Pendekar Benang Merah

Pendekar Benang Merah
Akibat Tewasnya Belati Angin


__ADS_3

Matahari terasa lembut menyapa dunia ini ketika sekerumunan orang berduyun-duyun memasuki tribun arena hidup dan mati. Arena ini seluas stadion sepak bola tapi lebih merujuk ke arena gladiator. Kursi penonton penuh sesak oleh penonton. Sementara itu, diatas arena ada seorang penyihir elit yang tengah bersiap menunggu lawan tandingannya.


Awan terlihat bergerak pelan mengikuti arahan angin. Sepertinya mereka hanya pasrah mengikuti nasib. Seperti aku, pasrah akan ujian ini.


Ketika awan mulai menutupi cahaya mentari di arena. Aku perlahan memasuki arena. Aku tak yakin akan apa yang aku lakukan ini. Entah benar atau salah, aku tak tau.


Lawan tandingku saat ini adalah Belati Angin. Penyihir berelemen angin yang pernah menjalani misi untuk kerajaan. Dia terkenal bengis dan agak arogan. Di samping itu dia juga mempunyai seorang adik perempuan yang selalu menantikan kehadirannya di rumah.


Seperti peribahasa 'Buah jatuh tak jauh dari pohonnya', adik belati angin juga berperilaku agak buruk. Hanya membully mereka yang lemah, mengagungkan kakaknya yang cukup hebat dan merasa bahwa kakaknya lah yang terkuat diantara generasi sebayanya. Bahkan kakaknya sering mendapat misi berbayahaya dengan tinggkat keberhasilan nyaris sempurna. Itulah mengapa dia juga sama arogannya.


Aku tak paham akan jalan pikir orang-orang disini. Demi membuktikan dia yang terkuat mereka berani mengambil resiko tanpa berpikir panjang. Tantangan ini adalah bukti nyatanya. Hanya karena dia iri terhadap apa yang aku peroleh belakangan ini dia berani mengambil keputusan yang ceroboh.


"Akhirnya kau datang, pecundang" dia menyapaku ramah. Kata yang tajam itu cukup ramah, kan?


Aku membalas dengan senyuman.


"Jika kau takut, kau boleh menyerah sekarang!"


Yah, perkataan bodoh. Bertarung hingga mati atau menyerah di awal itu sama saja hasilnya. Ujungnya akan mati juga.


Aku tersenyum.


"Kau abang yang baik. Jadi, aku menyerah"


Sejenak kebisingan hilang. Suara angin yang berhembus kencang terdengar sangat keras.


"APAAA?!"


Semua orang bersorak kaget mendengar keputusan ku ini. Ceroboh memamng. Namun aku sudah meneliti arena ini sejak aku datang tadi.


Di arena ini terdapat sihir yang kuat. Mungkin setingkat dengan legenda. Dan itu akan meluluhlantakkan tubuhku dengan sekejap.

__ADS_1


Hani dan Kalya yang sebelumnya aku peringati tak akan panik. Meraka hanya duduk diam dengan ekspresi cemas. Namun aku mengatakan itu bukan tanpa persiapan. Rencanaku kali ini sangat matang.


Peraturan arena ini adalah ketika kedua belah pihak telah memasuki arena, mereka berhak melakukan serangan dadakan. Itu tidak terhitung curang atau apa, melainkan itu di hitung sebagai taktik perang.


"Ya, aku menyerah jika kalian ingin aku bertarung dengan kekuatan penuh. Itu berbahaya" kata ku sambil melangkah meninggalkan arena.


"Hakhg" sang belati angin terjatuh.


Semua terdiam. Aku meninggalkan arena tanpa halangan.


Sesaat kemudian semua mengeluarkan opini mereka. Semua heran. Tidak ada yang tau apa yang sebenarnya terjadi di arena. Tiba-tiba aku mengatakan menyerah sesaat aku berhenti di tengah arena. Juga sesaat setelah belati angin berbicara kepadaku. Kini tubuhnya tergeletah dan tebelah menjadi dua bagian. Sementara itu penghalangnya pun terkoyak.


Sebenarnya aku melakukan tebasan tanpa bayang. Tebasan itu tidak akan terlihat dengan mata telanjang. Pergerakannya cepat dan potongannya sangat tipis. Ini merupakan teknik ciptaanku sendiri. Jurus inilah yang memberiku julukan benang merah atau benang darah.


....


Setelah tewasnya belati angin rumor bahwa monster tanpa bayang menyebar ke penjuru kota. Berita ini menjadi topik hangat yang sering di bahas minggu ini. Bahkan koran lokal memuat opini yang dilebih-lebih kan. Tak bisa aku menuliskan semua, intinya akulah monter tanpa bayang itu.


"Merepotkan" kataku.


"Bukan begitu, Han. Ku pikir dengan ini akan bisa mendapat misi dari kerajaan, tapi malah mereka mencoba memburuku sekarang"


Hani tersenyum.


"Ngomong-ngomong, bajumu bagus"


Aku menghela nafas dalam. Sejujurnya aku tak suka begini. Demi melindungi dari kerumunan masa Hani mendandaniku dengan dandanan semacam ini. Menggunakan rok mini dengan baju agak longgar dan memberi bedak setebal ini. Ini seperti wanita di rumah remang.


"Kau terlihat cantik" setelah itu hani tertawa.


"Cantik gundulmu"

__ADS_1


.....


Di penginapan tempatku tinggal Kalya tengah berbelanja keperluan makan malam nanti. Dia terpaksa aku tinggalkan karena ia terlalu mencolok jika berkeliaran di luar bersamaku.


Di ruang tempat berbelanja (semacam mini market) Kalya di hampiri sekerumunan orang. Mereka bertanya mengenaiku. Mulai dari, bagaimana caraku melalukan teknik itu, sihir tipe apakah aku ini, berapa usiaku, dan bahkan pertanyaan tidak penting lainnya.


"Kemudian aku memutuskan kabur" kata Kalya.


"Untuk saat ini mendingan kamu jangan keluar dulu, Modo"


"Tapi, Han"


"Hani benar. Lebih baik kau memikirkan langkah selanjutnya dalam misi ini"


Hani mengangguk tanda setuju.


Benar yang dikatakan Kalya. Untuk sementara ini aku akan tetap diam di kamar sembari memikirkan cara menggulingkan raja sekarang dan membuka kedoknya.


Ini akan mudah. Hanya menunggu beberapa hari dan semua akan kembali normal. Akan tetapi setelah beberapa minggu...


"Akh! sampai kapan akan berakhir?" teriaku.


Ini sudah lewat satu bulan setelah belati angin tewas. Akan tetapi para wanita itu semakin banyak saja. Penginapan ini hampir penuh dengan para gadis yang berteriak memanggil namaku. Secara tidak masalah ini sengaja menimbulkan masalah baru yakni kebencian para pria semakin meningkat.


Apa salahku coba? Aku hanya mengayunkan pedang lebih cepat dari cahaya doang dan membunuh belati angin. Secara teori lu pikir sendiri dah. Lu yang bunuh atau lu yang di bunuh. Kalau gue sih lebih baik bunuh daripada terbunuh. Masih perjaka men. Belum pernah merasakan kehangatan.


Jika penderitaan orang lemah adalah kena bully yang lebih kuat. Apa ini penderitaan orang terkiat di dunia? Sumpah kagak kuat dah. Tekanan batin coy.


Oke, kembali ke topik.


Singkatnya aku diusir oleh pemilik penginapan dan menjadi gelandangan. Berhari-hari kami lontang lantung tidak jelas mau tinggal dimana. Sedangkan misi yang ada kami dilarang mengambilnya karena kesuksesan kami sempurna. Namun itu tak berlangsung lama.

__ADS_1


Kami mendapat panggilan misi tingkat S. Di kabarkan bahwa Lembah Bawah sedang di serang oleh seekor naga yang mengamuk dan meresahkan warga. Menurut informasi, kami harus menyingkirkan naga itu yang kabarnya telah dikendalikan oleh penyihir yang tak jelas tujuannya.


Sebenarnya ini adalah tugas kerajaan untuk menangani kasus ini. Para penyihir tingkat elit ke atas telah turun tangan dan mereka dinyatakan tewas disana. Kerajaan telah kehilangan sebagian besar pasukan tingkat elit mereka. Tentu ini kesempatan buat kami dan kami menyetujui hal itu. Sepertinya keberuntungan memihak pada kami.


__ADS_2