Pendekar Benang Merah

Pendekar Benang Merah
Draga


__ADS_3

Sejak kecil Draga memang mirip dengan manusia. Itu karena ibunya adalah seorang manusia. Sejak kecil ia selalu mendapat perhatian lebih dari kedua orang tuannya. Dia adalah anak yang penurut, ceria dan juga ceroboh.


Walau pun Draga cucu dari naga namun ia dibenci. Ia dianggap sebagai aib ras naga. Tak satupun teman yang mau bermain dengannya. Ia di kucilkan dan tak dianggap. Hanya keluarganya lah yang mau menerimanya. Walau dia tidak mempunyai teman, ia selalu menghabiskan waktu bersama kakenya selama ayahnya pergi melaksanakan tugas.


“Kek, kenapa aku tidak memiliki sayap dan sisik seperti kaum kita yang lain?” tanya Draga.


“Karena kamu itu istimewa. Suatu saat kau juga bisa berubah menjadi naga seutuhnya”


“kapan?”


“Jika Draga sudah besar nanti”


Draga tersenyum ketika kakeknya mengatakan itu.


“Lalu kenapa aku selalu dikatakan sebagai aib dari ras naga? Apa aku mirip manusia, ya?”


Draga kecil selalu mempertanyakan apa yang ia dengar dari mereka yang menghujatnya. Sebagai kakek, raja naga selalu memberi jawaban yang tepat agar Draga tidak merasa sedih dan dikucilkan.


“Katanya kakek mempunyai teman manusia?” mereka melanjutkan pembicaraan ketika senja mulai membentangkan sayapnya di ujung barat.


“Benar. Dia itu orang yang kuat namun dia juga orang yang baik”


“Seperti Draga?”


“Benar. Saat tiba waktunya nanti kamu akan berjumpa dengan teman kakek ituu. Dia masih muda, dia juga kuat, baik, dan selalu bertingkah konyol. Walau pun begitu dia itu sebenarnya selalu lari dari masalah. Ah, begitu lah. Jangan ditiru, ya.”

__ADS_1


“Yang mana?”


“Yang melarikan diri dari permasalahan. Suatu hari nanti Draga harus bisa menghadapi apapun masalahnya dan jangan melarikan diri”


“Seperti teman kakek yang selalu lari dari masalah?”


Raja naga hanya menganggukkan kepala.


“Walaupun dia sering melarikan diri dari masalah. Dia selalu bertanggung jawab”


Draga kecil bingung sementara kakeknya tersenyum.


....


Istana naga.


Disaat yang sama Draga berlari sekuat tenaga. Ia berulang kali dilempari bola api dari naga yang memburunya. Sesekali ia terjungkal dan bangkit kembali. Ia lari, terus berlari. Nafasnya tersengal, rasanya ia ingin jatuh dan menyerah. Saat ini ia ketakutan hingga yang ada di pikirannya hanya ia harus menyelamatkan diri seperti perintah kakek. Itulah mengapa ia terus berlari.


Draga terus berlari hingga ia memasuki hutan. Hutan itu sangat lebat. Ia tertatih-tatih seperti tak kuasa lagi. Kakinya hampir mati rasa. Pandangannya kabur. Keringat tak mau keluar lagi. Ia harus bertahan atau menjadi korban.


Dengan sedikit tenaga yang tersisa, ia masih berlari. Ia terhenti di sebuah gua dan memutuskan untuk bersembunyi disitu. Ia memasuki gua tersebut tanpa pikir panjang. Yang teerlintas adalah yang penting selamat. Akan tetapi suatu keadaan aneh terjadi. Setelah sinar terang menyilaukan matanya, Draga tak sadar lagi setelah itu bagaimana.


Draga masih merasa kepalanya sakit. Mungkin ia kecapean karena memaksakan diri kemarin. Ia merebahkan lagi kepalanya diatas tanah. Setidaknya ini terasa nyaman, pikirnya.


Setelah beberapa saat Draga membuka mata. Ia terkejut ketika ia bagung berada ditengah padang rumput yang luas. Sepanjang mata memandang hanya ada rumput yang bergoyang di tiup angin. Sepertinya mereka menikmati hidup mereka di sini bersama dengan keluarganya.

__ADS_1


Setelah kekuatannya pulih, Draga memilih untuk beranjak dari sana. Ia tak tau ini dimana. Ia tak tau apa yang sebenarnya terjadi. Bukankah ia bersembunyi di gua? Mengapa ia berada di padang rumput seluas ini. Diamana ini?


Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Bulan berganti tahun. Waktu berlalu begitu cepat Draga hiduphanya mengandalkan dirinya sendiri. Berburu dan memanfaatkan alam. Hanya itu yang bisa di buat Draga pada waktu itu. Tubuhnya kering, hampir tidak memiliki daging sama sekali. Hingga kakek dan nenek yang menggembara menemukannya dan merawat Draga hingga saat ini.


Draga sangat senang walaupun ia adalah cucu pungut yang jumpai kakek dan nenek angkatnya di hutan. Ia sudah menganggap mereka seperti keluarga. Hingga saat jati diri Draga terungkap. Penduduk desa yang mengetahui ia adalah naga berusaha memburunya. Alasannya adalah menurut mitos, siapa saja yang memakan daging naga akan mendapat kekuatan sihir yang besar.


Setidaknya itu tercantum dalam buku kuno yang menjelaskan pernah ada seekor naga yang berhasil dikalahkan dan dijadikan daging panggang. Seketika orang itu menjadi penyihir yang tak terkalahkan di dunia sihir ini. Dari cerita mulut ke mulut kabar itu menyebar bagai angin musim semi. Kabar itu berkembang hingga ratusan tahun setelahnya dan mengakar di masyarakat.


Draga yang sudah dianggap cucu sendiri oleh kakek dan nenek angkatnya, berusaha melindungi Draga. Mereka tewas ketia berusaha melindungi Draga. Sejak kejadian itu Draga mulai murka dan membantai seluruh penduduk. Setidaknya begitulah cerita dari Draga kecil.


“Lalu sekarang bagaimana?” tanyaku setelah Draga bercerita.


“Mereka hampir sampai disini” tutuku.


Ini bisa gawat jika mereka mengetahuinya. Kami bakal kewalahan melawan pasukan besar dari berbagai pihak. Setidaknya ada ratusan penyihir master yang tengah menuju kesini dengan kecepatan penuh. Walau kami dapat melarikan diri. Perang antar bangsa pasti akan berkecamuk disini. Bisa-bisa tugasku disini akan gagal.


“Sepertinya tak ada jalan lain” kata kakek raja naga.


Aku mengangguk. Untuk saat ini mungkin kita harus melerai pertikaian disini. Mungkin dengan bantuan Draga dan kakek raja naga aku dapat mengatasi masalah peperangan. Namun masalahnya adalah Kalya dan Hani yang tak sadarkan diri. Ini sungguh merepotkan.


Sementara itu. Pasukan dari empat penjuru mendekat dengan kecepetan tinggi. Masing-masing terdapat penyihir dengan kemampuan luar biasa. Setidaknya ada ratusan penyihir master dan puluhan penyihir tingkat legenda.


Ini mengingatkanku saat berada di dunnia persilatan pada waktu itu. Serangan empat penjuru ras iblis mengepungku. Tak ada jalan untuk lari. Peprangan yang akan menewaskan ratusan, bahkan ribuan orang akan segera terjadi. Semua menginginkanku untuk berahir. Itulah mengapa setelah peperangan melawan ras iblis berahir aku menghilang. Aku tak ingin ada pertumpahan darah lagi. Mungkin hari ini akan terjadi lagi.


“Ya sudahlah. Mari bereskan kekacauan yang sudah kita buat selama acara reuni keluarga ini” kataku sembari menyembunyikan identitasku seperti biasa.

__ADS_1


Menggunakan baju zirah, topeng dan juga caping kesukaanku. Kali ini aku tak akan menggunakan barang itu lagi. Selain cepat rusak juga susah mencari caping baru disini. Menggunakan aura spiritual untuk mengubahnya menjadi baju zirah dan caping adalah jalan terbaik. Selain ini lebih tebal juga sangat nyaman.


“Mari kita selesaikan”


__ADS_2