
"Kau tau. Aku sangat kesepian disini. Hampir ribuan tahun aku disini. Percaya?" dia melempar pertanyaan sambil menoleh kearahku.
__ADS_1
"Kau tau kenapa pegunungan ini disebut pegunungan salju abadi?" katanya sembari memandang jauh entah kemana.
"Namaku, Arisanti" dia menolehku dan tersenyum. Senyum itu seperti tertahan sangat lama. Aku tak tau pasti.
"Salju disini menggambarkan dinginnya hatiku yang menanti seseorang yang tak kunjung datang. Aku biasa disebut dewi salju. Tak seperti namaku yang berarti orang yang mempunyai hati yang lembut. Namun sebaliknya, hatiku dingin. Sangat dingin"
Dia menghela nafas panjang, berusaha menahan rasa pahit kehidupan yang dia hadapi.
"Aku membekukan wilayah ini karena aku tak tahan melihat mereka menanti keluarganya kembali dan itu terpenuhi. Aku iri. Iri terhadap para istri yang menunggu suaminya pulang. Iri terhadap saudara jauh yang bertemu setelah sekian lama tak pulang. Iri, aku iri"
Tanpa sadar ia mulai berlinang airmata. Dia tak salah jika iri kepada mereka yang mempunyai kebahagiaan. Kepada mereka yang tersenyum lepas dalam kehangatan keluarga. Aku paham.
"Mengapa kau menceritakan ini padaku?"
Ya, aku penasaran soal itu. Mengapa ia dengan mudah menceritakan masalahnya kepadaku. Kita baru petama kali bertemu dan itu beberapa waktu yang lalu.
"Kita sama" ujarnya dalam tangis.
"Kau mencari seseorang, bukan?"
Aku terdiam. Sama? Dia tau aku mencari Widi.
"Gadis yang kau cari telah tiada. Dia menghilang setelah perpindahan dimensi saat pertama kali kau kesini. Dia tak kuasa menahan rasa sakit ketika perpindahan itu. Dia mati karena tenaganya terkuras dan esensi kehidupannya turut lenyap. Karena dia keturunan iblis, dia sekarang menjadi api. Seperti para leluhurnya yang terbuat dari api" katanya seperti mengetahui segalanya.
"Ya. Widi yang kau cari telah lenyap"
Sejenak hening. Hatiku mendadak kosong. Ada sesuatu yang hilang dari dalam hatiku.
"Pencarianmu sia-sia. Kita sama"
__ADS_1