Pendekar Benang Merah

Pendekar Benang Merah
27


__ADS_3

"Baiklah, kita akan langsung mempraktekkan teori yang saya sampaikan. Alasanya sederhana. Ilmu berpedang bisa dikuasai bukan karena terori saja, melainkan prakteknya"


Itu benar bahwa ilmu itu semestinya dipraktekkan, bukan hanya dijadikan sebagai teori omong kosong bahkan pemilik ilmu itu sendiri belum pernah mengamalkannya. Ini seperti cangkang tanpa isi.


Aku terpaksa melakukan ini demi melanjutkan hidup. Aku tak tau lagi harus bagaimana. Ratu itu terus memojokkan ku hingga aku tak punya pilihan lain selain menjadi seorang intruktur di akademi sihir yang dimiliki oleh tiga negara ini. Di samping itu aku hanya ingin hidup tenang disini.


"Latihan ini kita akan menggunakan alat pengekang mana"


"Haaah?" murid-murid itu kaget.


"Tenang dulu. Aku sudah mendiskusikan ini dengan ratu. Mana atau energi sihir pada manusia akan habis bila digunakan dengan sembarangan, dalam pertempuran, atau hal-hal yang dapat menyebabkan hilangnya mana lainnya"


"Seperti ini" aku mengayunkan pedangku dengan cepat sebelum mata mereka menyadari kalau target batu sudah menjadi kepingan-kepingan kecil.


"Woaah" decak kagum mereka menambah semangatku.


"Tebasan tadi tanpa mana. Lihat, aku mengenakan pengekang sihir seperti kalian juga" yah, contoh itu pengajaran yang paling efektif.

__ADS_1


Aku kemudian menjelaskan kepada mereka jika kita akan melatih fisik sebelum pelajaran diadakan. Ini bagus buat kebugaran mereka. Setelah kebugaran aku akan melatih teknik dasar kepada mereka. Aku juga mempunyai kebijakan jika salah satu dari mereka belum menguasai dengan sepenuhnya, aku tak akan menambah pelajaran baru.


Walaupun diskriminatif disini sangat mencolok aku telah menerapkan kebijakan akan menghukum mereka yang melakukan itu. Selain itu aku juga mengajarkan tentang budi pekerti, ini akan bagus untuk kedepannya.


Awalnya banyak yang menentang kebijakan ku sebagai instruktur, namun seiring berjalanya waktu mereka merasakan hasil atas jerih payah mereka. Ada juga putra bangsawan yang protes terhadapku. Dia membawa petualang rank-B untuk membuat masalah denganku. Ada juga yang mengadu ke ayah mereka yang merupakan pejabat negara. Ada juga yang sampai mengajak berduel diarena. Namun usaha mereka yang memberontak itu sia-sia.


Sebulan telah berlalu. Aku memutuskan untuk melatih mereka bertarung di alam liar. Disini aku menemukan kendala yang mana tidak ada satu pun instruktur yang turut andil dalam pengawasan. Apa lagi tempat yang direkomendasikan oleh tim pelatihan berada hutan yang tak semestinya mereka masuki. Aku merasa ini adalah sabotase.


Yah, aku bersukur sih. memang ini yang aku harapkan. Dengan ini mereka akan terus berkembang dimasa depan. Terimakasih sabotasenya.


Senja menjelang kami putuskan untuk pulang. Semua telah berjuang dengan keras. Kerjasama mereka juga semakin membaik. Budi pekerti mereka juga membaik. Tak ada yang bersikap arogan maupun membanggakan derajat keluarganya. Kecuali beberapa orang bodoh yang hatinya beku.


Menjalani rutinitas yang agak monoton ternyata tak buruk juga. Pagi sampai siang aku mengajar di akademi. Pulang ke rumah di sambut hangat oleh Alice dan Yori. Walaupun terkadang Hania juga kesini untuk membuat ribut di dapur atau hanya sekedar berdebat dengan Alice tentang masalah sepele, ku rasa tak buruk juga.


"Apa lagi sih yang kalian rebutkan?" kataku saat suasana mulai tak terkendali.


Begitu berulang-ulang hingga aku hafal betul kapan mereka akan berdebat.

__ADS_1


"Besok kau akan menemani muridmu ke dungeon, kan?"


"Apa? Dungon?"


"Du-nge-on" Hania mengeja.


"Ah, apa itu" tanyaku.


Kemudian dia menjelaskan semuanya yang dia tau. Jujur saja aku tak mengerti apa yang dikatakannya. Aku hanya menggangguk saat dia bilang 'faham' saja. Sepertinya tak buruk juga melatih mereka di medan pertempuran yang sesungguhnya.


Keesokan harinya kami berkumpul di depan pintu dungeon nya. Pintu itu seperti cahaya yang berbentuk agak oval. Pintu itu seperti pusaran air, berwarna hijau muda. Katanya sih ini dungeon bagi pemula.


"Baiklah, aku akan masuk terlebih dahulu untuk memastikan jika ini aman" kataku kepada murid-murid.


Walaupun mereka berkata 'Apa sih yang di khawatirkan dengan dungeon kelas rendah. Toh hanya berisi monster-monster lemah, bahkan anak kecil pun bisa mengatasinya'.


Sejujurnya sih aku sendiri yang penasaran seperti apa di dalamnya. Toh tak ada salahnya menghawatirkan keselamatan mereka, kan.

__ADS_1


Setelah aku melewati pintu itu, yang ku jumpai bukan goa seperti yang di katakan Hania waktu itu. Ini sudah seperti berada di daratan yang berbeda. Lalu pintu itu tiba-tiba menghilang. Hanya ada satu penjelasan tentang ini. Bukankah ini dungeon kelas atas?


__ADS_2